Jumat, 09 Desember 2016

Duel Khalid bin Walid pada Pertempuran Rantai (April 633)




Saat Khalid baru saja menyelesaikan Perang Ridda di Yamamah, ia menerima surat perintah dari Khalifah Abu Bakr,
"Berangkatlah ke Iraq. Mulai operasi militer di daerah Uballa. Perangi orang-orang Persia dan orang-orang yang tinggal di wilayahnya. Tujuanmu adalah Hira."

Khalid berangkat dari Yamamah pada bulan Maret 633. Sebelum berangkat, ia mengirim surat kepada Hormuz, seorang jenderal Persia dan Gubernur Distrik Dast Meisan. Surat ini cukup berani dengan isinya
"Masuklah Islam atau bayarlah jizyah, dan Engkau serta rakyatmu akan kami beri perlindungan. Jika tidak, Engkau hanya akan mendapatkan dirimu bersalah atas konsekuensinya, karena aku akan membawa kepadamu pasukan yang mencintai kematian seperti kalian mencintai kehidupan."

Pertempuran pertama yang dihadapi Khalid dalam Penaklukan Persia adalah Pertempuran Rantai. Dinamakan Pertempuran Rantai karena pasukan Persia mengikatkan rantai yang saling menghubungkan antara satu prajurit dengan prajurit lainnya agar mereka tidak bisa kabur.

Pertempuran ini di awali dengan duel antara dua komandan pasukan yang berhadapan (Khalid dan Hormuz). Hormuz adalah seorang veteran perang terkenal di Persia dengan skill bela diri yang mumpuni. Ia memacu kudanya ke antara dua pasukan. Kemudian ia memanggil Khalid, "Lelaki lawan lelaki! Mana Khalid?" Khalid keluar dari pasukannya dengan memacu kuda dan berhenti dalam jarak yang cukup dekat dengan Hormuz.

Hormuz turun dari kudanya dan Khalid pun mengikuti. Ini menunjukkan keberanian Hormuz karena duel tanpa kuda akan membuat dua pihak yang berhadapan sulit untuk kabur. Namun, ternyata tidak demikian: Hormuz telah berencana untuk menjebak Khalid. Di barisan depan pasukan Persia di belakang Hormuz, ia siapkan sejumlah prajurit berkuda yang diperintahkan untuk mengeroyok Khalid saat ia berikan sinyal.

Kedua jenderal mulai berduel dengan pedang dan perisai. Keduanya terkejut pada skill masing-masing. Hormuz kemudian melepas pedangnya, bermaksud untuk bergulat tangan kosong. Khalid menerima tantangan dan melepas pedangnya juga. Ketika keduanya saling mengunci, Hormuz berteriak memberi sinyal kepada anak buahnya untuk maju. Mereka pun mengepung Khalid.

Ternyata, secara fisik Khalid lebih kuat dan ia mengunci gerakan Hormuz dan memutar-mutar posisinya sehingga Hormuz menjadi perisai. Prajurit Hormuz kesulitan untuk menyerang.

Suara teriakan kedua pasukan menggelora melihat kejadian ini. Pasukan Persia menyemangati komandannya, pasukan Islam mencemooh gerakan Hormuz yang "curang". Dalam suasana ramai tersebut, seekor kuda berlari mendekat dan tiba-tiba, dua atau tiga kepala prajurit Hormuz telah jatuh ke tanah. Ternyata, dia adalah Qa'qa' ibn 'Amr, seorang pemuda yang kelak akan menjadi salah satu prajurit utama dalam pasukan Khalid selain Dhirar.

Prajurit Hormuz dengan segera menyerang Khalid sebelum terlambat, namun kuda Qa'qa lebih cepat dan ia berhasil membunuh semua prajurit Hormuz yang tersisa. Khalid yang telah terbebas dari ancaman mengalihkan perhatiannya pada Hormuz. Setelah bergelut satu-dua menit lagi, Khalid yang terakhir berdiri dengan belatinya yang telah bercucuran darah.

sumber : https://www.kaskus.co.id/show_post/509e31f81976081d5900008b/46/-


EmoticonEmoticon