Minggu, 11 Desember 2016

Terjemahan The Sword of Allah : Khalid bin Al-Waleed (3) Agama Baru (bagian 2)


Bab 2: Agama Baru (Bagian II)

(Halaman 4)

Melihat tidak ada lagi harapan untuk membujuk Abu Thalib untuk menghentikan langkah nabi, petinggi-petinggi Quraysy memutuskan untuk membuat hidup Muhammad dan pengikutnya penuh derita dengan harapan Muhammad dan pengikutnya mau mengikuti keinginan-keinginan mereka. Mereka menghasut para musafir yang melalui Makkah agar tidak mendekatinya. Mereka juga meneriaki dan mengejek nabi saat dia lewat di dekat mereka, melempar debu ke wajahnya, dan menyebar duri di jalur perjalanannya. Mereka melempar kotoran hewan ke dalam rumahnya, dan aktivitas ini diikuti oleh Abu Lahab dan Abu Jahl. Perlakuan buruk ini dengan segera memasuki fase yang lebih keras lagi.

Saat penganiayaan terhadap Muslim mendapat momentum, berkembanglah berbagai metode penyiksaan. Salah seorang dari mereka mendapat ide cemerlang untuk menjatuhkan pamor Muhammad dengan menantangnya dalam duel gulat secara terbuka, dengan tujuan untuk menghina dan mempermalukannya di muka umum. Orang ini adalah paman nabi yang bernama Rukkanah bin Abdu Yazid, seorang juara gulat yang sangat bangga dengan kekuatan dan keterampilan gulatnya. Tidak ada satu orang pun yang bisa membantingnya. “Hei anak saudaraku!” pangginya kepada nabi. “Aku yakin kamu adalah lelaki sejati. Dan aku yakin kamu bukan seorang pembohong. Bergulatlah melawanku. Jika kamu bisa membantingku, aku akan mengakuimu sebagai seorang nabi.” Ia sangat percaya diri dan penuh bangga akan idenya yang cemerlang ini. Dia berpikir, Muhammad akan menolak dan jatuh harga dirinya, atau menerima tantangan, lalu kalah dan dipermalukan. Tantangannya diterima dan dalam pertarungan, sang nabi membantingnya tiga kali! Namun orang ini menarik kata-katanya.[1]

Sang nabi sendiri sebenarnya cukup aman dari gangguan fisik, sebagian karena perlindungan klannya dan sebagian karena ia cukup kuat secara fisik dalam bertarung. Namun ada sekelompok Muslim yang sangat rentan, yaitu mereka yang tidak memiliki hubungan dengan keluarga terpandang atau mereka yang lemah secara fisik. Mereka adalah para budak dan budak perempuan. Ada seorang budak perempuan yang ke-Islam-annya membuat Umar geram sampai ia memukul budak tersebut. Ia terus memukul budak itu sampai Umar sendiri yang kelelahan. Dan Umar adalah seorang laki-laki yang kuat!

Banyak laki-laki dan perempuan yang disiksa oleh orang-orang Quraysy. Di antara mereka, yang paling terkenal dengan penderitaannya adalah Bilal bin Hamamah - seorang budak Abyssinia yang kurus tinggi, Ia disiksa oleh tuannya, Umayyah bin Khalf. Di siang hari, saat panas terik matahari Arab di musim panas mengeringkan dan memanggang semua yang tidak terlindung, Bilal ditelentangkan di atas pasir yang panas dan ditindihkan sebuah batu besar di atas dadanya. Setiap beberapa saat, tuannya datang melihat penderitaan, wajah tersiksa, bibir kering, dan lidah Bilal yang bengkak. Tuannya kemudian berkata, "Tinggalkanlah Muhammad dan kembalilah menyembah Latta dan Uzza." Namun iman Bilal tidak goyah. Umayyah bin Khalf tidak mengetahui bahwa ia dan anaknya suatu hari nanti akan menghadapi budaknya ini dalam Pertempuran Badr, dan Bilal akan membunuh mereka berdua.

Bilal dan beberapa orang budak lainnya yang menjadi korban penyiksaan, akhirnya dibeli oleh Abu Bakr yang merupakan seorang yang kaya. Setiap Abu Bakr mengetahui seorang budak Muslim disiksa, ia akan membeli, kemudian membebaskannya.

Meskipun dalam kondisi teraniaya, sang nabi tetap lembut dan berakhlak baik kepada musuhnya. Dia akan berdo'a, "Ya Allah! Kuatkanlah aku dengan Umar dan Abul Hakam." Do'anya dijawab dengan masuk Islamnya Umar, orang keempat puluh yang memeluk Islam [2]; tetapi Abu Jahl tetap tidak beriman dan kelak mati dalam kondisi tersebut.

Pada tahun 619, sepuluh tahun setelah turunnya wahyu pertama, Abu Thalib wafat [3]. Posisi sang nabi menjadi lebih sulit. Permusuhan kaum Quraysy semakin meningkat, begitu juga dengan bahaya bagi jiwa para Muslim. Sang Nabi tetap dikelilingi sekelompok kecil sahabat yang terus ia didik, dan di antara sahabat-sahabat ini, ada 10 orang yang secara khusus sangat dekat dengannya. Mereka dikenal dengan Sepuluh yang Diberkahi dan mereka memegang kedudukan dan pengaruh yang penting bagi Muslim selama mereka hidup. [4]

Catatan Kaki Halaman 4
[1] Menurut Ibnu Hisyam (Vol. 1, hlm. 390), sang nabi sendiri yang menantang Rukkanah, tetapi saya mengutip versi Ibnul Asir (Vol. 2, hlm. 27-28).
[2] Pendapat ini menurut Ibnu Qutaybah (hlm. 180). Ath-Thabari berpendapat bahwa Umar adalah Muslim ke-67 (Vol. 3, hlm. 270).
[3] Sepuluh tahun berdasarkan tahun bulan yang biasanya 11 hari lebih pendek dibanding tahun matahari.
[4] Nama dari 10 sahabat ini dapat dilihat pada halaman Para Sahabat atau Catatan 1 di Lampiran B.

__________________________________________________________________________
(Halaman 5)

Sang nabi tetap hidup di Makkah, menahan segala macam penganiayaan yang terus bertambah. Kemudian, beberapa orang dari Madinah (yang pada saat itu dikenal dengan nama Yatsrib) menemui nabi dan masuk Islam. Mengetahui bahaya yang dihadapi oleh nabi, mereka mengundangnya untuk pindah ke Madinah dan tinggal bersama mereka di sana. Kemudian datanglah izin Allah bagi para Muslim untuk hijrah, dan Nabi mengirim hampir keseluruhan dari mereka ke Madinah.

Pada bulan September 622, petinggi Quraysy memutuskan untuk membunuh Muhammad. Pada malam hari rencana pembunuhan, sang nabi meninggalkan rumahnya. Ditemani Abu Bakr, seorang budak, dan seorang penunjuk jalan, ia hijrah ke Yatsrib. Dengan kedatangannya di Yatsrib, Madinah (sejak itu dipanggil demikian) menjadi kedudukan dan pusat Muslim dan ibukota bagi Negara Muslim yang baru. Masa penganiayaan telah usai.

Tiga bulan setelah sang nabi meninggalkan Makkah, Al-Walid memanggil anak-anak lelakinya ke samping tempat tidurnya, mengetahui bahwa ajalnya telah dekat. "Wahai anak-anak lelakiku!" ujarnya. "Ada tiga tugas yang kuwariskan pada kalian. Jangan sampai kalian gagal dalam melakukannya. Tugas pertama adalah dendamku dengan Khuza'ah. Balaskanlah. Demi Allah, aku tahu bahwa mereka tidak bersalah, tetapi aku khawatir kalian akan disalahkan setelah kematianku. Tugas kedua adalah hartaku, yang berasal dari bunga pinjaman Bani Tsaqif kepadaku, kumpulkanlah. Tugas ketiga, aku meminta ganti rugi atau nyawa dari Abu Uzeihar."[1] Orang jahat ini menikahi anak perempuan Al-Walid dan membawanya lari dan tidak pernah mengembalikannya ke rumah ayahnya.

Setelah menyampaikan pesan terakhirnya, Al-Walid meninggal. Ia dikubur dengan penuh kehormatan karena posisinya sebagai pemimpin klan, tetua yang dihormati, dan seorang bangsawan Quraysy.

Masalah pertama diselesaikan tanpa kesulitan: Bani Khuza'ah membayar uang ganti rugi dan kekerasan dihindari. Urusan kedua tertunda sampai beberapa tahun dan akhirnya dibiarkan tanpa diselesaikan. Pesan ketiga, yaitu masalah dengan menantu Al-Walid, diselesaikan oleh Hisyam, saudara Khalid. Ia memutuskan untuk menunggu lebih dari satu tahun sampai ada kesempatan dan berhasil membunuh Abu Uzeihar. Permasalahan ini dikhawatirkan membawa permasalahan yang lebih besar antara dua keluarga, tetapi Abu Sufyan ikut terlibat dan mendamaikan kedua keluarga. Pertumpahan darah tidak berlanjut.

Dalam beberapa tahun setelah meninggalnya sang ayah, Khalid hidup damai di Makkah, menikmati kekayaan yang ia miliki. Ia bahkan bepergian ke Syams dengan sebuah kafilah dagang, tepatnya ke Kota Busra, kota yang cukup besar. Kota ini di masa datang akan ia rebut dalam sebuah operasi militer.

Kita tidak mengetahui berapa banyak istri dan anak yang ia miliki saat itu, tetapi yang sering disebutkan adalah 2 orang anak laki-laki: yang tua bernama Sulaiman, dan yang muda bernama Abdur-Rahman. Abdur-Rahman ini lahir enam tahun sebelum meninggalnya Al-Walid dan kelak akan memperoleh ketenaran sebagai komandan militer di Syams. Berdasarkan tradisi Arab, Khalid lebih dikenal dengan nama anak pertamanya, Sulaiman. Ia dipanggil dengan beberapa nama: Khalid, nama aslinya; Ibn Al-Walid, yang berarti anak Al-Walid; dan Abu Sulaiman, yang berarti Bapak dari Sulaiman. Kebanyakan orang sering memanggilnya Abu Sulaiman. 

Catatan Kaki Halaman 5
[1] Ibnu Hisyam: Vol. 1, hlm. 410-411.


--Akhir dari Bab 2--



EmoticonEmoticon