Senin, 12 Desember 2016

Terjemahan The Sword of Allah : Khalid bin Al-Waleed (4) Pertempuran Uhud (bagian 1)


Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian I)

(Halaman 1)

"Dan sesungguhnya Allah telah memenuhi janji-Nya kepada kamu, ketika kamu membunuh mereka dengan izin-Nya sampai pada saat kamu lemah dan berselisih dalam urusan itu dan mendurhakai perintah (Rasul) sesudah Allah memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai. Di antaramu ada orang yang menghendaki dunia dan diantara kamu ada orang yang menghendaki akhirat. Kemudian Allah memalingkan kamu dari mereka untuk menguji kamu, dan sesunguhnya Allah telah memaafkan kamu. Dan Allah mempunyai karunia (yang dilimpahkan) atas orang orang yang beriman."
[Al-Qur'an, 3:152]

Semua penduduk Makkah bergembira atas pulangnya kafilah mereka dari Palestina. Kafilah tersebut telah melewati bahaya dalam beberapa hari perjalanannya di jalur pantai dekat Madinah dan hampir saja mereka jatuh ke tangan Muslim. Dengan kecerdasan dan kepemimpinan Abu Sufyan yang memimpin kafilah, mereka selamat dari kejaran. Kafilah ini membawa 1.000 unta (sekitar Rp 13 milyar berdasarkan kisaran harga unta termurah di Arab Saudi saat tulisan ini diterjemahkan–pent) dan membawa barang dagangan seharga 50.000 dinar (sekitar Rp 514 juta berdasarkan harga emas saat tulisan ini diterjemahkan–pent) yang merupakan keuntungan dari perdagangannya. Karena semua keluarga di Makkah mempunyai saham dalam kafilah ini, kedatangannya dengan keuntungan yang begitu besar merupakan sebuah kegembiraan. Saat itu musim semi di Arab, bulan Maret tahun 624.

Meskipun penduduk Makkah telah bernyanyi, berdansa, dan para pedagang menggosok tangan mereka sembari menunggu keuntungan yang segera datang, pasukan Quraysy juga kembali ke Makkah setelah terpukul dan dikalahkan. Pasukan ini dengan buru-buru dikirim ketika Abu Sufyan meminta pertolongan beberapa hari sebelumnya. Sebelum pasukan ini melancarkan aksinya, Abu Sufyan memberi kabar kepada mereka untuk kembali karena bahaya telah lewat. Namun Abu Jahl yang mengomando pasukan ini tidak menghiraukan. Ia telah menghabiskan 15 tahun hidupnya dalam permusuhan yang pahit dengan sang nabi dan ia tidak ingin kesempatan ini berlalu begitu saja. Ia melanjutkan perjalanan pasukannya untuk bertempur dengan Muslim.

Pasukan ini kemudian kembali ke negeri mereka dalam keadaan terguncang dan menanggung malu.

Ketika pasukan Quraysy ini masih di jalan menuju Makkah, seorang penyampai pesan mendahului mereka dengan untanya. Ketika ia memasuki kota, ia merobek baju dan meratap keras, mengumumkan tragedi yang telah terjadi. Penduduk Makkah dengan tergopoh-gopoh berkumpul di sekitarnya untuk mendapat informasi langsung tentang pertempuran. Mereka menanyakan anggota keluarga mereka dan lelaki penyampai pesan ini menjawab. Di antara penduduk Makkah yang hadir adalah Abu Sufyan dan istrinya yang bernama Hindun.

Dari penyampai pesan ini, Hindun menerima sejumlah kabar duka: kematian ayahnya, Uthbah di tangan Ali dan Hamzah, paman sang nabi; kematian pamannya, Syaibah, di tangan Hamzah; kematian saudaranya, Walid, di tangan Ali; dan kematian anaknya, Handzalah, juga di tangan Ali. Ia mengutuk Hamzah dan Ali serta bersumpah untuk membalas dendam.

Pertempuran Badr ini merupakan bentrok fisik penting yang pertama antara Muslim dan musuh-musuhnya. Sebuah pasukan kecil berjumlah 313 Muslim berdiri kokoh bagaikan batu menghadapi 1.000 orang kafir. Setelah satu sampai dua jam pertempuran sengit, Muslim menghancurkan pasukan Quraysy dan pasukan Quraysy mundur tidak beraturan dari medan pertempuran. Sejumlah petinggi Quraysy tewas dalam pertempuran atau ditawan.

Total ada 70 kafir yang terbunuh dan 70 lainnya ditawan Muslim, dengan bayaran 14 Muslim gugur. Di antara mereka yang terbunuh adalah 17 anggota klan Bani Makhzum, kebanyakan dari mereka adalah sepupu atau keponakan dari Khalid. Abu Jahl terbunuh. Saudara Khalid, yaitu Walid, ditawan.

Sang penyampai pesan meneruskan pengumumannya tentang siapa saja yang tewas dan siapa yang membunuh mereka. Kaum Quraysy mencatat dua nama dengan frekuensi paling tinggi, yaitu Ali dan Hamzah. Ali membunuh 18 orang dengan tangannya sendiri dan berbagi dengan yang lain dalam membunuh empat orang. Hamzah membunuh empat orang dan berbagi dengan Ali dalam membunuh empat lagi yang lain. Nama Ali mendominasi dalam majelis kesedihan ini.

Dua hari setelah itu, Abu Sufyan memimpin rapat pimpinan Quraysy. Tidak ada seorang pun di antara mereka yang tidak kehilangan anggota keluarga yang mereka cintai dalam Pertempuran Badr. Sebagian kehilangan bapaknya, sebagian kehilangan anaknya, yang lain kehilangan saudaranya. Orang yang paling vokal dalam rapat ini adalah Shafwan bin Umayyah dan Ikrimah bin Abu Jahl.

Ikrimah adalah orang yang paling sukar ditahan. Ayahnya telah memimpin pasukan Quraysy di Badr dan tewas di sana. Sang anak setidaknya bisa berbangga dengan fakta bahwa ayahnya berhasil membunuh seorang Muslim dan ia sendiri membunuh satu orang. Tambahan lagi, ia berhasil memotong lengan Muslim yang melukai ayahnya dengan fatal. Namun, itu semua belum cukup untuk menghilangkan dahaganya akan dendam. Ia menekankan bahwa sebagai bangsawan Quraisy, mereka harus menjaga harga diri mereka dengan cara membalas dendam.

__________________________________________________________________________
(Halaman 2)

"Dan aku telah kehilangan anakku, Handzalah," kata Abu Sufyan. "Rasa hausku untuk membalas tidak kurang dari apa yang kau rasakan. Aku akan menjadi orang yang pertama untuk bersiap dan melancarkan sebuah pasukan yang kuat untuk melawan Muhammad."[1]

Dalam rapat ini, mereka bersepakat bersumpah untuk membalas; kali ini, tidak ada satu pun yang tertinggal. Ekspedisi ini akan disiapkan secara khusus di mana tidak pernah sebelumnya Makkah mempersiapkan ekspedisi seserius ini. Suku-suku lain pun diundang untuk bergabung dalam pemusnahan Muslim. Semua keuntungan dari kafilah dagang sebanyak 50.000 dinar dipakai untuk mempersiapkan ekspedisi ini. Abu Sufyan dipilih sebagai komandan pasukan Quraisy ini.

Abu Sufyan kemudian mengajukan dua keputusan, yang pertama diterima oleh semua. Keputusannya yang pertama adalah tidak ada lagi yang boleh meratapi dan berduka bagi mereka yang tewas di Badr. Air mata akan menghapus kepahitan dalam hati mereka dan Abu Sufyan hendak menahan agar kepahitan ini tidak pergi sampai mereka membalas dendam mereka kepada Muslim. Namun bagi mereka yang beban kesedihannya terlalu berat, mereka menyimpannya untuk diri mereka sendiri.

Keputusan kedua berkaitan dengan mereka yang ditawan oleh Muslim. Abu Sufyan melarang semua upaya untuk membebaskan mereka dalam waktu dekat. Pertimbangannya, Muslim akan meminta uang tebusan yang besar. Keputusan ini tidak dipatuhi oleh sebagian orang. Dalam dua hari, seorang laki-laki meninggalkan Makkah diam-diam pada malam hari untuk menebus ayahnya; dan ketika berita ini diketahui oleh orang lain, mereka juga melakukan yang sama, menebus anggota keluarga mereka. Abu Sufyan pun tidak punya pilihan lain dan mencabut keputusan keduanya ini.

Besaran uang tebusan beragam. Tarif tertinggi adalah 4.000 dirham (sekitar Rp 244 juta berdasarkan harga perak saat tulisan ini diterjemahkan–pent) dan tawaran terendah adalah 1.000 dirham bagi mereka yang tidak bisa membayar lebih. Sebagian kecil tawanan yang terlalu miskin, tetapi bisa membaca-menulis, memperoleh kebebasan mereka dengan mengajarkan sejumlah anak-anak Muslim untuk membaca dan menulis. Sebagian lagi yang miskin dan tidak memiliki bakat apa-apa dibebaskan dengan syarat, mereka tidak akan lagi mengangkat senjata melawan Muslim.

Di antara mereka yang pergi bernegosiasi untuk membebaskan tawanan adalah Ikrimah, Khalid (yang tidak ikut bertempur di Badr karena sedang tidak berada di Hijaz saat kejadian), dan saudara Khalid yang bernama Hisyam. Khalid dan Hisyam menebus saudara mereka, Walid. Ketika mendengar harga tebusannya sebesar 4.000 dirham, ia mulai menawar agar harganya lebih rendah, tetapi Khalid menghentikannya. Harga 4.000 dirham dibayar tunai untuk membebaskan Walid. Ketiga bersaudara ini meninggalkan Madinah dan mendirikan kemah untuk bermalam di lokasi yang bernama Dzul Hulayfah, beberapa kilometer dari pusat Madinah. Di malam itu, Walid diam-diam meninggalkan kemah dan kembali ke Madinah, menghadap sang nabi dan menyatakan ke-Islam-annya. Sejak itu, ia terkenal sebagai seorang Muslim taat dan sangat dekat dengan sang nabi; dan meskipun demikian, hubungannya dengan Khalid tetap hangat seperti sebelumnya.

Meskipun dalam rapat petinggi Quraysy, agenda diskusi adalah masalah pembalasan, satu faktor lainnya yang mendorong Quraysy untuk berperang dengan Muslim adalah keberlanjutan kehidupan ekonomi mereka. Jalur utama kafilah Quraysy ke Syams dan Palestina terbentang di jalan menyusur pantai yang sejak Pertempuran Badr tidak bisa lagi mereka akses. Bulan November, Shafwan bin Umayyah hendak berdagang dan memberangkatkan sebuah kafilah ke Syams melalui jalur yang ia pikir aman. Kafilah ini meninggalkan Makkah melalui jalan menuju Iraq dan setelah mencapai jarak tertentu, mereka memutar ke arah barat laut menuju Syams, melangkahi Madinah di jarak yang aman menurut Shafwan. Namun sang nabi mengetahui keberangkatan ini dan mengirim Zayd bin Haritsah dengan 100 orang pasukan untuk merebut kafilah dan berhasil.

Shafwan kemudian menemui Abu Sufyan dan kedua pemimpin sepakat bahwa karena keberlangsungan perekonomian Makkah bergantung pada keuntungan perdagangan di Syams, semakin cepat Muslim dihancurkan, akan semakin baik. Ikrimah juga tidak sabar dan terus menekan agar hal ini segera dilakukan. Namun Abu Sufyan adalah seorang tua yang bijak. Ia paham bahwa perlu waktu untuk mempersiapkan ekspedisi dan membeli unta, kuda, dan senjata. Ia berjanji akan melakukan yang terbaik.

Persiapan ekspedisi berjalan dengan serius. Ketika persiapan sedang berlangsung, seorang kafir dengan karakter yang kurang meyakinkan menemui Abu Sufyan untuk mengajukan sesuatu. Lelaki ini ini bernama Abu Amir dari Madinah. Ia menentang kedatangan sang nabi agung di Madinah dan menentang bagaimana cepat klannya sendiri, yaitu Bani Aws, memeluk Islam. Sebagai konsekuensinya, ia meninggalkan Madinah dan bersumpah tidak akan pernah kembali selama Muhammad masih memiliki kekuatan. Di Makkah, ia menghasut kaum Quraysy untuk melawan Muslim. Di masa lalunya, Abu Amir dikenal sebagai rahib, tetapi sang nabi memberinya gelar Si Licik! Maka Muslim mengenal orang ini dengan nama Abu Amir Si Licik.[2]

Catatan Kaki Halaman 2
[1] Waqidi: Maghazi, hlm.156-157.
[2] Ibnu Hisyam: Vol. 2, hlm. 67.


sumber : https://www.kaskus.co.id/show_post/5589cdb7a09a394e468b456b/105/-


EmoticonEmoticon