Kamis, 15 Desember 2016

Terjemahan The Sword of Allah : Khalid bin Al-Waleed (30) Pemimpin-pemimpin Pendusta (Bagian 1)


Bab 14: Pemimpin-pemimpin Pendusta (Bagian I)
(Halaman 1)

“Kiamat tidak akan datang sampai muncul tiga puluh dajjal pendusta, masing-masing mengaku bahwa dirinya adalah seorang utusan Allah, seorang nabi, tetapi aku adalah penutup dari para nabi: tidak ada nabi setelahku.“[Nabi Muhammad (SAW)][1]

Malik bin Nuwayrah adalah kepala Bani Yarbu’, sebuah klan besar dari suku yang disegani, yaitu Bani Tamim. Mereka mendiami daerah timur laut Arabia, di utara Bahrayn. Karena lokasi ini dekat dengan Persia, sebagian Bani Tamim memeluk agama Zoraster, tetapi sebagian besar dari mereka masih menyembah berhala ketika Islam datang di Arab. Klan Malik sendiri berlokasi di Butah.[2] (Lihat Peta 8).

Malik adalah seorang kepala klan berdarah bangsawan. Ia terkenal dengan kedermawanan dan keramahannya pada tamu. Ia senantiasa menyalakan api penerangan di luar rumahnya sepanjang malam agar musafir yang lalu lalang mengetahui di mana mereka bisa mencari tempat bermalam dan tempat untuk memperoleh bekal makanan. Ia bahkan senantiasa bangun di malam hari untuk mengecek lampu apinya itu. Malik adalah seorang laki-laki yang tampan, berambut tebal, dan wajahnya menurut orang-orang di zamannya “seindah bulan”.[3] Ia terampil dalam menggunakan senjata dan terkenal dengan keberanian serta kekesatriaannya. Ia juga penyair yang handal. Demikiannlah Malik memiliki semua kualitas yang diidam-idamkan semua laki-laki Arab saat itu. Ia memiliki segalanya!

Layla adalah anak perempuan Al-Minhal, ia dipanggil juga dengan nama Ummu Tamim. Ia adalah seorang perempuan yang sangat cantik dan mungkin salah satu yang tercantik di Arab. Kabar tentang kecantikannya ini tersebar secara luas. Ia dikenal memiliki mata dan kaki yang indah. Ia pun memiliki segalanya![4]

Ketika tiba di usia siap nikah, perempuan ini dilamar oleh banyak laki-laki dari berbagai penjuru Arab, tetapi mereka semua ditolak. Kemudian, ia bertemu Malik yang ditakdirkan untuk masuk dalam lembaran kehidupannya. Dengan demikian, Malik dengan segala kelebihan yang ia miliki, sekarang memiliki istri yang paling cantik pula.

Malik bin Nuwayrah benar-benar mendapatkan kehidupan yang sempurna. Sempurna, tetapi tanpa keimanan.

Di Tahun Delegasi, ketika Bani Tamim memeluk Islam, Malik juga mengikuti tren dan masuk Islam. Dengan posisinya yang terkemuka di sukunya, ditambah lagi dengan bakat kepemimpinannya yang tidak diragukan lagi, Nabi yang mulia menunjuknya sebagai wakilnya pada Klan Bani Handzhalah (klan yang menaungi Bani Yarbu’-pent). Tanggung jawab utamanya adalah pengumpul zakat dan mengirimkan zakat tersebut ke Madinah.

Malik menjalankan tugasnya dengan jujur dan efisien untuk beberapa waktu. Kemudian Nabi mulia wafat. Ketika kabar meninggalnya nabi sampai di Butah, Malik baru saja mengumpulkan zakat dalam jumlah besar dan siap untuk dikirim ke Madinah. Ia kemudian lupa dengan sumpah jabatannya dan membuka semua peti zakat, kemudian mengembalikan semua zakat tersebut kepada pembayar zakat semula. Ia kemudian mengumumkan, “Wahai Bani Handzhalah! Harta kalian ini sekarang milik kalian.”[5] Malik telah murtad.

Sajah adalah anak perempuan Al-Harits. Ia lahir di dalam keluarga pembesar suku. Ia memiliki bakat dalam kepemimpinan, kepribadian, dan kecerdasan. Bakat ini tidak banyak dimiliki perempuan di masa itu. Ia juga adalah seorang peramal dan penyair, sampai-sampai hampir semua perkataannya dalam bentuk syair. Ketika orang berbicara dengannya, ia menjawab dengan sajak yang paling cocok.

Di kemudian hari, ia dikenal juga sebagai Ummu Sadirah. Dari jalur ayahnya, ia juga adalah anggota Bani Yarbu’ dan sanak saudara Malik bin Nuwayrah. Tetapi dari ibunya, ia adalah anggota Suku Taghlib, sebuah sub-suku Rabi’ah yang tinggal di daerah Iraq. Sajah hidup di perkampungan Suku Taghlib yang memeluk agama Kristen, dan karena pengaruh ibunya, Sajah juga menjadi seorang Kristen meskipun ia tidak terlalu taat, sama seperti kebanyakan anggota Suku Taghlib lainnya, sebagaimana yang akan kita lihat nanti.

Ketika kemurtadan mulai menyebar, Sajah mendengar kabar tentang Thulayhah dan Musaylimah yang mengumumkan kenabian mereka. Imajinasinya yang terlalu kuat memancingnya untuk melakukan hal yang sama. Mengapa hanya laki-laki yang menjadi nabi? Mengapa perempuan tidak dapat meraih derajat sakral kenabian? Karena dasar sifat hatinya yang juga gemar berspekulasi, ia pun jatuh dalam godaan ini. “Aku adalah seorang nabiyah!” umumnya sambil menambahkan sejumlah sya’ir yang ia klaim sebagai ayat.

Catatan Kaki Halaman 1
[1] Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Ahmad, Hakim. Shahihul Jami’us Saghir No. 7417-7418.
[2] Butah pada masa kini tidak lebih dari perkampungan Arab Badui 14 mil (26 km-pent) di barat daya agak ke selatan dari Kota Ras. Tetapi tampak bahwa perkampungan ini pernah menjadi kota yang lebih besar di masa lalu.
[3] Baladzuri: hlm. 108.
[4] Isfahani: Vol.14, hlm. 65. “Di masanya hidup, dikabarkan bahwa tidak ada kaki yang pernah terlihat lebih indah daripada kakinya.”
[5] Baladzuri: hlm. 107.
____________________________________________________________________________
(Halaman 2)

Hampir semua anggota klan ibunya menerima dirinya sebagai nabiyah serta menyatakan kesetiaan mereka padanya. Hal ini adalah hal yang cukup aneh mengingat mereka telah memeluk Krsiten. Sajah membentuk pasukan bersenjata dan masuk ke Arabia, pertama ke perkampungan suku ayahnya yang ikut mendukung pergerakannya. Tidak diragukan lagi bahwa kebanyakan dari pengikutnya, dari tetua-tetua sampai anggota klan biasa, termotivasi dengan niat memperoleh harta rampasan perang dan menyelesaikan dendam lama pada sejumlah suku musuh mereka di timur laut Arabia.

Melihat kesuksesannya memperoleh pengikut, ia tiba di Al-Hazn dengan pasukan besarnya ini dan mengirim utusan kepada sanak saudaranya, Malik bin Nuwayrah.[1] Sajah mengajukan sebuah pasal perjanjian: mereka akan beroperasi bersama melawan suku-suku musuh dan kemudian memerangi kekuatan Muslim di Madinah. Untuk memastikan agar Malik yakin bahwa ia tidak memiliki keinginan untuk menyerang Bani Yarbu’, ia mengumumkan, “Aku hanyalah seorang perempuan dari Bani Yarbu’. Tanah ini tetap milik kalian.”[2]

Malik menerima pengajuan Sajah dan ia menyetujui pasal ini. Namun, Malik meredam semangat perang Sajah dan membujuknya untuk tidak berperang melawan Muslim. Kejadian ini berlangsung pada bulan Juni 632 M.

Pasukan gabungan Malik dan Sajah sekarang melancarkan serangan pada suku-suku yang pernah mengganggu Bani Tamim dan Taghlib. Tidak ada motivasi relijius dalam operasi ini, motivasi utama mereka adalah pembalasan dendam dan nafsu untuk merebut harta rampasan perang. Setiap suku yang melawan, mereka taklukkan dan mereka rampas hartanya. Malik pun dengan jelas bergabung dalam gerakan sang nabiyah palsu ini dan pengikutnya bertempur bersama pasukan Sajah dalam serbuan-serbuan tersebut. Namun, tidak tercatat adanya keterlibatan Malik secara langsung pada operasi-operasi ini.

Kemudian, Sajah berangkat untuk menyerbu dan membumihanguskan Nabbaj serta daerah-daerah sekitarnya.[3] Dan di lokasi ini, ia mendapatkan perlawanan keras. Klan-klan lokal yang memiliki kekhawatiran akan kekuatan perempuan ini, bersatu untuk melawan dan berlangsunglah sebuah pertempuran. Pertempuran ini bukanlah pertempuran besar, tetapi Sajah mendapat pukulan telak meskipun menang; sejumlah pimpinan pasukannya tertawan oleh musuh dan musuh menolak untuk melepaskan mereka kecuali Sajah berjanji untuk meninggalkan perkampungan mereka. Sajah pun menuruti kemauan mereka.

Tetua-tetua suku yang mengikutinya sekarang bertanya kepada nabiyah palsu mereka, “Ke mana kita sekarang?”.

“Ke Yamamah,” jawabnya.

“Tetapi orang-orang Yamamah adalah prajurit yang kuat. Musaylimah pemimpin mereka adalah seorang yang sangat berkuasa,” timpal mereka.

“Ke Yamamah!” tegas Sajah dan dilanjutkan dengan sya’ir,
“Maju ke Yamamah!
Bersama terbangnya merpati di langit yang tinggi;
menuju tempat pertempuran yang paling sengit;
dan tidak akan ada celaan pada kalian.
Ayo maju ke Yamamah!”[4]

Catatan Kaki Halaman 2
[1] Lokasi Hazn tidak pasti, tetapi berdasarkan informasi lokal di Hayl, lokasinya sama dengan Hazm yang berada di antara Samirah dan Butah. Hal ini terlihat mendukung pernyataan Yaqut (Vol. 1, hlm. 661) bahwa lokasinya berada di dekat Butah.
[2] Ath-Thabari: Vol. 2, hlm. 496.
[3] Nabbaj adalah daerah yang sekarang menjadi Nabqiyah (disebut juga Nabjiyah oleh penduduknya), 25 mil (40 km-pent) di timur laut Buraydah. Sekarang, daerah ini hanyalah sebuah desa; di masa lalu, daerah ini merupakan kota yang cukup besar.
[4] Ath-Thabari: Vol.2, hlm. 498.
____________________________________________________________________________
(Halaman 3)

Musaylimah Sang Pendusta adalah musuh negara Islam yang paling kuat dan mengancam keberadaan negara baru ini. Ia adalah anak dari Habib, dari Suku Bani Hanifah, salah satu suku terbesar di Arabia yang mendiami daerah Yamamah.

Musaylimah masuk ke panggung sejarah pada akhir tahun 9 H, Tahun Delegasi. Saat itu, ia pergi bersama sebuah delegasi dari Bani Hanifah menuju Madinah. Delegasi ini terdiri dari dua orang terkemuka yang memiliki pengaruh besar pada Musaylimah dan sukunya. Salah seorang dari mereka membantu Musaylimah memperoleh kekuasaan dan seorang lainnya menyelamatkan sukunya dari kebinasaan. Kedua orang ini secara berurutan sesuai perannya tadi adalah Nahar Ar-Rajjal bin ‘Unfuwah [1] dan Muja’ah bin Mararah.

Delegasi ini tiba di Madinah. Unta-unta mereka diikat di perkemahan mereka dan Musaylimah ditinggal di kemah untuk berjaga sementara delegasi menemui nabi. Delegasi ini mengakui kekuasaan nabi dan masuk Islam. Seperti biasa, nabi memberikan mereka hadiah dan ketika mereka menerima hadiah ini, salah seorang berkata, “Kami meninggalkan rekan kami di kemah untuk menjaga tunggangan kami.” Nabi menitipkan hadiah untuknya sambil berkata, “Ia bukanlah orang yang lebih buruk dari kalian meskipun ia tinggal untuk menjaga barang-barang rekan-rekannya.”[2] Kata-kata ini nantinya akan diselewengkan oleh Musaylimah untuk keuntungan dirinya sendiri.

Sekembali mereka ke kampung mereka, delegasi ini mengajarkan Islam kepada Bani Hanifah. Seluruh suku masuk Islam. Mereka membangun sebuah masjid di Yamamah dan mulai melaksanakan shalat wajib secara rutin.

Kemudian waktu beberapa bulan berlalu. Musaylimah meninggalkan agamanya dan mengumumkan kenabian dirinya sendiri. Ia mengumpulkan anggota-anggota sukunya, lalu mengumumkan kepada mereka sambil membawa kata-kata Muhammad, “Aku telah diberikan sebagian dari kenabiannya. Tidakkah ia berkata kepada delegasi kita bahwa aku tidak lebih buruk daripada mereka? Ini artinya bahwa ia mengetahui bahwa aku mendapatakan bagian dari kenabian.”[3]

Ia kemudian menebarkan pesonanya di kerumunan dengan trik-triknya yang memukau. Ia adalah tukang sulap yang ahli dan bisa melakukan hal-hal yang tidak bisa dilakukan oleh orang umumnya. Ia bisa memasukkan telur ke dalam botol; ia bisa memotong bulu burung dan memasangnya lagi sehingga burung itu bisa terbang lagi; dan ia menggunakan keahlian sulapnya ini untuk meyakinkan orang-orang bahwa ia benar-benar diutus oleh langit. Ia berceramah di depan kaumnya sebagai seorang utusan Allah dan mengarang sejumlah sya’ir yang ia sampaikan kepada kaumnya sebagai wahyu. Kebanyakan dari ayat-ayatnya ini memuji sukunya sendiri, yaitu Bani Hanifah, di atas Quraysy. Namun beberapa di antaranya berisi kata-kata yang sangat konyol seperti halnya,
“Allah telah memberkahi ilmuku.
Ilmuku sekuat hembusan yang keras,
Dari antara pusar dan ususku!”[4]

Dan kaumnya terkagum-kagum dengannya dan mereka menjadi pengikutnya. Anehnya, mereka tidak meragukan atau membantah kenabian Muhammad. Mereka menerima Muhammad sebagai Rasulullah. Tetapi mereka juga menerima Musylimah sebagai nabi rekanannya, sebagaimana yang diklaim oleh Musaylimah.

Sedikit demi sedikit, pengaruh dan kekuasaan Musaylimah meningkat. Sampai pada akhirnya, di akhir tahun 10 H, ia mengirim surat kepada Nabi Muhammad berisi,
“Dari Musaylimah, Rasulullah, kepada Muhammad, Rasulullah. Salam untuk Anda. Aku telah diangkat menjadi sekutu Anda dalam kenabian. Separuh bumi ini adalah untuk kami dan separuh lagi untuk Quraisy. Tetapi kaum Quraisy adalah orang-orang yang melampaui batas.”

Catatan Kaki Halaman 3
[1] Sejumlah sejarawan awal mencatat namanya sebagai Rahhal.
[2] Ibnu Hisyam: Vol. 2, hlm. 576-577.
[3] Ibid.
[4] Ibid.


sumber : https://www.kaskus.co.id/show_post/578c46695c77982b6a8b4567/222/-


EmoticonEmoticon