Senin, 12 Desember 2016

Terjemahan The Sword of Allah : Khalid bin Al-Waleed (9) Pertempuran Uhud (bagian 6)


Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian VI) 
(Halaman 11)

Segera setelah menjatuhkan Ummu Ammarah, Ibnu Qami'ah melihat nabi berdiri sendirian dan bersegera mendekatinya. Ia mengangkat pedangnya dan menyabetkannya dengan kuat ke kepala nabi. Sabetan tersebut memotong beberapa rantai zirah kepala nabi, tetapi tidak bisa menembusnya. Sabetan tersebut menerus hingga sampai ke bahu kanan nabi. Karena kuatnya sabetan tersebut, nabi terjatuh ke dalam sebuah parit dangkal tepat di belakangnya. Nantinya, ia akan diangkat oleh Ali dan Thalhah.

Melihat nabi jatuh, Ibnu Qami'ah kembali ke rekan-rekan Quraysynya dan berteriak selantang-lantangnya, "Aku telah membunuh Muhammad! Aku telah membunuh Muhammad!"[1] Teriakan ini terdengar di medan pertempuran, baik oleh pasukan Quraysy maupun Muslim. Teriakan ini mematahkan semangat pasukan Muslim, dan sebagian besar dari mereka berlari ke arah Bukit Uhud. Namun sebagian kecil Muslim memutuskan bahwa dengan gugurnya nabi, tidak ada gunanya lagi mereka hidup. Mereka melakukan serangan sekuat tenaga ke arah kavaleri Quraysy, dengan penuh tekad untuk menyerahkan nyawa mereka. Mereka gugur dalam waktu singkat, baik oleh Khalid maupun Ikrimah. Di sini, Khalid membunuh korban ketiganya, yaitu Rafa'ah bin Waqshi.

Saat badan utama pasukan Muslim berlari ke atas bukit, kebanyakan pasukan Quraysy beralih menjarah tubuh-tubuh korban yang telah tewas. Para Muslim yang melindungi nabi melihat tidak ada lagi pasukan Quraysy yang berada di dekat mereka. Godaan rampasan perang ternyata sama kuatnya terhadap pasukan Quraysy. Melihat jalan terbuka, nabi bersama sahabat yang selamat dari kelompoknya, mundur ke jurang sempit di kaki Bukit Uhud. Saat mundur, sejumlah kecil pasukan Quraysy berupaya mengikuti, tetapi mereka gagal, satu atau dua orang dari mereka terbunuh. Khalid melihat pergerakan nabi dan kelompoknya, tetapi tidak bisa menghadang karena ia sibuk mengejar badan utama pasukan infantri Muslim. Dengan demikian, nabi tanpa kesulitan naik ke atas bukit, mendaki dinding curam cabang Bukit Uhud setinggi 122 m, di sisi timur jurang sempit. Di sini, nabi berhenti, di antara dua batuan besar, melihat panorama tragis yang terbentang di depannya. (Untuk fase terakhir ini, lihat Peta 2).

Dari 30 orang yang bersama nabi dalam fase pertempuran sebelumnya, tinggal 14 yang tersisa dan kebanyakan dari mereka terluka. Enam belas orang gugur dalam melindungi nabi di jalan Allah.

Dengan demikian, pasukan Muslim meninggalkan medan pertempuran. Di antara mereka ada yang melarikan diri sejauh-jauhnya karena panik; sebagian yang lain kembali ke Madinah; yang lain baru bergabung dengan nabi dua hari setelah itu. Mereka yang bermaksud untuk berlindung di atas bukit, membentuk kelompok-kelompok kecil, membuka jalan mereka dengan paksa melawan pasukan kavaleri Quraysy yang menghalangi sampai mereka tiba di kaki Bukit Uhud. Dari sana, mereka berpencar. Sebagian berlindung di kaki-kaki bukit, sebagian naik sampai ke puncak, dan sisanya bersembunyi di lekukan-lekukan bukit. Tidak ada yang tahu apa yang harus mereka lakukan. Pasukan Quraysy mengendalikan medan pertempuran secara total.

Setibanya di sebuah lekukan bukit, nabi menggunakan waktunya untuk merawat lukanya. Fatimah, anak perempuannya bergabung dengan nabi. Ali membawa air dari sumber air terdekat dengan tamengnya. Fatimah sambil menangis mencuci darah dari wajah ayahnya dan mengobati luka-luka yang ada. Di tempat berlindung yang sukar dijangkau ini, nabi mengistirahatkan tubuhnya yang lelah.

Di antara Muslim yang berlindung di puncak Bukit Uhud, beberapa di antara mereka berjalan tanpa tujuan. Salah seorang dari mereka yang bernama Ka’ab bin Malik, berjalan menuju lekukan bukit di mana nabi berada. Melihat nabi, ia memanjat ke atas sebuah batu besar. Sambil menghadap ke arah di mana banyak rekannya berada, ia berteriak, “Berbahagialah, wahai Muslimin! Rasululllah ada di sini!” [2] Sambil berteriak, ia menunjukkan tangannya ke arah nabi. Teriakan ini tidak terdengar oleh pasukan Quraysy, tetapi terdengar oleh banyak Muslim. Mereka bergerak menuju sumber suara dan bergabung dengan nabi, termasuk ‘Umar yang terlihat sangat bersyukur bisa melihat nabi kembali.

Sementara itu, Abu Sufyan berusaha mencari tubuh nabi. Ia berkeliling di tengah medan pertempuran dan memeriksa wajah-wajh korban, berharap bisa menemukan wajah musuhnya. Sewaktu-waktu, ia berujar kepada pasukannya, “Di mana Muhammad?” Di tengah pencariannya, ia bertemu Khalid dan menanyakan hal yang sama. Khalid mengatakan kepadanya bahwa ia melihat Muhammad, bersama sejumlah sahabatnya, naik ke bukit. Ia menunjukkan bebatuan di Bukit Uhud kepada Abu Sufyan. Abu Sufyan memerintahkannya untuk membawa anggota kavalerinya untuk menyerang posisi tersebut.

Catatan Kaki Halaman 11
[1] Ibnu Hisyam: Vol. 2, hlm. 78.
[2] Ath-Thabari: Vol. 2, hlm. 200; Waqidi: Maghazi, hlm.185.

__________________________________________________________________________
(Halaman 12)

Khalid melihat ke jurang yang dipenuhi dengan bebatuan besar sampai ke arah cabang Bukit Uhud. Kemudian ia juga melihat dinding cabang bukit yang cukup terjal. Ia merasa tidak yakin kavalerinya bisa bermanuver, bahkan pada kondisi muka bumi yang demikian, kavalerinya akan berada dalam kondisi sulit. Namun ia berharap akan ada kesempatan yang muncul, sebagaimana yang ia peroleh ketika pasukan Quraysy terpukul mundur di awal Pertempuran Uhud. Khalid adalah orang yang sangat optimis. Ia mulai memimpin kavalerinya mendekati cabang Bukit Uhud di mana nabi berada.

Nabi melihat pergerakan kavaleri Khalid dan berdoa, “Ya Allah, jangan biarkan mereka bisa naik ke sini.”[1] Umar langsung memimpin sejumlah orang pasukan Muslim dan bergerak turun sedikit dari lokasi nabi. Mereka bermaksud menghalangi kavaleri Quraysy. Khalid dan kavalerinya melihat ‘Umar dan sejumlah pasukan Muslim menunggu mereka di atas bukit. Melihat hal ini, Khalid menyadari bahwa situasi ini menutup kemungkinan mereka untuk menyerang. Musuh berada di tempat yang lebih tinggi, kavaleri tidak bisa bermanuver di medan yang sulit seperti itu. Ia pun mundur. Manuver ‘Umar dan Khalid ini adalah manuver terakhir dalam Pertempuran Uhud.

Abu Sufyan dan Khalid, bersama pasukan Quraysy lainnya, menyaksikan sebuah pemandangan yang tidak bisa mereka terima dan tidak akan pernah mereka lupakan. Medan pertempuran di mana banyak tubuh martir-martir Muslim terbaring dikelilingi oleh Hindun dan perempuan-perempuan Quraysy. Hindun menemukan tubuh Hamzah dan pisau terjatuh dari tangannya.

Hindun adalah seorang perempuan bertubuh besar dan tidak kesulitan untuk memotong-motong mayat. Ia membuka perut Hamzah dan mengeluarkan hatinya. Ia kemudian mengiris sedikit dari hati tersebut dan menelannya! Ia kemudian memotong hidung dan telinga Hamzah, dan memerintahkan perempuan-perempuan lainnya untuk melakukan hal yang sama.

Si Barbar kemudian mendekati Hindun. Hindun melihatnya dan Hindun melepas semua perhiasan yang ia pakai, lalu memberikannya kepada Wahsyi Si Barbar. "Dan saat kita sampai di Makkah," ujar Hindun, "Aku akan memberikan 10 dinar untukmu."[2] Setelah memberikan semua perhiasannya, Hindun membuat sebuah kalung dan gelang kaku dari telinga dan hidung para martir yang ia mutilasi. Hindun memakai perhiasan ini. Perempuan luar biasa ini kemudian bernyanyi:

Kami telah membalaskan dendammu pada hari Badr –
Sehari demi sehari yang penuh darah
Aku tidak bisa menahan kesedihanku atas wafatnya Uthbah,
Atau pamanku, saudara lelakiku, dan anak lelakiku.
Sekarang hatiku sejuk, sumpahku telah kupenuhi;
Dan Si Barbar telah menghapuskan rasa sakit dari hatiku.
Terima kasih seumur hidupku untuk Si Barbar
Sampai tulang-tulangku hancur menjadi debu dalam kuburku.[3]

Segera setelah drama kejam ini terjadi, Abu Sufyan berjalan ke arah lekukan di bukit. Ia masih berharap bahwa Muhammad benar-benar sudah mati, bahwa infromasi yang Khalid berikan adalah tidak benar. Ia memanjat sebuah batu besar agak jauh dari posisi nabi, kemudian berteriak, "Apakah Muhammad bersama kalian?" Nabi berisyarat kepada para sahabatnya untuk tidak menjawab. Abu Sufyan mengulangi pertanyaannya dua kali, tetapi tidak ada jawaban.

Kemudian, tiga kali Abu Sufyan bertanya, "Apakah Abu Bakr bersama kalian?" Tiga kali lagi ia bertanya, "Apakah 'Umar bersama kalian?" Tidak ada jawaban sama sekali.

Abu Sufyan kemudian berbalik menghadap pasukan Quraysy dan mengumumkan, "Tiga orang ini telah mati. Mereka tidak akan menganggu kalian lagi." Saat itu, 'Umar tidak sanggup lagi menahan diri dan berteriak keras pada Abu Sufyan, "Kamu bohong, hei musuh Allah! Mereka yang kamu sebutkan tadi masih hidup dan masih cukup jumlah kami yang tersisa untuk menghukummu dengan keras."

Abu sufyan merespon dengan tertawa keras dengan nada mengejek. Ia tahu bahwa pasukan Muslim tidak dalam kondisi mampu untuk melakukan balasan. Namun ia menjawab 'Umar, semoga Allah melindungimu, hai Anak Al-Khattab! Apa benar Muhammad masih hidup?"

Catatan Kaki Halaman 12
[1] Ibnu Hisyam: Vol. 2, hlm. 86.
[2] Waqidi: Maghazi, hlm.222.
[3] Ibnu Hisyam: Vol. 2, hlm.91.

__________________________________________________________________________
(Halaman 13)

"Demi Rabb-ku. Bahkan ia mendengar apa yang baru kamu katakan."

"Kamu lebih bisa kupercaya daripada Ibnu Qami'ah," jawab Abu Sufyan.

Kemudian berlangsunglah percakapan terakhir antara Abu Sufyan dan nabi. Sang nabi tidak berbicara langsung dengan musuhnya, tetapi ia meminta 'Umar untuk menjadi juru bicaranya.

Abu Sufyan: Kemuliaan milik Hubal! Kemuliaan milik Uzza![1 ]
Nabi: Kemuliaan milik Allah, Maha Tinggi dan Maha Perkasa!
Abu Sufyan: Kami punya Uzza dan Hubal. Kalian tidak.
Nabi: Kami punya Allah sebagai Rabb. Kalian tidak.
Abu Sufyan: Pembalasan telah usai. Hari ini balasan dari kami atas apa yang kalian lakukan di Badr. Takdir peperangan tidak pernah konstan. Kita akan bertemu lagi di Badr tahun depan.
Nabi: Di Badr, kita akan bertemu lagi. Kalian bisa memegang janji kami.
Abu Sufyan: Kalian akan menemukan bahwa beberapa di antara mayat-mayat rekan kalian telah dimutilasi. Saya tidak pernah memerintahkan hal ini dan tidak juga sepakat dengan aksi demikian. Jangan salahkan aku terkait masalah ini.[2]

Setelah menyelesaikan ucapan terakhirnya ini, Abu Sufyan berbalik dan berjalan menuju pasukannya.

Pasukan Quraysy meninggalkan medan pertempuran dan berkumpul di kemah-kemah mereka. Ketika mereka pergi, nabi yang mulia mengirim Ali untuk memata-matai, apakah pasukan Quraysy menunggangi unta-unta atau kuda-kuda mereka. Ali pergi melakukan perintah ini dan kembali kepada nabi membawa informasi bahwa pasukan Quraysy menunggang unta dan menuntun kuda-kuda mereka. Nabi kemudian berkata, "Artinya, mereka hendak pulang ke Makkah dan tidak akan menyerang Madinah. Jika mereka hendak menyerang Madinah, mereka akan menunggangi kuda-kuda mereka untuk bertempur. Jika demikian halnya, demi Rabb-ku, saya akan dengan segera bertempur kembali melawan mereka."[3]

Pasukan Quraysy bermalam di Hamratul Asad, 16 km dari Madinah.[4] Pasukan Muslim kembali ke Madinah, kecuali mereka yang pergi terlalu jauh, baru akan muncul di Madinah pada hari berikutnya atau berikutnya lagi.

Keesokan paginya, nabi yang mulia bersiap dan mengenakan baju zirahnya kembali. Wajahnya masih menunjukkan luka-luka yang ia derita dari pertempuran hari sebelumnya. Pipi, kening, dan bibirnya yang terluka parah terlihat membengkak. Patahnya dua gigi masih menyebabkan rasa sakit, dan bahu kanannya masih memar karena sabetan pedang Ibnu Qami'ah. Sakit pada bahunya ini terus berlanjut sampai satu bulan.

Nabi memerintahkan Bilal, mu'azzinnya,[5] untuk memanggil kaum beriman untuk kembali bertempur. Hanya mereka yang mengikuti pertempuran hari sebelumnya yang diizinkan untuk bergabung. Suara Bilal yang keras terdengar di jalan-jalan Madinah dan menyampaikan pesan ke rumah-rumah orang beriman.

Para Muslim bangkit dari tempat istirahat mereka untuk memenuhi perintah nabi, berkumpul menuju medan pertempuran kembali. Kebanyakan dari mereka terluka, sebagian lebih parah dari lainnya. Mereka tidak bisa tidur menahan rasa sakit akibat luka-luka mereka. Sepanjang malam, para perempuan sibuk merawat para prajurit, mencuci dan mengobati luka-luka mereka. Kebanyakan Muslim tidak dalam kondisi fit untuk bertempur, tetapi mereka tetap bangun dari tempat istirahat mereka. Tidak ada keluhan atau tangisan kesakitan.

Ada yang pincang, ada yang menggunakan penopang jalan, ada yang membantu rekannya yang lain untuk berjalan. Mereka berdatangan dengan pincang dan menyeret tubuh mereka menuju nabi. Ketika mereka melihat nabi, mereka mengucapkan Labbayk – Hadir, Komandan! Dan pasukan Muslim yang lelah dan terluka ini, dipimpin oleh nabi yang juga lelah dan terluka, berangkat untuk bertempur melawan kaum kafir. Jumlah mereka sebanyak 500 orang.

Ketika pasukan Muslim berkumpul kembali dan bersiap untuk bertempur, diskusi keras berlangsung di kelompok Pasukan Quraysy. Ikrimah yang tidak kurang agresifnya seperti hari sebelumnya, menekan untuk kembali bertempur dengan alasan pasukan Muslim dalam kondisi lemah sebagai hasil dari pertempuran. Ia menilai, saat tersebut adalah saat yang tepat untuk menghancurkan pasukan Muslim secara sempurna sebelum mereka kembali pulih.

Catatan Kaki Halaman 13
[1] Dewa dan dewi dalam pantheon Arab
[2] Ibnu Hisyam: Vol. 2, hlm. 93-94; Waqidi: Maghazi, hlm. 229-230; Ibnu Sa'd: hlm. 551.
[3] Ibnu Hisyam: Vol. 2, hlm. 94.
[4] Lokasi ini berada di dekat Bir Ali, di jalan utama menuju Makkah.
[5] Orang yang beradzan, memanggil kaum Muslim untuk shalat.

sumber : https://www.kaskus.co.id/show_post/55a9988c642eb64d6c8b456c/146/-


EmoticonEmoticon