Senin, 12 Desember 2016

Terjemahan The Sword of Allah : Khalid bin Al-Waleed (10) Pertempuran Uhud (bagian 7)


Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian VII)
(Halaman 14)

"Sudah cukup," jawab Shafwan bin Umayyah. "Kita telah memenangkan pertempuran, dan kemenangan ini sudah cukup bagi kita. Jika Muslim dalam kondisi buruk, kita juga tidak dalam kondisi sempurna. Banyak kuda dan pasukan kita terluka. Dalam pertempuran berikutnya, jika kita bertempur dalam kondisi seperti ini, kita tidak akan seberuntung kemarin."[1]

Saat itu, pimpinan Quraysy sudah mengetahui juga bahwa ada 300 munafik yang meninggalkan pasukan Muslim kemarin. Mereka khawatir bahwa 300 orang ini merasa bersalah dan memilih untuk bergabung kembali dengan nabi. Mereka akan menjadi kekuatan tambahan yang signifikan bagi pasukan Muslim. Ketika diskusi ini berjalan, sejumlah prajurit Quraysy menangkap dua mata-mata Muslim yang dikirim oleh nabi. Keduanya dibunuh, namun keberadaan mereka membenarkan pendapat Shafwan dan Abu Sufyan bahwa pasukan Muslim telah memperoleh kembali keagresifan mereka dan hendak bertempur kembali. Abu Sufyan tanpa ragu memberi perintah pasukannya untuk segera pulang ke Makkah.

Pada sore hari, pasukan Muslim tiba di Hamratul Asad dan tidak menemukan siapa pun. Mereka berkemah di sana dan kembali ke Madinah setelah empat hari.

Pertempuran Uhud usai. Sebanyak 70 orang Muslim gugur dalam pertempuran. Abu Sufyan membunuh satu orang. Shafwan bin Umayyah, Khalid, dan Ikrimah masing-masing membunuh tiga Muslim. Di pihak Quraysy, 22 orang kafir terbunuh, enam orang oleh Ali dan tiga oleh Hamzah. Ini adalah kekalahan pasukan Muslim, tetapi tidak yang terlalu telak.

Pertempuran ini adalah pertempuran penting kedua dalam sejarah Islam. Ini adalah pertempuran pertama bagi Abu Sufyan memimpin sebuah pasukan melawan Muslim, dan pertempuran pertama bagi Khalid. Nabi yang mulia menderita kekalahan dalam pertempuran ini dan kesalahan dengan jelas jatuh kepada korps pemanah yang tidak disiplin dalam mematuhi perintah nabi maupun dari komandan langsung mereka. Faktanya, ketika mereka meninggalkan posisi mereka, sesaat mereka lupa mereka adalah Muslim dan kembali ke dalam karakter mereka yang lampau sebagai Arab jahiliyah, tergoda pada harta rampasan perang.

Sejumlah penulis menyatakan pendapat mereka bahwa Bangsa Arab pada masa ini tidak paham tentang gaya peperangan regular; bahwa secara militer, mereka tidak lebih baik daripada kawanan perampok dan tidak mengetahui bagaimana bertempur dengan benar. Mereka menilai bahwa Bangsa Arab belajar seni berperang dari Romawi dan Persia yang mereka hadapi setelah wafatnya nabi. Ini sangat tidak benar. Kita telah membaca pemaparan tentang pembarisan pasukan oleh Nabi dan alasan militer yang jelas tentang pemosisian pasukan ini. Perlu dicatat juga bahwa dalam memilih medan pertempuran, nabi membiarkan Madinah terbuka bagi serangan Quraysy. Pasukan Muslim sama sekali tidak menghalangi jalan Abu Sufyan jika saja ia memutuskan untuk menyerang Madinah. Namun nabi telah mempertimbangkan bahwa Abu Sufyan tidak akan berani menyerang Madinah karena jika Abu Sufyan melakukannya, Abu Sufyan akan membuka celah penyerangan pada bagian samping dan belakang pasukannya bagi pasukan Muslim. Ini adalah contoh klasik yang telah berulang dalam sejarah militer. Sebuah pasukan yang mempertahankan markasnya dengan memosisikan pasukan musuh di antara mereka dan markas mereka dengan tujuan mengancam bagian belakang dan sayap musuh jika musuh bermaksud langsung menyerang markas yang dipertahankan.

Begitu juga dengan Abu Sufyan yang meskipun dipaksa untuk bertempur di lokasi yang kurang menguntungkan bagi mereka, pemosisian pasukan Quraysy sudah cukup baik, mengikuti pola normal yang biasa diterapkan oleh Romawi dan Persia: menempatkan bagian utama dari infantri di tengah dan pasukan kavaleri di sayap untuk bermanuver terhadap bagian samping dan belakang musuh. Dari kedua hal ini, sangat diragukan jika seorang jenderal Romawi atau Persia akan mengambil keputusan berbeda manakala mereka memimpin kedua pasukan yang berhadapan dalam kondisi sedemikian. Sangat jelas bahwa kritik-kritik ini tidak memiliki dasar yang kuat!

Sebuah fakta penting lagi adalah bahwa pertempuran ini menunjukkan bagaimana Khalid membuat keputusan militer dan menunjukkan keterampilan tempurnya. Ketika badan utama pasukan Quraysy mundur dari medan pertempuran, pasukan kavaleri tetap di posisi mereka. Umumnya, ketika sebagian besar pasukan telah kabur, sisa dari pasukan juga akan mengikuti. Dalam pertempuran ini, uniknya Khalid (dan Ikrimah) dengan berani tetap memegang kontrol penuh pada korps mereka meskipun kondisi menunjukkan tidak ada untungnya hal itu mereka lakukan. Kita melihat kesabaran Khalid dan penolakannya untuk menerima kekalahan. Dengan matanya yang tajamlah, Khalid melihat terbukanya jalan penyerangan ketika korps pemanah Muslim meninggalkan posisi mereka. Dengan segera ia memutuskan untuk memanfaatkan peluang ini dengan sangat tangkas dan memberinya ruang untuk menyerang bagian belakang pasukan Muslim. Manuver Khalid inilah yang membalikkan kemenangan sempurna yang hampir diperoleh pasukan Muslim menjadi kekalahan yang hampir sempurna.

Catatan Kaki Halaman 14
[1] Ibnu Hisyam: Vol. 2, hlm. 104; Waqidi: Maghazi, hlm. 231-232, 263.
__________________________________________________________________________
(Halaman 15)

Kita juga melihat kuatnya keinginan dan keras kepalanya Khalid dalam tekanan terus-menerus yang ia berikan melawan pasukan Muslim yang tetap memberi perlawanan keras sampai mereka menyerah. Membunuh tiga orang menunjukkan keberanian pribadi dan keterampilannya. Memiliki keberanian dan semangat muda, disertai kesabaran dan kematangan pertimbangan di usia muda ini, Khalid menunjukkan bahwa ia berpeluang besar untuk memperoleh prestasi-prestasi militer yang besar.

Pertempuran ini juga merupakan pertempuran Islam yang pertama yang menunjukkan bagaimana manuver-manuver cantik dilakukan. Manuver dan strategi akan memainkan peranan penting dalam pertempuran-pertempuran Muslim. Beberapa nama yang disebutkan pada bab ini akan memperoleh ketenaran sebagai pemenang dan penakluk dalam dua dekade yang akan datang.... Khalid, 'Amr bin Al-'Ash, Abu Ubaydah, Sa'd bin Abi Waqqash.

--Akhir dari Bab 3--

sumber : https://www.kaskus.co.id/show_post/55a99941902cfe373e8b456a/147/-


EmoticonEmoticon