Rabu, 14 Desember 2016

Terjemahan The Sword of Allah : Khalid bin Al-Waleed (16) Mu'tah dan Pedang Allah


Bab 6: Mu’tah dan Pedang Allah
(Halaman 1)

"Sebaik-baik hamba Allah adalah Khalid ibn Al-Walid, sebilah pedang di antara pedang-pedang Allah, yang ditebaskan kepada orang-orang yang tidak beriman!"
[Nabi Muhammad (SAW)] [1]]
Tiga bulan sejak kedatangannya di Madinah, Khalid mendapat kesempatan untuk menunjukkan kemampuannya sebagai prajurit dan komandan bagi agama yang baru saja ia peluk. Nabi telah mengirim seorang utusan untuk menyampaikan surat ajakan kepada Islam untuk pimpinan Ghassan [2] di Busra. Ketika utusan ini melewati Mu’tah, utusan ini dihadang dan dibunuh oleh pimpinan Ghassan lokal yang bernama Syurahbil bin ‘Amr. Hal ini merupakan tindakan kriminal berat di antara orang Arab karena utusan diplomatik memiliki hak untuk tidak diserang seberapa buruk pun hubungan yang ada antara dua pihak. Kabar ini menimbulkan kemarahan penduduk Madinah.

Sebuah operasi militer segera disiapkan untuk menghukum tindakan Ghassan dan nabi menunjuk Zayd bin Haritsah sebagai komandan pasukan. Jika ia gugur, kepemimpinan pasukan diserahkan kepada Ja’far bin Abi Thalib. Jika ia gugur juga, kepemimpinan pasukan diserahkan kepada Abdullah bin Rahawah. Setelah menunjuk ketiga pimpinan ini, nabi berkata, “Jika ketiganya gugur, pasukan akan menunjuk komandan di antara mereka sendiri.” [3]

Pasukan dalam ekspedisi ini terdiri dari 3.000 orang, salah satunya adalah Khalid yang menjadi prajurit biasa. Misi yang diberikan nabi kepada Zayd adalah untuk mencari dan membunuh orang yang bertanggung jawab dalam pembunuhan utusan Muslim serta menawarkan Islam kepada penduduk Mu’tah. Jika mereka menerima Islam, mereka tidak akan disakiti. Pada saat mereka dikirim, Pasukan Muslim ini belum tahu seberapa besar kekuatan musuh yang akan mereka hadapi.

Semangat menjulang tinggi saat pasukan ini berangkat dari Madinah. Ketika mereka tiba di Ma’an, mereka mendapat laporan bahwa Heraklius, Kaisar Romawi Timur, berada di Yordania bersama “100.000 pasukan Romawi” dan disertai pula “100.000 pasukan Arab Kristen”, mayoritas orang Ghassan. Pasukan Muslim bertahan di Ma’an selama dua hari berdiskusi tentang bagaimana langkah mereka selanjutnya. Sangat jelas terlihat keraguan dan kepanikan. Beberapa dari mereka menyarankan untuk memberikan kabar ini kepada nabi agar ia bisa memberikan keputusan tentang langkah yang harus mereka ambil, tetapi Abdullah bin Rawahah (komandan ketiga) tidak setuju karena saran itu akan mengakibatkan penundaan yang tidak perlu serta akan memperlihatkan bahwa Pasukan Muslim ketakutan. Ia membacakan beberapa ayat Al-Qur’an dan menyampaikan pidato militer untuk membangkitkan kembali semangat pasukan. Ia tutup pidato militernya itu dengan mengatakan, “Kita tidak bertempur karena jumlah ataupun senjata, tetapi dengan iman kita. Jika kita berangkat bertempur, kita akan mempunyai dua pilihan, kemenangan atau mati syahid.”[4] Pidato militernya berhasil menghapus keraguan dalam pikiran Pasukan Muslim dan mereka segera melanjutkan perjalanan mereka ke Syam.

Pasukan Muslim tiba di suartu tempat di dekat perbatasan Balqa, sebuah distrik di timur Yordania modern. Di sana, mereka bertemu sebuah pasukan besar Arab Kristen. Melihat lokasi yang tidak cocok untuk bertempur, komandan Pasukan Muslim menarik pasukan ke Mu’tah. Pasukan Arab Kristen mengikuti mereka. Di Mu’tah, kedua pasukan memutuskan untuk bertempur. Saat itu adalah pekan kedua bulan September 629 M (pekan ketiga bulan Jumadil ‘Awwal 8 H).

Zayd membariskan pasukannya dengan pola normal: satu pasukan tengah dan dua pasukan sayap. Sayap kanan dikomando oleh Qutbah bin Qatadah dan sayap kiri dikomando oleh Ubayah bin Malik. Zayd sendiri memimpin di tengah, tempat Khalid juga mengambil posisi. Medan pertempuran berada sekitar 1 mil (1,6 km-pent) di timur Kampung Mu’tah. Permukaan tanah di sini datar dengan sedikit gelombang dan punggung bukit yang landai membelakangi Pasukan Muslim yang menghadap Pasukan Arab Kristen di utara mereka.[5]

Catatan Kaki Halaman 1
[1] Tirmidzi dan Ahmad dari Abu Hurayrah, Shahih Al-Jami’ Al-Saghir No. 6676.
[2] Sebuah suku yang besar dan kuat, mendiami Suriah dan Yordania.
[3] Ibnu Sa’ad: hlm. 636.
[4] Ibnu Hisyam: Vol. 2, hlm. 375.
[5] Sebuah masjid dibangun oleh Pemerintah Yordania untuk memperingati dan menandai lokasi pertempuran ini.
____________________________________________________________________________
(Halaman 2)

Pasukan Arab Kristen yang dipimpin oleh Malik bin Zafilah, membentuk formasi pasukan yang dalam. Sejumlah sejarawan memperkirakan kekuatan mereka sebesar 100.000, sementara yang lain melipatgandakannya. Perkiraan ini jelas tidak benar. Jumlah pasukan musuh kemungkinan antara 10 sampai 15 ribu orang. Dalam pertempuran ini, Pasukan Muslim gagal meraih kemenangan. Jika saja kekuatan musuh hanya dua kali jumlah mereka, tidak diragukan lagi mereka bisa menang; dan musuh harus berjumlah berkali-kali lipat untuk bisa mengalahkan pasukan Muslim. Dengan dasar inilah, perkiraan di atas dibuat.

Pertempuran dimulai dan kedua pasukan dengan segera bertempur dalam jarak dekat. Inti dari pertempuran ini terletak pada keberanian dan stamina daripada kemampuan militer. Komandan pasukan pun ikut bertempur di garis depan dengan benderanya. Tidak lama, Zayd gugur. Bendera yang jatuh ke tanah diambil oleh komandan kedua, Ja’far. Ia melanjutkan pertempuran di garis depan pasukan. Setelah tubuhnya diliputi luka yang sangat banyak, Ja’far juga gugur. Meninggalnya Ja’far membuat Pasukan Muslim patah semangat karena Ja’far adalah orang yang sangat mereka hormati dan cintai sebagai sepupu nabi. Kebingungan terlihat di barisan Pasukan Muslim. Segera, komandan ketiga, Abdullah bin Rawahah mengangkat bendera dan mengembalikan ritme pertempuran Muslim. Ia terus bertempur sampai ia pun juga gugur.

Kali ini, kekacauan benar-benar melanda barisan Muslim. Sebagian kecil melarikan diri dari medan tempur, namun tidak terlalu jauh. Sebagian besar masih tetap memberikan perlawanan meskipun dalam kekacauan, baik dalam kelompok dua orang, tiga orang, ataupun lebih. Beruntung pasukan musuh tidak memanfaatkan keuntungan ini. Kemungkinan, keberanian komandan-komandan Muslim yang telah gugur maupun pasukan Muslim lainnya membuat musuh lebih berhati-hati dan tidak berani menekan lebih jauh.

Ketika Abdullah sudah gugur, bendera diangkat oleh Tsabit bin Arqam. Ia meninggikan suaranya dan mengumumkan, “Wahai Muslimin, tunjuklah seseorang di antara kalian sebagai komandan.” Ia lalu melihat Khalid yang berdiri di sampingnya, lalu menawarkan bendera pasukan kepada Khalid. Khalid menyadari betul bahwa sebagai seorang yang baru masuk Islam, dirinya tidak memegang posisi yang tinggi di antara Pasukan Muslim. Ia mengetahui bahwa Tsabit bin Arqam lebih senior ke-Islam-annya dan ia berpikir bahwa itu hal yang penting. Khalid menolak sambil berkata, “Engkau lebih layak daripada aku.” Tsabit menjawab, “Jangan aku, tidak ada yang mampu selain Engkau!”[1] Hal ini memberikan angin kepada Pasukan Muslim karena mereka tahu keberanian dan kemampuan militer Khalid. Mereka semua sepakat pada penunjukan ini dan Khalid mengambil bendera, mengambil posisi sebagai komandan.

Situasi sekarang semakin serius dan bisa saja berubah semakin buruk menuju kehancuran total Pasukan Muslim. Komandan sebelum Khalid menunjukkan lebih cenderung menunjukkan keberanian dibandingkan taktik pertempuran. Khalid dihadapkan pada tiga pilihan. Pilihan pertama: mundur dan menyelamatkan Muslim dari kekalahan, tetapi akan dinilai sebagai kekalahan dan ia akan dipersalahkan sebagai orang yang mempermalukan Pasukan Muslim. Pilihan kedua: tetap meneruskan taktik bertahan.; dalam kasus ini, kekuatan musuh yang lebih besar akan tetap mengambil efek dan pertempuran berakhir dengan kekalahan Pasukan Muslim. Pilihan ketiga adalah menyerang dan mengguncangkan kestabilan pasukan musuh, kemudian memperoleh waktu untuk melakukan penilaian situasi dan merencanakan aksi yang akan diambil. Pilihan terakhir lebih cocok dengan karakter Khalid. Ia mengambil pilihan ini.

Pasukan Muslim menyerang dengan brutal di seluruh garis depan. Mereka maju menekan dengan kepemimpinan Khalid. Teladan yang Khalid berikan memberikan tambahan semangat bagi Muslim lainnya, pertempuran semakin keras. Untuk beberapa saat, pertempuran berlangsung sampai Qutbah, komandan sayap kanan Pasukan Muslim, berhasil membunuh komandan Kristen, yaitu Malik. Kejadian ini memukul pasukan musuh dan melahirkan kekacauan di barisan mereka. Pasukan Arab Kristen mundur, tetapi masih bertempur. Sebagian kecil masih mengumpulkan waktu untuk mereorganisasi pasukan. Pada saat itu juga, Khalid telah menggunakan pedangnya yang kesepuluh karena sembilan pedangnya yang lain telah patah dalam pertarungan sengit.

Catatan Kaki Halaman 2
[1] Ibnu Sa’d: hlm. 638.
____________________________________________________________________________
(Halaman 3)

Saat Pasukan Arab Kristen terpukul mundur, Khalid menahan Pasukan Muslim untuk tidak terlalu jauh menekan, kemudian ia perintahkan pasukannya untuk mundur tidak begitu jauh. Kedua pasukan kemudian berada di jangkauan memanah, keduanya hendak beristirahat dan mereorganisasi kembali pasukan mereka. Ronde terakhir pertempuran ini ditutup dengan keunggulan Pasukan Muslim yang sejauh itu baru kehilangan 12 orang. Tidak ada catatan tentang jumlah korban di pihak musuh, tetapi sangat mungkin jumlahnya jauh lebih besar karena setiap komandan pendahulu Khalid sangat berani dan merupakan petarung yang baik. Apalagi, jika sembilan pedang yang Khalid patahkan jatuh di tubuh musuh. Meskipun unggul, situasi saat itu tetap tidak menunjukkan prospek kemenangan. Setidaknya, Khalid berhasil menghindari kekalahan memalukan dan menghindari kehancuran total, menyelamatkan Pasukan Muslim dari bencana. Khalid tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Malam itu, Khalid mundur bersama pasukannya dari Mu’tah dan pulang ke Madinah.

Kabar tentang pulangnya mereka tiba terlebih dahulu di Madinah. Nabi dan Muslim yang tidak ikut bertempur, menunggu-nunggu kepulangan mereka. Hati para Muslim yang tidak ikut bertempur berada dalam kondisi kesal karena sejak Pertempuran Uhud, tidak pernah mereka lari dari musuh dan meninggalkan medan pertempuran sepenuhnya di tangan musuh. Ketika Pasukan Muslim tiba, wajah mereka dilempari debu.

“Wahai kalian yang kabur! Kalian melarikan diri dari jalan Allah,” cemooh mereka yang tinggal di Madinah. Nabi menahan mereka dan berkata, “Mereka tidak lari dari pertempuran. Mereka akan kembali untuk bertempur jika Allah menghendaki.”[1] Kemudian nabi mengumumkan, “Khalid adalah Pedang Allah.”[2]

Belakangan, kekesalan mereka pada Khalid padam dan kaum Muslim menyadari kebijakan, keputusan, dan keberanian Khalid yang ia tunjukkan dalam Pertempuran Mu’tah. Gelar yang diberikan nabi melekat padanya. Sejak saat itu, ia dikenal sebagai Sayfullah, Pedang Allah. Ketika nabi memberikan gelar ini pada Khalid, seolah-olah nabi memberikan jaminan akan kesuksesan Khalid dalam pertempuran-pertempuran berikutnya.

Sejumlah sejarawan menjelaskan bahwa Pertempuran Mu’tah sebagai kemenangan Pasukan Muslim; sejarawan lainnya menilainya sebagai kekalahan Pasukan Muslim. Pada kenyataannya, kedua pendapat ini tidaklah tepat. Pertempuran ini berakhir imbang; tetapi lebih menguntungkan Pasukan Arab Kristen karena Pasukan Muslim mundur dari medan pertempuran yang secara otomatis dipegang oleh Pasukan Arab Kristen. Pertempuran ini bukanlah pertempuran besar dan bukan pula yang sangat penting. Namun, pertempuran ini memberikan Khalid kesempatan untuk menunjukkan kemampuannya sebagai komandan. Pertempuran ini juga menjadi jalan baginya untuk memperoleh gelar Pedang Allah.

Catatan Kaki Halaman 3
[1] Ibnu Hisyam: Vol. 2, hlm. 382.
[2] Waqidi: Maghazi, hlm. 322.

--Akhir dari Bab 6--

sumber : https://www.kaskus.co.id/show_post/573be27aa2c06e725d8b4567/187/-


EmoticonEmoticon