Senin, 12 Desember 2016

Terjemahan The Sword of Allah : Khalid bin Al-Waleed (8) Pertempuran Uhud (bagian 5)


Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian V)
(Halaman 9)

Dalam Pertempuran Badr, seorang lelaki muda bernama Abdullah bin Ubay ditahan oleh pasukan (bukan Abdullah bin Ubay pemimpin Kaum Munafik). Ayahnya, Ubay bin Khalaf, datang dan menebus anaknya dengan 4.000 dirham. Setelah anaknya dibebaskan, Ubay bertingkah sombong dan tidak sopan. Ia berkata, "Hei Muhammad! Aku punya seekor kuda yang aku besarkan dengan banyak makanan, karena pada pertempuran berikutnya, aku akan mengendarai kuda tersebut dan aku akan membunuhmu." Nabi kemudian menjawab, "Tidak, kamu tidak akan membunuh saya. Tetapi saya yang membunuhmu di atas kuda itu, jika Allah menghendaki."[1] Lelaki itu kemudian tertawa meremehkan sambil berkuda dengan anaknya meninggalkan Madinah.

Dan sekarang, Ubay bin Khalaf maju mendekati nabi di atas kudanya. Ia melihat para sahabat nabi memberikannya jalan. Ia melihat sang nabi di atas kudanya dan dengan berat hati, ia mengakui keberanian laki-laki yang hendak ia bunuh. Sang nabi mengenakan dua lapis zirah rantai. Ia juga memakai pelindung kepala dari anyaman rantai beserta pelat pelindung pipi; pedangnya masih disarungkan, terikat dengan ikat pinggang kulit, dan tangan kanannya memegang tombak. Ubay melihatnya sebagai lelaki yang kuat, berbahu lebar, berlengan kekar, lengan yang bisa mematahkan tombak menjadi dua. Sang nabi terlihat sangat gagah.

Sangat sedikit di antara kita yang hidup di masa kini mengetahui bahwa Muhammad adalah salah satu Muslim terkuat di zamannya. Dengan ditambah kepribadiannya yang kuat dan mulia sebagai seorang yang dipilih oleh Allah, kita bisa membayangkan betapa berat untuk menghadapinya sebagai musuh. Namun Ubay tidak goyah. Ia baru saja membunuh seorang Muslim dan semangatnya sedang tinggi.

Nabi sebenarnya bisa dengan mudah meminta para sahabatnya untuk membunuh Ubay. Mereka akan melaksanakannya dan membunuhnya. Atau bisa saja ia memberikan perintah sederhana, “Bunuh lelaki itu,” dan sangat besar kemungkinan lelaki itu akan tewas karena ketika Ali telah bersiap membunuh seseorang, tidak ada yang bisa menyelamatkan calon korbannya. Tetapi nabi memerintahkan para sahabatnya untuk memberi jalan. Kali ini, ia tidak menghendaki bantuan dari siapa pun. Ini adalah masalah harga diri pribadi, sebuah persoalan tentang keksatriaan. Muhammad akan bertarung seorang diri sebagai seorang Arab yang bersikap ksatria. Ia tetap akan menemui penantangnya.

Ketika Ubay tiba di dekat nabi, ia menarik kudanya. Ia tidak dalam situasi yang terburu-buru. Tanpa ragu, ia mengira bahwa Muhammad akan menunggu dirinya menyerang, dengan santai ia mengeluarkan pedangnya dari sarung. Namun ia terlalu santai, nabi telah mengangkat tombaknya dan menyabetkan tombaknya ke bagian atas dada Ubay. Ubay mencoba menghindar, tetapi kurang cepat. Sabetan tombak tersebut mengenai bahu kanannya, di dekat leher. Lukanya cukup ringan, tetapi Ubay jatuh dari kudanya dan mematahkan rusuknya. Sebelum nabi sempat menyerang kembali, Ubay bangun dan lari tunggang langgang sambal berteriak ketakutan menuju rekan-rekannya. Rekan-rekannya menenangkannya dan bertanya tentang duelnya. Ubay menjawab dengan gemetaran, “Demi Allah, Muhammad telah membunuhku.”

Rekan Quraysy-nya memeriksa lukanya dan mengatakan agar ia tidak berlebihan karena lukanya ringan dan akan sembuh dengan segera. Suara Ubay justru meninggi, “Aku akan mati!” Ketika rekan-rekannya berusaha menenangkan, Ubay tidak bisa mengontrol dirinya sendiri dan berteriak, “Kukatakan pada kalian, aku akan mati! Muhammad pernah mengatakan padaku ia akan membunuhku. Kalau saja Muhammad hanya meludahiku, aku pasti mati!”[2] Ubay tidak bisa ditenangkan.

Kelak ketika pasukan Quraysy pulang ke Makkah, ia ikut bersama mereka. Saat mereka berkemah di suatu lokasi bernama Saraf, tidak jauh dari Makkah, laki-laki ini tewas. Penyebabnya tentu saja bukan efek fisik dati lukanya. Dan Allah Maha Mengetahui!

Catatan Kaki Halaman 9
[1] Ibnu Hisyam: hlm. 549; Ibnu Hisyam: Vol. 2, hlm. 84.
[2] Ibnu Hisyam: hlm, 84.

__________________________________________________________________________
(Halaman 10)

Pertempuran secara bertahap menjadi semakin sengit karena pasukan Muslim bertahan dengan kuat dan tidak menunjukkan tanda-tanda akan menyerah. Abu Sufyan dan Khalid menghendaki penyelesaian yang cepat karena pertempuran telah berlangsung terlalu lama. Pasukan Quraysy memutuskan untuk menekan lebih keras dan jika memungkinkan membunuh nabi karena kematiannya akan mematahkan perlawanan Muslim.

Sekelompok infantri Quraysy kemudian maju mendekati nabi. Pasukan Muslim terus bertahan dan banyak di antara mereka yang gugur. Tiga orang Quraysy berhasil menembus pertahanan dan berhasil memperoleh jangkauan untuk melempar batu ke arah nabi. Mereka bertiga adalah Utbah bin Abi Waqqas, Abdullah bin Shahab, dan Ibnu Qami'ah. Mereka mulai melemparkan batu ke arah nabi.

Empat lemparan Utbah (yang merupakan seorang saudara dari Sa'ad) mengenai wajah nabi, mematahkan beberapa gigi bawahnya dan melukai bibir bawahnya. Abdullah mendaratkan sebuah batu yang melukai kening nabi, sementara Ibnu Qami'ah melukai pipi nabi dan mematahkan dua rantai zirah kepalanya, lalu menusuk tulang pipinya.

Nabi terjatuh dan ditolong oleh Thalhah. Pada saat itu, pasukan kecil Muslim bersama nabi melakukan serangan balasan yang sangat kuat dan mendorong pasukan Quraysy ke belakang. Sa'ad meletakkan busurnya, mengeluarkan pedang dan berlari mengejar saudaranya, tetapi Utbah lari lebih cepat dan berlindung di barisan Quraysy. Nantinya, Sa'ad mengatakan bahwa belum pernah ia merasa sangat ingin membunuh seseorang sebesar keinginannya untuk membunuh saudaranya ini karena Utbah telah melukai sang nabi.

Nabi dan kelompoknya mendapat kesempatan lagi untuk sedikit beristirahat, menyeka darah dari wajahnya. Sambil membersihkan wajahnya, ia berkata, "Bagaimana mungkin suatu kaum akan bahagia setelah mereka mewarnai wajah nabi mereka dengan darah, padahal ia mengajak mereka kepada Tuhan mereka!"[1] Abu 'Ubaydah, yang sedikit banyak adalah seorang ahli bedah, mencoba mengeluarkan dua rantai kecil yang menusuk tulang pipi nabi. Akhirnya, ia harus menggunakan giginya dan dalam prosesnya, dua gigi Abu 'Ubaydah copot. Ia kemudian dikenal di antara orang Arab sebagai Al-Asram, yang berarti seseorang yang tidak memiliki gigi seri.

Di masa istirahat singkat ini, nabi memperoleh kekuatannya kembali dan pulih dari efek shock dari luka yang diperolehnya. Seorang perempuan berkulit hitam bernama Ummu 'Ayman berdiri di dekatnya. Ummu 'Ayman adalah perempuan yang pernah mengasuh nabi di masa kecilnya. Dari barisan Quraysy, seorang laki-laki bernama Haban bin Al-Arqa pelan-pelan berjalan ke daerah di mana panahnya dapat menjangkau musuh. Ia menembakkan panahnya dari sana dan mengenai punggung Ummu 'Ayman. Haban melihat kejadian ini sebagai hal yang lucu dan sambil terbahak-bahak, ia kembali ke barisan pasukan Quraysy. Sang nabi marah melihat kejadian ini. Ia mengambil sebuah anak panah dari wadah anak panahnya dan memberikannya pada Sa'ad. "Panah orang itu,"[2] perintahnya kepada Sa'ad. Sa'ad menarik anak panah pada busurnya, membidik dengan hati-hati, lalu menembakkannya pada kafir tadi dan menembus lehernya. Kali ini sang nabi yang tertawa!

Pasukan Quraysy melakukan serangan terakhir mereka kepada nabi dengan ganas dari segala arah. Lingkaran pertahanan yang dibuat para sahabat berhasil menahan serangan di hampir semua titik; tetapi di satu lokasi, Ibnu Qami'ah berhasil menembusnya dan ia langsung berlari menuju nabi. Laki-laki ini adalah salah seorang yang melemparkan batu kepada nabi dalam fase serangan sebelumnya. Di dekat nabi dan sedikit di sebelah kanannya, berdirilah Mush'ab bin 'Umayr dan seorang perempuan bernama Ummu Ammarah. Perempuan ini telah meninggalkan tugas utamanya untuk membawakan air untuk mereka yang terluka, dan kali ini, ia mengambil sebuah pedang dan musuh dari salah seorang korban pertempuran. Ia menjatuhkan seekor kuda dan melukai seorang kafir.

Ibnu Qami'ah salah mengira bahwa Mush'ab adalah nabi dan ia mengejarnya. Mush'ab menunggu dengan pedang terhunus dan mereka mulai berduel. Setelah beberapa kali saling serang, Ibnu Qami'ah membunuh Mush'ab bin 'Umayr dengan sebuah sabetan mematikan.

Ketika ia jatuh, Ummu Ammarah mengejar Ibnu Qami'ah dan menyabetkan pedangnya di bahu musuh. Ibnu Qami'ah memakai baju zirah rantai. Karena sabetan Ummu Ammarah sebagai seorang perempuan juga tidak terlalu kuat, Ibnu Qami'ah tidak terluka. Sebagai balasannya, Ibnu Qami'ah menyabetkan pedang ke bahu perempuan itu, tetapi karena pukulannya terburu-buru, luka ini tidak membunuh Ummu Ammarah. Ummu Ammarah mendapatkan luka yang cukup dalam di bahu dan ia terjatuh, tidak bisa bergerak untuk beberapa saat.

Catatan Kaki Halaman 10
[1] Ibnu Hisyam: Vol. 2, hlm. 80; Waqidi: Maghazi, hlm.191.
[2] Waqidi: Maghazi, hlm.189.

sumber : https://www.kaskus.co.id/show_post/5597b8b5507410683f8b456a/123/-


EmoticonEmoticon