Rabu, 14 Desember 2016

Terjemahan The Sword of Allah : Khalid bin Al-Waleed (17) Penaklukan Makkah (bagian 1)


Bab 7: Penaklukan Makkah (Bagian I)
(Halaman 1)
"Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan...." [Al-Qur’an, 110:1]
Sebagaimana disebutkan sebelumnya, dua suku di Makkah ikut bergabung dalam Perjanjian Gencatan Senjata Hudaybiyah, yaitu Khuza’ah yang berpihak pada Muslim dan Bani Bakr di pihak Quraysy. Kedua suku ini telah bermusuhan sejak sebelum datangnya Islam. Permusuhan ini tersimpan selama beberapa tahun sebelum datangnya Islam dan diharapkan dengan bergabungnya mereka dalam perjanjian ini, perdamaian akan mereka capai. Namun, sayang, hal ini tidak terjadi. Bani Bakr sekali lagi menarik benang permusuhan. Mereka melancarkan serangan di malam hari kepada Khuza’ah dan secara diam-diam dibantu oleh Quraysy yang membantu persenjataan dan sejumlah prajurit, di antaranya Ikrimah dan Shafwan bin Umayyah. Dalam serangan ini, dua puluh orang Khuza’ah terbunuh.

Sekelompok utusan Khuza’ah segera berangkat ke Madinah dan menginformasikan pelanggaran perjanjian kepada nabi. Utusan ini meminta aksi dan pertolongan dari Muslim, sekutu mereka.

Abu Sufyan sebenarnya tidak mengetahui bantuan oleh rekan Quraysynya dalam serangan ini. Ketika ia mengetahui hal ini, ia menjadi sangat panik karena ia sama sekali tidak bermaksud melanggar gencatan senjata. Khawatir Muslim akan membalas, ia segera berangkat ke Madinah untuk menegosiasikan perjanjian baru. Ketika ia tiba di Madinah, ia menemui anaknya, ‘Ummu Habibah yang merupakan istri nabi. ‘Ummu Habibah tidak memperdulikan Abu Sufyan. Abu Sufyan kemudian langsung menemui nabi dan berbicara dengannya, mengajukan perjanjian baru. Namun, nabi sama sekali tidak berbicara dengannya. Abu Sufyan bertambah khawatir dan perasaan panik memenuhi pikirannya.

Karena tidak menemukan satu pun cara untuk membujuk nabi, Abu Sufyan memutuskan untuk meminta bantuan sahabat-sahabat nabi yang terdekat. Ia menemui Abu Bakr dan memintanya berbicara dengan nabi, tetapi Abu Bakr menolak. Kemudian, Abu Sufyan menemui ‘Umar yang kita ketahui berwatak keras. ‘Umar menjawab permintaannya, “Demi Allah, kalaupun aku tidak punya apa-apa selain sekelompok tentara semut, aku akan tetap memerangimu.” Abu Sufyan pergi ke rumah ‘Ali. Di sana, ia berbicara dengan Fathimah, kemudian kepada ‘Ali. “Jika Rasulullah telah menetapkan sesuatu, tidak ada yang bisa membujuknya untuk berhenti,” jelas ‘Ali.

“Lalu, apa yang bisa engkau sarankan?” tanya Abu Sufyan.

“Engkau adalah pemimpin Quraysy, wahai Abu Sufyan! Jagalah perdamaian di antara manusia.” [1]

Saran ini bisa ditafsirkan dalam banyak makna, tetapi setidaknya, saran ini memberikan Abu Sufyan sedikit ketenangan dibanding respon yang ia dapatkan dari sahabat-sahabat nabi yang lain. Karena ia menyadari tidak ada lagi yang bisa ia lakukan, Abu Sufyan pulang ke Makkah. Ia gagal mendapatkan apapun.

Segera setelah perginya Abu Sufyan, nabi memerintahkan persiapan cepat untuk operasi militer skala besar. Tujuannya ialah mengumpulkan pasukan, bergerak dengan cepat, dengan penuh kerahasiaan agar Quraysy tidak mengetahui kedatangan Muslim sampai Muslim mengetuk pintu mereka secara langsung. Dengan demikian, Quraysy tidak akan memiliki cukup waktu untuk mencari pertolongan dari suku-suku tetangga. Di saat persiapan ini dilakukan, nabi mendapat informasi bahwa ada seorang wanita yang hendak menuju ke Makkah dengan surat berisi peringatan kepada Makkah terkait persiapan Muslim ini. Nabi mengirim ‘Ali dan Zubayr untuk segera mengejar wanita ini. Keduanya berhasil menangkap dan membawanya beserta suratnya kembali ke Madinah.



Catatan Kaki Halaman 1
[1] Ibnu Hisyam: Vol. 2, hlm. 396-397.
________________________________________________________________________________________________
(Halaman 2)

Pergerakan Pasukan Muslim dimulai dari Madinah pada tanggal 1 Januari 630 M (10 Ramadhan 8H). Banyak pasukan datang dari suku-suku Muslim berkumpul di Madinah, suku-suku lainnya bergabung di tengah perjalanan mereka. Dengan demikian, jumlah Pasukan Muslim berkembang menjadi 10.000 orang. Dengan pasukan ini, nabi tiba di Marruz Zahran, 10 mil (16 km-pent) di barat laut Makkah, tanpa diketahui sedikit pun oleh Quraysy.[1] Pergerakan ini adalah yang paling cepat yang pernah dicapai oleh Pasukan Muslim ini.

‘Abbas, paman nabi, kebetulan baru memutuskan untuk masuk Islam dan bermaksud untuk ke Madinah, bergabung dengan Muslim lainnya. Ketika Pasukan Muslim berada di Juhfah, mereka bertemu dengan ‘Abbas dan keluarganya. Masuk Islamnya ‘Abbas disambut dengan bahagia oleh nabi karena sebenarnya, hubungan mereka cukup baik sebelum ini.

Ketika Pasukan Muslim berada di Marruz Zahran, ‘Abbas merasa khawatir dengan takdir yang akan diterima Makkah. Ia khawatir jika Pasukan Muslim merebut Makkah dengan kekuatan, pertempuran akan mengakibatkan kehancuran Quraysy. Ia memutuskan membicarakan hal ini kepada nabi dan akhirnya mendapat izin untuk memberitahukan kepada Quraysy. Dengan mengendarai bagal nabi, ia berangkat ke Makkah, memperingatkan mereka akan konsekuensi jika mereka melawan dan membujuk mereka untuk mengirim utusan kepada Muslim. Pada saat itu, Abu Sufyan kebetulan sedang akan pergi ke pinggiran Makkah untuk mengecek, apakah Pasukan Muslim sudah datang. ‘Abbas dan Abu Sufyan bertemu di tengah-tengah perjalanan mereka.

“Kabar apa yang engkau bawa, wahai Ayah Fadhl?” tanya Abu Sufyan.

‘Rasulullah datang dengan pasukan berjumlah 10.000 orang,” jawab ‘Abbas.

“Lalu, apa yang sebaiknya kami lakukan?”

“Jika Muslim menaklukkan Makkah setelah menumpas perlawanan kalian, sudah pasti mereka akan memenggal kepala kalian. Ayo kita temui nabi dan aku akan memintanya untuk menyelamatkan nyawamu.”

Abu Sufyan mengendarai bagalnya di belakang ‘Abbas yang juga mengendarai bagal. Mereka pergi menuju perkemahan Pasukan Muslim dan sampai setelah malam tiba. Kebetulan pula, ‘Umar memegang tugas sebagai komandan pasukan penjaga dan sedang berpatroli di sekitar perkemahan dengan psikologi penuh kewaspadaan. Dia adalah orang yang pertama melihat dan mengenali kedua pengunjung ini dan menghardik, “Ah! Abu Sufyan, musuh Allah! Segala puji bagi Allah yang membuatmu datang ke kemah kami tanpa pengamanan.” ‘Umar lalu berlari ke kemah nabi dan ‘Abbas, mengetahui tujuan ‘Umar, segera memacu bagalnya. Ketiganya sampai di kemah nabi secara bersamaan dan berargumen sengitlah ‘Umar dan ‘Abbas. ‘Umar meminta izin nabi untuk memotong leher si Musuh Nomor Satu, sementara ‘Abbas bersikeras bahwa ia punya hak untuk memberi perlindungan pada Abu Sufyan sampai ia bisa menyampaikan pesannya kepada nabi. Nabi membubarkan mereka dan menginstruksikan mereka untuk datang lagi keesokan paginya. ‘Abbas membawa Abu Sufyan ke kemahnya dan ia menghabiskan malamnya dengan gelisah memikirkan bagaimana nasibnya nanti.

Keesokan paginya, ‘Abbas dan Abu Sufyan menemui nabi. Dari jauh, nabi melihat mereka dan berkata, “Seseorang ingin menjadi Muslim, tetapi belum ber-Islam di dalam hatinya.” Saat keduanya benar-benar tiba di kemah, nabi bertanya, “Wahai Abu Sufyan! Tidakkah kamu tahu bahwa tidak ada tuhan selain Allah?”

“Aku baru menyadarinya sekarang. Jika tuhan-tuhanku yang kupercaya benar-benar ada, mereka tentu akan menolongku.”

“Dan tidakkah kamu mengakui bahwa aku adalah Rasulullah?”

Kondisi saat itu merupakan momen terburuk dalam hidup Abu Sufyan. Ia adalah seorang pemimpin Quraysy yang berkedudukan tinggi, salah satu bangsawan di sukunya, keturunan ‘Umayyah. Ia selalu menganggap dirinya sebagai orang nomor satu dan dalam hal ini, ia memang benar karena pada kenyataannya, ia adalah pemimpin Makkah, seorang laki-laki yang dihargai dan dihormati oleh penduduk Makkah. Sekarang, ia berdiri sebagai seorang yang menyerah di depan orang yang benar-benar telah ia aniaya dan ia perangi selama empat tahun, seseorang yang kebinasaannya adalah tujuan dari setiap syarafnya.

Catatan Kaki Halaman 2
[1] Marruz Zahran adalah sebuah lembah kecil yang bagian paling rendahnya menjadi Wadi Fathimah dan melintasi jalan raya modern Jeddah-Makkah, sekitar 20 mil (32 km-pent). 
________________________________________________________________________________________________
(Halaman 3)

“Saat ini, ada sedikit keraguan dalam pikiranku,” jawab Abu Sufyan.

‘Abbas memandang tajam kepada Abu Sufyan, lalu mencelanya, “Celaka engkau, wahai Abu Sufyan! Menyerahlah atau engkau akan dipenggal!”

Abu Sufyan terburu-buru berkata, “Aku mengakui bahwa Muhammad adalah Rasulullah!”

Sekarang ‘Abbas yang berbisik dengan nabi, “Wahai Rasulullah, Abu Sufyan adalah orang yang senang dengan kebanggaan. Ia juga punya martabat dan harga diri tinggi. Tidakkah sebaiknya engkau berlaku baik padanya dan memberikan sesuatu yang cocok baginya?” [1]

Nabi pun mengumumkan, “Siapa saja yang masuk ke rumah Abu Sufyan akan selamat.” Wajah Abu Sufyan berseri-seri. Ia telah diberi penghargaan khusus oleh Muhammad. Nabi melanjutkan, “Siapa saja yang mengunci pintu rumahnya akan selamat. Siapa saja yang berlindung di Masjid (Al-Haram-pent) akan selamat.”

Abu Sufyan pun pulang ke Makkah, penduduk Makkah pun telah berkumpul, menunggu kabar akan nasib mereka. Abu Sufyan mengumumkan, “Wahai Quraysy! Muhammad telah datang dengan kekuatan yang tidak bisa kalian imbangi. Menyerahlah kepadanya dan kalian akan selamat. Siapa saja yang masuk ke rumahku, ia akan selamat.” Pengumuman ini disambut cemoohan dan protes, “Berapa orang yang engkau pikir bisa cukup di rumahmu?” Abu Sufyan tetap melanjutkan, “Siapa saja yang tinggal di rumahnya dan mengunci pintu akan selamat. Siapa saja yang berlindung di Masjid (Al-Haram-pent) akan selamat.”

Pengumuman ini menenangkan warganya, tetapi tidak dengan istrinya, Hindun. Ia melompat ke arahnya seperti kucing liar, menampar wajah suaminya, dan menarik kumisnya. “Bunuh orang tua bodoh ini! Ia telah berkhianat kepada kita.” teriaknya ke kerumunan penduduk Makkah. Karena Hindun bukanlah wanita yang lemah, kejadian ini pasti kejadian yang cukup menyakitkan secara fisik bagi Abu Sufyan. Namun akhirnya, ia bisa memaksa Hindun pulang ke rumah.

Pasukan Muslim tetap bersiaga akan perlawanan dari Makkah saat mereka memasukinya. Mereka tidak bisa memastikan bahwa operasi ini akan berjalan tanpa kekerasan sepenuhnya meskipun nabi berharap tidak ada darah yang tertumpah. Mereka tidak pernah tahu apa yang akan dilakukan oleh kelompok anti-Muslim garis keras seperti Ikrimah dan Shafwan. Oleh karena itu, nabi tetap merancang operasi penaklukan Makkah sebagai operasi militer.

Makkah terbentang di Lembah Ibrahim, dikelilingi dan didominasi oleh bukit bebatuan besar kehitaman yang menjulang lebih dari 1.000 kaki (305 m-pent) dari kakinya. Saat itu, kota ini bisa dimasuki dari empat rute, masing-masing melalui celah-celah bukit di barat laut (hampir utara), barat daya, selatan, dan timur laut. Nabi membagi pasukannya dalam empat korps, masing-masing melalui celah yang berbeda. Korps utama yang dipimpin oleh Abu ‘Ubaydah beserta nabi di dalamnya akan memasuki Makkah dari rute Madinah, yaitu rute barat laut via Azakhir. Korps kedua dipimpin oleh Zubayr masuk dari barat daya melalui celah di barat Bukit Kuda. Korps ketiga dipimpin oleh ‘Ali masuk dari selatan via Kudai; dan korps keempat dipimpin oleh Khalid masuk dari timur laut via Layt dan Khandama. (Lihat Peta 5 di bawah ini) [2]


Korps-korps ini maju menusuk dengan formasi mengerucut bertujuan untuk memecah barisan musuh menjadi bagian-bagian kecil dan juga untuk memaksa perhatian musuh terpecah serta tidak bisa fokus menyerang ke satu bagian Pasukan Muslim. Tambahan juga, meskipun nanti musuh bisa menahan sejumlah poin serangan, pasukan yang menyerang masih punya banyak poin lain untuk ditembus sehingga prospek keberhasilan lebih besar. Semua pendekatan digunakan untuk mencapai tujuan taktik ini. Taktik ini juga dilakukan untuk mencegah adanya Quraysy yang melarikan diri dari Makkah; tetapi nantinya ketika situasi lebih relaks, sejumlah orang tetap akan berhasil melarikan diri.

Catatan Kaki Halaman 3
[1] Ibnu Hisyam: Vol. 2, hlm. 402-405; Ibnu Sa’ad: hlm. 644; Waqidi: Maghazi, hlm. 327-331.
[2] REFERENSI YANG HILANG Kepada apa hal itu mengacu?- Keseluruhan area yang tergambar dalam Peta 5 adalah perbukitan, tetapi karena perbukitan tidak bisa digambarkan secara akurat tanpa bantuan peta topografi berskala, perbukitan ini tidak ditunjukkan dalam peta. Hal yang ditunjukkan hanya lokasi-lokasi dan arah pergerakan korps-korps.

sumber : https://www.kaskus.co.id/show_post/57429f2f902cfe9f068b4569/191/-


EmoticonEmoticon