Rabu, 14 Desember 2016

Terjemahan The Sword of Allah : Khalid bin Al-Waleed (18) Penaklukan Makkah (bagian 2)


Bab 7: Penaklukan Makkah (Bagian II)
(Halaman 4)

Nabi menekankan kepada pasukannya untuk menghindari pertempuran sebisa mungkin, kecuali ada perlawanan dari Quraysy. Ia juga memerintahkan pasukan untuk tidak membunuh orang yang terluka, tidak mengejar mereka yang lari, dan tidak membunuh tawanan.

Mereka bergerak ke kota Makkah pada tanggal 11 Januari 630 M (20 Ramadhan 8 H). Masuknya mereka ke Makkah benar-benar dengan damai dan tanpa pertumpahan darah, kecuali di sektor Khalid. Ikrimah dan Shafwan berhasil mengumpulkan anti-Muslim garis keras dari Quraysy dan beberapa suku lain. Mereka memutuskan untuk setidaknya menyulitkan Pasukan Muslim untuk masuk ke Makkah. Mereka bertemu dengan korps Khalid di Khandama dan hal ini adalah pengalaman yang baru dan tidak biasanya bagi Khalid. Dua komandan pasukan musuh adalah dua teman dekatnya, yaitu Ikrimah dan Shafwan; dan Shafwan juga adalah suami saudari Khalid yang bernama Faktah. Namun, Islam membatalkan semua hubungan dan persahabatan dalam kejahiliyahan; tidak diizinkan seorang yang bukan Muslim untuk mengklaim sesuatu dari Muslim karena hubungan di masa lalu.

Pasukan Quraysy membuka serangan mereka dengan tembakan panah, lalu mulai menghunuskan pedang mereka. Inilah yang Khalid tunggu-tunggu. Ia maju menyerbu pasukan kecil Quraysy dan setelah pertempuran singkat dan sengit terjadi, Pasukan kecil Quraysy itu dipukul mundur. Dua belas orang Quraysy terbunuh dan dua orang Muslim gugur. Ikrimah dan Shafwan melarikan diri dari lokasi.

Ketika nabi menerima kabar ini dan kabar jumlah orang yang terbunuh, ia merasa kesal dengan Khalid. Ia sangat berharap agar sama sekali tidak terjadi pertumpahan darah. Mengetahui watak Khalid yang keras, ia khawatir bahwa Khalid yang memulai penyerangan. Khalid segera dipanggil untuk menghadap dan ditanya tentang keputusan militernya. Namun, penjelasan Khalid dapat diterima oleh nabi yang menilai Khalid melakukan tindakan yang benar. Khalid benar-benar hanya membela diri. Sudah menjadi watak Khalid ketika ia diserang, ia akan membalas serangan dengan lebih kuat. Tidak ada yang setengah-setengah dari wataknya ini.

Tidak lama, Makkah berhasil direbut oleh Muslim, nabi pergi ke Ka’bah dan melakukan thawaf tujuh kali di Rumah Allah. Momen itu adalah momen yang luar biasa bagi nabi. Lebih dari tujuh tahun sejak ia meninggalkan Makkah sebagai orang yang dicari-cari untuk dibunuh. Muhammad bukan lagi buronan. Ia bukan lagi seperti suara tangisan dari tempat pengasingan. Muhammad telah kembali sebagai tuan dengan Makkah di kakinya. Orang-orang Quraysy gemetaran di sisi Ka’bah karena mereka sangat paham bagaimana watak orang Arab dalam balas dendam.

Nabi berputar dan melihat ke arah mereka. Mereka semua diam memandangnya, mengira-ngira tentang bagaimana nasib mereka. “Wahai Quraysy! Bagaimana sebaiknya aku memperlakukan kalian?” tanya nabi.

“Perlakukan kami dengan baik, wahai saudara kami yang mulia, wahai anak saudara kami yang mulia pula!” teriak orang-orang Quraysy.

“Bubarlah! Kalian semua telah dimaafkan.”[1]

Nabi kemudian masuk ke dalam Ka’bah dan melihat berhala-berhala dengan berbagai bentuk dan ukuran tersusun di sepanjang dinding. Di dalam dan di sekitar Ka’bah, ada 360 berhala yang berupa pahatan kayu maupun batu, termasuk patung Ibrahim memegang panah undian nasib. Dengan sebilah tongkat besar di tangannya, nabi menghancurkan semua berhala sampai berkeping-keping. Setelah selesai, ia merasa beban berat di pundaknya telah hilang. Ka’bah telah dibersihkan dari tuhan-tuhan palsu; sekarang, hanya Allah yang akan disembah di Rumah Allah. Nabi dengan bahagia mengumumkan (sebuah ayat Al-Qur’an) di atas Ka’bah, “Kebenaran telah datang dan kebatilan telah lenyap!”[2]

Hari-hari berikutnya dihabiskan untuk konsolidasi dan reorganisasi. Kebanyakan penduduk Makkah masuk Islam dan menyatakan janji setianya kepada Rasulullah.

Sebelum ia masuk ke Makkah, nabi telah mengumumkan nama 10 orang (enam laki-laki dan empat perempuan) yang harus dibunuh di tempat meskipun mereka berlindung di dalam Ka’bah. Kesepuluh orang ini adalah orang yang bisa disebut kriminal perang dalam istilah modern. Mereka adalah orang-orang murtad dan/atau mengambil peran langsung maupun tidak langsung dalam penyiksaan maupun pengkhianatan terhadap kelompok Muslim. Nomor 1 di daftar tersebut adalah ‘Ikrimah; Hindun juga termasuk dalam golongan ini.

Catatan Kaki Halaman 4
[1] Ibnu Hisyam: Vol. 2, hlm. 412.
[2] Ibid: Vol. 2, hlm. 417; Al-Qur’an, 17:81. 
__________________________________________________________________________
(Halaman 5)

Ketika ia lari dari pertempuran dengan Khalid, ‘Ikrimah bersembunyi di dalam kota. Ketika Muslim mulai menurunkan kewaspadaan, ia mengendap-endap kabur menuju Yaman dengan tujuan menaiki kapal menuju Habasyah (Ethiopia-pent). Istri ‘Ikrimah yang masuk Islam memohon pada nabi untuk mengampuninya. Permintaan ini dikabulkan oleh nabi. Perempuan ini dengan segera berangkat ke Yaman dimana ia menemukannya dan membawanya kembali ke Makkah. Setibanya di Makkah, ‘Ikrimah langsung menghadap nabi dan berkata, “Akulah orang yang telah keliru dan sekarang bertobat. Ampunilah aku!” [1] Nabi menerima penyerahan diri dan maafnya. ‘Ikrimah sekarang bergabung dalam persaudaraan umat Islam.

Shafwan bin ‘Umayyah, meskipun tidak termasuk dalam daftar kriminal perang, khawatir dengan nyawanya dan melarikan diri ke Jeddah, juga untuk mencari kapal menyeberangi Laut Merah menuju Habasyah. Seorang temannya memintakan ampunan kepada nabi untuknya dan nabi menerimanya. Nabi tidak ada niat untuk membunuh Shafwan dan perlu diketahui bahwa nabi akan dengan sangat senang menerima kembalinya Shafwan. Teman Shafwan ini pergi ke Jeddah dan membawa Shafwan kembali ke Makkah. Shafwan menyerahkan dirinya pada nabi, tetapi hanya secara personal dan politis. Untuk masalah Islam, ia meminta nabi untuk memberinya waktu selama dua bulan untuk berpikir. Nabi memberinya empat bulan.

Di antara mereka yang terdaftar sebagai kriminal perang, hanya tiga laki-laki dan dua perempuan yang dihukum mati. Sisanya diampuni, termasuk Hindun yang masuk Islam.

Setelah menghancurkan berhala-berhala di Ka’bah, nabi mengirim ekspedisi kecil ke perkampungan-perkampungan sekitar Makkah di mana sejumlah berhala masih dipuja di kuil-kuil lokal. Khalid dikirim ke Nakhla untuk menghancurkan ‘Uzza, dewi paling penting dalam agama lama Quraysy. Khalid berangkat bersama 30 orang berkuda.[2]

Tampaknya ada dua Uzza, Uzza asli dan Uzza palsu. Khalid berhasil menemukan Uzza palsu dan menghancurkannya, lalu kembali ke nabi untuk memberi laporan bahwa tugasnya telah selesai. “Apakah engkau tidak melihat sesuatu yang aneh?” tanya nabi. “Tidak ada,” jawab Khalid. “Engkau belum menghancurkan ‘Uzza. Kembalilah ke sana,” perintah nabi.

Khalid marah pada kesalahannya sendiri, ia kembali ke Nakhla dan kali itu bertemu ‘Uzza yang asli. Penjaga kuil ‘Uzza telah melarikan diri, tetapi sebelum ia meninggalkan dewinya itu, penjaga kuil menggantungkan sebilah pedang di leher ‘Uzza dengan harapan dewi itu bisa melindungi dirinya sendiri. Ketika Khalid memasuki kuil, ia berhadapan dengan seorang perempuan hitam telanjang yang meraung-raung. Khalid tidak banyak pikir panjang entah perempuan ini hendak menggodanya atau melindungi berhala ‘Uzza, Khalid langsung menghunus pedangnya dan menebas perempuan itu menjadi dua. Khalid melanjutkan dengan menghancurkan patung berhala dan pulang ke Makkah, melaporkan apa yang telah ia kerjakan pada nabi. “Benar,” nabi berkata, “dia adalah ‘Uzza; dan tidak akan pernah lagi ia disembah di tanah ini.”[3]

Tepat atau di sekitar 20 Januari 630 H setelah penghancuran berhala, sebuah insiden yang patut disayangkan terjadi pada Bani Jadzima. Nabi mengirim sejumlah pasukan kecil ke suku-suku di sekitar Makkah dan menginstruksikan kepada komandan-komandannya untuk tidak memerangi mereka yang menerima ajakan. Nabi kembali menekankan untuk menghindari pertumpahan darah. Pasukan kecil yang dikirim ke area Tihamah, selatan Makkah, dipimpin oleh Khalid. Pasukannya terdiri dari 350 orang berkuda dari berbagai suku, sebagian besar dari Bani Sulaym dan sisanya dari Anshar serta Muhajirin. Tujuan pasukan ini adalah Yalamlam, sekitar 50 mil (80,5 km-pent) dari Makkah. (Lijat Peta 4)

Ketika Khalid sampai di Al-Ghumaysa, sekitar 15 mil (24 km-pent) sebelum Yalamlam, ia bertemu sekelompok orang Bani Jadzima. Mereka melihat Pasukan Muslim dan mempersiapkan senjata mereka, sambil berkata, “Kami telah ber-Islam. Kami sudah mendirikan shalat dan membangun masjid.”

“Lalu apa maksud kalian dengan senjata-senjata itu?” tanya Khalid.

“Kami pernah bersengketa dengan sejumlah suku-suku Arab dan kami hendak melindungi diri kami dari mereka.”

Catatan Kaki Halaman 5
[1] Waqidi: Maghazi, hlm.332.
[2] Pada masa itu, ada lembah bernama Lembah Nakhla yang sekarang dikenal dengan nama Wadi’ul Yamaniyah. Rute Makkah-Thaif melalui daerah ini. Namun Nakhla yang disebutkan di sini berada 4 atau 5 mil (6,4 atau 8 km-pent) di selatan Bir’ul Batsa. 
[3] Ibnu Sa’ad: hlm. 657. 
_____________________________________________________________________________
(Halaman 6)

“Letakkan senjata kalian! Semua orang telah masuk Islam dan kalian tidak perlu membawa senjata,” perintah Khalid.

Seorang laki-laki dari Bani Jadzima berteriak pada teman-temannya, “Dia ini Khalid, anak Al-Walid. Hati-hati dengannya! Setelah meletakkan senjata, tangan akan diikat, dan setelah tangan diikat, leher akan dipotong!”[1]

Klan Khalid dan Bani Jadzima pernah bersengketa. Sebelum datangnya Islam, sekelompok kecil kafilah dagang Quraysy pulang dari Yaman. Mereka beristirahat di kampung Bani Jadzima, lalu Bani Jadzima menjarah barang mereka dan membunuh dua orang penting, yaitu ‘Awf, ayah dari ‘Abdurrahman bin ‘Awf, dan Fakiha bin Al-Mughirah, paman Khalid. ‘Abdurrahman kemudian membalas pembunuh ayahnya dan menyelesaikan perkara pribadinya itu. Namun, kematian Fakiha belum terbalaskan. Semua hal ini terjadi di masa jahiliyah.

Sekelompok orang Bani Jadzima tersebut saling berselisih di antara mereka sendiri, terutama kepada yang baru berteriak tadi, “Apa kamu membuat kita semua terbunuh? Semua suku telah meletakkan senjata mereka dan masuk Islam. Perang telah usai.”[2] Setelah argumen singkat, mereka memutuskan untuk meletakkan senjata mereka.

Kejadian berikutnya tidak terlalu jelas. Ada kemungkinan bahwa jiwa-jiwa kesukuan dan kejahiliyahan Khalid muncul kembali, ia baru beberapa bulan saja masuk Islam. Di sisi lain, ada juga kemungkinan bahwa baru masuknya Khalid ke dalam Islam menjadikan semangat keagamaannya terlalu berlebihan sehingga ia meragukan kejujuran ke-Islam-an Bani Jadzima. Setelah mereka meletakkan senjata mereka, Khalid memerintahkan pasukannya untuk mengikat tangan mereka. Kemudian ia memerintahkan agar mereka semua dibunuh. Hanya Bani Sulaym yang mematuhi Khalid dan membunuh tawanan mereka, jumlah mereka tidak diketahui. Pasukan Khalid dari sejumlah suku lainnya menolak untuk menjalankan perintah. Protes keras disuarakan oleh ‘Abdullah, anak ‘Umar, dan Abu Qatadah, namun Khalid menolak protes mereka. Abu Qatadah dengan segera pulang ke Makkah dan menginformasikan kepada nabi tentang apa yang telah Khalid lakukan.

Nabi sangat terkejut. Ia mengangkat tangannya ke langit dan berkata, “Ya Rab! Aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang Khalid lakukan.”[3] Ia kemudian mengirim ‘Ali dengan uang yang sangat besar untuk mengobati perasaan Bani Jadzima dan membayar denda pembunuhan. ‘Ali menjalankan misinya dengan baik dan tidak pulang sebelum Bani Jadzima benar-benar puas.

Khalid sekarang dipanggil oleh nabi untuk memberi penjelasan atas keputusannya. Khalid berkata bahwa ia tidak percaya bahwa para korban benar-benar masuk Islam, ia menganggap mereka terkesan bermaksud menipunya, dan Khalid beranggapan bahwa ia membunuh mereka di jalan Allah.

Abdurrahman bin ‘Awf hadir bersama nabi dalam sidang tersebut. Ketika ia mendengar penjelasan Khalid, ia berkata, “Engkau telah melakukan perbuatan jahiliyah di masa Islam.”

Mendengar ini, terlintas dalam pikiran Khalid keinginan membela diri dan ia menjawab, “Tetapi aku membalaskan dendam pembunuh ayahmu.” Abdurrahman menghardiknya, “Engkau bohong! Aku telah membunuh pembunuh ayahku di masa lalu dan mengembalikan kehormatan keluargaku. Engkau memerintahkan pembunuhan di Bani Jadzima sebagai pembalasan atas terbunuhnya pamanmu, Fakiha.”

Percakapan ini berlanjut menjadi debat panas antara keduanya. Debat ini menjadi bumerang bagi Khalid karena Abdurrahman adalah salah satu di antara Sepuluh Sahabat yang Diberkahi dan posisi ini termasuk posisi elit di jajaran sahabat. Sebelum debat ini semakin tidak terkontrol, nabi memotong dan berkata tegas, “Janganlah engkau cela para sahabatku, wahai Khalid! Seandainya engkau memiliki emas seukuran gunung dan menginfakkannya di jalan Allah, tetap tidak akan menyamai derajat sahabatku.”[4] Sebutan sahabat ini tentu saja mengacu pada sahabat-sahabat yang lebih awal masuk Islam, karena Khalid juga adalah seorang sahabat.

Dengan demikian, Khalid dinyatakan bersalah. Ia dimaafkan, tetapi ia mendapat pelajaran penting bahwa dirinya sebagai orang yang terlambat masuk Islam, statusnya tidaklah sama dengan sahabat-sahabat yang lebih awal masuk Islam, apalagi terhadap Sepuluh Sahabat yang Diberkahi. Pengalaman ini akan menjadi pelajaran berharga baginya untuk masa yang akan datang.

Catatan Kaki Halaman 6
[1] Ibnu Sa’ad: hlm. 659-660; Ibnu Hisyam: Vol. 2, hlm. 429.
[2] Ibid.
[3] Ibid.
[4] Ibnu Sa’ad: Vol. 2, hlm. 431. 

--Akhir dari Bab 7--

sumber : https://www.kaskus.co.id/show_post/5746754912e2579c1b8b4567/193/-


EmoticonEmoticon