Kamis, 15 Desember 2016

Terjemahan The Sword of Allah : Khalid bin Al-Waleed (32) Akhir Hayat Malik bin Nuwayrah


Bab 15: Akhir Hayat Malik bin Nuwayrah
(Halaman 1)

“Kami dahulu seperti teman minum-minumnya Jadzimah
untuk beberapa lama, sampai-sampai dikatakan, kami tidak akan berpisah.
Kami menghabiskan waktu terbaik hidup kami, tetapi di hadapan kami,
kematian telah menghancurkan bangsa Kisra dan Tubba’.
Ketika kami berpisah, seakan-akan Malik dan aku,
meski telah lama bersama, tidak pernah bertemu meskipun hanya semalam.”
[Mutammim bin Nuwayrah, berduka karena kematian saudaranya, Malik.][1]

Setelah menyelesaikan urusannya dengan Salmah dan para pengikutnya, Khalid memberi perintah kepada pasukannya untuk berangkat ke Butah untuk menghadapi Malik bin Nuwayrah. Ia sama sekali tidak mengira bahwa pasukannya sendiri akan menentang rencananya ini. Persiapan untuk berangkat dilaksanakan sesuai perintah, tetapi ketika waktu keberangkatan tiba, sekelompok besar prajuritnya menolak untuk berangkat.

Mereka adalah para Anshar. Petinggi-petinggi mereka datang menemui Khalid dan mengatakan bahwa mereka tidak mau berangkat ke Butah. Mereka menyatakan, “Apa yang engkau rencanakan sekarang tidak termasuk dalam instruksi-instruksi Khalifah. Instruksinya adalah untuk bertempur di Buzakha dan membebaskan daerah di sekitarnya dari kemurtadan. Setelah itu, kita akan menunggu instruksi lanjutannya.”

Khalid terkejut dengan pernyataan ini. Ia tidak ingin membiarkan kelompok ini untuk menghalangi rencana yang menurutnya tepat meskipun mereka adalah sekelompok Sahabat (Nabi-pent) yang sangat dihormati. Ia menjawab, “Itu mungkin instruksi Khalifah kepada kalian, tetapi instruksinya kepadaku adalah untuk memerangi kaum kafir. Dalam kondisi apapun, saya adalah panglima pasukan ini. Saya mengetahui informasi yang lebih lengkap daripada kalian. Jika saya melihat suatu kesempatan meskipun hal itu tidak diinstruksikan secara spesifik, saya tidak akan membiarkannya berlalu begitu saja. Akankah ketika kita dihadapkan dengan ancaman meskipun tidak ada instruksi khusus dari Khalifah, apakah kita akan membiarkannya begitu saja? Malik bin Nuwayrah ada di sana dan saya akan memeranginya. Cukup para Muhajirin dan mereka yang berkeinginan, untuk mengikutiku. Mereka yang tidak mau, aku tidak akan memaksakan hal ini.”[2]

Khalid berangkat tanpa para Anshar.

Belum sampai satu jam berlalu, Anshar menyadari kesalahan serius mereka dalam menolak perintah berangkat bersama korps. Salah seorang dari mereka berkata, “Jika mereka berhasil, kita akan mendapat bagian.” Salah seorang yang lain menambahkan, “Dan jika mereka gagal, tidak seorang pun akan mau berbicara dengan kita lagi.” Mereka dengan segera memutuskan. Mereka mengirim seseorang yang memiliki kendaraan cepat untuk menemui Khalid untuk mengatakan, “Tunggu! Kami ikut berangkat.” Khalid pun menunggu sampai mereka bergabung dan kemudian melanjutkan perjalanan ke Butah.

Sekitar pekan pertama November 632 M (pertengahan Sya’ban 11 H), Khalid tiba di Butah dan bersiap untuk bertempur. Tetapi Butah tidak mempersiapkan diri untuk melawan. Tidak seorang prajurit musuh pun tampak di sana.

Ketika Sajah sang nabiyah palsu meninggalkan Arabia menuju Iraq, Malik bin Nuwayrah mulai meragukan keputusannya untuk ikut serta dalam konspirasi melawan Islam. Ia menerima laporan tentang bagaimana Pedang Allah telah menghancurkan pasukan Thulayhah. Ia juga mendengar bagaimana hukuman berat yang dijatuhkan Khalid kepada para kriminal pembunuh Muslimin. Malik ketakutan. Dengan perginya Sajah, ia kehilangan sekutu yang kuat. Ia merasa telah ditinggalkan dan dikhianati.

Ia mulai menyadari betapa serius keputusannya untuk membuat perjanjian dengan sang nabiyah palsu. Rasa penyesalannya pada kemurtadan sangat jelas dan tidak bisa dibantah. Malik adalah seorang pemberani, tetapi ia merasa tidak sanggup untuk memerangi Khalid.

Catatan Kaki Halaman 1
[1] Ibnu Katsir, Al-Bidayah wan Nihayah, Dar Abi Hayyan, Kairo, Edisi I. 1416/1996, Vol. 6 hlm.394.
[2] Ath-Thabari: Vol. 2, hlm. 501. Dari percakapan ini, terlihat bahwa keputusan Khalid untuk berangkat ke Butah adalah keputusannya sendiri dan tidak termasuk dalam rencana yang dibuat oleh Khalifah, tetapi menurut Ath-Thabari (Vol.2, hlm. 480 dan 483), instruksi Abu Bakr kepada Khalid dengan jelas termasuk untuk memerangi Malik bin Nuwayrah di Butah setelah urusan dengan Thulayhah telah diselesaikan. Kemungkinan, prajurit-prajurit yang menolak berangkat tidak mengetahui bahwa Khalifah telah memberikan arahan ini kepada komandan mereka. 
____________________________________________________________________________
(Halaman 2)

Merasa tidak berdaya dan ditinggalkan sekutunya, Malik memutuskan untuk menyelamatkan apa yang bisa ia selamatkan. Ia bermaksud untuk menebus kesalahannya dengan bertobat dan menyerahkan diri, suatu tindakan yang harus ia lakukan secara politis karena tidak ada lagi yang bisa ia lakukan selain dari hal tersebut. Malik mengumpulkan anggota klannya dari Bani Yarbu’ dan mengumumkan kepada mereka,

“Wahai Bani Yarbu’! Kita telah mengabaikan pemerintah kita ketika kita diajak untuk tetap bertahan dalam keimanan. Dan kita juga telah mencegah orang lain untuk taat pada mereka. Kita telah melakukan hal yang buruk. Aku telah mempelajari situasi saat ini. Aku menilai bahwa situasi saat ini berpihak kepada mereka sementara kita tidak bisa berbuat apa-apa. Janganlah kalian melawan mereka! Pulanglah ke rumah kalian dan berbuat baiklah pada mereka.”[1]

Dengan perintah ini, prajuritnya bubar. Malik kemudian pulang ke rumahnya yang tidak jauh dari Butah, kembali kepada istrinya, Layla, yang cantik menawan.

Satu tindakan lagi Malik lakukan untuk menunjukkan perubahan hatinya. Ia mengumpulkan semua zakat dan mengirimnya kepada Khalid yang sedang dalam perjalanan menuju Butah ketika utusannya bertemu dengan Khalid. Khalid mengambil zakat tersebut, tetapi tidak menganggapnya sebagai bentuk tobat dan penyesalan yang cukup karena pengiriman zakat adalah memang sebuah kewajiban.

Khalid bertanya kepada utusan Malik, “Apa yang membuat kalian bersekutu dengan Sajah?” Utusan-utusan itu menjawab, “Tidak lebih dari keinginan untuk membalas dendam kepada suku-suku musuh.”[2]

Khalid tidak bertanya lebih jauh, tetapi ia tetap dalam kecurigaan. Bisa jadi, ini adalah trik untuk membuatnya lengah dan untuk memancingnya pada sergapan tiba-tiba. Sejak ia disergap di Hunayn, Khalid tidak pernah mengendurkan kewaspadaannya. Ia terus maju dengan standar militer bersiap menghadapi perlawanan musuh bersenjata.

Khalid tiba di Butah yang tidak memiliki pertahanan maupun prajurit. Tidak ada pasukan yang hendak mereka perangi. Ia menaklukkan Butah dan mengirim sejumlah detasemen kavaleri untuk menyisir ke wilayah sekitar untuk mencari klan-klan murtad dari Bani Tamim. Kepada setiap komandan detasemen ini, ia mengulangi instruksi Khalifah: ketika bertemu suatu klan, mereka akan memanggil dengan adzan; jika klan itu memenuhi panggilan adzan, klan itu akan dibiarkan; jika tidak, klan itu akan diserang.

Pada keesokan jarinya, satu detasemen yang dikomando oleh Dhirar bin Al-Azwar menemukan rumah Malik bin Nuwayrah. Dhirar menangkap Malik dan Layla, beserta sejumlah orang dari Bani Yarbu’. Detasemen-detasemen lain tidak menemui masalah karena semua klan menyerah tanpa perlawanan.

Malik dan Layla dibawa menghadap Khalid. Malik dihadapkan dalam pengadilan sebagai pemimpin pemberontak dan pemimpin murtad atas perbuatan kriminalnya melawan Negara dan Islam. Penampilannya terlihat menantang, sesuai dengan kondisinya sebagai bangsawan sukunya. Ia menghadapi pengadilannya dengan martabat seorang bangsawan. Ia tidak bisa merendahkan dirinya di hadapan siapa pun.

Khalid mulai berbicara. Ia menyampaikan perbuatan-perbuatan kriminal yang telah Malik lakukan dan kerusakan apa saja yang telah ia sebabkan kepada Islam. Kemudian Khalid mengajukan beberapa pertanyaan. Dalam jawabannya, Malik memanggil nabi yang mulia sebagai “pemimpinmu”. Khalid murka dengan perilaku terdakwa yang angkuh dan tidak menunjukkan rasa penyesalan. Khalid berkata, “Tidakkah engkau menganggap dirinya sebagai pemimpinmu?”[3]

Khalid merasa yakin bahwa Malik telah bersalah, tidak bertobat, dan tetap dalam kekafiran. Ia memberikan perintah eksekusi mati. Dhirar membawa Malik pergi dan melakukan sendiri eksekusi mati tersebut. Demikianlah akhir hayat Malik bin Nuwayrah.

Layla pun menjadi janda muda, tetapi tidak dalam waktu lama. Malam itu juga, Khalid menikahinya! Belum sempat ia berduka atas meninggalnya suaminya ketika ia menjadi pengantin kembali, kali ini dengan Pedang Allah!

Ketika Khalid mengumumkan keinginannya untuk menikahi Layla, sejumlah Muslim tidak bisa menganggap enteng permasalahan ini. Beberapa orang di antara mereka bahkan mengira bahwa Malik telah masuk Islam kembali dan Khalid memerintahkan hukuman mati dengan tujuan agar dapat menikahi Layla. Salah seorang yang terpandang dari golongan Sahabat (nabi-pent), yaitu Abu Qatadah, memprotes langsung kepada Khalid, tetapi Khalid menjawabnya dengan argumen yang cukup kuat. Merasa diabaikan dan marah atas apa yang ia anggap sebagai tindakan sewenang-wenang dari Khalid, Abu Qatadah memacu kudanya secepat mungkin menuju Madinah pada keesokan harinya. Sesampainya di ibukota, ia langsung menemui Abu Bakr dan mengabarkan bahwa Malik bin Nuwayrah adalah seorang Muslim dan Khalid telah membunuhnya agar dapat menikahi Layla yang cantik. Abu Qatadah juga adalah orang yang sama yang dahulu memberi laporan dan pengaduan kepada nabi bahwa Khalid telah dengan kejam membunuh Bani Jadzimah meskipun mereka menyerah, sesaat setelah Penaklukan Makkah. Celaannya kepada Khalid bukan hal yang baru.

Catatan Kaki Halaman 2
[1] Ath-Thabari: Vol. 2, hlm. 501-502.
[2] Ibid.
[4] Ibid: Vol.2, hlm. 504.
____________________________________________________________________________
(Halaman 3)

Namun Abu Bakr tampak tidak senang melihat Abu Qatadah yang meninggalkan posnya tanpa persetujuan panglimanya. “Kembalilah ke posmu!” perintah Khalifah dan Abu Qatadah pun kembali ke Butah.[1]

Tetapi sebelum Abu Qatadah pergi, informasi darinya telah tersebar di Madinah. ‘Umar yang mendengar kabar ini dengan segera menemui Abu Bakr. ‘Umar berkata kepada Khalifah, “Engkau telah menunjuk seorang panglima yang membunuh Muslim dan membakar orang hidup-hidup.”[2] Abu Bakr tidak terkesan. Ia mengetahui dengan pasti bahwa Malik tidak mengirimkan kewajiban zakat dari klannya ketika mendengar berita wafatnya nabi, begitu juga dengan informasi bahwa ia bersekutu dengan Sajah. Tidak diragukan lagi bahwa Malik telah murtad. Tentang hukuman bakar hidup-hidup, Khalifah sendiri yang memerintahkan bahwa orang-orang murtad yang membakar Muslim harus dihukum dengan cara yang sama.[3] Khalid tidak melakukan hukum bakar secara serampangan.

‘Umar melanjutkan, “Ada kedzhaliman pada pedang Khalid. Ia harus dibawa pulang dalam keadaan dibelenggu. Pecat orang ini!”

Abu Bakr paham bahwa ada sedikit rivalitas antara kedua laki-laki besar ini. Ia menjawab dengan tegas, “Wahai ‘Umar, jaga lidahmu dari mencela Khalid. Saya tidak akan menyarungkan kembali pedang yang telah Allah hunuskan terhadap para kafir.” Saat itu, Khalid sudah secara umum dipanggil sebagai Pedang Allah.

‘Umar bersikeras, “Tetapi musuh Allah ini telah membunuh seorang Muslim dan mengambil istrinya!”[4] Abu Bakr akhirnya mengikuti kemauan ‘Umar. Ia memanggil Khalid.

Saat itu, Khalid telah mengetahui bahwa penentangan terhadap perbuatannya ini telah tersebar. Ia pasrah dan hal ini terlihat dari kata-katanya, “Ketika Allah menetapkan sesuatu, pastilah itu akan terjadi.”[5] Bagaimanapun juga, sebuah kritik kecil tidak membuat Khalid khawatir. Kemudian, datanglah panggilan Khalifah kepadanya untuk pulang ke Madinah. Khalid mengira bahwa panggilan ini terkait tuduhan kepada dirinya dan ia pun mulai merasa khawatir.

Setibanya ia di Madinah, Khalid langung berjalan menuju masjid. Di masa tersebut, masjid bukan hanya sebagai tempat beribadah. Masjid juga adalah ruang rapat, tempat pertemuan, sekolah, tempat beristirahat, dan pusat kegiatan pemerintahan. Khalid memakai sorban yang berhiaskan anak panah. Penampilan ini membuatnya terlihat agak mewah, berbeda dengan kebanyakan Muslim yang memilih untuk lebih sederhana dalam berpakaian dan menghindari segala bentuk yang menunjukkan kesombongan.

‘Umar berada di masjid dan melihat Khalid. Dengan wajah memerah marah, ia berjalan ke arah Khalid, mematahkan hiasan anak panah di sorbannya. ‘Umar membentaknya, “Engkau telah membunuh seorang Muslim dan mengambil istrinya. Engkau seharusnya dirajam.”[6] Khalid paham bahwa ‘Umar memiliki pengaruh besar dalam kebijakan Abu Bakr. Khawatir bahwa Khalifah memiliki pendapat yang sama, ia pergi dan tidak meladeni ‘Umar.

Ia kemudian menemui Abu Bakr yang langsung meminta penjelasan darinya. Khalid menyampaikan keseluruhan laporannya. Setelah menimbang dan menilai kondisinya, Khalifah memutuskan bahwa Khalid tidak bersalah. Namun, ia menegur keras jenderalnya karena menikahi Layla. Dan karena masih ada kemungkinan kesalahan dari sisi Khalid, Abu Bakr tetap memerintahkan pembayaran uang diyat kepada ahli waris Malik.

Catatan Kaki Halaman 3
[1] Ath-Thabari: Vol.2, hlm. 501-502.
[2] Baladzuri: hlm. 107.
[3] Ath-Thabari: Vol.2, hlm. 482.
[4] Ibid: Vol.2, hlm. 503-504; Baladzuri: hlm. 107.
[5] Ath-Thabari: Vol.2, hlm. 502.
[6] Ath-Thabari: Vol.2, hlm. 504. 
____________________________________________________________________________
(Halaman 4)

Khalid keluar dari rumah Khalifah. Langkahnya ringan dan lepas dari beban pikiran, ia berjalan menuju masjid di mana ‘Umar duduk bercengkerama dengan sejumlah sahabatnya. Kali ini, Khalid memiliki pijakan lebih kuat dan merasa bisa menjawab dalam argumen. Ia memanggil ‘Umar, “Kemarilah, wahai Kidal!”[1] ‘Umar segera paham bahwa Khalifah telah membebaskan Khalid dari tuduhan. Ia berdiri dan tanpa berkata-kata, langsung pulang ke rumahnya.

Permasalahan Malik dan Layla ini telah menjadi bahan perselisihan dalam sejarah Muslim. Beberapa dari mereka mengutip sumber seperti Abu Qatadah yang mengatakan bahwa keluarga Malik telah mengumandangkan adzan dan bahwa Malik telah kembali masuk Islam sebelum ia ditahan. Pendapat lainnya menyatakan bahwa Khalid tidak pernah memerintahkan hukuman mati pada Malik, tetapi karena cuaca saat itu dingin dan Khalid mengatakan kepada prajuritnya, “Hangatkanlah tawananmu,” perintah ini dimaknai berbeda oleh Dhirar yang mengira bahwa dalam beberapa dialek Arab, “menghangatkan” memiliki makna konotasi “membunuh”.

Versi-versi ini, dari berbagai kemungkinan yang ada, tidaklah benar. Kedua pendapat ini telah ditawarkan oleh dua pihak: pihak pertama yang ingin menjelaskan penentangan ‘Umar kepada Khalid dan pihak kedua yang ingin membersihkan nama Khalid dari tuduhan kemungkinan bersalah dalam membunuh seorang Muslim.

Tidak ada keraguan dalam hal kemurtadan dan pemberontakan Malik bin Nuwayrah, penolakannya membayar zakat, persekutuannya dengan Sajah, dan partisipasi prajurit pengikutnya dalam aksi militer Sajah. Semua sejarawan tanpa kecuali melaporkan kejadian ini. Tidak ada keraguan juga dalam pikiran penulis bahwa Khalid memerintahkan hukuman mati kepada Malik dan ia melakukannya dengan niat jujur dan murni karena keterlibatan Malik dalam kemurtadan dan pemberontakan. Tetapi kecurigaan terus tersembunyi dalam benak sejumlah orang Arab, salah satunya ‘Umar, bahwa putusan hukuman tersebut dipengaruhi keinginan pribadi. ‘Umar juga semakin diyakinkan dengan pendapat ini oleh saudara laki-laki Malik yang datang mengunjunginya dan mengabarkan kepadanya bahwa Malik adalah seorang yang sangat baik dan betapa tragisnya ia jatuh menjadi korban hawa nafsu Khalid!

Intinya, Malik dihukum mati dan Layla yang cantik, bermata dan berkaki indah, menjadi istri Khalid bin Al-Walid. Suatu hari, ia akan membayar mahal untuk kebahagiaannya ini!

Catatan Kaki Halaman 4
[1] Ath-Thabari: Vol.2, hlm. 504. 

--Akhir dari Bab 15--

sumber : https://www.kaskus.co.id/show_post/5796fbbddc06bdeb0f8b456b/226/-


EmoticonEmoticon