Rabu, 14 Desember 2016

Terjemahan The Sword of Allah : Khalid bin Al-Waleed (19) Pertempuran Hunain (bagian 1)


Bab 8: Pertempuran Hunayn (Bagian I)
(Halaman 1)

“Sesungguhnya Allah telah menolong kamu di banyak medan peperangan, dan pada Pertempuran Hunayn, yaitu ketika kalian menjadi congkak karena banyaknya jumlah kalian, tetapi jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat sedikitpun kepadamu. Dan bumi yang luas itu telah terasa sempit bagi kalian, kemudian kalian lari ke belakang dengan bercerai-berai.
Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan bala tentara yang tidak bisa kalian lihat, dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang yang kafir, dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir.
Sesudah itu Allah menerima taubat dari orang-orang yang Ia dikehendaki. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [Al-Qur’an, 9:25-27]
Baru saja penduduk Makkah menyatakan kesetiaan mereka kepada nabi dan kehidupan kota kembali normal, angin permusuhan mulai bertiup dari arah timur. Suku-suku besar Hazawin dan Tsaqif bersiap-siap di jalan peperangan.

Hawazin tinggal di daerah timur laut Makkah dan Tsaqif tinggal di daerah Tha’if. Mereka adalah dua suku yang bertetangga dan mulai khawatir dengan perkembangan kekuatan Muslim setelah menaklukkan Makkah. Mereka khawatir Pasukan Muslim akan menyerang dan memaksa mereka bertempur secara terpisah di kampung-kampung mereka sendiri. Untuk menghindari serangan tiba-tiba, mereka memutuskan untuk melakukan serangan ofensif, berharap insiatif ini akan membantu mereka. Kedua suku berkumpul di Awtas, di dekat Hunayn, sejumlah suku-suku lainnya juga ikut bergabung. Pasukan ini berkoalisi sebagaimana Pasukan Sekutu di Pertempuran Parit. Kekuatan mereka sebesar 12.000 orang pasukan dan kepemimpinan militer terpusat pada pemuda 30 tahun yang penuh semangat bernama Malik bin ‘Awf. Jenderal muda ini memutuskan untuk membuat pasukannya berada dalam situasi yang membuat mereka bertarung hidup mati. Ia memerintahkan mereka untuk membawa serta keluarga dan hewan ternak dalam pertempuran.

Pimpinan lainnya dalam koalisi ini adalah orang tua bernama Durayd bin As-Simma. Dengan usianya yang sudah tua, ia telah kehilangan kekuatannya untuk memimpin pasukan dalam pertempuran, tetapi ia adalah seorang bijaksana yang memberi dukungan moral bagi para pasukan; dan karena ia adalah seorang veteran berpengalaman, saran-sarannya dalam hal militer sangat diharapkan. Pandangan militernya tidak terbantahkan.

Di Awtas, Si Tua Duraid mendengar suara-suara bising yang biasanya terdengar apabila ada keluarga dan hewan-hewan ternak berkumpul. Ia memanggil Malik dan bertanya, “Mengapa aku mendengar suara unta, ringkikan keledai, embikan kambing, teriakan perempuan, dan anak-anak mengangis?” Malik menjawab, “Aku memerintahkan kepada semua keluarga dan hewan ternak bergabung dengan pasukan. Setiap laki-laki akan bertarung untuk keluarga dan harta mereka di belakang mereka sehingga mereka akan bertarung dengan keberanian yang lebih.”

“Laki-laki bertarung dengan pedang dan tombak, bukan dengan perempuan dan anak-anak,” kata Durayd. “Tempatkan perempuan dan hewan ternak di jarak yang aman dari medan pertempuran. Jika kita menang, mereka bisa bergabung dengan kita. Jika kita kalah, setidaknya mereka akan selamat.”

Malik menganggap ini sebagai keraguan terhadap keputusannya dan kemampuannya dalam memimpin pasukan. “Aku tidak akan mengirim mereka ke mana-mana,” Malik marah, “Engkau sudah pikun dan otakmu sudah tidak beres.” Durayd mundur dari perdebatan dan membiarkan Malik menjalankan taktiknya. Malik kemudian menemui komandan-komandan bawahannya dan berkata, “Ketika kalian menyerang, menyeranglah secara serentak. Ketika serangan kira dimulai, patahkan sarung pedang kalian.”[1] Mematahkan sarung pedang adalah adat orang Arab yang menunjukkan sebuah semangat untuk menyerang sampai mati terbunuh.

Sampai masa itu, baru Hawazin yang membawa keluarga dan hewan ternak mereka ke kemah pasukan. Suku-suku lainnya tidak pernah melakukan hal yang demikian.

Nabi tidak menginginkan pertumpahan darah lebih jauh, tetapi karena tidak ada pilihan lain, ia berangkat menghadapi musuh baru. Ia tidak ingin menunggu dan memberi waktu koalisi baru terbentuk untuk menyerangnya seperti yang terjadi tiga tahun sebelum ini, yaitu pada Pertempuran Parit. Ditambah lagi, jika ia mengambil posisi bertahan di Makkah sedangkan musuh bertahan di Awtas, situasi saling menunggu akan berkepanjangan sampai berbulan-bulan; dan nabi tidak bisa membuang waktu selama itu. Ia harus mengurus masalah-masalah pemerintahan dan menyegerakan masuk Islamnya seluruh Arab selagi dampak psikologis jatuhnya Makkah masih segar dalam pikiran orang-orang Arab. Dengan berkumpulnya kekuatan musuh di Awtas, ia tidak bisa mencapai tujuan ini. Dalam kondisi apapun, keberadaan tantangan pasukan musuh dalam jumlah besar di saat itu akan mengurangi dampak psikologis Penaklukan Makkah. Tantangan musuh ini harus dijawab dan harus dihancurkan. Keputusan nabi untuk bergerak menyerang menciptakan situasi yang tidak umum, dua pihak yang akan bertempur maju untuk bersama-sama berinisiatif menyerang.

Pada tanggal 27 Januari 630 M (6 Syawwal 8 H), Pasukan Muslim meninggalkan Makkah. Pasukan ini terdiri dari 10.000 pasukan yang menaklukkan Makkah ditambah 2.000 orang mu’allaf Makkah. Peran para mu’allaf ini masih diragukan karena Islam belum masuk sepenuhnya dalam hati mereka; mereka ikut berangkat karena mereka merasa bahwa hal itu harus mereka lakukan. Di antara mereka adalah Abu Sufyan dan Shafwan bin ‘Umayyah. Shafwan telah diberi waktu empat bulan untuk memutuskan masuk Islam atau tidak, tetapi pada saat itu, ia sudah menunjukkan dukungannya pada nabi, bahkan ikut menyumbangkan 100 baju baja bagi Pasukan Muslim untuk pertempuran ini.

Catatan Kaki Halaman 1
[1] Ibnu Hisyam: Vol. 2, hlm. 438-439.
_______________________________________________________________________________
(Halaman 2)

Pergerakan Pasukan Muslim dipimpin oleh 700 orang Bani Sulaym yang beroperasi di bawah komando Khalid. Pada malam tanggal 31 Januari, Pasukan Muslim tiba di Lembah Hunayn dan mendirikan kemah mereka.

Hunayn adalah sebuah lembah yang dimulai dari Syara’i`ul Mujahid (baru) yang berlokasi 11 mil (17,7 km-pent) timur laut Makkah, sampai di Syara’i Nakhla (lama) 7 mil (11,3 km-pent) ke arah timur. Lembah ini berlanjut ke timur sejauh 7 mil lagi dan kemudian berbelok ke utara menuju Zayma (lokasi-lokasi ini belum ada di masa itu). Di antara kedua Syara’i, lembah ini cukup luas, sekitar 2 mil (3,2 km-pent), tetapi setelah lewat dari Syara’i lama, lembah ini menyempit menjadi sekitar seperempat mil (0,4 km-pent) sampai setengah mil (8 km-pent). Pada bagian yang mendekati Zayma, lembah ini semakin sempit. Di bagian kedua inilah, Lembah Hunayn berbentuk celah sempit dan paling sempit berada di Zayma. Setelah Zayma, rute menuju Tha’if menerus sampai di Wadi Nakhlatul Yamaniyah. (Lihat Peta 6)

Khalid ibn Al-Walid, the Sword of God

Ketika Pasukan Muslim hendak memasuki Lembah Hunayn, masing-masing pihak telah mengirimkan mata-mata untuk memperoleh informasi kekuatan musuh masing-masing. Kedua pihak mengetahui dengan baik kekuatan, lokasi, dan pergerakan lawan masing-masing. Seorang mata-mata menyusup di antara Hawazin di Awtas, ia mendapat informasi rinci tentang kekuatan koalisi dan mengendap kabur untuk menyampaikan informasi ini kepada nabi. Ketika ia memberikan laporan ini, ‘Umar juga berada bersama nabi. Karena suatu alasan, ‘Umar tidak mempercayai laporan ini. ‘Umar memanggilnya pembohong, kemudian dijawab oleh mata-mata tersebut, “Jika engkau memanggilku seorang pembohong, engkau mendustakan kebenaran. Dan engkau dulu juga seorang pendusta yang lebih baik dariku.” Mata-mata itu menyinggung masa lalu ‘Umar yang sebelum ke-Islam-annya adalah seorang musuh nabi yang sangat kuat permusuhannya.

‘Umar menoleh ke arah nabi dan berkata, “Tidakkah engkau mendengarnya?” Nabi menjawab, “Tenanglah, wahai ‘Umar! Engkau dulu tersesat dan Allah menunjukkan jalan bagimu.”[1] ‘Umar pun terdiam.

Ketika Pasukan Muslim tiba di kemah mereka di Lembah Hunayn, laporan mata-mata tentang kedatangan mereka diterima oleh Malik bin ‘Awf. Ia memperkirakan bahwa Pasukan Muslim sudah mengetahui keberadaan mereka di Awtas dan hendak bertempur di dekat Awtas. Ia memutuskan untuk merencanakan taktik mengelabui Pasukan Muslim.

Sebelum fajar tanggal 1 Februari 630 M (11 Syawwal 8 H), Pasukan Muslim berbaris maju ke Awtas, tempat musuh berada berdasarkan perkiraan mereka. Tujuan pergerakan fajar ini adalah melewati celah sempit Hunayn sebelum musuh mengetahui pergerakan mereka. Pasukan garis depan kembali ditempati oleh Bani Sulaym yang dipimpin oleh Khalid. Di belakangnya, Pasukan Muslim dari berbagai kesatuan, termasuk 2.000 orang Makkah. Kemah dibiarkan berdiri sebagai markas operasi.

Di saat sinar awal matahari tampak di langit timur, pasukan garis depan memasuki celah sempit (sekitar 2 mil/3,2 km sebelum Zayma). Mereka telah menyiapkan diri untuk bertempur dan mengejutkan musuh di Awtas, Khalid pun meningkatkan kecepatan pasukannya. Dan kemudian, badai menerjang!

Khalid adalah orang pertama yang menjadi korban sergapan musuh. Keheningan fajar dipecahkan oleh pekikan perang ribuan orang, panah ditembakkan bukan dalam puluhan, tetapi ratusan. Anak-anak panah ini berjatuhan seperti hujan, suaranya berdesir tajam menusuk kuda dan manusia. Bani Sulaym tidak melakukan apapun terhadap musuh. Mereka juga tidak berpikir maupun mencari tempat berlindung. Mereka memutar balik dan bergegas melarikan diri. Khalid berteriak kepada pasukannya untuk bertahan, tetapi suaranya tidak terdengar dalam kebisingan dan kebingungan pasukannya. Ia sendiri terluka parah dan terbawa arus manusia dan kuda yang berlari mundur; namun tidak jauh, ia jatuh dari kudanya dan tidak bisa bangun, ia tidak bisa bergerak karena lukanya.

Karena Bani Sulaym berlari kabur dalam kepanikan, mereka berlari ke arah satuan pasukan lainnya yang memenuhi celah sempit Hunayn. Satuan pasukan ini pun mengetahui bahwa sesuatu yang buruk telah terjadi. Pasukan dari Makkah yang masih setengah hati ikut berputar balik dan bergabung melarikan diri, diikuti oleh sejumlah satuan Pasukan Muslim lainnya. Di antara mereka, ada yang berkumpul di kemah, tetapi kebanyakan lari menyebar tidak tentu arah, mencari tempat berlindung dari sergapan. Tidak ada satu pun yang mengetahui secara rinci apa yang telah terjadi. Kebingungan semakin bertambah ketika unta-unta dan kuda-kuda tunggangan berlarian saling menabrak untuk melarikan diri.

Catatan Kaki Halaman 2
[1] Ibnu Hisyam: Vol.2, hlm. 440. 
________________________________________________________________________________
(Halaman 3)

Malik bin ‘Awf telah memberikan kejutan lebih dulu bagi musuh yang hendak memberinya kejutan. Pada malam hari sebelumnya, ia telah menempatkan pasukannya di celah Hunayn yang sempit di mana manuver apapun sulit dilakukan. Pasukannya ditempatkan di dua sisi celah ini dan bersembunyi di belakang batu-batu besar maupun di balik pecahan-pecahan bukit. Di depan, ada orang Hawazin dengan sejumlah kecil orang Tsaqif. Kemudian disusul barisan Tsaqif dan suku-suku lainnya. Malik telah menyusun persiapan taktiknya dengan baik. Ia melakukan hal ini setelah hari mulai gelap sehingga Pasukan Muslim akan mengira bahwa mereka masih di Awtas. Taktiknya adalah untuk memberikan sergapan di celah sempit Hunayn dengan tujuan menghancurkan Pasukan Muslim atau setidaknya memukul mundur mereka kembali ke Makkah. Di belakang lokasi penyergapan [1], ada sebuah celah sempit lainnya yang dijadikan jalur melarikan diri bagi pasukannya jika taktik penyergapannya tidak berjalan sesuai rencana. Selama celah itu diamankan, Pasukan Muslim tidak akan bisa bergerak ke Awtas, markas Malik.

Kebanyakan dari Mu’allaf Makkah justru tampak senang melihat kejadian ini. Abu Sufyan berkata, “Kaburnya mereka tidak akan berhenti sampai mereka tiba di tepi laut!” Bersama Shafwan, hadir juga saudara tirinya yang berkata, “Sekarang, sihir Muhammad akan terungkap.” Shafwan membentaknya, “Diam kamu! Semoga Allah merobek mulutmu! Lebih baik seorang dari Quraysy yang memimpin kita daripada orang Hawazin!”[2]

Nabi tetap berdiri bersama sembilan orang sahabatnya, termasuk ‘Ali, Abu Bakr, ‘Umar, dan ‘Abbas. Ketika pasukannya lari melewati beliau, nabi memanggil mereka, “Wahai Muslimin! Aku di sini! Aku Rasulullah! Aku Muhammad bin ‘Abdullah!”[3] Namun suaranya tidak terdengar. Bagian depan Pasukan Hawazin tiba di dekat berdirinya nabi dan di sana, ‘Ali membunuh kafir pertama di Hunayn, yaitu seorang penunggang unta merah bersenjatakan lembing panjang yang diujungnya terpasang bendera hitam. Laki-laki ini sedang mengejar Pasukan Muslim yang melarikan diri. ‘Ali mengejarnya bersama seorang Muslim lainnya. ‘Ali memotong tendon kaki belakang unta tunggangannya dan ketika Si Hawazin itu jatuh, Muslim lainnya memenggalnya.

Nabi kemudian bergerak ke arah kanan pasukannya dan berlindung di bawah bebatuan. Beberapa orang Tsaqif datang ke arah kelompok Nabi, tetapi dipukul mundur oleh para Sahabatnya.

Malik bin ‘Awf telah melakukan sesuatu terhadap Pasukan Muslim yang tidak pernah mereka alami sebelumnya. Bagi Pasukan Muslim, kejadian ini adalah pengalaman pertama mereka mendapat sergapan. Kebanyakan dari mereka hilang akal dan melarikan diri dari medan pertempuran. Dalam situasi sedemikian, hanya mereka para pemberani yang tidak panik.

Malik telah mempersiapkan taktiknya dengan brilian, tetapi sial baginya, pasukannya tidak menjalankan taktik ini sesuai harapannya. Mereka tidak menunggu sampai badan utama Pasukan Muslim masuk ke celah perangkap, mereka sudah mengawali sergapan mereka pada pasukan garis depan. Dan Malik sekarang melakukan kesalahan, yaitu merasa puas dengan apa yang dicapainya saat itu; setelah maju beberapa ratus meter, ia tidak berupaya untuk mengejar Pasukan Muslim yang melarikan diri. Jika saja ia melakukannya, jalan cerita pertempuran ini akan berbeda. Tambahan lagi, pemanah-pemanah Hawazin melakukan kerja yang buruk. Meskipun sejumlah Muslim dan tunggangan mereka terluka, tidak ada satupun yang terbunuh dalam sergapan ini.

Sang Nabi yang mulia mensurvey pemandangan di sekitarnya dan ia menilai bahwa masih ada harapan yang sangat menjanjikan. Ia memutuskan untuk tidak membiarkan Malik memperoleh kemenangan mudah. Ia memerintahkan ‘Abbas untuk memanggil Pasukan Muslim untuk berkumpul di sekitar nabi. ‘Abbas adalah seorang laki-laki bertubuh besar dengan suara yang kuat, menurut beberapa laporan dapat didengar sampai bermil-mil jauhnya. Ia pun berteriak memanggil dengan sekuat-kuatnya, “Wahai Muslimin! Mendekatlah kepada Rasulullah! Wahai Anshar… Wahai Para Sahabat…” Ia memangil setiap suku secara berurutan untuk berkumpul di sekitar Nabi.

Panggilan itu didengar oleh kebanyakan Pasukan Muslim dan mereka segera bergerak ke arah di mana nabi berdiri. Segera setelah terkumpul 100 orang di dekat nabi, nabi memerintahkan mereka untuk melakukan serangan balasan. Mereka menyerang para Hawazin di dekat nabi dan memukul mundur mereka. Dengan segera, kelompok Muslim ini berkembang sampai akhirnya ribuan orang kembali bergabung dengan nabi. Ketika nabi menilai bahwa kekuatan mereka sudah mencukupi, ia memerintahkan serangan umum kepada Pasukan Hawazin.

Catatan Kaki Halaman 3
[1] Saya tidak berhasil menemukan lokasi celah ini. Kemungkinan ada pada atau di dekat Zayma.
[2] Ibnu Hisyam: Vol.2, hlm.443-445.
[3] Ibid.

sumber : https://www.kaskus.co.id/show_post/5754ee375c77986a5c8b456c/194/-


EmoticonEmoticon