Rabu, 14 Desember 2016

Terjemahan The Sword of Allah : Khalid bin Al-Waleed (21) Pengepungan Tha'if



Bab 9: Pengepungan Tha’if
(Halaman 1)

Dikatakan kepadanya, “Wahai Rasulullah! Berdo’alah kepada Allah agar Suku Tsaqif (dari Tha’if) diadzab.” Nabi menjawab, “Ya Allah! Berilah petunjuk kepada Suku Tsaqif dan bawalah mereka (kepada kami).”[1]
Nabi telah memukul mundur musuh di Hunayn dan mengusir mereka dari Awtas. Sekarang, ia memutuskan untuk tidak memberikan kesempatan bagi Malik untuk bernapas dan mengorganisasi perlawanan lebih jauh. Oleh karena itu, ia mengirim tawanan dan hewan ternak dari Awtas ke Jirana untuk dijaga sampai pasukan mereka kembali. Keesokan harinya, ia berangkat ke Tha’if, kota di mana kekuatan besar musuh berkumpul. Namun, ia bergerak dengan hati-hati setelah mengambil pelajaran dari sergapan di Hunayn. Jalan menuju Tha’if berbukit-bukit dengan banyak dindingnya yang curam sampai tiba di lokasi dataran tinggi Tha’if. Dalam situasi muka bumi sedemikian, seorang jenderal cerdas seperti Malik bisa mempersiapkan sergapan hampir di mana saja yang ia mau.

Dari Awtas, nabi dan pasukannya berjalan melewati Lembah Nakhla dan kemudian berbelok ke selatan memasuki Wadi’ul Mulayh. Dari sana, ia memasuki Wadi’ul Qarn, dan dari wadi tersebut, ia tiba di dataran sejauh 7 mil (11,3 km-pent) barat laut Tha’if. Sesampainya di lokasi tersebut, tidak ada pasukan yang menghadang dan menyergap. Mata-mata nabi melaporkan bahwa tidak ada konsentrasi Pasukan Tsaqif di luar Tha’if. Meskipun demikian, nabi tetap berusaha memberikan kejutan kepada Malik. Nabi dan pasukannya berputar ke utara Tha’if, sebuah daerah yang sulit untuk dilalui, sampai akhirnya tiba di daerah yang tidak terlalu berbukit di timur Tha’if, di antara Nikhb dan Sadayra.[2] Dari sana, ia bergerak ke Tha’if dari arah belakang. Selama pergerakan ini, Khalid memimpin Pasukan Bani Sulaym di garis depan. (Lihat Peta 6 di bawah ini).



Tetapi meskipun Malik bin ‘Awf masih minim jam terbang, dia bukanlah orang yang mudah untuk dikecoh. Setelah mengalami kekalahan terhadap Pasukan Muslim di Hunayn dan Awtas, ia memutuskan untuk tidak bertempur dengan Pasukan Muslim di lapangan terbuka; ia akan bertempur dengan caranya sendiri. Ia menempatkan pasukannya di dalam benteng Kota Tha’if dan dengan segera mengumpulkan sebanyak mungkin logistik untuk bersiap menghadapi pengepungan. Di dalam benteng, Pasukan Tsaqif di bawah komando jenderal muda mereka yang pemberani, menunggu kedatangan Pasukan Muslim.

Pasukan Muslim tiba di Tha’if pada tanggal 5 Febuari 630 M (15 Syawwal 8 H) dan mempersiapkan pengepungan yang akan berakhir 18 hari. Kemah yang mereka persiapkan terlalu dekat dengan dinding benteng. Akibatnya, pemanah Tsaqif menghujani mereka dengan anak panah. Sejumlah kecil Pasukan Muslim gugur sampai akhirnya kemah dipindahkan agak jauh, yaitu lokasi Masjid Ibnu ‘Abbas berdiri di masa kini. Sekelompok Pasukan Muslim ditempatkan di sekeliling benteng untuk mencegah aktivitas keluar dan masuk benteng. Abu Bakr diberi tanggung jawab untuk memberi komando selama pengepungan.

Kebanyakan operasi yang terjadi adalah saling memanah. Pasukan Muslim mendekat ke dinding benteng, tetapi Pasukan Tsaqif mempunyai keunggulan dengan lokasi mereka yang lebih tinggi dan lebih terlindung. Kebanyakan Pasukan Muslim luka-luka dalam operasi ini, termasuk Abdullah bin Abu Bakr yang kemudian meninggal akibat lukanya.

Hari-hari pengepungan terus berjalan. Setelah ditaklukkannya Makkah, nabi mengirim dua Muslim ke Jurasy, Yaman, untuk belajar tentang taktik pengepungan. Namun keduanya belum kembali sampai setelah Pengepungan Tha’if sehingga mereka tidak berperan dalam pengepungan tersebut. Tetapi Salman Al-Farisi kembali memberikan ide untuk Pasukan Muslim sebagaimana halnya yang ia lakukan dalam Pertempuran Parit. Sebagai seorang dari Bangsa Persia (Al-Farisi-pent), ia mengetahui lebih banyak taktik perang khusus. Di bawah instruksinya, Pasukan Muslim membuat ketapel pelontar batu dan menggunakannya terhadap benteng kota musuh, tetapi Pasukan Muslim masih amatir dalam urusan ini dan ketapel mereka tidak memberi efek signifikan.

Salman kemudian memutuskan untuk menggunakan testudo. Testudo adalah pelindung besar yang biasanya terbuat dari kayu atau kulit, dilengkapi roda, untuk melindungi sejumlah pasukan di bawahnya dari proyektil-proyektil musuh, dan digerakkan ke arah gerbang untuk mendobrak atau membakar gerbang tersebut. Di bawah instruksi Salman, Pasukan Muslim membuat sebuah testudo dari kulit sapi. Sekelompok pasukan maju dengan testudo dengan tujuan membakar gerbang Tha’if. Ketika mereka tiba di gerbang, Malik dan pasukannya menumpahkan besi panas ke atas mereka. Atap testudo terbakar dan pasukan di bawahnya mundur dengan segera. Ketika mereka mundur, sejumlah Pasukan Tsaqif menembakkan anak panah dan membunuh salah satu Muslim.

Catatan Kaki Halaman 1
[1] Mukhtasar Sirat Al-Rasul sall-Allahu 'alayhi wa sallam, susunan Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab.
[2] Wadi’ul Mulayh bermula dari daerah Bandara Tha’if modern sampai Saylul Kabir. Wadi’ul Qarn, di bagian atasnya, melewati Jalan Raya Tha’if-Makkah modern, 7 mil (11,3 km-pent) dari Tha’if. Sadayra terletak 25 mil (40,2 km-pent) di timur Tha’if di Jalan Turaba’ Nikhb berada 3 mil (4,8 km-pent) tenggara Tha’if. Wadi’un Nikhb berdasarkan tradisi lokal dikenal sebagai Wadi’un Naml di masa kuno, yaitu lembah yang dilalui Sulayman dalam perjalan pasukannya ke arah Yaman di saat ia mengetahui keberadaan Ratu Saba’. Kisah Sulayman diberitakan dalam Al-Qur’an (27: 16-44).

____________________________________________________________________________
(Halaman 2)

Dua pekan berlalu dan akhir dari pengepungan belum terlihat. Tsaqif terus bertahan dalam benteng; Pasukan Muslim tidak bisa memaksa pertempuran di luar benteng. Setiap kali mereka mendekat, mereka disapu mundur dengan serangan panah. Abu Sufyan juga ikut serta dalam serangan ke dekat dinding benteng ini, tetapi salah satu matanya terluka dan buta karena panah. Sejak saat itu, ia tinggal memiliki satu mata.[1]

Bulan Februari biasanya menjadi sangat dingin di daerah Tha’if, dan cuaca saat pengepungan ini terjadi sangat tidak bersahabat. Pasukan Muslim berupaya memancing Pasukan Tsaqif keluar dengan menghancurkan sejumlah kebun anggur di sekitar Tha’if; tetapi Pasukan Tsaqif tidak menghiraukan. Malik cukup cerdas untuk mengambil risiko untuk bertempur di luar benteng. Akhirnya, nabi mengadakan rapat militer dan meminta saran dari para komandan bawahannya. Salah satu dari mereka berkata, “Ketika anda memojokkan seekor rubah di dalam lubangnya, jika anda menunggu cukup lama, anda akan menangkapnya. Tetapi jika anda membiarkan rubah itu di dalam lubangnya, rubah itu tidak akan menyakitimu.”[2] Abu Bakr menyarankan agar mereka kembali ke Makkah, dan ‘Umar sependapat dengannya.

Nabi tidak bisa menunggu terlalu lama sampai Tha’if menyerah karena ia harus menyelesaikan sejumlah masalah penting lainnya. Ia juga mengajukan untuk melepaskan kepungan dan bersama pasukan pulang ke Makkah. Namun sejumlah Muslim bersikeras menolak dan menekankan agar pengepungan terus dilakukan sampai kemenangan diraih. “Kalau begitu, kalian boleh menyerang besok,” kata nabi [3].

Keesokan harinya, sekelompok Muslim ini mendekati benteng, tetapi mereka kembali dihujani panah-panah Pasukan Tsaqif. Mereka pun mundur dan akhirnya sepakat dengan proposal nabi bahwa sebaiknya mereka meninggalkan rubah di lubangnya.

Pada tanggal 23 Februari 630 M (4 Dzulqa’dah 8 H), pengepungan dihentikan. Pasukan Muslim kehilangan 12 orang gugur dan sejumlah besar pasukan terluka. Pasukan Tsaqif tidak mau menyerah. Namun kelak sepuluh bulan kemudian, suku ini menerima Islam dan terbukti setia pada iman mereka yang baru itu.

Pasukan Muslim tiba di Jirana tanggal 26 Februari dan nabi mendistribusikan harta rampasan perang yang mereka peroleh di Awtas. Untuk menunjukkan pada mu’allaf Makkah bahwa tidak ada diskriminasi terhadap mereka yang terlambat masuk Islam, nabi juga memberikan bagian rampasan perang kepada mereka. Tidak lama setelah para perempuan, anak-anak, dan hewan ternak dibagi-bagikan kepada Pasukan Muslim, datanglah perwakilan dari Suku Hawazin kepada nabi dan mendeklarasikan ke-Islam-an mereka. “Bisakah anda mengembalikan kepada kami apa yang kalian peroleh dari kami saat pertempuran kemarin?” perwakilan Hawazin memohon. Pada dasarnya, mereka tidak berhak untuk meminta apa yang mereka tinggalkan sebagai rampasan perang karena saat itu mereka masih sebagai kafir, tetapi nabi sangat dermawan. “Tidakkah perempuan-perempuan dan anak-anak kalian lebih berharga daripada harta kalian?” tanya nabi kepada mereka. “Kembalikanlah perempuan-perempuan dan anak-anak kami, anda bisa mengambil selainnya,” mereka menjawab.[4]
Nabi memerintahkan pasukannya untuk mengembalikan para perempuan dan anak-anak Hawazin. Setiap prajurit mematuhi perintah nabi dan mengembalikan tawanan-tawanan mereka, kecuali Shafwan bin ‘Umayyah yang menolak untuk berpisah dengan perempuan tawanannya. Pastilah perempuan ini sangat cantik!

Beberapa hari kemudian, Malik keluar diam-diam dari Tha’if dan pergi menuju kemah Pasukan Muslim. Ia masuk Islam dan diberi hadiah yang banyak oleh nabi. Sayangnya, bakat dan kecerdasannya sebagai jenderal muda tidak diberdayakan dalam operasi-operasi militer Pasukan Muslim selanjutnya.

Nabi dan Pasukan Islam pulang ke Madinah. Mereka tiba di sana di akhir bulan Maret 630, tepat di akhir tahun kedelapan hijrah (8 H-pent). Tahun berikutnya akan dikenal sebagai Tahun Delegasi karena di tahun tersebut, hampir seluruh suku di Arab mengirim delegasi ke Madinah dan menyerahkan diri mereka pada nabi. Tidak semua delegasi, ataupun kepala suku yang mereka wakili, memiliki motivasi yang ikhlas untuk beragama, sebagaimana nanti akan kita lihat. Di antara mereka ada yang murni mencari kebenaran, sisanya hanya menyerahkan diri dengan alasan politis. Sebagian mereka datang dengan rasa ingin tahu yang besar dan sebagian lagi memang benar-benar orang jahat.

Catatan Kaki Halaman 2
[1] Berdasarkan beberapa sumber lainnya, Abu Sufyan diberitakan kehilangan satu matanya di Yarmuk, bukan di Tha’if. 
[2] Ibnu Sa’ad: hlm. 675.
[3] Ibid.
[4] Ibnu Hisyam: Vol.2, hlm. 489. 

--Akhir dari Bab 9--


sumber : https://www.kaskus.co.id/show_post/5757e7be1a997508538b456d/198/-


EmoticonEmoticon