Rabu, 14 Desember 2016

Terjemahan The Sword of Allah : Khalid bin Al-Waleed (12) Pertempuran Parit (bagian 2)


Bab 4: Pertempuran Parit (Bagian II)
(Halaman 4)

Setelah Pertempuran Uhud, Quraysy paham bahwa jalur perdagangan mereka ke Syams telah tertutup dan hal ini tidak dapat dihindarkan. Karena Muslim masih tetap bermarkas di Madinah, jalur laut ke Syams tidak dapat mereka lalui. Oleh karena itu, Makkah meningkatkan intensitas perdagangan mereka dengan Iraq, Bahrayn, dan Yaman. Sedikit banyak, hal ini menutupi kerugian mereka dengan terhentinya jalur perdagangan ke Syams. Sebagai hasil dari perundingan mereka dengan delegasi Yahudi, Abu Sufyan semakin sadar akan bahaya bagi perdagangan Makkah jika Islam terus menyebar. Jika Muslim mencapai Yamamah, perdagangan Quraysy akan terbatas hanya dengan Yaman karena jalur ke Iraq dan Bahrayn berada di tangan Muslim. Terbatasnya jalur perdagangan ini akan lebih jauh memukul ekonomi Quraysy. Abu Sufyan juga telah dikritik keras oleh Shafwan bin Umayyah saat dibatalkannya ekspedisi terakhir. Kedua faktor ini membuat Abu Sufyan memutuskan dan bersemangat untuk melakukan sebuah ekspedisi lainnya ke Madinah.

Persiapan untuk ekspedisi dimulai. Kontingen-kontingen dari berbagai suku mulai berkumpul di awal Februari tahun 627. Quraysy menyumbangkan pasukan dengan jumlah terbesar, terdiri dari 4.000 orang, 300 kuda, dan 1.500 unta. Kemudian disusul oleh Ghathfan dengan 2.000 pasukan di bawah pimpinan 'Uyaynah bin Hisn. Bani Sulaym mengirim 700 orang. Bani Asad mengirim satu pasukan yang tidak diketahui jumlahnya di bawah komando Thulayhah bin Khuwaylid.

Pasukan Quraysy dan sejumlah suku kecil lainnya berkumpul di Makkah. Ghathfan, Bani Asad, dan Bani Sulaym berkumpul di wilayah mereka masing-masing: utara, timur laut, dan timur Madinah. Dari sana, mereka langsung berangkat ke Madinah. Total kekuatan dari pasukan, termasuk suku-suku kecil yang tidak disebutkan mencapai 10.000 orang. Abu Sufyan memegang komando untuk keseluruhan ekspedisi. Mereka kemudian dikenal dengan kumpulan suku-suku. Agar lebih mudah disebut, kita akan menyebut mereka Pasukan Sekutu.

Pada hari Senin, 24 Februari 627 M (1 Syawwal 5 H), berkumpullah Pasukan Sekutu di dekat Madinah dan mereka berkemah di sana. Kemah Pasukan Quraysy berada di percabangan dua aliran sungai kecil, selatan pepohonan, barat Bukit Uhud, sama di tempat kemah mereka dalam Pertempuran Uhud. Ghathfan dan suku-suku lainnya berkemah di Zanab Naqnia, sekitar 2 mil (3,2 km-pent) di timur Bukit Uhud. Setelah selesai mendirikan kemah, mereka bergerak maju ke arah Madinah.

Sebelum Pasukan Sekutu ini mulai berkumpul di tempat masing-masing, mata-mata telah menyampaikan kabar kondisi terkini ke Madinah. Semakin banyak pasukan terkumpul, laporan mata-mata semakin mengkhawatirkan. Akhirnya nabi menerima informasi bahwa 10.000 pasukan yang siap menghancurkan Muslim telah bergerakke Madinah.

Kegelisahan dan suasanan mencekam menyelimuti Muslim seiring dengan tibanya kabar tidak baik dari mata-mata ini. Muslim memang selalu berjumlah lebih sedikit daripada musuh. Rasio kekuatan mereka terhadap musuh di Badr dan Uhud adalah satu banding tiga dan satu banding empat. Namun meskipun jumlah Muslim yang siap tempur di Madinah telah bertambah menjadi 3.000 orang, ratusan di antara mereka adalah Kelompok Munafik yang tidak bisa diandalkan. Satu lagi, 10.000 orang pasukan musuh adalah jumlah yang sangat besar. Belum pernah sebelumnya dalam sejarah Hijaz, pasukan sebesar itu berkumpul dalam suatu pertempuran.

Kemudian datang ide cemerlang Salman dari Persia (Salman Al-Farisi-pent). Ia menjelaskan bahwa ketika pasukan Persia harus bertahan dalam pertempuran melawan musuh yang jauh lebih kuat, mereka akan menggali parit yang sangat lebar dan sangat dalam untuk dilalui oleh pasukan. Bagi Bangsa Arab saat itu, hal ini adalah metode peperangan yang sama sekali baru, tetapi mereka melihat ketaktisannya dan saran ini diterima.

Nabi memerintahkan penggalian parit. Banyak di antara mereka yang tidak memahami keunggulan taktik ini menjadi enggan untuk melakukan pekerjaan berat dengan menggali, dan Kelompok Munafik seperti biasa mengajak orang-orang Madinah untuk tidak berlelah-lelah melakukan penggalian. Tetapi kemudian Nabi langsung turun dan menggali dengan tangannya sendiri. Tidak ada di antara Muslim yang punya harga diri, enggan dari perintah beliau. Jalur parit ditentukan dan setiap 40 hasta, parit digali oleh 10 orang yang berkelompok. Saat para Muslim bersusah peluh melakukan pekerjaan berat ini, Hassan bin Tsabit berjalan sambil membacakan sya’ir, menanamkan rasa semangat dalam jiwa-jiwa Muslim. Hassan adalah seorang penyair dan mungkin adalah yang terbaik di zamannya. Ia mampu menyusun pasal-pasal sya’ir tentang berbagai tema dan dalam kondisi apapun, kemudian menyampaikannya dengan sangat indah sampai-sampai pendengarnya tidak mengira bahwa sya’irnya itu adalah spontan tanpa persiapan. Ia mampu memainkan emosi pendengarnya dengan apik. Sayang, bakatnya terbatas dalam sya’ir saja. Dalam kegiatan yang membutuhkan kekuatan seperti bertempur, tidak terlihat sedikitpun bakat Hassan, sebagaimana yang akan kita lihat nanti.
__________________________________________________________________________
(Halaman 5)

Parit ini memanjang dari Syaikhan ke Bukit Zubab, kemudian berlanjut ke Jabal Bani Ubayd. Semua bukit ini termasuk dalam area yang dilindungi oleh parit. Di bagian baratnya, parit ini kemudian berbelok ke selatan untuk melindungi sayap kiri dari dua bukit di barat, bagian dari Jabal Bani Ubayd juga. Di timur Syaikhan dan di barat daya Jabal Bani Ubayd, membentang luas permukaan bebatuan lava yang tajam, pecah-pecah dan tidak rata, kadang-kadang berbentuk bebatuan besar. Daerah ini tidak memungkinkan untuk dilalui oleh pasukan dalam jumlah besar. Sedikit di selatan bagian tengah parit, berdiri bukit Sil’a yang cukup kentara, setinggi sekitar 400 kaki (122 m-pent), sepanjang satu mil (1,6 km-pent), dan lebarnya kurang sedikit dari panjangnya. Bukit ini membentang dari utara ke selatan, tetapi kakinya bercabang-cabang ke semua arah. Tidak jauh di timur lautnya, berdirilah Bukit Zubab meskipun peta kita tidak dengan jelas menunjukkannya. (Lihat Peta 3 di bawah)

Khalid ibn Al-Walid, the Sword of God

Setelah penggalian parit ini selesai, Pasukan Muslim mendirikan kemah mereka tepat di depan Bukit Sil’a. Kekuatan total mereka sebesar 3.000 jiwa termasuk Kelompok Munafik yang perannya dalam pasukan tidak bisa diandalkan. Rencana nabi adalah menempatkan sebagian besar pasukannya untuk berjaga dan bersiap digerakkan ke lokasi di mana musuh bersiap menyeberangi parit. Untuk mengatasi serangan kejutan, 200 orang ditempatkan untuk menjaga pos-pos di atas bukit yang menghadap ke parit. Satu pasukan patroli berjumlah 500 orang diturunkan untuk berpatroli ke sejumlah perkampungan di Madinah dan berjaga dari penyusup-penyusup yang masuk. Pasukan patroli ini juga menjaga daerah-daerah yang tidak terlindungi parit. Madinah di saat itu bukanlah kota besar seperti zaman sekarang. Madinah saat itu adalah kumpulan sejumlah perkampungan dan benteng-benteng kecil. Pusat kota Madinah secara fisik dan spiritual adalah Masjid Nabi (Masjid Nabawi-pent). Perempuan dan anak-anak dikumpulkan di sejumlah benteng yang jauh dari garis depan yang ada di utara dan barat laut Madinah.

Musim dingin yang sedang terjadi saat itu termasuk yang paling buruk dan lebih panjang daripada biasanya.

Ketika Pasukan Quraysy melihat parit ini, mereka kaget dan geram. Mereka datang dengan hati penuh keyakinan bahwa mereka akan menang dengan mudah. Abu Sufyan sudah bersiap-siap menyambut kemenangan besar, tetapi sekarang dia melihat parit yang diberkahi ini menghalangi jalannya.

“Demi Allah!” Teriak Abu Sufyan geram. “Taktik ini bukanlah taktik Bangsa Arab!”[2] Dalam pikiran sederhana orang Arab pada umumnya, tidak pernah terpikir taktik yang sedemikian. Bagi orang Arab yang mengutamakan sikap ksatria, hal ini seperti perbuatan curang.

Bagaimanapun juga kondisinya, Pasukan Sekutu memindahkan kemah mereka ke sepanjang parit di bagian utara dan barat laut. Pengepungan berlangsung selama 23 hari. Pada siang hari, Pasukan Sekutu mendekati parit dan berlangsunglah saling menembakkan anak panah. Pada malam harinya, mereka kembali ke kemah mereka. Hampir setiap siang dan terkadang pada malam hari, patroli Sekutu berkeliling mencari bagian parit yang agak mudah diseberangi. Mereka akhirnya menemukan satu tempat dan sejumlah lainnya kemudian.

Selama 10 hari pengepungan, tidak ada hasil yang signifikan. Moral kedua pihak terus-menerus menurun. Pasukan Muslim mulai merasakan kelaparan. Tidak ada cukup stok makanan di Madinah, hanya tersisa setengah dari kebutuhan. Kelompok Munafik semakin kencang menyuarakan kritik dan perlawanan mereka pada Nabi. Di saat parit sedang digali, Nabi sempat menjanjikan Pasukan Muslim bahwa dalam beberapa tahun ke depan, mereka akan menghancurkan keperkasaan Romawi dan Persia serta mendapatkan bagian dari kesejahteraan dua imperium tersebut. Maka Kaum Munafik mulai berkata, “Muhammad menjanjikan kita kekayaan Kaisar dan Khosrow, tetapi ia tidak bisa mengeluarkan kita dari kondisi sulit seperti ini!”[3] Kelompok Beriman tetap teguh dan kukuh. Kepercayaan mereka pada pemimpin mereka tidak tergoyahkan.

Situasi Sekutu juga perlahan memburuk, sampai-sampai protes prajurit disampaikan kepada komandan-komandan mereka. Bangsa Arab tidak terbiasa melakukan pengepungan dalam waktu lama. Mereka lebih suka melakukan pertempuran biasa. Cuaca tetap tidak bersahabat dan mulai menyebabkan stres berat di antara Pasukan Sekutu. Stok makanan juga menipis karena Abu Sufyan tidak mempersiapkan pasukannya untuk berekspedisi dalam jangka waktu yang lama. Namun karena mereka adalah pihak yang mengepung, sejumlah aksi dilakukan untuk mengumpulkan sedikit tambahan makanan dari daerah sekitar. Pasukannya terus menggerutu dan Abu Sufyan berpikir keras untuk keluar dari jalan buntu ini. Akhirnya, ia berkonsultasi dengan Huyay Sang Yahudi. Mereka sepakat untuk menjalankan rencana baru yang sangat menjanjikan.

Catatan Kaki Halaman 5
[1] Ujung barat parit diberitakan berakhir di Mazad. Hal ini juga benar karena tiga bukit di barat yang ditunjukkan pada Peta 3 juga disebut Mazad (dua bukit di selatan Jabal Bani Ubayd dan satu lagi di utaranya).
[2] Ibnu Hisyam: Vol. 2, hlm. 244. 
[3] Ibid: Vol. 2, hlm. 212. 
__________________________________________________________________________
(Halaman 6)

Pada Jumat malam, 7 Maret, Huyay berhasil menyusup ke perkampungan Bani Quraydzah. Ia mengetuk pintu rumah kepala Bani Quraydzah, yaitu Ka’ab bin Asad. Ka’ab bin Asad menolak dan tidak mau bertemu dengan Huyay karena ia pikir, Huyay pasti bermaksud untuk menghasutnya dan Yahudi yang dipimpinnya untuk melawan nabi. Namun, Huyay dengan paksaan yang sangat kuat akhirnya diizinkan masuk ke rumah dan memulai hasutannya dengan halus dan licik, menekan Ka’ab untuk bergabung dengan Sekutu dalam pertempuran mereka melawan Muslim. Pada awalnya Ka’ab menolak. “Muhammad selalu menjaga janjinya dengan kami dan kami tidak punya alasan untuk mengeluh,” kata Ka’ab, “Dalam situasi bagaimanapun, kalian belum pasti menang. Jika kami bergabung dengan kalian dan kalian kalah, teman-teman kalian yang menyembah berhala itu akan pulang dengan aman ke kampung mereka masing-masing, sedangkan kami harus menanggung beratnya menghadapi kemurkaan Muhammad.” [1] Namun sang tamu terus menekan, mengancam, menggoda, mengemis, sampai akhirnya Ka’ab setuju untuk bergabung dengan Sekutu. Mereka bersepakat bahwa Pasukan Sekutu dan Bani Quraydzah akan menyerang bersamaan. Kampung dan benteng Bani Quraydzah berada 2 mil (3,2 km-pent) di tenggara pusat Madinah dan mereka akan menyerang dari arah ini, menarik sebagian pasukan Muslim menjauh dari parit, bersamaan dengan serangan frontal dari Sekutu. Jika serangan gagal, Pasukan Sekutu masih akan memiliki garnisun yang kuat di dalam benteng Yahudi untuk membantu mereka bertahan melawan Pasukan Muslim yang mungkin akan melakukan serangan balasan. Bani Quraydzah meminta waktu sepuluh hari untuk mempersiapkan diri mereka sebelum serangan serentak dilancarkan. Selama sepuluh hari ini, Pasukan Sekutu meneruskan serangan-serangan kecil di garis depan.

Demikianlah apa yang dilakukan oleh Suku Yahudi terakhir di Madinah, mereka mengikuti jejak langkah saudara seagama mereka memutuskan perjanjian dengan Muslim. Mereka tidak mengetahui betapa mahalnya harga yang harus mereka bayar atas pengkhianatan mereka nanti!

Tidak lama kemudian, Nabi mengetahui tentang pengkhianatan ini dari salah seorang mata-matanya yang menyusup ke kemah Pasukan Sekutu. Rumor tentang pengkhianatan ini menyebar dan kabar ini terbukti jelas dengan terjadinya insiden antara Shafiyyah dan seorang Yahudi.

Shafiyyah adalah bibi Sang Nabi, dan bersama para perempuan dan anak-anak, ia berlindung di sebuah benteng kecil di tenggara Madinah. Hassan Si Penyair juga ada di sana sebagai satu-satunya laki-laki! Suatu hari di masa-masa genting ini, Shafiyyah melihat di bawah benteng ada seorang Yahudi berpakaian perang lengkap mengendap-endap seperti sedang mencari jalan masuk ke benteng kecil itu. Shafiyyah menilai bahwa laki-laki Yahudi ini adalah mata-mata Bani Quraydzah yang dikirimuntuk mengintai jalur yang akan dilalui oleh Yahudi saat melakukan serangan ke bagian belakang Pasukan Muslim yang tidak terlindungi.

Shafiyyah berlari menemui Si Penyair dan berkata, “Hassan! Ada seorang Yahudi sedang mencari jalur yang akan digunakan Bani Quraydzah untuk menyerang perkampungan kita dari belakang. Kamu tahu Rasulullah dan para laki-laki lain sedang sibuk di garis depan dan tidak bisa mengirim bantuan untuk melindungi kita. Laki-laki ini harus dibunuh. Pergi dan bunuhlah ia saat ini juga!” Hassan menjawab, “Semoga Allah memberkahimu, wahai Putri Abdul Muththalib, Engkau tahu bahwa hal itu bukan keahlianku.” Sambil mencibir pada Si Penyair, Shafiyyah mengambil sebuah gada, mengencangkan sabuk pinggangnya, lalu turun ke bawah untuk menghadapi Si Yahudi. Perempuan pemberani itu berhasil membunuh mata-mata Yahudi. Ia kembali ke benteng dan berkata pada Hassan, “Aku telah membunuhnya, wahai Hassan! Pergilah ke sana dan ambillah harta rampasan perang dari tubuhnya, perempuan diharamkan untuk membuka pakaian laki-laki.” Hassan menjawab, “Semoga Allah memberkahimu, wahai Putri Abdul Muththalib. Aku tidak memerlukan harta rampasan seperti itu!” [2]

Saat kabar tentang insiden ini sampai di telinga Muslim, tidak ada keraguan lagi dalam pikiran mereka tentang pengkhianatan Bani Quraydzah. Situasi semakin mencekam dan Kelompok Munafik semakin lantang bersuara. Dari setengah cadangan makanan Pasukan Muslim, saat itu tinggal tersisa seperempat. (Bahkan sama sekali habis tidak lama kemudian!) Keteguhan mereka tetap belum goyah; tetapi jika pengepungan terus berlanjut, kelaparan akan memaksa Pasukan Muslim untuk menyerah. Pasukan Muslim tidak menemukan satu solusi militer pun dalam masalah pelik ini.

Catatan Kaki Halaman 6
[1] Ibnu Hisyam: Vol. 2, hlm. 221; Waqidi: Maghazi, hlm. 292.
[2] Ibnu Hisyam: Vol. 2, hlm. 228. 

sumber : https://www.kaskus.co.id/show_post/5722e2c49e7404044f8b4567/162/-


EmoticonEmoticon