Kamis, 15 Desember 2016

Terjemahan The Sword of Allah : Khalid bin Al-Waleed (33) Pertempuran Yamamah (Bagian 1)


Bab 16: Pertempuran Yamamah (Bagian I)
(Halaman 1)

“Musaylimah! Kembalilah, jangan melawan.
Sungguh dalam urusan (kenabian) itu, engkau tidak memiliki bagian.
Engkau berdusta tentang Allah dan wahyu-Nya.
Dan nafsumu adalah hasrat seorang yang bodoh.
Kaummu membiarkanmu dan bukannya mencegah perbuatanmu.
Tetapi jika Khalid datang kepada mereka, engkau akan ditinggalkan.
Kemudian, engkau akan kehilangan tangga menuju langit.
Dan hilang pula jalan bagimu di bumi.”
[Tsumamah bin Utsal, seorang Sahabat (nabi-pent) dari suku Musaylimah][1]

Ketika Abu Bakr menyusun pasukan-pasukan Muslim dalam 11 korps di Zhu Qissa, ia menunjuk ‘Ikrimah bin Abu Jahl sebagai salah satu komandannya. Perintah bagi ‘Ikrimah adalah bahwa ia harus berangkat dan menemui pasukan Musaylimah Sang Pendusta di Yamamah, tetapi menghindarkan diri dari kontak bersenjata dengan si nabi palsu. Abu Bakr lebih paham tentang kekuatan dan kemampuan Musaylimah daripada kebanyakan jenderalnya, dan ia tidak ingin mengambil risiko untuk memeranginya dengan pasukan yang tidak cukup kuat. Karena Khalid adalah jenderal terbaiknya, Khalifah memutuskan untuk memberinya peran utama dalam mengatasi Musaylimah setelah ia menyelesaikan tugas-tugasnya terhadap musuh-musuh Islam lainnya.

Maksud Abu Bakr dalam memberikan misi ini kepada ‘Ikrimah adalah untuk memaksa Musaylimah tidak bergerak dari Yamamah. Dengan keberadaan ‘Ikrimah di dekatnya, Sang Pendusta harus siaga dari serangan Muslim terhadap markasnya jika ia pergi dari sana. Dengan Musaylimah terikat di Yamamah, Khalid dapat dengan bebas untuk menyelesaikan tugasnya menumpas suku-suku murtad di Arab Utara-Tengah tanpa halangan. ‘Ikrimah dipilih Abu Bakr karena ia adalah seorang pemberani. Terlebih lagi, ‘Ikrimah masih penasaran untuk membuktikan ketaatannya pada Islam dan untuk menebus dosa lamanya ketika masih memerangi nabi yang mulia.

‘Ikrimah berangkat bersama korpsnya dan mendirikan perkemahan di dekat Yamamah. Lokasi perkemahan ini tidak diketahui. Dari markasnya ini, ia bisa mengawasi pergerakan pasukan Bani Hanifah sambil menunggu instruksi lanjutan dari Khalifah. Keberadaan ‘Ikrimah juga memenuhi harapan agar menahan Musaylimah tetap di Yamamah. Namun, tidak diketahui apakah sebelum kedatangan ‘Ikrimah, ia benar-benar memiliki niat untuk meninggalkan Yamamah.

Ketika ‘Ikrimah menerima laporan tentang kekalahan Thulayhah oleh Khalid, ia mulai tidak sabar. Aktivitasnya yang hanya menunggu menggeliltik sumbu temperamennya yang pendek. ‘Ikrimah adalah seorang yang tidak kenal takut dan jenderal yang sangat bersemangat, tetapi ia tidak memiliki kesabaran dan ketenangan dalam membuat keputusan militer seperti Khalid. Kualitas inilah yang membedakan antara panglima yang pemberani dengan panglima yang gegabah.

Pada perkembangan berikutnya, ‘Ikrimah mendengar bahwa Syurahbil bin Hasanah bersama korpsnya berangkat untuk bergabung dengannya. Korps Syurahbil diberi instruksi oleh Khalifah untuk mengikuti ‘Ikrimah dan menunggu instruksi lanjutan. Dalam beberapa hari, Syurahbil akan tiba di lokasi.

Kemudian datang kabar bahwa Khalid telah memukul mundur Salma, sang perempuan yang memimpin para pengikut laki-lakinya. ‘Ikrimah tidak mau menunggu lebih lama. Mengapa dia harus membiarkan Khalid memperoleh semua kemenangan? Mengapa pula harus menunggu Syurahbil? Mengapa tidak ia sendiri yang mencoba untuk menyerang Musaylimah? Jika ia bisa mengalahkan Musaylimah tanpa bantuan, ia juga akan memperoleh kebanggaan dan ketenaran yang melebihi prestasi jenderal-jenderal lainnya. Dan tentu saja hal itu akan menjadi kejutan terbaik untuk Khalifah! ‘Ikrimah memberangkatkan korpsnya pada akhir Oktober 632 (akhir Rajab 11 H).

Beberapa hari kemudian, ia kembali ke perkemahannya setelah menerima kekalahan telak dari Musaylimah. Setelah dihajar dan menyesal dengan keputusannya ini, ia menulis surat kepada Abu Bakr dan melaporkan semua tindakannya, termasuk hasilnya yang memalukan. Syurahbil juga mendengar kabar ini dan berhenti tidak begitu jauh dari perkemahan ‘Ikrimah.

Abu Bakr kesal dan marah atas tindakan ‘Ikrimah yang gegabah dan tidak patuh pada perintah yang telah diberikan. Tanpa menyembunyikan rasa marahnya, Abu Bakr menuliskan perintah baru kepada ‘Ikrimah. Surat itu dimulai dengan sapaan keras, “Wahai anak dari ibunya ‘Ikrimah!” (Sapaan seperti ini adalah sebuah sapaan sopan untuk menunjukkan keraguan tentang siapa bapak dari orang yang disapa!) “Jangan tampakkan wajahmu padaku. Kepulanganmu dalam kondisi sedemikian akan melemahkan hati rakyat. Berangkatlah bersama pasukanmu ke Oman untuk membantu Hudzayfah. Setelah Hudzayfah menyelesaikan tugasnya, berangkatlah ke Mahra untuk membantu ‘Arfajah; dan setelah itu, berangkatlah ke Yaman untuk membantu Muhajir. Aku tidak akan berbicara denganmu sampai engkau menunjukkan kepatuhanmu dalam tugas-tugas ini.”[2] Ketiga jenderal yang akan ia bantu ini, termasuk di antara 11 panglima korps.

Catatan Kaki Halaman 1
[1] Mukhtasar Siratur Rasul Shallallahu ’alayhi wasallam karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.
[2] Ath-Thabari: Vol. 2, hlm. 504 dan 509 
____________________________________________________________________________
(Halaman 2)

‘Ikrimah pun membawa korpsnya melewati Yamamah menuju Oman dengan penuh rasa kesal setelah kekalahan memalukan di tangan Musaylimah dan ditegur dengan keras oleh Khalifah.

Syurahbil menggantikan posisinya di Yamamah. Untuk memastikan agar ia tidak melakukan kesalahan yang sama dengan ‘Ikrimah, Abu Bakr menulis surat kepadanya, “Tetaplah di lokasimu dan tunggu instruksi selanjutnya.”[1]

Setelah menyelesaikan pembayaran diyat kepada ahli waris Malik bin Nuwayrah, Khalifah memanggil Khalid dan memberikan perintah untuk menghancurkan pasukan Musaylimah Sang Pendusta di Yamamah. Sebagai tambahan kekuatan bagi korpsnya yang juga cukup besar, Khalid juga akan memegang komando Korps Syurahbil. Sejumlah pasukan Anshar dan Muhajirin berhasil dikumpulkan oleh Abu Bakr di Madinah dan pasukan ini juga dikirim untuk memperkuat pasukan Khalid. Demikianlah Khalid memegang komando tentara utama Negara Islam.

Khalid berangkat ke Butah, tempat korpsnya menunggu. Sementara itu, Khalifah menulis surat lagi kepada Syurahbil berisi, “Engkau akan berada di bawah komando Khalid ketika ia bergabung denganmu. Setelah permasalahan di Yamamah selesai, engkau dengan pasukanmu harus bergabung dengan ‘Amru bin Al-‘Ash dan memerangi Quza’ah.”[2] Suku Quza’ah adalah suku murtad yang telah dikalahkan oleh Usamah di perbatasan Syam, tetapi mereka belum ditaklukkan dan membangun kekuatan kembali.

Khalid menetap di Butah sampai kedatangan pasukan tambahan dari Madinah, kemudian ia berangkat menuju Yamamah. Ia senang dengan tambahan pasukan baru dari Syurahbil juga akan bergabung. Ia akan memimpin pasukan tersebut, tetapi ternyata mereka bukan lagi pasukan yang masih segar. Beberapa hari sebelum tibanya Khalid, Syurahbil juga tergiur dengan godaan kebanggaan kemenangan, seperti halnya ‘Ikrimah. Ia maju berperang dengan Musaylimah. Merasa menyesal dengan tindakannya ini, Syurahbil menyatakan permohonan maafnya kepada Khalid yang menegurnya dengan keras.

Khalid masih agak jauh dari Yamamah ketika pengintainya membawa kabar bahwa Musyalimah berkemah di dataran Aqraba` di utara Wadi Hanifah, tepat di jalur menuju Yamamah. Karena ia tidak ingin mendekati pasukan musuh dari lembah, Khalid keluar dari jalur normal beberapa km di barat Aqraba`, berbelok ke selatan dan keluar di tanah tinggi, satu mil (1.61 km-pent) di selatan sebuah wadi di seberang Kota Jubayla.[3] Dari tanah tinggi ini, Khalid dapat melihat keseluruhan dataran Aqraba`. Di ujung seberang mereka, terbentanglah perkemahan Bani Hanifah. Khalid mendirikan kemahnya di tanah tinggi ini. Kekuatan pasukannya adalah 13.000 prajurit.

Pengintai-pengintai Musaylimah pun sudah memberinya kabar tentang kedatangan tentara utama Muslim beberapa hari sejak Khalid meninggalkan Butah. Rute dari Butah menuju Yamamah harus melalui Wadi Hanifah dan di tepi utara wadi ini, di belakang Jubayla, terbentanglah dataran Aqraba` yang menandai batas terluar daerah subur dari Aqraba` sampai Yamamah, lalu terus ke tenggara. Daerah ini adalah daerah pertanian, perkebunan, dan lahan olahan. Yamamah sendiri secara akurat adalah sebuah provinsi dengan ibukotanya di Hijr yang juga dikenal dengan sebutan Yamamah. Kota tua Al-Hijr sendiri ada di tempat yang sama dengan Kota Riyadh modern.[4]

Musaylimah tidak ingin membiarkan Pasukan Muslim menghancurkan perkotaan dan pedesaannya. Oleh karena itu, ia membawa pasukannya maju ke Jubayla, 25 mil (40 km-pent) di barat laut Yamamah. Ia mendirikan perkemahan baru di dekat Jubayla, tepat di lokasi perbatasan dataran Aqraba`. Dari lokasi ini, Musaylima tidak hanya bisa melindungi dataran subur Yamamah, tetapi juga mengancam rute serangan Khalid. Jika Khalid membuat kesalahan dengan maju melalui Wadi Hanifah, Bani Hanifah akan berada di sayap kiri mereka. Dan Khalid tidak bisa menghindari pertempuran di sini untuk maju langsung ke Yamamah karena hal ini akan membuat Musaylimah berada di belakang mereka. Prinsip ini sama dengan prinsip yang diterapkan oleh nabi yang mulia pada Pertempuran Uhud.

Musaylimah siap untuk bertempur di dataran Aqraba` dengan 40.000 prajuritnya yang tidak sabar untuk beraksi. Dua keberhasilan dalam memukul mundur ‘Ikrimah dan Syurahbil setidaknya memompa rasa percaya diri mereka serta memberikan suatu aura kharisma di sekitar diri Sang Pendusta. Prajuritnya telah siap untuk mengorbankan diri untuk melindungi pemimpin mereka dan apa yang ia perjuangkan. Dan Musaylimah sangat yakin bahwa ia akan menimpakan hukuman yang sama terhadap Khalid seperti halnya ia mengalahkan dua panglima pendahulunya.

Catatan Kaki Halaman 2
[1] Ath-Thabari: Vol. 2, hlm. 522.
[2] Ibid: Vol. 2, hlm. 509.
[3] Jubayla saat ini adalah sebuah desa kecil. Menurut tradisi lokal, desa ini dahulunya adalah kota besar.
[4] Pedesaan Yamamah yang berada sekitar 50 mil (80 km-pent) di tenggara Riyadh, di dekat Al-Kharj, bukanlah tempat yang sama dengan Yamamah di masa sejarah; bukan merupakan Yamamah yang menjadi lokasi pertempuran ini.
____________________________________________________________________________
(Halaman 3)

Beberapa hari sebelum Khalid tiba, Musaylimah kehilangan salah satu panglima terbaiknya, yaitu sang kepala suku, Muja’ah bin Mararah, salah satu utusan delegasi Bani Hanifah kepada nabi yang mulia. Orang ini memimpin 40 orang berkuda untuk menyerbu satu suku tetangga yang merupakan musuh lama mereka. Dalam perjalanan pulang setelah serbuan selesai, kelompoknya bermalam di sebuah celah bernama Saniyatul Yamamah, berjarak satu hari perjalanan dari Aqraba`. Muja’ah dan prajuritnya tidur dengan pulas, tetapi tidur itu akan menjadi tidur terakhir mereka karena pada pagi harinya, kesemua kelompok ini ditangkap oleh salah satu detasemen berkuda terdepan dari pasukan Khalid. Para murtad ini dibawa menghadap Pedang Allah.

Khalid mencecar pertanyaan mengenai keimanan mereka. Kepada siapa mereka beriman? Apakah kepada Muhammad atau kepada Musaylimah? Tanpa ragu, mereka menunjukkan bahwa mereka tidak memiliki keinginan bertobat. Beberapa di antara mereka bahkan memberi tanggapan berupa saran, “Terimalah bahwa ada seorang nabi dari kalian dan ada seorang nabi dari kami!”[1] Khalid tidak mau membuang waktunya dengan sampah-sampah ini, ia memerintahkan agar mereka semua dipenggal, kecuali Muja’ah, pemimpin mereka, yang diikat sebagai tawanan. Ia adalah seorang pemimpin terkemuka dan kemungkinan akan berguna sebagai seorang tawanan. Dengan tetua suku dalam rombongan, tentara Muslim tiba di dekat Aqraba` dan mendirikan kemah seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Kedua pasukan sekarang telah siap untuk bertempur.

Lokasi aktual lembah dari Wadi Hanifah menandari medan pertempuran. Di sisi utara medan pertempuran, tanahnya naik 100 kaki (30 m-pent), ada beberapa bagian yang naik secara landai, ada beberapa bagian yang naik dengan curam, dan sisanya benar-benar naik vertikal. Di bagian selatannya, tanah naik sedikit demi sedikit sampai setinggi 200 kaki (61 m-pent), satu mil (1,61 km-pent) dari tempat Khalid mendirikan perkemahan. Di tepi utara, juga terdapat Kota Jubayla dan di tepi barat kota ini, sebuah sungai kecil bermuara di wadi. Garis depan pasukan Muslim berada di tepi selatan sepanjang 3 mil (4,82 km-pent), sedangkan di tepi utara, berdirilah pasukan murtad. Perkotaan dan sungai kecil menandai bagian tengah pasukan Musaylimah. Di belakang mereka adalah dataran Aqraba` dan di dataran ini, sekitar 2 mil (3,2 km-pent) dari wadi, berdiri sebuah kebun luas berdinding yang dikenal dengan nama Abaz. Kelak sebagai hasil pertempuran ini, kebun ini akan dikenal dengan nama baru, “Kebun Kematian”.[2] (Lihat Peta 9 di bawah)



Pada keesokan paginya, kedua pasukan berbaris untuk bertempur. Musaylimah menyusun 40.000 prajuritnya dengan sebuah pasukan tengah, satu sayap kiri, dan satu sayap kanan. Sayap kiri dipimpin oleh Rajjal, si pengkhianat. Sayap kanan dipimpin oleh Muhakim bin Tufayl, dan pasukan tengah langsung dipimpin oleh Sang Pendusta. Untuk memperkuat kebulatan tekad prajuritnya, anak Musaylimah yang juga bernama Syurahbil, maju ke depan semua resimen sambil memberikan pidato penyemangat, “Wahai Abu Hanifah, bertempurlah hari ini dengan harga diri kalian. Jika kalian kalah, perempuan-perempuan kalian akan diperbudak dan dinikmati oleh musuh. Bertempurlah untuk melindungi perempuan kalian!”[3]

Musaylimah memutuskan untuk menunggu serangan Khalid. Ia berencana untuk memulai dengan bertahan dan kemudian menyerang setelah menumpulkan serangan musuh dan memukul mundur mereka.

Pasukan Muslim menghabiskan malam mereka dengan shalat. Musuh kali ini adalah musuh terbesar dan paling fanatik yang pernah mereka hadapi. Panglimanya juga adalah orang paling buruk dan licik di antara manusia. Setelah Shalat Shubuh, Khalid menyusun 13.000 prajuritnya di tepi selatan. Ia juga menyusun pasukannya dengan sebuah pasukan tengah dan dua sayap. Sayap kiri dipimpin oleh Abu Hudzayfah, sayap kanan oleh Zayd (kakak laki-laki ‘Umar), dan pasukan tengah langsung di bawah komando Khalid. Dalam pertempuran ini, Khalid tidak membagi satuan-satuan pasukannya dalam kelompok suku seperti kebiasaan sebelumnya. Ia membaginya dalam resimen-resimen dan sayap-sayap sesuai kebutuhan pertempuran. Prajurit dari satu suku akan bercampur dengan suku-suku lainnya.

Khalid seperti biasanya menyusun rencana untuk melakukan serangan seawal mungkin, memaksa musuh agar bertahan secara terus-menerus. Tujuannya adalah membuat Musaylimah tidak memiliki kesempatan untuk bermanuver dan hanya bisa melakukan reaksi terhadap tusukan pasukan lawan. Namun Khalid sadar akan beratnya pekerjaan Pasukan Muslim. Ia paham bahwa pertempuran ini akan menjadi sangat sengit dan lebih berdarah dibandingkan dengan pertempuran-pertempuran yang pernah tentara Islam hadapi. Pemberontak unggul satu banding tiga dalam segi jumlah dan mereka dipimpin oleh seorang jenderal cerdas dan pemberani. Namun Khalid yakin bahwa ia akan menang. Khalid sangat percaya pada diri dan kemampuannya, serta pada keberanian para perwira dan prajuritnya. Saat ia berada di depan pasukannya, ia melihat dengan rasa bangga dan rasa yakin pada mereka. Ada sejumlah orang-orang terkenal di dalam pasukannya dan beberapa di antara mereka, juga ada yang kelak akan menjadi terkenal, contohnya Zayd, kakak laki-laki ‘Umar, dan Abdullah, anak ‘Umar. Ada juga Abu Dujanah yang pada Pertempuran Uhud melindungi nabi yang mulia dari panah dengan tubuhnya sendiri. Di pasukannya juga ada anak Khalifah, yaitu Abdurrahman. Ada Muawiyah, anak Abu Sufyan, yang kelak akan menjadi khalifah pertama Dinasti Umayyah. Ada Ummu Ammarah, perempuan yang bertempur di sisi nabi dalam Pertempuran Uhud. Ia bersama dengan anak laki-lakinya kali ini. Dan terakhir, Wahsy Si Barbar juga hadir dengan lembingnya yang mematikan.

Catatan Kaki Halaman 3
[1] Ath-Thabari: Vol. 2, hlm. 510.
[2] Lokasi pasti Kebun Kematian tidak diketahui. Saya memperkirakan lokasinya berdasarkan proses jalannya pertempuran.
[3] Ath-Thabari: Vol. 2, hlm. 509.

sumber : https://www.kaskus.co.id/show_post/57998362947868d7218b456b/229/-


EmoticonEmoticon