Rabu, 14 Desember 2016

Terjemahan The Sword of Allah : Khalid bin Al-Waleed (22) Petualangan di Dawmatul Jandal


Bab 10: Petualangan di Dawmatul Jandal
(Halaman 1)

“… Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohon ampunlah kepada-Nya. Sesungguhnya, Ia adalah Maha Penerima tawbat.” [Al-Qur’an, 110:2-3]
Pada tahun kesembilan hijrah (9 H-pent), hanya ada satu operasi militer besar yang dilakukan oleh Pasukan Muslim, yaitu Ekspedisi Tabuk yang dipimpin langsung oleh nabi. Ekspedisi ini justru menjadi ekspedisi damai; tetapi sedamai apapun tugas yang diemban sahabat-sahabat lainnya, Khalid selalu bisa menemukan petualangannya yang penuh dengan aksi militer.

Pada musim panas tahun 630 M yang panjang, tibalah laporan di Madinah bahwa Romawi mengonsentrasikan pasukan besarnya di Syam dan garis depan pasukan besar ini sudah memasuki Yordania. Heraklius, Kaisar Bizantin, saat itu berada di Emessa.

Pada pertengahan Oktober 630 M, nabi memerintahkan Pasukan Muslim untuk bersiap menghadapi perang menghadapi Romawi. Tujuan dari ekspedisi tidak hanya untuk memerangi Romawi yang sebenarnya bisa saja dilakukan saat cuaca membaik. Nabi juga bermaksud untuk menguji keimanan Muslimin dengan memerintahkan mereka untuk menempuh perjalanan panjang di tengah teriknya musim panas. Dalam kondisi ini, hanya mereka yang benar-benar beriman menjawab perintah.

Dan mereka yang beriman benar-benar menyambut seruan ini. Mayoritas Muslimin menerima perintah ini dengan semangat dan memulai persiapan untuk berekspedisi; tetapi sebagian kecil menolak perintah ini. Oktober pada tahun itu lebih panas daripada biasanya. Kesejukan di bawah bayangan pohon kurma sangat menggoda Muslimin. Tidak ada yang lebih nyaman selain beristirahat di bawahnya sampai musim panas usai. Kaum munafik seperti biasa menghalang-halangi Muslimin untuk pergi; dalam kesempatan ini, bahkan sejumlah kecil orang beriman pun bimbang.

Di akhir Oktober 630 M (pertengahan Rajab 9 H), Pasukan Muslim berangkat ke Tabuk. Pasukan ini adalah pasukan terbesar yang pernah terkumpul di bawah bendera kepemimpinan nabi. Mereka terdiri dari pasukan Madinah, Makkah, dan kebanyakan suku-suku yang telah ber-Islam. Satu sumber menyebutkan bahwa pasukan ini berkekuatan 30.000 orang, termasuk 10.000 kavaleri, tetapi kemungkinan perkiraan ini terlalu berlebihan.

Sesampainya mereka di Tabuk, Pasukan Muslim menerima kabar bahwa elemen garis depan Romawi yang awalnya berada di Yordania, telah mundur ke Damaskus. Mereka pun tidak perlu untuk pergi lebih jauh. Tetapi nabi memutuskan untuk menaklukkan suku-suku yang tinggal di sekitar Tabuk dan memasukkan mereka dalam kontrol politik Islam. Lokasi-lokasi penting di daerah tersebut adalah ‘Ayla (di dekat ‘Aqabah modern), Jarba, Azruh, dan Maqna, semuanya terbentang disepanjang Teluk ‘Aqabah (Lihat Peta 1 atau 2 di akhir buku.). Perjanjian-perjanjian dibuat dengan suku-suku ini dan mereka sepakat untuk membayar jizyah.[1]

Satu lagi daerah penting yang diinginkan nabi agar ditaklukkan ada di lokasi yang sedikit jauh dari Tabul. Daerah tersebut adalah Dawmatul Jandal (Al-Jawf modern) yang dipimpin oleh Ukaydar bin Abdul Malik, seorang pangeran Kristen dari Suku Kindah yang terkenal dengan hobinya berburu. Untuk menaklukkan daerah ini, nabi mengirim Khalid dan 400 orang berkuda dengan instruksi untuk menangkap Ukaydar. “Kamu mungkin akan menemukannya berburu banteng liar,” kata nabi.[2]

Khalid tiba di benteng Kota Dawmatul Jandal pada malam hari dengan terang bulan purnama November 630 M (pertengahan Sya’ban 9 H). Sesaat setelah ia menyusun pasukannya di pinggiran perkampungan Dawmatul Jandal, gerbang benteng terbuka dan Ukaydar keluar berkuda bersama sejumlah rekannya untuk berburu di malam hari, dan terang bulan sangat menjanjikan perburuan yang menarik.

Khalid mengajak sekelompok kecil pasukannya berlari mengejar kelompok pemburu. Ketika Khalid menjatuhkan Ukaydar dari kudanya, pasukannya yang lain meladeni perlawanan rekan-rekan Ukaydar. Saudara laki-laki Ukaydar bernama Hassaan melawan keras dan terbunuh; tetapi sisanya kabur kembali ke dalam benteng dan mereka mengunci gerbangnya.

Khalid pun pulang ke Tabuk dengan tawanan pentingnya. Ukaydar akhirnya menandatangani perjanjian dengan nabi, menebus dirinya sendiri dengan harga mahal, dan bersedia untuk membayar jizyah.

Catatan Kaki Halaman 1
[1] Pajak yang dikenakan pada warga non-Muslim sebagai pengganti dari tidak wajibnya mereka dalam kegiatan militer dan sebagai jaminan keamanan bagi mereka dalam Negara Muslim.
[2] Ibnu Hisyam: Vol. 2, hlm. 526.
____________________________________________________________________________
(Halaman 2)

Segera setelah kejadian ini, Pasukan Muslim meninggalkan Tabuk dan pulang ke Madinah. Mereka tiba di Madinah pada bulan Desember 630 M, cuaca sudah jauh membaik dan lebih nyaman.

Setelah Ekspedisi Tabuk, tidak ada aktivitas militer penting yang terjadi di sisa masa kehidupan nabi. Delegasi-delegasi berdatangan dari seluruh penjuru Arabia. Mereka menyatakan bay’at mereka pada nabi, menerima Islam, dan setuju untuk membayar sejumlah pajak yang ditentukan. Nabi terus sibuk dengan tugas-tugas kenegaraan, mengonsolidasi perkembangan Islam, dan membangun pondasi-pondasi negara baru ini. Sejumlah ekspedisi militer kecil dikirim ke beberapa lokasi di Arab. Misi yang diberikan kepada mereka adalah mengajak suku-suku Arab kepada Islam. Jika ajakan ini dijawab dengan perlawanan militer dari suku bersangkutan, mereka akan diperangi dan ditaklukkan.

Pada bulan Juli 631 M (Rabi’ul Akhir 10 H), nabi mengirim sebuah ekspedisi militer di bawah komando Khalid ke Bani Haritsah bin Ka’b di Najran, utara Yaman. Instruksi kepada Khalid adalah, “Ajaklah mereka untuk masuk Islam tiga kali. Jika mereka menerima, jangan perangi mereka. Jika mereka menolak, perangi mereka.”[1] Pasukan Khalid berjumlah 400 prajurit berkuda.

Khalid tiba di Najran dan bertemu dengan Bani Haritsah bin Ka’b. Ia mengajak mereka untuk masuk Islam dan mereka menerima ajakannya. Tidak ada darah yang tertumpah. Khalid tinggal di kampung tersebut selama beberapa bulan, mengajari mereka tentang Islam; dan ketika ia merasa mereka telah menjadi Muslim yang baik, Khalid menulis surat kepada nabi, menginformasikan kondisi terakhir. Nabi mengirim surat berisi apresiasi kepada Khalid dan memerintahkannya untuk pulang ke Madinah dengan membawa serta sekelompok delegasi dari Bani Haritsah bin Ka’b. Khalid dan delegasi ini tiba di Madinah pada Januari 632 M (Syawwal 10 H). Nabi menyambut mereka dengan sebaik-baiknya sebagaimana beliau menyambut delegasi lain. Pasal-pasal bay’at dijelaskan kepada mereka, seorang pemimpin ditunjuk bagi suku tersebut, dan delegasi ini pun pulang ke Najran.

Ekspedisi ini merupakan ekspedisi Khalid yang terakhir di masa nabi masih hidup. [2]

Catatan Kaki Halaman 2
[1] Ibnu Hisyam: Vol. 2, hlm. 592.
[2] Tentang pendapat terkait ekspedisi-ekspedisi lainnya yang kemungkinan juga dipimpin oleh Khalid, lihat di Catatan 2 dalam Lampiran B.

--Akhir dari Bab 10--

sumber : https://www.kaskus.co.id/show_post/575e81aea2c06e4c278b456d/201/-


EmoticonEmoticon