Rabu, 14 Desember 2016

Terjemahan The Sword of Allah : Khalid bin Al-Waleed (25) Abu Bakar Menyerang (bagian 1)


Bab 12: Abu Bakr Menyerang (Bagian I)
(Halaman 1)

“Jika iman Abu Bakr ditimbang bersama iman seluruh manusia di bumi, imannya akan lebih berat daripada iman mereka.” [‘Umar bin Al-Khattab]

“Abu Bakr adalah orang yang paling berani.” [‘Ali ibn Abi Thalib][1]

Kemurtadan telah menjadi hal biasa, mempengaruhi hampir setiap suku di Arabia, kecuali mereka yang ada di Makkah, Madinah, dan Suku Tsaqif di Tha’if. Dalam beberapa kasus, suatu suku bahkan murtad secara keseluruhan. Dalam kasus lainnya, sebagian dari anggota suku menjadi murtad dan sebagian lainnya tetap dalam keimanan mereka. Api kekafiran diperbesar oleh dua nabi palsu, yaitu Thulayhah bin Khuwaylid dan Musaylimah bin Habib, ditambah seorang nabiyah bernama Sajah binti Al-Harits. Musylimah menjadi nabi palsu sudah agak lama, sementara Thulayhah baru mengklaim kenabiannya saat sakitnya Sang Nabi Suci. Ancaman paling serius terhadap Madinah adalah dari Thulayhah dan suku-suku yang mengikutinya di Barat-Tengah dan Utara-Tengah Arab. Suku-suku ini antara lain Ghathfan, Thayyi', Hawazin, Bani Asad, dan Bani Sulaym.

Konsentrasi kaum murtad paling dekat ke Madinah ada di dua lokasi: Abraq, 70 mil (113 km-pent) di timur laut Madinah, dan Zhu Qissa, 24 mil (39 km-pent) di timur Madinah.[2] (Lihat Peta 8) Di dua lokasi ini, berkumpullah Ghathfan, Hawazin, dan Tayy. Satu atau dua pekan setelah keberangkatan Pasukan Usamah, para murtad dari Zhu Qissa mengirimkan utusan menemui Abu Bakr. Mereka berkata pada Abu Bakr, “Kami akan tetap shalat, tetapi kami tidak akan membayar zakat apapun.” Abu Bakr menolak dengan tegas, “Demi Allah, jika kalian menahan satu ons kewajiban zakat kalian, aku akan memerangi kalian. Aku memberi kalian satu hari untuk memberi jawaban.”[3]



Utusan ini kaget dengan keteguhan dan kepercayaan diri Khalifah baru yang sepertinya tidak memahami posisinya yang tidak menguntungkan. Terlebih lagi, ia hanya memberi mereka kesempatan satu hari! Keesokan paginya, sebelum batas waktu ultimatum satu hari berakhir, utusan ini pergi dari Madinah, yang berarti mereka menolak perintah Abu Bakr. Segera setelah mereka pergi, Abu Bakr mengirim utusannya kepada semua suku yang murtad, mengajak mereka untuk tetap setia dalam Islam dan menjalankan kewajiban mereka untuk membayar zakat.

Namun, utusan kaum murtad dari Zhu Qissa telah sempat memata-matai Madinah dan mata mereka yang tajam telah melihat absennya para prajurit. Ketika mereka sampai kembali di Zhu Qissa, mereka menyampaikan tentang hasil pembicaraan mereka dengan Abu Bakr dan juga tentang kondisi Madinah yang sedang sangat rentan. Sementara Thulayhah yang saat itu berada di Samirah, telah mengirim pasukan bantuan ke Zhu Qissa, sebuah pasukan yang dipimpin oleh saudara laki-lakinya, Hibal, seorang jenderal yang cerdik dan banyak akal. Ketika mereka mendengar kabar dari utusan ini, godaan untuk menyerang Madinah menjadi begitu kuat; mereka memutuskan untuk menyerang Madinah selagi Madinah tidak memiliki pertahanan yang kuat. Pasukan dari Zhu Qissa bergerak dari Zhu Hussa[4], lokasi markas mereka, sebagian pasukan tiba di dekat Madinah dan mempersiapkan kemah, bersiap untuk menyerang kota tersebut. Saat itu adalah pekan ketiga bulan Juli 632 M (akhir Rabi’ul Akhir 11 H).

Abu Bakr menerima laporan intelijen tentang pergerakan ini dan dengan segera mengorganisai pasukan pertahanan Madinah. Pasukan utama memang pergi di bawah komando Usamah, tetapi Madinah tidak sepenuhnya rentan seperti yang diperkirakan oleh pemberontak. Sebagian kecil prajurit tetap tinggal, terutama dari Bani Hasyim (klan nabi) yang tetap tinggal karena masih berkabung dengan wafatnya sanak saudara mereka. Dari kelompok kecil ini, Abu Bakr mengais-ngais setiap kekuatan yang ada untuk membentuk pasukan. Kepercayaan diri Abu Bakr sama sekali tidak terguncang, bahkan diperkuat dengan keberadaan prajurit-prajurit utama seperti ‘Ali, Zubayr bin Al-Awwam, dan Thalhah bin ‘Ubaydullah. Masing-masing dari mereka ditunjuk untuk menngomando satu per tiga dari pasukan yang baru dibentuk ini.

Selama tiga hari, tidak terjadi apa-apa. Pasukan murtad tetap menunggu karena mereka tidak yakin bagaimana mereka sebaiknya memulai misi mereka. Kemudian, atas perintah Abu Bakr, Pasukan Muslim keluar Madinah. Mereka melancarkan serangan cepat di kemah terdepan kaum murtad dan memukul mundur mereka. Pasukan murtad mundur ke Zhu Hussa. Pasukan Muslim menginformasikan hal ini kepada Abu Bakr dan Khalifah memerintahkan mereka untuk tetap di lokasi sampai ada instruksi selanjutnya.

Catatan Kaki Halaman 1
[1] Tarikhul Khulafa karya As-Suyuthi.
[2] Abraq adalah dataran bebatuan (makna kata itu sendiri adalah bebatuan) 5 mil (8 km-pent) di utara Hanakiyah. Zhu Qissa sekarang tidak ada lagi; hal yang diketahui terkait lokasi ini hanyalah jaraknya dari Madinah (Ibnu Sa’ad: hlm. 590) dan lokasi ini ada di jalan menuju Rabazah, 20 mil (32 km-pent) di timur laut Hanakiyah, inilah yang dulu disebut Batn Nakhl.
[3] Ath-Thabari: Vol.2, hlm. 487; Baladzuri: hlm. 103. 
[4] Lokasi Zhu Hussa tidak diketahui.
____________________________________________________________________________
(Halaman 2)

Keesokan harinya, Abu Bakr keluar dari Madinah dengan unta-unta pembawa beban, karena unta-unta perang telah dibawa oleh Usamah. Ketika konvoy unta ini mencapai kemah pasukan murtad yang telah ditinggalkan, Pasukan Muslim mulai mengendarai unta pembawa beban ini dan berangkat menuju Zhu Hussa, markas pasukan murtad.

Di sinilah, musuh menunggu. Hibal, saudara laki-laki Thulayhah, mempertunjukkan kecerdikan militernya. Ia memerintahkan pasukannya di belakang sebuah daerah menurun, agak di depan markas mereka ke arah datangnya Pasukan Muslim.

Pasukan Muslim yang mengendarai unta pembawa beban menaiki puncak turunan tersebut tanpa menyadari ada yang menunggu mereka di baliknya. Ketika Pasukan Muslim mendekati puncak, pasukan murtad berdiri dan melemparkan wadah kulit kambing berbentuk bola berisi air. Ketika bola-bola air ini menggelinding ke arah Pasukan Muslim, suara gaduh terdengar dari arah pasukan murtad. Ternyata mereka menabuh gendering perang dan berteriak sekencang-kencangnya. Unta-unta pembawa beban milik Pasukan Muslim tidak terlatih untuk berperang, tidak terbiasa dengan suara gaduh yang datang tiba-tiba, dan tidak terbiasa melihat bola-bola tidak dikenal menggelinding ke arah mereka. Unta-unta ini pun berbalik arah dan melarikan diri; Pasukan Muslim berusaha sebisa mungkin untuk mengontrol unta-unta mereka, tetapi gagal; mereka pun dalam sekejap sampai di Madinah kembali!

Hibal merasa senang dengan pencapaiannya ini. Ia berhasil memberikan kejutan yang sangat cepat serta berhasil memukul mundur Pasukan Muslim ke Madinah bahkan tanpa serangan serius sedikit pun. Melihat kejadian ini, ada kemungkinan bahwa mundurnya pasukan murtad beberapa sehari sebelumnya merupakan tipuan yang sudah direncanakan oleh Hibal agar bisa menarik Pasukan Muslim keluar dari zona aman mereka di dalam kota. Tetapi hal ini tidak bisa dipastikan. Satu hal yang kita ketahui adalah bahwa Hibal telah salah menilai situasi dengan berasumsi bahwa Pasukan Muslim lari karena ketakutan dan berpikir bahwa kepulangan mereka ke Madinah adalah tanda kelemahan. Ia tidak tahu bahwa Pasukan Muslim mengendarai unta-unta pembawa beban dan unta-unta inilah yang sebenarnya panik, bukan pasukan-pasukan tersebut. Malam harinya, kekuatan penuh pasukan murtad maju dan mendirikan kembali kemah-kemah mereka di dekat Madinah. Semangat mereka dalam kondisi sangat baik.

Pasukan Muslim merasa kesal dan setiap prajurit bertekad untuk membalas. Abu Bakr mengetahui bahwa pasukan murtad telah kembali ke kemah mereka di dekat Madinah dan ia memutuskan untuk menyerang sebelum musuh menyelesaikan persiapan di kemah mereka. Di bawah instruksinya, Pasukan Muslim mereorganisasi pasukan kecil mereka dan bersiap untuk beretmpur.

Di akhir malam, Abu Bakr memimpin pasukannya keluar dari Madinah dan berbaris untuk menyerang. Ia membariskan pasukannya dengan satu pasukan tengah, dua sayap, dan satu pasukan belakang. Ia memimpin langsung pasukan tengah, menunjuk Nu’man memimpin sayap kanan, Abdullah memimpin sayap kiri, dan Suwayd memimpin pasukan belakang. Ketiga komandan ini adalah anak-anak Muqarran. Sebelum fajar, pasukan ini bergerak maju menuju kemah pasukan murtad yang masih tidur pulas karena percaya bahwa mereka akan menang mudah.

Kali ini, giliran Hibal yang terkejut. Belum lagi sinar fajar terlihat, Pasukan Muslim telah maju menyerang dengan teriakan perang mereka. Pasukan murtad masih dalam keadaan belum siap. Banyak di antara mereka terbunuh, namun ada banyak juga yang berhasil melarikan diri sampai di Zhu Qissa. Di sana, mereka berhenti dan mereorganisasi pasukan. Semangat mereka buyar.

Ronde ini dimenangkan oleh Abu Bakr dan kemenangan ini bukanlah kemenangan kosong. Kemenangan ini adalah hasil taktis serangan sesungguhnya yang memukul mundur dan membunuh sebagian dari musuh. Abu Bakr telah memerangi musuh selagi mereka tidak siap sehingga ia bisa mendapatkan keuntungan dari serangan kejutan meskipun jumlah Pasukan Muslim lebih sedikit. Ia membutuhkan kemenangan taktis secara cepat dan ia berhasil mendapatkannya. Satu hal yang menarik dari kejadian ini adalah bahwa serangan malam ini merupakan salah satu serangan malam hari pertama, sebuah taktik yang tidak terlalu populer sampai nanti menjelang Perang Dunia Pertama.

Setelah memenangi ronde ini, Abu Bakr memutuskan untuk tidak memberikan musuh kesempatan untuk beristirahat. Ia bermaksud untuk menyerang kembali sebelum efek kejutan serangan sebelumnya mereda, selagi kebingungan masih membuat musuh berantakan. Segera setelah matahari terbit, ia berangkat menuju Zhu Qissa.

Sesampainya di Zhu Qissa, ia membariskan pasukannya sebegaimana susunan pasukannya fajar tadi. Ia menyerang dan pasukan murtad berusaha bertahan. Namun semangat tempur mereka telah kendur. Setelah sedikit memberi perlawanan, mereka melarikan diri dan mundur ke Abraq, lokasi berkumpulnya Pasukan Ghathfan, Hawazin, dan Tayy. Abu Bakr sendiri mengirimkan satu pasukan kecil di bawah komando Thalhah bin ‘Ubaydullah untuk mengejar musuh. Thalhah berangkat dan dalam jarak tidak terlalu jauh, berhasil membunuh sejumlah kecil musuh yang melarikan diri. Tetapi jumlah pasukannya yang terlalu kecil membuatnya tidak bisa pergi terlalu jauh dan menyerang secara maksimal.

____________________________________________________________________________
(Halaman 3)

Direbutnya Zhu Qissa terjadi pada atau sekitar 30 Juli 632 M (8 Jumadil Awwal 11 H). Abu Bakr meninggalkan detasemen kecil di bawah komando Nu’man bin Muqarran untuk menjaga Zhu Qissa. Abu Bakr dan pasukannya pulang kembali ke Madinah. Pada tanggal 2 Agustus, Pasukan Usamah tiba kembali di Madinah, ibukota Islam pun tidak lagi dalam bahaya.

Setelah meninggalkan Madinah, Usamah berangkat ke Tabuk. Kebanyakan suku-suku di sana memberi perlawanan sengit; tetapi Usamah dengan semangat dan tenaga mudanya menyapu daerah tersebut dengan sejumlah kemenangan. Pasukannya beroperasi di daerah yang luas dan jauh di utara Arab, dimulai dari Quza’ah yang tunggang langgang dari serbuan pasukannya dan kemudian, ia pergi menuju Dawmatul Jandal (lokasi tertangkapnya Ukaydar oleh Khalid dua tahun sebelumnya). Usamah membunuh semua yang memberi perlawanan dalam pertempuran, membakar sejumlah kebun anggur dan perkampungan musuh, meninggalkan “badai asap” di belakang pasukannya.[1]

Sebagai hasil dari operasinya, sejumlah suku kembali menyatakan kesetiaan mereka pada Madinah dan memeluk Islam kembali. Namun Suku Quza’ah tetap memberontak dan tidak bertobat. Mereka akan dihadapi kembali tidak lama kemudian oleh ‘Amr bin Al-‘Ash.

Usamah kemudian melanjutkan perjalanan ke Mu’tah, bertempur dengan sejumlah Arab Kristen dari Bani Kalb dan Ghassan, sekaligus untuk membalaskan kematian ayahnya. Namun tidak terjadi pertempuran besar dalam ekspedisi ini. Ia pulang ke Madinah dengan banyak tawanan dan harta. Sebagian harta ini adalah dari rampasan perang dan sebagian lagi dari zakat suku-suku yang kembali masuk Islam. Pasukan Usamah kembali dan disambut oleh Abu Bakr dan rakyat Madinah yang lega. Mereka meninggalkan Madinah selama 40 hari.

Setelah kekalahan pasukan murtad di Zhu Qissa, sejumlah kelompok murtad membalaskan kekalahan mereka dengan membunuh anggota suku-suku mereka yang masih mempertahankan ke-Islam-annya. Pembunuhan ini dilakukan tanpa ampun, beberapa Muslim dibakar hidup-hidup dan yang lain dijatuhkan dari puncak bukit. Abu Bakr mendengar kabar kekejaman ini dengan rasa marah yang masih terkendali, ia berjanji akan menghukum mati setiap kafir yang membunuh Muslimin, dan memerangi setiap suku murtad.

Muslimin sekarang di atas angin. Kemenangan awal Abu Bakr telah membangkitkan semangat meskipun tidak terlalu menentukan. Beberapa suku murtad yang tinggal di dekat Madinah bertobat, masuk Islam dan membayar zakat kembali. Pasukan Usamah pulang dengan tawanan dan harta. Peti keuangan Negara Muslim kembali terisi, siap untuk membiayai perang total melawan musuh-musuh Islam.

Tetapi Abu Bakr memutuskan bahwa ia memerlukan waktu untuk mengistirahatkan dan melengkapi persenjataan Pasukan Usamah sebelum melancarkan serangan umum. Ia pun memerintahkan Usamah untuk mengistirahatkan pasukannya di Madinah. Hal ini juga membuat keamanan ibukota lebih terjaga. Pasukan kecil Abu Bakr sendiri sekarang lebih percaya diri dan Abu Bakr memutuskan untuk berangkat dengan pasukan kecil ini untuk menyerang pasukan murtad yang berkumpul di Abraq. Sekarang, Abu Bakr benar-benar bersiap untuk perang, tidak hanya untuk menghukum suku-suku yang murtad, tetapi juga untuk membalaskan gugurnya Muslimin yang dibunuh oleh kaum murtad.

Ketika Abu Bakr mengumumkan maksudnya untuk memimpin pasukan kecil ini ke Abraq, sejumlah Muslim senior mencoba menahannya. Mereka berkata, “Semoga Allah memberkahimu, Wahai Khalifaturrasulillah! Jangan membahayakan dirimu sendiri dengan memimpin langsung pasukan. Jika engkau terbunuh, kekacauan akan terjadi. Keberadaanmu saja sudah cukup menjadi masalah bagi kaum kafir. Tunjuklah orang lain untuk memimpin pasukan. Kemudian jika ia terbunuh, engkau bisa menunjuk orang lain.”

Abu Bakr hendak memberikan tanggung jawab besar di bahu Muslimin, baik bagi para komandan maupun bagi prajurit. Ia akan meminta mereka untuk berusaha sekeras mungkin dan bersiap menghadapi bahaya serta beratnya pertempuran. Ia tidak bisa menemukan cara lain untuk membuat mereka memenuhi harapannya selain dengan memimpin mereka secara langsung.

Catatan Kaki Halaman 3
[1] Ibnu Sa’ad: hlm 709.

sumber : https://www.kaskus.co.id/show_post/576c8cd162088195528b4568/213/-


EmoticonEmoticon