Rabu, 14 Desember 2016

Terjemahan The Sword of Allah : Khalid bin Al-Waleed (23) Badai yang Berkumpul (bagian 1)


Bab 11: Badai yang Berkumpul (Bagian I)
(Halaman 1)
“Orang-orang Arab Badwi itu berkata, ‘Kami telah beriman.’ Katakanlah, ‘Kamu belum beriman, tetapi katakanlah: Kami telah tunduk, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu. Dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikitpun pahala amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’
Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.” [Al-Qur’an, 49: 14-15]
Gerakan murtad sebenarnya telah ada sejak nabi masih hidup dan aksi murtad pertama telah diperangi dan diselesaikan dengan sebelum nabi wafat. Namun gerakan murtad yang paling berbahaya bangkit setelah wafatnya nabi, yaitu dengan bergeraknya gelombang murtad di seantero Arabia. Gelombang ini harus dihentikan oleh Abu Bakr. Oleh karena itu, Perang Riddah (Perang Melawan Kemurtadan-pent) dikobarkan secara masif meskipun secara kronologis bagian awalnya sudah dimulai sejak Bagian I buku ini.

Kejadian awal dari gerakan ini adalah kemurtadan di daerah Yaman yang dikenal dengan nama Insiden Aswad Al-‘Ansi. Aswad adalah Kepala Suku ‘Ansi, sebuah suku besar yang menghuni bagian barat Yaman. Nama aslinya adalah ‘Abhalah bin Ka’ab, tetapi karena warna kulitnya yang sangat gelap, ia dipanggil Aswad yang berarti Si Hitam. Sebagai seorang dengan banyak kelebihan, ia telah dikenal luas sebagai kepala suku dan juga sebagai peramal sebelum kemurtadannya.

Pada tahun kesepuluh Hijrah (10 H-pent), orang-orang Arab dari selatan dan tenggara Jazirah Arab telah masuk Islam. Nabi telah mengirimkan utusan, guru, dan da’i ke berbagai lokasi untuk mengajarkan Islam. Tugas ini dilakukan sampai selesai. Namun, mayoritas mu’allaf di daerah ini belum masuk Islam sepenuh hati. Mereka masuk Islam hanya sebagai tren dan tidak diikuti dengan perubahan hati.

Sebelum terjadinya proses masuk Islam secara masal ini, Yaman dipimpin oleh seorang bangsawan kelahiran Persia bernama Bazan, sebagai perwakilan dari Kisra Persia.[1] Bazan kemudian masuk Islam dan ia ditetapkan oleh nabi tetap menjadi Gubernur Yaman. Karena ia adalah seorang pejabat yang bijaksana dan berakhlak baik, provinsinya sejahtera di bawah kepemimpinannya; namun sesaat sebelum haji perpisahan nabi, Bazan meninggal dan nabi menunjuk anak Bazan yang bernama Syahr sebagai gubernur di San’a. Kedamaian di Yaman berlanjut di bawah kepemimpinannya dan tidak ada awan hitam yang menutup langit selatan.

Kemudian di saat nabi melaksanakan haji perpisahannya, Aswad memutuskan bahwa ia akan menjadi seorang nabi. Ia mengumpulkan anggota sukunya, membacakan beberapa ayat buatannya, dan mengklaim bahwa ayat tersebut adalah ayat Al-Qur’an yang diwahyukan kepadanya, dan mengumumkan bahwa ia adalah seorang rasulullah.

Aswad memiliki seekor keledai yang ia latih untuk mematuhi sejumlah perintah tertentu, dan ia menggunakan keledai itu untuk menunjukkan kekuatannya. Ia akan memberi perintah, “Menunduklah di hadapan tuanmu,” dan keledai itu akan menundukkan kepalanya di hadapan Aswad. Ia kemudian memerintahkan, “Berlututlah pada tuanmu!”[2] dan keledai itupun berlutut. Karena hal ini, Aswad dikenal di daerahnya dengan julukan Dzul Himar ‘Si Pemilik Keledai’ atau ‘Keledai-Walah’. Beberapa periwayat menyebutkan berbeda. Ia tidak digelari Dzul Himar, tetapi Dzul Khumar ‘Si Pemabuk’.[3] Hal ini juga kemungkinan benar karena Aswad sangat kecanduan minuman keras dan sering terlihat pingsan dalam kondisi mabuk. Namun bagaimanapun juga, sukunya mau saja mengikutinya, percaya bahwa ia benar-benar nabi; dan bahkan sejumlah suku kecil di Yaman bergabung dengan mereka.

Aswad membentuk sebuah kavaleri kuda berjumlah 700 pasukan dan berangkat ke Najran. Ia menaklukkan kota tersebut tanpa kesulitan dan mengusir pejabat Muslim di sana. Gembira melihat kemenangan mudahnya, ia menunjuk orang kepercayaannya untuk memerintah Najran. Aswad kemudian bergerak ke San’a. (Lihat Peta 7). Syahr, Gubernur Yaman yang baru, mendengar kabar jatuhnya Najran. Ia mengetahui maksud dari Aswad dan berencana untuk menghentikan Aswad sebelum mencapai San’a. Setelah mengumpulkan pasukan kecil (ia tidak memiliki banyak pasukan), ia keluar ke utara San’a untuk menemui pasukan musuh. Pertempuran berlangsung singkat dan berakhir dengan keunggulan Aswad. Syahr gugur dalam pertempuran ini, meninggalkan janda cantik yang bernama Azad. Lima hari kemudian, Aswad memasuki San’a sebagai penakluk. Ia bekerja sangat cepat untuk misi jahatnya ini, baru 25 hari berlalu sejak ia mengumumkan kenabiannya kepada sukunya.



Catatan Kaki Halaman 1
[1] Ia disebut Bazam oleh sejumlah sejarawan.
[2] Baladzuri: hlm. 113. 
[3] Ibid
____________________________________________________________________________
(Halaman 2)

Hampir seluruh Yaman sekarang berada di bawah kekuasaannya. Dan untuk memaksimalkan kesenangannya setelah berhasil secara militer dan politik, Aswad menikahi Azad secara paksa. Janda yang malang ini tidak memiliki pilihan selain mengikuti kemauan Si Pemabuk Pemilik Keledai ini.

Setelah menguasai Najran dan San’a, Aswad mengonsolidasi perolehannya ini dan menguatkan cengkeramannya ke seluruh Yaman, banyak suku yang mengakuinya sebagai pemimpin dan nabi. Melihat dirinya semakin berkuasa, ia merasa tidak puas dengan gelar nabi. Aswad mendeklarasikan dirinya sebagai Rahman dari Yaman.[1] Kata “Rahman” bermakna “Maha Pengasih”, merupakan salah satu nama Allah bagi Muslimin. Dengan demikian, Aswad mencoba mengklaim derajat ketuhanan sebagai miliknya sebagaimana orang-orang sebelumnya melakukan hal yang sama dan pada akhirnya berakhir dengan kebinasaan mereka. Pengikutnya pun memanggilnya Rahman dari Yaman. Hobinya bermabuk-mabukan terus berlanjut, begitu juga kesenangannya dari istri barunya, Azad, yang selalu memandangnya dengan perasaan jijik sampai-sampai ia mengadu kepada temannya, “Bagiku, tidak ada seorang laki-lakipun yang lebih kubenci daripadanya.”[2] Dalam kejahatannya, Aswad juga memperlakukan dengan buruk keluarga Bazan yang memang berasal dari Persia. Setiap ada kesempatan, ia akan memperlakukan mereka dengan hina dan merendahkan keluarga mendiang Bazan. Akibat perbuatannya ini, kebencian tumbuh subur di hati salah seorang anggota keluarga Bazan yang merupakan Muslim sejati juga, yaitu Fayruz Ad-Daylami yang juga adalah sepupu Azad.

Tanpa diketahui si nabi palsu, nabi yang sesungguhnya di Madinah telah mempersiapkan upaya untuk mengatasi permasalahan ini. Setelah menerima laporan lengkap tentang kejahatan Aswad, Nabi Suci mengirim Qays bin Hubayrah untuk menjatuhkan Aswad. Qays masuk ke San’a secara diam-diam, kemudian membangun pergerakan bawah tanah untuk melawan nabi palsu dan ia berhasil menemui Fayruz. Qays dan Fayruz menjadi otak pergerakan ini untuk menghancurkan dan memadamkan kekuasaan Aswad.

Membunuh Aswad tidak akan menjadi pekerjaan mudah. Si Hitam (makna dari nama Aswad-pent) ini memiliki badan besar yang kuat, terkenal akan kekuatan dan kegarangannya, dan ia sudah menduga bahwa Fayruz akan memberontak. Terlebih lagi, Aswad tinggal di dalam istana yang dikelilingi dinding tinggi dan dijaga oleh banyak pasukan yang terpilih karena kesetiaan mereka pada Aswad. Mereka berjaga di dinding dan koridor instana. Satu-satunya jalan masuk adalah melalui bagian khusus di dinding yang dekat dengan kamar Azad. Dinding ini harus dipanjat.

Fayruz menghubungi Azad, menjelaskan tujuannya dan meminta bantuan Azad. Azad dengan siap menjanjikan bahwa ia akan menolong Fayruz karena inilah satu-satunya jalan keluar dari kehidupan sengsara yang ia jalani sekarang.

Malam hari tanggal 30 Mei 632 M (6 Rabi`ul ‘Awwal 11 H) mereka pilih untuk menjalankan aksi ini. Tepat setelah tengah malam, ketika bulan telah terbenam, dan di saat tidak ada penjaga di sekitarnya, Fayruz memanjat dinding tinggi istana dengan tali dan menyusup ke ruangan Azad. Azad menyembunyikannya di ruangan tersebut dan kedua sepupu ini dengan sabar menunggu untuk menjalankan misi mereka.

Sesaat sebelum fajar, Azad keluar dari kamarnya dan memasuki kamar Aswad yang tepat berada di sebelahnya. Ia tahu bahwa ada seorang prajurit penjaga di dekat sana meskipun ia tidak melihatnya. Ia membuka pintu, melihat ke dalam, dan kemudian kembali kepada Fayruz. Api pembalasan terlihat menyala di matanya ketika ia berbisik, “Sekarang saatnya! Ia sedang terbaring mabuk!”

Fayruz, diikuti oleh Azad, mengendap-endap keluar dari kamar Azad dan berjalan menuju kamar Aswad. Perempuan ini berjaga di pintu selagi Fayruz masuk ke kamar dan bersiap dengan pedang terhunus. Tiba-tiba, Aswad terduduk di atas tempat tidurnya dan menatap ke arah Fayruz di balik pintu kamar. Kemunculan Fayruz sangat membuat Aswad terkejut sampai-sampai mabuknya hilang, tetapi sebelum ia bisa bangun dari tempat tidurnya, Fayruz melompat ke arah Aswad dan menyabetkan pedang ke arah kepalanya. Aswad jatuh ke bantalnya. Menurut sejumlah periwayat, “Ia mulai melenguh seperti seekor lembu.”[3]

Lenguhannya ini menarik perhatian prajurit penjaga yang dengan segera berlari menuju kamar Aswad. Ia melihat Azad berdiri di depan pintu dan bertanya, “Ada apa dengan Rahman dari Yaman?” Perempuan pemberani itu mengangkat jarinya ke mulutnya sambil berbisik, “Ssst! Ia sedang menerima wahyu dari Allah!”[4] Pasukan penjaga itu mengangguk dan berjalan menjauh.

Catatan Kaki Halaman 2
[1] Baladzuri: hlm. 113-125. 
[2] Ath-Thabari: Vol.2, hlm. 467. 
[3] Baladzuri: hlm. 114. 
[4] Ibid. 
____________________________________________________________________________
(Halaman 3)

Azad menunggu sampai prajurit penjaga berbalik ke koridor, dan ia pun bergegas masuk ke kamar. Ia melihat Fayruz berdiri di samping tempat tidur, menunggu kesempatan untuk menyabetkan pedangnya lagi, sementara si nabi palsu menggeliat di atas tempat tidurnya sambil melambai-lambaikan tangan. Keduanya sekarang bekerja sama. Azad segera menaiki tempat tidur, menarik rambut Aswad dengan kedua tangannya, dan mempersiapkan kepala Aswad untuk dipenggal. Fayruz kemudian mengeluarkan belatinya dan dengan terampil serta cepat, ia memisahkan kepala Aswad dari badannya yang besar. Demikianlah akhir riwayat dari si nabi palsu, ‘Abhalah bin Ka’ab, alias Si Hitam, alias Si Pemilik Keledai, alias Si Pemabuk. Kejahatannya berlangsung selama tiga bulan dan berakhir dengan kematiannya, enam hari sebelum Nabi Muhammad wafat.

Dengan kematian Aswad, gerakannya pun tumbang. Gerakan Muslim yang dibangun oleh Qays di San’a melakukan perlawanan bersenjata terhadap pengikut-pengikut Aswad, kebanyakan dari mereka terbunuh, tetapi banyak juga yang berhasil melarikan diri dan kelak akan menciptakan masalah baru bagi pemimpin Muslim di daerah ini. Sisanya kembali masuk Islam dan di antara mereka juga, ada yang kemudian murtad kembali. Fayruz ditunjuk sebagai gubernur di San’a.

Pembawa berita yang membawa kabar baik ini ke Madinah tiba sesaat setelah wafatnya Sang Nabi Suci. Laporan hancurnya kejahatan Aswad Al-‘Ansi sedikit memberi hiburan pada Muslimin yang bersedih.

Madinah sekarang masuk dalam tahap krisis dalam hal emosi, spiritual, dan politik. Wafatnya Muhammad yang tercinta meninggalkan kesedihan yang mendalam. Sudah 10 tahun, nabi telah menjadi segalanya bagi mereka: panglima, pemimpin, hakim, guru, pembimbing, teman. Tidak ada sisi dalam kehidupan yang tidak ia lakoni. Muslimin telah mengadukan berbagai permasalahan kepadanya dan ia telah menyelesaikan, memberi keputusan, memberi arahan, serta memberi ketenangan hati. Di masa hidupnya, ia memberikan sinar hangat yang membuat Muslimin merasa aman dari masalah dan malapetaka. Sekarang, sinar itu telah hilang. Muslimin merasa ditinggalkan sendiri dalam keadaan penuh kekhawatiran, dalam kata lain seperti sejumlah periwayat menyampaikan, “Seperti domba di cuaca malam yang hujan dan dingin.”[1]

Krisis ini kemudian diperparah dengan datangnya berbagai laporan bahwa pemberontakan menyebar di seluruh Arabia. Semua suku Arab memberontak pada otoritas politik dan keagamaan di Madinah dan melepaskan diri dari janji bay’at setia mereka, kecuali suku-suku Arab di Makkah, Madinah, dan Suku Tsaqif di Tha’if. Nabi-nabi palsu bermunculan dan mengklaim bahwa mereka juga adalah nabi seperti halnya Muhammad. Nabi-nabi palsu ini telah melihat bagaimana rasa kasih dan rasa hormat pengikut Muhammad kepada nabi mereka dan nabi-nabi palsu ini menginginkan hal yang sama. Namun mereka tidak mengetahui bagaimana cobaan dan penderitaan yang dilalui oleh Muhammad sebelum tujuannya mencapai hasil. Selain Aswad, ada dua (kemungkinan tiga) nabi palsu dan satu nabiyah (nabi perempuan-pent) palsu. Muncul juga kelompok lain, yaitu sejumlah kepala dan tetua suku yang tidak mengaku nabi, tetapi mereka bergabung dengan nabi-nabi palsu tersebut dalam merencanakan makar untuk memadamkan cahaya Islam dan mengembalikan kejahiliyahan kesukuan. Api kemurtadan menyebar liar ke seluruh Arabia, mengancam Makkah dan Madinah yang merupakan pusat spiritual dan politik dari negara Islam yang baru lahir.

Faktor utama kemurtadan masal ini adalah lemahnya keimanan. Kebanyakan suku-suku tersebut masuk Islam pada tahun kesembilan dan kesepuluh hijrah (9-10 H-pent) dengan motivasi politik. Mereka kira, hal tersebut adalah pilihan bijak. Mereka menilai Muhammad lebih sebagai seorang pemimpin politik yang sangat berkuasa daripada percaya kepada kenabian dan risalah ajarannya. Muslimin yang sesungguhnya adalah Muslimin di Makkah dan Madinah. Khusus mereka di Madinah, mereka telah bersama sang nabi suci selama bertahun-tahun dan telah menerima begitu banyak kebenaran secara langsung dari nabi. Suku-suku di luar tidak banyak mendapatkan pengalaman spiritual ini. Dalam banyak kasus, ketika kepala suku masuk Islam, semua anggota suku mereka juga mengikuti sebagai bentuk kesetiaan kesukuan, bukan karena keyakinan sebenarnya. Dengan wafatnya nabi, suku-suku ini merasa bebas untuk melepaskan janji setia mereka yang menurut mereka telah mereka buat dengan seorang tertentu saja, bukan kepada Madinah ataupun Islam. Muhammad telah meninggal dunia dan sekarang, mereka bisa berlepas diri dari kewajiban-kewajiban dan batasan-batasan dari agama baru mereka, seperti membatasi jumlah istri yang bisa laki-laki nikahi, kewajiban zakat, kewajiban shalat, dan kewajiban puasa. Pemimpin-pemimpin suku ini merasa lebih baik bagi mereka untuk bebas memanfaatkan orang-orang lemah dari suku mereka untuk keuntungan mereka sendiri, mereka berlepas diri dari larangan-larangan yang telah ditetapkan dalam Islam.

Kekhawatiran Muslimin bertambah ketika Abu Bakr menjadi khalifah, khalifah pertama dalam Islam. Banyak Muslim tidak pernah melihat kualitas kepemimpinan Abu Bakr, apalagi kemampuannya untuk menakhodai negara untuk menerjang badai yang berkumpul di berbagai sisi dan mengancam eksistensi Islam. Apa yang mereka butuhkan di saat kritis ini adalah seorang pemimpin yang kuat, kokoh, dan cakap. Dan bagaimana kesan pribadi Abu Bakr di mata mereka? Seorang yang kecil, kurus, pucat, ia memiliki mata yang cekung di bawah alis yang kurus dan lembut. Saat itu, tubuhnya telah nampak bungkuk dan memberikan kesan tua serta uzur meskipun ia mewarnai janggutnya. Seorang yang lunak, sopan, dan berhati lembut, ia sangat mudah menangis.

Catatan Kaki Halaman 3
[1] Ath-Thabari: Vol. 2, hlm 461.

sumber : https://www.kaskus.co.id/show_post/576252cdd89b09fd3c8b4567/204/-


EmoticonEmoticon