Rabu, 14 Desember 2016

Terjemahan The Sword of Allah : Khalid bin Al-Waleed (26) Abu Bakar Menyerang (bagian 2)


Bab 12: Abu Bakr Menyerang (Bagian II)
(Halaman 4)

Abu Bakr menjawab, “Tidak. Demi Allah! Aku tidak akan melakukannya. Aku tidak akan membebani orang lain dengan bebanku sendiri.”[1]

Dengan demikian, pasukan kecil tersebut berangkat di bawah kepemimpinan Abu Bakr menuju Zhu Qissa, tempat Nu’man menunggunya. Nu’man kelak akan memperoleh ketenaran abadi setelah memenangkan Pertempuran Nihawand di Persia.

Abu Bakr menempatkan Nu’man dan saudaranya untuk memimpin kedua sayap dan pasukan belakang sebagaimana yang telah dilakukannya pada serangan malam. Dari Zhu Qissa, pasukan ini berangkat ke Abraq. Saat itu adalah pekan kedua Agustus (pekan ketiga Jumadil Awwal).

Ketika Pasukan Muslim tiba di Abraq, mereka bertemu pasukan musuh yang ternyata telah berbaris dan siap tempur. Tanpa banyak membuang waktu, Abu Bakr juga membariskan pasukannya dan menyerang pasukan murtad. Semangat pasukan murtad tidak setinggi beberapa malam sebelumnya. Sebagian dari mereka adalah bagian dari pasukan yang mengalami kekalahan di Zhu Qissa dan seperti biasa, kedatangan mereka memberi efek psikologi yang buruk bagi rekan-rekan lainnya. Dalam waktu yang agak lama, pasukan murtad yang berjumlah lebih banyak, menahan serangan Muslim, tetapi kemudian mereka mundur dan melarikan diri. Abu Bakr kembali memperoleh kemenangan.

Sisa pasukan murtad yang melarikan diri dari Abraq beserta sejumlah klan lainnya di daerah tersebut mundur ke Buzakha, tempat Thulayhah Sang Nabi Palsu berdiam setelah berangkat dari Samirah. Sejumlah suku lain di sekitar Abraq juga masuk Islam setelah Abu Bakr mengirim beberapa pasukan ke kampung-kampung mereka. Sekarang, zakat yang dikumpulkan bertambah, bahkan ditambah lagi dengan banyak hadiah lainnya dari klan-klan yang bertobat ini.

Keesokan harinya, Khalifah meninggalkan Abraq ke Madinah. Setibanya di Madinah, ia mengisi beberapa hari ke depan dengan urusan-urusan kenegaraan; kemudian ia berangkat ke Zhu Qissa bersama Pasukan Usamah. Pasukan ini sekarang tidak lagi dikomando oleh Usamah karena dia telah menyelesaikan tugasnya. Pasukan ini secara sederhana akan kembali disebut sebagai Tentara Islam yang akan diberdayakan oleh Khalifah kapan pun diperlukan.

Di Zhu Qissa, Abu Bakr mengorganisasi Tentara Islam menjadi beberapa korps untuk menghadapi sejumlah musuh yang telah menguasai hampir seluruh Arab. Untuk pertama kalinya, Tentara Islam dibagi dalam sejumlah korps terpisah, masing-masing dengan komandan sendiri dengan tujuan berbeda. Semua korps bergerak di bawah komando strategis langsung oleh Khalifah. Komandan-komandan Muslim sampai saat itu secara esensial kebanyakan adalah ahli taktik. Kali ini, mereka akan memasuki suatu fase yang tingkatannya lebih tinggi, yaitu dunia strategi; dan mereka akan menguasai bidang tersebut dengan begitu mudah dan dengan pijakan yang kokoh, membuat dunia di masa itu terkejut.

Di Zhu Qissa, pekan keempat Agustus 632 M (awal Jumadil Akhir 11 H), Abu Bakr merencanakan strategi Perang Riddah. Pertempuran-pertempuran yang baru ia jalani sebelumnya melawan konsentrasi pasukan murtad di Zhu Qissa dan Abraq, pada dasarnya adalah upaya pencegahan untuk menyelamatkan Madinah dan mematahkan niat pasukan murtad lainnya untuk menyerang Madinah. Dengan demikian, Muslimin memiliki waktu untuk bersiap-siap dan menerjunkan pasukan utamanya. Aksi-aksi militer awal ini dapat disebut sebagai spoiling attack; memungkinkan Abu Bakr untuk mengamankan basis militernya sehingga ia bisa menjalani perang besar yang terbentang di depan.

Abu Bakr sangat paham dengan tugas yang harus ia hadapi. Ia harus memerangi beberapa musuh, yaitu Thulayhah Sang Nabi Palsu di Buzakha, Malik bin Nuwayrah di Butah, Musaylimah Sang Penipu di Yamamah. Ia harus mengatasi kemurtadan yang menyebar di pantai timur dan pantai selatan Arab, yaitu daerah Bahrayn, Oman, Mahra, Hadhramawt, dan Yaman. Ada juga kemurtadan di selatan dan timur Makkah. Di utara Arab, Quza’ah bersiap untuk melakukan serangan balasan setelah disapu oleh Pasukan Usamah.

Situasi Muslimin bisa diibaratkan seperti sebuah pulau kecil di lautan kekafiran, sebuah lampu yang bersinar di kegelapan yang membahayakam Kaum Beriman. Abu Bakr tidak hanya harus menjaga agar api lampu ini tidak padam, ia juga harus menghilangkan kegelapan dan menghancurkan sumber kejahatan yang berkumpul serta mengancam dari segala sisi. Dalam aspek jumlah pasukan, kaum murtad jauh lebih unggul daripada Muslimin, tetapi mereka tidak bergerak dalam kesatuan. Kekuatan militer Abu Bakr bertumpu pada prajurit terbaik di masa tersebut yang ada di antara Muslimin. Dan ia memiliki senjata pamungkas, Khalid ibn Al-Walid, Pedang Allah.

Catatan Kaki Halaman 4
[1] Ath-Thabari: Vol.2, hlm. 476. 
____________________________________________________________________________
(Halaman 5)

Abu Bakr merencanakan strateginya dengan baik. Ia membagi tentara dalam beberapa korps. Korps terkuat dan pukulan utama yang akan diberikan oleh Pasukan Muslim adalah Korps Khalid. Korps ini akan ditugaskan untuk memerangi pasukan pemberontak paling kuat, untuk “memecahkan kulit kacang yang paling keras”. Korps-korps lainnya ditugaskan di daerah-daerah dengan tingkat bahaya sekunder, memerangi suku-suku murtad yang tidak terlalu mengancam, setelah kekuatan utama musuh dihancurkan. Dua korps akan dijadikan sebagai cadangan untuk memperkuat Korps Khalid atau korps lainnya ketika mereka membutuhkan bantuan. Korps pertama yang berangkat adalah Korps Khalid. Sedangkan keberangkatan korps-korps lainnya bergantung dari hasil operasi Korps Khalid yang akan bertempur melawan musuh terkuat satu demi satu. Rencana Abu Bakr yag pertama adalah membersihkan area di bagian Barat-Tengah Arabia, area paling dekat dengan Madinah. Kemudian, Khalid harus menghentikan pergerakan Malik bin Nuwayrah dan terakhir mengonsentrasikan serangannya pada musuh paling berbahaya, Musaylimah Sang Penipu. Abu Bakr berupaya agar pasukan ini terkonsentrasi, mematahkan pasukan-pasukan utama musuh secara terpisah dan berturut-turut, dari lokasi paling dekat sampai lokasi paling jauh.

Khalifah membentuk 11 korps, masing-masing dengan komandan sendiri.[1] Bendera perang diberikan kepada masing-masing korps. Pasukan yang tersedia didistribusikan ke masing-masing korps ini. Sementara sebagian komandan diberikan misi untuk bergerak secara langsung, sebagian lainnya diberikan misi untuk menunggu sampai mereka diterjunkan nantinya. Komandan-komandan ini juga diinstruksikan untuk merekrut tambahan pasukan di dalam perjalanan menyelesaikan misi mereka. Kesebelas komandan korps dan misi mereka masing-masing adalah sebagai berikut.

1. Khalid: Pertama menghadapi Thulayhah di Buzakha, kemudian Malik bin Nuwayrah di Butah.
2. ‘Ikrimah bin Abi Jahl: Menghadang Musaylimah di Yamamah, tetapi dilarang untuk bertempur sebelum pasukannya mendapat bantuan.
3. ‘Amru bin Al-‘Ash: Suku-suku murtad dari Quza’ah dan Wadi’ah di daerah Tabuk dan Dawmatul Jandal.
4. Syurahbil bin Hasanah: Mengikuti Ikrimah dan menunggu instruksi Khalifah.
5. Khalid bin Sa’id: Menghadapi sejumlah suku-suku murtad di perbatasan Syams.
6. Thurayfah bin Hajiz: Suku-suku murtad dari Hawazin serta Bani Sulaym di timur Madinah dan Makkah.
7. ‘Ala` bin Al-Hadhrami: Kaum Murtad di Bahrayn.
8. Hudzayfah bin Mihshan: Kaum Murtad di Oman.
9. 'Arfajah bin Hartsamah: Kaum Murtad di Mahra.
10. Muhajir bin Abi Umayyah: Kaum Murtad di Yaman, kemudian Suku Kinda di Hadhramawt.
11. Suwayd bin Muqarran: Kaum Murtad di pantai-pantai di utara Yaman.

Segera setelah organisai korps-korps ini selesai, Khalid berangkat, kemudian tidak berapa lama diikuti oleh ‘Ikrimah dan ‘Amr bin Al-‘Ash. Korps-korps lainnya menunggu dan dikirim beberapa minggu, atau bahkan beberapa bulan kemudian. Pengiriman mereka bergantung pada kemajuan operasi Khalid melawan inti kekuatan perlawanan musuh.

Sebelum korps-korps ini meninggalkan Zhu Qissa, utusan-utusan dikirim oleh Abu Bakr ke semua suku murtad sebagai upaya terakhir untuk mendorong mereka kembali menggunakan akal sehat. Utusan-utusan ini diberikan instruksi yang sama. Mereka diperintahkan untuk mengajak suku-suku tersebut untuk kembali masuk Islam sepenuhnya, suku-suku yang menyerah akan diampuni, sedangkan suku-suku yang menentang akan diperangi sampai tidak ada lagi perlawanan, perempuan dan anak-anak mereka akan dijadikan budak. Setiap sebelum melakukan penyerangan pada suatu suku, Pasukan Muslim harus melakukan adzan (panggilan shalat bagi Muslimin) dan jika suku tersebut merespon, mereka akan dianggap telah kembali pada Islam.

Kepada semua komandan pasukan, Khalifah juga memberi instruksi umum di samping misi mereka masing-masing. Instruksi tersebut adalah sebagai berikut.

a. Temuilah suku-suku yang terkait dengan misi kalian.
b. Panggillah mereka dengan adzan.
c. Jika suku tersebut menjawab panggilan adzan, jangan menyerang. Setelah adzan, tanyakanlah kepada suku tersebut untuk mengkonfirmasi ke-Islam-an mereka, termasuk pembayaran zakat mereka. Jika semua hal tersebut jelas dan benar, jangan menyerang.
d. Mereka yang kembali pada Islam, tidak akan diganggu.
e. Mereka yang tidak menyambut seruan adzan atau setelah adzan tidak menyatakan ke-Islam-an mereka, harus diperangi dengan api dan pedang.
f. Semua murtad yang telah membunuh Muslimin, harus dibunuh; mereka yang membakar Muslimin hidup-hidup, harus dibakar hidup-hidup.[2]

Terlihat jelas dari instruksi-instruksi ini bahwa Abu Bakr bukanlah seorang Sahabat (Nabi-pent) yang cengeng dan mudah tunduk pada keadaan. Dia akan membawa Pasukan Islam memerangi kaum murtad.

Catatan Kaki Halaman 5
[1] Istilah “korps” dipakai dalam tulisan ini untuk menunjukkan unit komando taktis yang independen. Istilah ‘korps’ di sini tidaklah memiliki organisasi yang sama dengan istilah ‘korps’ modern yang biasa terdiri dari tiga divisi.
[2] Ath-Thabari: Vol. 2, hlm. 482.

--Akhir dari Bab 12--

sumber : https://www.kaskus.co.id/show_post/576dfaaa54c07a046f8b4688/214/-


EmoticonEmoticon