Senin, 12 Desember 2016

Terjemahan The Sword of Allah : Khalid bin Al-Waleed (6) Pertempuran Uhud (bagian 3)


Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian III)

(Halaman 5)

Hari itu adalah hari Sabtu, 22 Maret 625 (7 Syawwal 3 H), tepat satu tahun satu pekan setelah Pertempuran Badr.[1] Kedua pasukan saling berhadapan, 700 pasukan Muslim melawan 3.000 pasukan kafir. Ini adalah untuk pertama kalinya Abu Sufyan memimpin pasukan melawan nabi, tetapi ia memiliki letnan-letnan yang dapat diandalkan dan ia merasa kemenangan akan mereka raih. Pasukan Muslim terus mengingat ayat Al-Qur'an, "Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik pelindung." [Al-Qur'an, 3: 173] Dan mereka menunggu ketetapan Allah.

Peristiwa pertama setelah kedua pasukan berhadapan adalah upaya dari Si Licik untuk menghasut Bani 'Aws. Laki-laki ini maju ke dapan barisan Quraysy bersama 50 pengikutnya dan sejumlah besar budak Quraysy. Ia memanggil Bani 'Aws, "Wahai Bani 'Aws! Aku Abu Amir. Kalian mengenalku!" Jawaban dari Bani 'Aws seragam, "Tidak ada sambutan bagimu, hai Licik!" Jawaban ini diikuti lemparan batu Bani 'Aws kepada Si Licik dan kelompoknya. Abu Amir dan kelompoknya pun mundur kembali ke barisan pasukan Quraysy. Melihat cercaan yang ia terima di depan pasukan Quraysy, Si Licik bergaya seolah memprediksi dan berkata, "Mereka akan menderita tanpaku."[2] Tetapi pasukan Quraysy tidak terkesan!

Setelah kejadian tersebut, pemanah dari kedua pasukan saling menembak, 100 orang pemanah pasukan Quraysy dan pemanah Muslim, baik yang berada di Bukit 'Aynayn maupun yang tersebar di garis depan pasukan Muslim. Banyak sekali salvo yang ditembakkan. Di bawah perlindungan serangan pemanah Quraysy, Khalid memimpin kavalerinya untuk menyerang sayap kiri Muslim, tetapi dipukul mundur oleh tembakan akurat pemanah Muslim. Segera setelah adu panah selesai, nyanyian perempuan-perempuan Quraysy terdengar lagi di medan pertempuran, "Kami adalah anak-anak perempuan sang malam; …."

Fase berikutnya adalah fase duel antara petarung-petarung terbaik antar kedua pasukan. Thalhah, pemegang bendera pasukan Quraysy, maju dari garis depan dan menantang, "Aku Thalhah, anak dari Abu Thalhah. Siapa yang berani berduel?"[3] Menjawab tantangan ini, Ali maju dengan cepat dan sebelum Thalhah belum sempat menyerang, Ali menyabetkan pedangnya dan Thalhah terjatuh. Thalhah hanya terluka dan ketika Ali hendak melakukan serangan keduanya, Thalhah meminta belas kasihan. Ali dengan segera berhenti dan berbalik. Namun dalam duel berikutnya, Thalhah terbunuh oleh pasukan Muslim yang lain. Dengan jatuhnya Thalhah, seorang kafir lainnya maju dan mengangkat bendera Quraysy. Orang ini dibunuh oleh Hamzah. Ketika Hamzah membunuhnya, Si Barbar mengenalinya dari barisan pasukan Quraysy. Dengan diam-diam, Si Barbar bergerak maju mendekati Hamzah dari samping. Hamzah dengan sangat mudah dikenali karena bulu burung merak yang dipakai olehnya pada sorban.

Duel semakin meluas. Satu per satu anggota keluarga Thalhah mengambil bendera dan satu per satu pula mereka dibunuh oleh Muslim, kebanyakan oleh pedang Ali. Abu Sufyan juga maju berduel dengan kudanya melawan Handzalah bin Abu 'Amir yang berjalan kaki. Sebelum Abu Sufyan bisa menggunakan tombak atau mengeluarkan pedang dari sarungnya, Handzalah menyayat paha kuda dan menjatuhkannya. Abu Sufyan menjerit meminta pertolongan dan dibantu oleh salah seorang temannya, yang kemudian bertarung dan membunuh Handzalah. Abu Sufyan mundur dengan terburu-buru kembali ke bagian aman barisan pasukan Quraysy.

Seorang prajurit Quraysy lainnya maju. Ia adalah Abdur-Rahman, anak Abu Bakr. Ia keluar dari barisan dan seperti biasa memberikan tantangan. Tantangan ini disambut oleh ayahnya, Abu Bakr. Abu Bakr mengeluarkan pedang dari sarungnya dan bersiap maju. Tetapi Abu Bakr ditahan oleh nabi yang mulia, "Sarungkan pedangmu."[4] Abdur-Rahman kelak akan menjadi salah satu prajurit Islam yang paling pemberani dan memperoleh ketenaran dalam peperangan Muslim di Syams.

Catatan Kaki Halaman 4
[1] Beberapa sejarawan berpendapat bahwa Pertempuran Uhud berlangsung sepekan setelah tanggal tersebut, tetapi tanggal tersebut memiliki kemungkinan lebih kuat.
[2] Ibnu Hisyam: Vol. 2, hlm. 67; Ibnu Sa'ad: hlm. 543.
[3] Waqidi: Maghazi, hlm. 176.
[4] Ibid: hlm. 2002

__________________________________________________________________________
(Halaman 6)

Segera setelah duel-duel selesai, pertempuran mulai dan kedua pasukan terlibat dalam pertarungan sengit. Pasukan Muslim lebih unggul dalam keahlian berpedang dan keberanian, tetapi keunggulan ini ditutupi oleh keunggulan jumlah pasukan Quraysy. Ketika kedua badan utama pasukan terlibat dalam pertarungan ini, Khalid mencoba kembali menyerang sayap kiri Muslim di mana sang nabi mengambil posisi, tetapi lagi-lagi dipukul mundur oleh pemanah Muslim dari Bukit 'Aynayn.

Nabi sendiri berpartisipasi dalam memanah ke badan utama pasukan Quraysy. Di sampingnya, berdiri Sa'ad bin Abi Waqqas, seorang yang berprofesi sebagai pembuat anak panah dan termasuk salah satu pemanah terbaik di zamannya. Nabi menunjukkan target kepada Sa'ad dan kemudian, Sa'ad menembaknya dengan akurat.

Hamzah bertarung di dekat ujung kiri pasukan Muslim. Ia telah membunuh dua orang dan orang ketiga datang mendekatinya. Ia adalah Saba bin Abdul 'Uzza yang kenal baik dengan Hamzah. "Kemarilah!" Teriak Hamzah, "Wahai anak pemotong kulit!"[1] (Ibu Saba dulunya adalah ahli sunat di Makkah!) Wajah Saba memerah sambil mengeluarkan pedangnya dan berlari menyerang Hamzah.

Ketika kedua laki-laki ini bertarung, Si Barbar yang mengendap-endap di balik bebatuan dan tanaman kering, mendekati Hamzah. Ketika Hamzah sudah masuk di area jangkauan lembingnya, ia mulai mengira-ngira sasarannya. Ia mulai pasang kuda-kuda dan mengangkat lembingnya. Hamzah melepaskan sabetan pedang mematikan di kepala Saba dan Saba jatuh di salah satu kaki Hamzah. Saat itu juga, Si Barbar melempar lembingnya, menusuk Hamzah di bagian perut dan tembus sampai keluar dari tubuhnya. Hamzah berbalik dan melihat ke arah Si Barbar. Sambil berteriak penuh kemarahan, Hamzah berjalan ke arahnya. Si Barbar gemetaran di belakang sebuah batu besar, tetapi Hamzah hanya bisa berjalan beberapa langkah sebelum ia jatuh.

Si Barbar menunggu sampai Hamzah tidak bergerak lagi dan kemudian ia mendekati mayatnya dan mencabut lembingnya. Ia kemudian berjalan menjauhi lokasi tersebut. Ia telah menyelesaikan tugasnya. Si Barbar kelak akan ikut dalam sejumlah pertempuran, tetapi tidak demikian dengan Hamzah yang mulia, Singa Allah dan Singa Rasul-Nya.[2]

Segera setelah terbunuhnya Hamzah, pasukan Quraysy mulai goyah dan pasukan Muslim menekan lebih kuat. Ketika sejumlah pemegang bendera Quraysy tewas atau terluka, bendera mereka diangkat oleh seorang budak yang terus bertarung sampai tewas dan bendera itu kembali jatuh. Setelah bendera itu jatuh, pasukan Quraysy mulai lari tanpa arah.

Rasa panik memenuhi pikiran barisan pasukan Quraysy. Pasukan Muslim mengejar mereka, tapj Quraysy berlari lebih cepat.

Perempuan-perempuan Quraysy meratap ketika mereka melihat pasukan mereka mundur. Mereka juga melepas alas kaki mereka; dan mengangkat baju mereka agar bisa berlari lebih cepat. Akibatnya, terlihatlah pemandangan kaki-kaki mereka pada pasukan Muslim. Semua perempuan lari kecuali Amra yang tetap tinggal di tempatnya, tepat di belakang garis pasukan Quraysy.

Pasukan Muslim mencapai kemah Quraysy dan mulai mengambil harta rampasan perang. Kekacauan menjadi-jadi di kemah, perempuan-perempuan dan budak-budak berlarian ke sana kemari, mencari perlindungan dari kematian. Sementara pasukan Muslim mengambil apa saja yang bisa diambil sambil berteriak riang. Tidak ada lagi keteraturan, disiplin, kontrol, karena pasukan Muslim merasa sudah memenangkan pertempuran. Fase pertama pertempuran memang telah selesai. Jumlah korban memang kecil, tetapi pasukan Quraysy dengan jelas telah kalah dan seharusnya menjadi tanda selesainya Pertempuran Uhud. Jumlah korban memang ringan dan kekalahan Quraysy ini seharusnya mengakhiri Pertempuran Uhud. Pada kenyataannya tidak demikian.

Ketika Pasukan Quraysy melarikan diri dan Pasukan Muslim mengejar mereka dan memasuki kemah-kemah mereka, dua sayap pasukan Quraysy tetap berada di posisinya. Khalid dan Ikrimah mundur sedikit dari lokasi awal mereka, tetapi mereka tetap memiliki control penuh pada anggota pasukannya, tidak mengizinkan satu orang pun mundur. Dan Khalid menyaksikan kondisi penuh kekacauan ini, melihat pasukan Quraysy yang mundur, pasukan Muslim yang merebut harta rampasan perang, dan pemanah di Bukit ‘Aynayn. Ia tidak mengetahui pasti apa yang harus ia lakukan; tetapi ia mampu mempertahankan tingkatan kesabaran yang tinggi dan menunggu celah yang akan memberikannya kesempatan untuk beraksi. Dengan segera, kesabarannya mendapat ganjaran.

Catatan Kaki Halaman 6
[1] Ibnu Hisyam: Vol. 2, hlm. 70
[3] Waqidi: Maghazi, hlm. 225.


EmoticonEmoticon