Rabu, 14 Desember 2016

Terjemahan The Sword of Allah : Khalid bin Al-Waleed (14) Pertempuran Parit (bagian 4)


Bab 4: Pertempuran Parit (Bagian IV)
(Halaman 10)

Kegalauan di wajah Si Raksasa berubah menjadi kemarahan. Akhirnya ia bisa dijatuhkan oleh seorang anak muda berukuran setengah kali tubuhnya! Tetapi meskipun ia jatuh, ia belum kalah. Ia masih bisa menang, membalikkan keadaan seperti semula sebagai seorang jagoan di Arab. Ia akan membanting anak muda lawannya itu ke udara seperti sehelai daun ditiup angin.

Wajah Si Raksasa membiru, pembuluh darahnya menyembul di leher dan otot bisepnya. Lengannya gemetaran menahan cekikan Ali, tetapi ia tidak bisa bergerak sedikitpun. Otot ‘Ali ternyata mempunyai kekuatan yang juga lebih dari rata-rata.

“Ketahuilah, wahai ‘Amr,” kata ‘Ali dengan pelan, “Kemenangan dan kekalahan bergantung pada kehendak Allah. Terimalah Islam! Dengan demikian, bukan hanya aku akan membiarkanmu hidup, Engkau juga akan memperoleh berkah dari Allah dalam hidup ini maupun setelah mati.” ‘Ali mengeluarkan belati tajamnya dari pinggang dan meletakkannya di dekat tenggorokan ‘Amr.

Namun gengsi Si Raksasa terlalu besar. Akankah ia, sang jagoan terhebat di Arab, hidup dalam baying-bayang kekalahan memalukan? Mampukah ia menahan perkataan orang bahwa ia masih hidup karena menyerah dalam duel? Tidak! Ia, ‘Amr bin Abdu Wud, hidup dalam pertarungan. Ia memilih mati dalam pertarungan. Hidup yang diisi dengan pertarungan harus diakhiri dalam pertarungan. Ia kumpulkan dahak dan ludahnya, lalu ia semburkan ke wajah ‘Ali!

Ia tahu apa yang akan terjadi. Ia tahu bahwa lengan kanan ‘Ali akan melayang ke udara dan menusukkan belati ke tenggorokannya. ‘Amr adalah seorang pemberani dan bisa menerima kematiannya tanpa memejamkan mata. Ia kencangkan punggungnya dan ia angkat dagunya, membuka jalan bagi ‘Ali untuk menusuk tenggorokannya. Setidaknya, ia tahu apa yang akan terjadi!

Namun apa yang terjadi kemudian semakin menambah kegalauannya. ‘Ali Bangkit secara perlahan dari dada ‘Amr, mengusap wajahnya, dan menjauh beberapa langkah, memandang lawannya dengan tenang. “Ketahuilah ‘Amr, aku hanya membunuh di jalan Allah, dan bukan karena keinginan pribadi. Karena engkau telah meludahi wajahku, mungkin aku akan membunuhmu karena dendam pribadi. Jadi, aku ampuni engkau. Bangkitlah dan pulanglah ke rekan-rekanmu!”

Raksasa bangkit, tetapi tidak diragukan lagi jika ia pulang, ia akan dicap sebagai pecundang. Ia hanya ingin hidup sebagai seorang pemenang atau tidak hidup sama sekali. Dengan maksud mencoba kesempatan terakhirnya untuk menang, ia angkat pedangnya dan mengejar ‘Ali. Mungkin ia bisa memukul ‘Ali saat ia lengah.

‘Ali masih punya cukup waktu untuk mengangkat pedang dan perisainya serta bersiap menghadapi serangan ‘Amr. Sabetan ‘Amr sangat kuat dan brutal sampai-sampai perisai ‘Ali pecah. Tetapi akibatnya, kekuatan sabetan itu berkurang dan hanya mengakibatkan luka ringan di kening ‘Ali. Lukanya tidak membuat ‘Ali khawatir. SebelumRaksasa bisa mengangkat pedangnya lagi, Dzulfiqar bersinar di bawah cahaya matahari dan memotong tenggorokan Raksasa. Darahnya memuncrat seperti air mancur.

Untuk sesaat, Raksasa berdiri diam. Kemudian tubuhnya mulai berayun seperti orang mabuk dan jatuh dengan wajah mencium tanah, tidak bergerak lagi.

Bumi tidak bergetar meskipun tubuhnya besar. Bumi terlalu besar, tetapi Bukit Sil’a berguncang dengan teriakan Allahu Akbar dari 2.000 Pasukan Muslim. Teriakan kemenangan ini menggema di lembah-lembah bukit sampai akhirnya hilang di gurun.

Kelompok kecil Muslim yang dipimpin ‘Ali mengejar enam orang Quraysy lainnya. Dalam pertarungan pedang yang berlangsung, seorang Quraysy terbunuh dan seorang Muslim gugur. Beberapa menit kemudian, kelompok Quraysy memutar balik dan dengan terburu-buru kembali menyeberangi parit. Tombak Ikrimah terjatuh saat ia menyeberangi parit. Hassan dengan spontan membacakan sya’ir ejekan. Seorang Quraysy bernama Nawfal bin Abdullah, sepupu Khalid, gagal menyeberang dan terjerembab di parit. Sebelum ia bisa bangun, pasukan Muslim di tepi parit melemparinya dengan batu. Nawfal meraung, “Wahai Arab! Sungguh kematian lebih baik daripada ini!” [1] ‘Ali mengabulkan keinginannya dengan turun ke parit dan memenggal kepalanya.

Catatan Kaki Halaman 10
[1] Ath-Thabari: Vol. 2, hlm. 240.
__________________________________________________________________________
(Halaman 11)

Kelompok Muslim kembali ke kemah mereka dan satu kelompok lainnya yang cukup kuat ditempatkan untuk menjaga lokasi tersebut.

Pada siang keesokan hari, Khalid memimpin kavalerinya dengan tujuan yang sama dengan Ikrimah. Ia berusaha menyeberangi parit, tetapi kali itu, ada Pasukan Muslim yang berjaga untuk menghadang mereka. Akibatnya, berlangsunglah adu panahan sengit, masing-masing seorang Muslim dan seorang Quraysy terbunuh, tetapi Khalid gagal untuk menyeberang.

Melihat keberadaan pasukan penjaga terlalu sulit untuk ditembus, Khalid memutuskan menggunakan taktik lain. Ia menarik kavalerinya seolah-olah ia tidak akan menyeberang lagi. Pasukan Muslim termakan pancingan ini. Karena mereka berpikir bahwa Khalid tidak jadi menyeberang, mereka mundur dengan santai, menunggu malam yang mereka kira akan damai dan tenang. Tiba-tiba, kavaleri Khalid memutar balik dan memacu kuda-kuda mereka. Sebelum pasukan penjaga sempat menyusun formasi kembali, sekelompok kecil Quraysy berhasil menyeberang. Pasukan penjaga yang terlambat menyusun formasi masih bisa menahan Khalid dan kavalerinya tidak jauh dari tepi parit (Lihat Peta 3). Khalid mencoba dengan keras untuk menembus, tetapi pertahanan Pasukan Muslim terlalu kuat dan ia gagal. Terjadilah sejumlah pertarungan antara kelompok Quraysy dan Muslim, Khalid berhasil membunuh seorang Muslim. Si Barbar pembunuh Hamzah juga berada di sana dan dengan menggunakan lembing yang sama, ia membunuh seorang Muslim. Tidak lama kemudian, Khalid memerintahkan kelompoknya untuk mundur melihat tidak adanya harapan untuk berhasil. Aksi ini adalah aksi militer terakhir dalam Pertempuran Parit.

Dalam dua hari berikutnya, tidak ada aktivitas selain sejumlah adu panahan sporadis yang tidak memberikan efek bagi masing-masing pihak. Pasukan Muslim sekarang kehabisan makanan, tetapi semangat mereka semakin kuat dan mereka memutuskan untuk bertahan dalam kelaparan daripada harus menyerah pada kelompok kafir. Di kemah Sekutu, kondisi semakin memanas, tetapi semangat semakin turun. Semua sudah tahu bahwa ekspedisi yang mereka kira bisa berakhir dengan kemenangan gemilang, akan berakhir dalam kegagalan. Keluhan dan protes merata di seluruh lapisan pasukan Sekutu dan yang semakin membuat situasi tidak bisa ditoleransi adalah bahwa tidak ada satu pun celah yang bisa mereka tembus.

Kemudian pada Selasa malam, 18 Maret, Madinah diterjang badai. Angin dingin menyapu kemah-kemah Sekutu dan bergemuruh di lembah-lembah bukit. Temperatur turun drastis. Kemah Pasukan Sekutu berada di ruang yang lebih terbuka daripada kemah Pasukan Muslim. Badai menerjang kemah Sekutu, memadamkan api mereka, melempar panci-panci masak, dan menerbangkan kemah. Pasukan Sekutu duduk berlindung dengan selimut-selimut mereka dalam badai, menunggu sampai akhir badai yang tidak kunjung datang.

Abu Sufyan tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Ia angkat kakinya dan mengumumkan pada pasukannya, “Tempat ini bukan tempat tinggal yang layak bagi kita. Manusia dan hewan telah menderita sangat parah di tempat terbuka ini. Bani Quraydzah telah berubah menjadi babi dan kera, mereka mengkhianati kita di saat-saat genting. Badai memporak-porandakan kemah kita, memadamkan api kita, merobohkan tenda-tenda kita. Ayo kita pulang ke Makkah. Saksikanlah, aku adalah salah satu yang pulang!" [1]

Setelah menyampaikan perintah terakhirnya, Abu Sufyan menaiki untanya dan pulang ke Makkah bersama pasukannya, melarikan diri dari badai yang kejam itu. Namun badai itu terus mengikuti mereka spanjang malam. Ghathfan dan suku-suku lainnya melihat pergerakan Quraysy. Tanpa ada yang ditunda-tunda lagi, mereka menaiki unta-unta mereka dan berangkat pulang ke kampung-kampung dan padang rumput masing-masing. Di barisan belakang Quraysy, Khalid dan ‘Amr bin Al-‘Ash memimpin kavaleri sebagai pelindung garis belakang, khawatir akan adanya upaya dari Madinah untuk menghambat mereka. Abu Sufyan memimpin pasukannya mundur dengan rasa kecewa yang pahit. Kegagalan membebani hatinya dengan sangat berat.

Keesokan paginya, Pasukan Muslim melihat bahwa Pasukan Sekutu tidak tampak lagi. Mereka pun pulang ke rumah. Pengepungan ini adalah upaya terakhir dari Quraysy untuk melakukan serangan menghancurkan Pasukan Muslim; ke depannya, mereka akan terus mengambil posisi bertahan.

Catatan Kaki Halaman 11
[1] Ibnu Hisyam: Vol. 2, hlm. 232.
__________________________________________________________________________
(Halaman 12)

Pertempuran Parit usai. Masing-masing pihak kehilangan 4 orang dalam pengepungan. Hasil dari pengepungan ini adalah kemenangan Pasukan Muslim karena mereka mencapai tujuan untuk mempertahankan diri dan kota mereka melawan Pasukan Sekutu; sementara Pasukan Sekutu gagal dalam mencapai tujuan mereka untuk menghancurkan Pasukan Muslim. Pada kenyataannya, Pasukan Sekutu sama sekali gagal memberi kerusakan apapun. Pengepungan berlangsung selama 23 hari dan memberikan tekanan yang sangat kuat bagi kedua pihak. Pengepungan ini diakhiri dengan badai, tetapi badai bukanlah sebab utama pengepungan dihentikan. Sebenarnya, operasi ini lebih tepat disebut sebagai sebuah pengepungan daripada sebuah pertempuran karena kedua pasukan tidak secara sepenuhnya melakukan kontak.

Kemenangan ini adalah kemenangan Muslim pertama yang diraih dengan politik dan diplomasi perang. Pengepungan ini menunjukkan perpaduan penggunaan strategi politik dan militer dalam menuju tujuan nasional. Penggunaan kekuatan bersenjata adalah salah satu aspek dalam peperangan yang menggunakan kekerasan dan penghancuran, ketika upaya politik gagal untuk memenuhi tujuan suatu negara. Ketika perang tidak bisa dihindarkan, politik dengan diplomasi sebagai intrumen utamanya akan memberi jalan dalam penggunaan kekuatan senjata. Diplomasi mempersiapkan panggung pertempurannya, melemahkan musuh, dan mengurangi kekuatan musuh sampai akhirnya kekuatan senjata dapat diterjunkan dengan prospek keberhasilan yang maksimal.

Dan inilah yang telah nabi lakukan. Ia menggunakan instrumen diplomasi untuk memecah dan melemahkan kekuatan musuh, tidak hanya dalam jumlah, tetapi juga dalam menurunkan semangat mereka. Kebanyakan Muslim tidak memahami hal ini, tetapi mereka belajar dari pemimpin mereka. Perkataan nabi, “Peperangan adalah tipu daya,” [1] akan terus diingat dan diulang-ulang dalam ekspedisi peperangan Muslim di masa yang akan datang.

Catatan Kaki Halaman 12
[1] Ibnu Hisyam: Vol. 2, hlm. 229; Waqidi: Maghazi, hlm. 295.

--Akhir dari Bab 4--

sumber : https://www.kaskus.co.id/show_post/5731a7a898e31b3e608b4567/174/-


EmoticonEmoticon