Rabu, 14 Desember 2016

Terjemahan The Sword of Allah : Khalid bin Al-Waleed (15) Masuk Islamnya Khalid bin Walid


Bab 5: Masuk Islamnya Khalid
(Halaman 1)

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata, supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan nikmat-Nya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus, dan supaya Allah menolongmu dengan pertolongan yang kuat (banyak). Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana,…” [Al-Qur’an, 48:1-4]

Perjanjian Gencatan Senjata Hudaybiyyah ditandatangani pada awal April 628 M (akhir Dzulqa’dah, 6 H). Penandatanganan gencatan senjata ini bukanlah keinginan nabi ketika ia berangkat menuju Makkah pada pertengahan Maret. Maksud keberangkatannya adalah untuk menunaikan umrah bersama 1.400 orang Muslim bersenjata lengkap dan sejumlah besar hewan kurban.

Namun Quraysy khawatir bahwa Muslim datang untuk bertempur dan menaklukkan Quraysy di negerinya sendiri, karena sejak kegagalan di Pertempuran Parit, Muslim berada di atas angin dan bisa saja mengambil inisiatif menyerang. Akibatnya, Quraysy mengirim pasukan keluar Makkah dan berkemah di perbatasan. Dari sana, Khalid dikirim dengan 300 pasukan kavaleri untuk menghentikan Pasukan Muslim. Khalid paham bahwa hanya dengan 300 kavaleri, ia tidak akan bisa menghentikan Pasukan Muslim yang sebesar itu, tetapi ia memutuskan untuk melakukan apapun yang memungkinkan untuk menghambat gerak Pasukan Muslim. Ia tiba di Kura`ul Ghamim, 15 mil (24,14 km-pent) dari Usfan, dan mengambil posisi memblokir lereng perbukitan di jalan menuju Makkah. [1] (Lihat Peta 4)



Ketika Rombongan Muslim tiba di Usfan, mereka telah didahului oleh detasemen 20 kavaleri yang dikirim sebagai peninjau. Detasemen ini bertemu Khalid di Kura`ul Ghamim. Mereka memutar dan mengabarkan kepada nabi tentang posisi serta kekuatan pasukan Khalid.

Nabi memutuskan untuk tidak membuang waktu dengan bertempur di lokasi ini. Pada saat itu, nabi berupaya keras untuk tidak menumpahkan darah karena tujuan utamanya adalah umrah, bukan untuk bertempur. Ia memerintahkan detasemen tadi untuk tetap bergerak ke arah Khalid dan mengalihkan perhatian Khalid dari tubuh utama rombongan. Perhatian Khalid terpecah dan nabi menggerakkan rombongannya ke kanan, bergerak menuju Makkah melalui celah Saniyatul Marar. [2] Jalur ini merupakan jalur sulit, tetapi tetap bisa dilalui sehingga posisi Khalid berhasil dilangkahi. Belum sampai pergerakan ini selesai, Khalid melihat debu beterbangan di seberang bukit akibat barisan rombongan Muslim. Menyadari apa yang telah terjadi, Khalid dengan segera mundur ke arah Makkah. Rombongan Muslim meneruskan perjalanan mereka sampai di Hudaybiyyah, 13 mil (21 km-pent) di barat Makkah, lalu mendirikan kemah.

Di Hudaybiyyah, pertempuran terlihat tidak mungkin dielakkan meskipun nabi berharap tidak terjadi pertumpahan darah. Sejumlah pertempuran kecil terjadi, tetapi tidak sampai jatuh korban. Setelah beberapa hari, Pasukan Quraysy sadar bahwa Muslim datang untuk haji dan bukan untuk bertempur. Kemudian, utusan-utusan berlalu lalang antara dua pasukan sampai akhirnya gencatan senjata disepakati. Gencatan senjata ini kemudian dikenal dengan Perjanjian Gencatan Senjata Hudaybiyyah, ditandatangani oleh nabi mewakili Muslim dan Suhayl bin ‘Amr mewakili Quraysy. Pasal-pasal kesepakatan dalam gencatan senjata ini adalah sebagai berikut.

Dalam jangka waktu 10 tahun ke depan, Muslim dan Quraysy tidak dibenarkan untuk saling berperang, saling menyerbu, saling melakukan aksi militer dalam bentuk apapun.
Tahun depan, Muslim diizinkan untuk menunaikan umrah. Mereka diizinkan untuk berada di Makkah selama tiga hari.
Semua Quraysy yang melarikan diri kepada Muslim, harus dipulangkan; setiap Muslim yang melarikan diri kepada Quraysy, tidak akan dipulangkan.

Catatan Kaki Halaman 1
[1] Kura`ul Ghamim ini bukanlah Kura yang tercantum dalam peta masa kini. Kura pada peta masa kini berada di sebuah teluk di tepi Laut Merah, sementara Kura`ul Ghamim adalah sebuah daerah perbukitan yang memanjang ke barat sampai laut. Kura`ul Ghamim berada di tenggara Usfan.
[2] Celah ini disebut juga Zatul Hanzal (Abu Yusuf: hlm. 209). 
____________________________________________________________________________
(Halaman 2)

Suku-suku lain dapat bergabung dengan pihak mana saja dan terikat dengan pasa-pasal kesepakatan yang sama pula.

Beberapa Muslimmemprotes keras pasal ketiga yang mengatur masalah orang-orang yang melarikan diri dari pihak masing-masing, terutama ‘Umar yang temperamen yang menolak keras; namun semua protes didiamkan oleh keputusan nabi. Gencatan senjata ini sebenarnya memberikan keuntungan-keuntungan yang besar dalam jangka panjang bagi Muslim meskipun pada saat itu belum dipahami oleh mereka. Keuntungan yang diberikan oleh Muslim dalam pasal ketiga kepada Quraysy sebenarnya menjadi keuntungan Muslim karena hal ini menunjukkan pada seluruh suku-suku di Arab bahwa secara psikologis, Muslim percaya diri dalam kesepakatan mereka dengan kelompok kafir. Terlebih lagi, jika seorang Makkah bermaksud menjadi Muslim, mereka tidak akan diizinkan keluar Makkah dan dapat menjadi mata-mata bagi Muslim di tengah-tengah musuh. Mereka juga dengan cara-cara tertentu dapat mempengaruhi orang-orang Makkah. Keberadaan mereka di tengah-tengah Quraysy malah akan menjadi salah satu sumber kekuatan Muslim. “Bagaimanapun juga, ketika seseorang berkehendak untuk bergabung dengan kita, Allah akan memberikan jalan baginya.”[1]

Sebagai hasil dari pasal terakhir dalam perjanjian ini, dua suku yang berada di dalam maupun di sekitar Makkah bergabung sebagai peserta: Bani Khuza’ah sebagai sekutu Muslim dan Bani Bakr sebagai sekutu Quraysy. Kedua suku ini tidak akur dan terus-menerus berselisih sejak zaman jahiliyah.

Setelah dua pekan di Hudaybiyyah, rombongan Muslim kembali ke Madinah. Tahun berikutnya, pada Maret 629 M (Dzulqa’dah 7 H), rombongan Muslim dipimpin oleh nabi menunaikan ibadah umrah. Orang Quraysy mengosongkan Makkah. Mereka mengungsi ke pinggiran Makkah selama tiga hari dan tidak pulang sampai rombongan umrah Muslim berangkat kembali ke Madinah.

Dalam masa-masa ini, pandangan Khalid mulai berubah. Dahulu, pikirannya selalu dipenuhi dengan masalah-masalah militer. Ia sadar betul akan kemampuan dan keunggulannya dalam militer, ia merasa sangat pantas untuk meraih kemenangan, tetapi kemenangan selalu lepas dari genggamannya. Dalam Pertempuran Uhud, Pasukan Muslim bisa mengelakkan kekalahan telak meskipun ia sudah melakukan maneuver terbaiknya. Ia mengagumi keputusan militer nabi dan bagaimana nabi bisa memaksakan hasil akhirnya tetap ada di tangan Muslim. Dalam Pertempuran Parit, lagi-lagi kemenangan gagal diraih oleh Quraysy. Mereka berangkat dengan persiapan matang dan dengan kekuatan besar sampai-sampai kemenangan sudah pasti; tetapi keputusan militer sederhana untuk menggali parit merenggut kemenangan dari genggaman mereka. Pasukan Quraysy datang seperti seekor singa dan pulang seperti seekor tikus. Dalam ekspedisi Hudaybiyyah, ia berusaha untuk menghadang rombongan Muslim, tetapi nabi berhasil mengecohnya dengan rapih saat perhatian Khalid terpaku pada detasemen Muslim yang lebih kecil di depannya. Khalid mencari seorang figur mentor dan ia tidak bisa tidak, mengagumi Muhammad, kepemimpinan militernya, karakternya, dan akhlak pribadinya; yang semuanya tidak bisa ia temukan pada orang lain.

Di atas semua itu, Khalid menginginkan pertempuran dan kejayaan dalam kemenangan. Semangat keprajuritannya haus akan petualangan militer. Dengan Quraysy, ia seolah-olah ada di jalan yang buntu. Tidak ada harapan baginya untuk memperoleh kesuksesan pertempuran bersama Quraysy. Mungkin, lebih baik jika ia bergabung dengan nabi. Dengan nabi, kesempatan untuk meraih kemenangan dan kejayaan tampak tidak terbatas.

Saat itu, ada banyak aktivitas militer di Madinah. Setiap saat, selalu ada ekspedisi yang dikirim ke suku-suku yang belum beriman, baik untuk memecah konsentrasi musuh sebelum menjadi terlalu besar atau untuk menangkap unta maupun hewan ternak. Di antara Pertempuran Uhud dan umrah, ada 28 ekspedisi yang dilancarkan Muslim, beberapa di antaranya dipimpin langsung oleh nabi dan beberapa yang lain dipimpin oleh komandan yang ditunjuk nabi. Mayoritas dari ekspedisi militer ini berhasil. Kemenangan paling besar adalah dalam Pertempuran Khaybar, kekuatan terakhir dari Yahudi berhasil dihancurkan. Ekspedisi ini tidak hanya memperluas perbatasan Islam, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan mereka. Setiap saat laporan kesuksesan pasukan Muslim sampai di Makkah, Khalid merasa iri akan “kesenangan” yang Pasukan Muslim alami. Sejak saat itu, ia selalu berharap bisa bergabung di Madinah karena “di sanalah aksi itu ada”!

Setelah umrah nabi selesai, keraguan kuat menyelimuti pikiran Khalid tentang agama dan kepercayaannya. Ia tidak pernah terlalu kuat dalam beragama dan tidak terlalu tertarik dengan berhala dewa di Ka’bah. Ia selalu berpikiran terbuka. Sekarang, ia mulai berpikir dalam-dalam tentang masalah keagamaan, tetapi ia tidak mendiskusikan hal ini dengan siapa pun. Lama-kelamaan, terlintas dalam pikirannya bahwa Islam adalah agama yang benar. Ini terjadi sekitar dua bulan setelah umrah nabi.

Catatan Kaki Halaman 2
[1] Waqidi: Maghazi, hlm. 310.
____________________________________________________________________________
(Halaman 3)

Setelah bulat niatnya untuk masuk Islam, Khalid menemui Ikrimah dan beberapa orang lain. Ia berkata, “Telah ada bukti bagi orang-orang yang berakal bahwa Muhammad bukanlah penyair maupun tukang sihir sebagaimana yang Quraysy tuduhkan. Apa yang ia sampaikan benar-benar dari Allah. Sudah sepantasnya semua orang yang waras mengikutinya.”

Ikrimah terdiam mendengar perkataan Khalid. “Kamu mau keluar dari agama kita?” tanya Ikrimah seolah tidak percaya.

“Aku beriman pada Allah yang sesungguhnya,” jawab Khalid.

“Tidak masuk akal, di antara orang Quraysy, bisa-bisanya kamu yang berkata seperti ini,” sanggah Ikrimah.

Khalid berbalik bertanya, “Mengapa?”

Ikrimah berkata, “Karena kaum Muslim sudah membunuh begitu banyak orang yang kita cintai dalam pertempuran. Aku sendiri tidak akan pernah menerima Muhammad, dan aku tidak akan berbicara denganmu lagi sampai kamu membuang ide konyol ini. Tidakkah kamu lihat bagaimana Quraysy hendak membunuh Muhammad?”

"Itu hanya karena masalah kebodohan mereka", replied Khalid.

Ketika Abu Sufyan mendengar laporan dari Ikrimah tentang niat Khalid, ia panggil kedua pendukungnya itu. “Benarkah apa yang aku dengar?” tanya Abu Sufyan kepada Khalid.

“Dan apa yang engkau dengar?” tanya Khalid kembali.

“Bahwa engkau ingin bergabung dengan Muhammad,” jawab Abu Sufyan.

Khalid menjelaskan, “Benar, dan mengapa tidak? Bagaimanapun juga, Muhammad adalah salah satu dari kita (Quraysy-pent). Dia adalah sanak saudara kita.”

Abu Sufyan murka dan mengancam Khalid dengan hukuman keras, tetapi Ikrimah mencegahnya. “Tenanglah, wahai Abu Sufyan! Kemarahanmu bisa saja membuatku juga bergabung dengan Muhammad. Khalid bebas untuk mengikuti agama apapun yang ia pilih.” kata Ikrimah [1]. Meskipun sudah berbeda agama, Ikrimah membela Khalid yang merupakan paman sekaligus sahabat karibnya.

Malam itu juga, Khalid memakai baju perangnya, memanggul senjata, dan membawa kudanya pergi menuju Madinah. Dalam perjalanannya, ia bertemu dua orang yang bertujuan sama dengannya, yaitu ‘Amru ibn Al-‘Ash dan ‘Utsman ibn Thalhah (anak dari pemegang bendera Quraysy dalam Pertempuran Uhud). Mereka sama-sama terkesima ketika bertemu dan saling mengetahui tujuan mereka yang sama, padahal masing-masing mereka mengetahui bahwa dua orang rekannya yang lain adalah musuh besar Islam! Ketiga orang ini tiba di Madinah pada tanggal 31 Mei 629 M (1 Shafar 8 H) dan pergi ke rumah nabi. Khalidlah yang pertama masuk dan menyatakan ke-Islam-annya, disusul oleh ‘Amr dan kemudian ‘Utsman. Ketiganya disambut dengan hangat oleh nabi; semua tindakan buruk mereka terhadap Islam di masa lalu diampuni sehingga mereka bisa memulai lagi dari lembaran baru yang bersih. Khalid dan ‘Amr ibn Al-‘Ash adalah ahli militer tebaik saat itu dan masuknya mereka ke dalam Islam akan membawakan kejayaan bagi angkatan bersenjata Muslim dalam beberapa decade berikutnya.

Khalid yang saat itu berusia 43 tahun dan berada di puncak kehidupannya, merasa bahagia tinggal di Madinah. Ia bertemu teman-teman lama dan mereka menyambutnya dengan hangat. Semua perselisihan yang telah lalu dilupakan. Ada semangat baru di Madinah, semangat untuk berlomba-lomba melakukan kebaikan. Ada banyak aktivitas, harapan, antusiasme, optimism, dan suasana ini merasuki sanubari Khalid. Ia bahagia dan dapat bernapas lebih lega dengan udara segar agama baru.

Ia juga bertemu dengan ‘Umar dan mereka mengikat pertemanan lagi. Masih ada benih-benih persaingan lama, tetapi benih-benih ini hanya dalam level bawah sadar dan tidak muncul sebagai aksi yang disengaja. Khalid menyadari bahwa dalam persaingan ini, ia dalam posisi yang kurang diuntungkan. Khalid hanyalah seorang yang baru masuk Islam, sedangkan ‘Umar adalah kelompok Emigran (Muhajirin) yang meninggalkan rumahnya di Makkah. ‘Umar adalah orang keempat puluh yang masuk Islam. Ketika ‘Umar masih berada di Makkah, belum ada keistimewaan dari posisinya itu karena jumlah Muslim saat itu masih sedikit. Tetapi sekarang ribuan orang telah masuk Islam dan dengan jumlah ini, menjadi orang keempat puluh menjadi posisi yang sangat penting. Khalid bersaing bukan hanya dengan orang yang memiliki kekuatan, kemauan, dan kemampuan yang sama, tetapi bersaing dengan Muslim No.40!

Catatan Kaki Halaman 3
[1] Waqidi: Maghzi, hlm. 321.
____________________________________________________________________________
(Halaman 4)

Khalid secara rutin mengunjungi nabi. Dia mendengarkan ceramah nabi selama berjam-jam. Dia menyerap ajaran-ajaran dan kebaikan dari Muhammad, Rasulullah. Suatu hari, Khalid dan Fadhl bin ‘Abbas (sepupu nabi) mengunjungi beliau di rumah salah satu istrinya, Maymunah, yang juga bibi Khalid. Di saat bersamaan, seorang sahabat dari Badwi mengirim masakan sebagai hadiah kepada nabi. Sebagai adat kebiasaan di sana saat itu, nabi mengajak tamu-tamunya untuk makan. Kain taplak digelar di lantai dan di sekelilingnya mereka semua duduk-nabi, istrinya, dan kedua tamu.

Saat nabi hendak mengambil makanannya, Maymunah bertanya, “Wahai Rasulullah, engkau tahu apa ini?”

Nabi menjawab, “Tidak.”

Istrinya menjelaskan, “Ini adalah kadal dhabb * panggang!”

Nabi menarik tangannya dan berkata, “Aku tidak memakan daging ini.”

“Wahai Rasulullah, apakah ini haram?” Tanya Khalid.

“Tidak.”

“Bolehkah kami memakannya?”

“Boleh, kalian boleh memakannya.”

Maymunah juga tidak memakannya, tetapi Khalid dan Fadhl menghabiskannya. Kadal dhabb adalah salah satu makanan favorit orang Arab gurun. Tampaknya, juga menjadi makanan favorit Khalid yang memakannya dengan lahap! [1]

Catatan Kaki Halaman 4
[1] Kejadian yang jarang diketahui ini diambil dari Ibn Sa’ad: hlm.381.

* Catatan khusus: kadal dhabb yang disebutkan dalam bab ini adalah kadal bernama latin uromastyx, kadal herbivora yang hidup di timur tengah dan afrika utara. Bagi muslim, hukum memakannya halal, berbeda dengan kadal/biawak lainnya yang buas dan memakan daging.


--Akhir dari Bab 5--

sumber : https://www.kaskus.co.id/show_post/57358ece1ee5dfad7f8b4569/175/-


EmoticonEmoticon