Senin, 12 Desember 2016

Terjemahan The Sword of Allah : Khalid bin Al-Waleed (5) Pertempuran Uhud (bagian 2)


Bab 3: Pertempuran Uhud (Bagian II)

(Halaman 3)

"Dari klanku ada 50 orang mengikutiku," katanya pada Abu Sufyan. "Aku punya pengaruh besar di klanku, Bani Aws. Aku meminta agar sebelum pertempuran dimulai, aku diberi kesempatan mengajak Bani Aws di antara pasukan Muslim, dan aku yakin bahwa mereka akan meninggalkan Muhammad dan bergabung denganku."[1] Abu Sufyan dengan senang hati menerima tawaran tersebut. Bani Aws adalah salah satu dari dua suku utama di Madinah dan mengambil porsi sepertiga dari pasukan Muslim.

Perundingan kemudian dimulai dengan suku-suku tetangga dan pasukan bantuan yang kuat datang dari Bani Kinanah dan Bani Tsaqif. Pada awal bulan Maret 625, pasukan berkumpul di Makkah. Pada saat itu, Abbas, paman nabi di Makkah, mengirim surat kepadanya menginformasikan persiapan pasukan ini.

Pada pekan kedua bulan Maret, pasukan Quraysy berangkat dari Makkah dengan jumlah 3.000, 700 di antaranya berbaju besi. Mereka membawa 3.000 unta dan 200 kuda. Bersama pasukan ini, 15 perempuan Quraysy dibawa dengan tandu. Tugas mereka adalah mengingatkan pasukan akan korban-korban yang tewas di Badr dan memperkuat semangat pasukan. Di antara perempuan-perempuan ini ada Hindun sebagai pemimpin. Perempuan lainnya adalah istri Ikrimah, istri 'Amr ibn Al-'Ash, dan seorang saudara perempuan Khalid. Salah seorang dari mereka adalah Amrah binti Al-Qamah yang namanya akan kita dengar lagi nanti. Di antara mereka juga ada sejumlah perempuan kuat yang membawa tamburin dan gendang.

Saat ekspedisi bergerak menuju Madinah, seorang pimpinan Quraysy bernama Jubayr bin Muth'im berkata kepada budaknya yang bergelar Si Barbar dengan nama asli Wahsyi bin Harb. "Jika kamu membunuh Hamzah, pamannya Muhammad, untuk membalas dendam membunuh pamanku di Badr, aku akan membebaskanmu."[2] Si Barbar senang dengan tawaran ini. Ia adalah orang yang bertubuh besar, budak Abyssinia berkulit hitam yang selalu bertarung dengan lembingnya, khas orang-orang Afrika. Ia sangat ahli dengan senjatanya ini dan dikabarkan tidak pernah meleset dalam melemparkannya.

Tidak lama setelah itu, Si Barbar melihat unta bertandu mendekatinya. Dari tandu tersebut, Hindun melihat kepadanya dan berkata, "Wahai Ayah dari Kegelapan! Ambillah dan kejarlah hadiah untukmu."[3] Hindun menjanjikan jika ia membunuh Hamzah sebagai balasan atas terbunuhnya bapaknya di Badr, ia akan memberikan semua perhiasan yang ia kenakan.

Si Barbar memandang perhiasan tersebut dengan penuh rasa tamak: kalungnya, gelangnya, dan cincinnya. Semuanya terlihat sangat mahal dan matanya berbinar-binar bersiap menjadikan semua itu menjadi miliknya.

Nabi telah diperingatkan oleh Abbas tentang persiapan Quraysy sebelum pasukan meninggalkan Makkah. Selagi pasukan ini dalam perjalanan, sang nabi terus memperoleh informasi tentang lokasi mereka dari utusan-utusan suku bersahabat. Pada tanggal 20 Maret, pasukan Quraysy tiba di dekat Madinah dan membangun kemah di area berhutan di barat Bukit Uhud. Pada hari itu juga, sang nabi mengirim dua mata-mata untuk mengamati pasukan Quraysy. Mata-mata ini pulang dengan data detail kekuatan pasukan tersebut.

Pada tanggal 21 Maret, sang nabi meninggalkan Madinah dengan 1.000 pasukan, 100 orang di antara mereka berbaju perang. Pasukan Muslim mempunyai dua kuda, salah satunya milik sang nabi. Mereka membangun kemah untuk bermalam di dekat sebuah bukit kecil hitam bernama Syaykhayn, sekitar 1.6 km di utara Madinah.

Keesokan paginya, sebelum pasukan dibariskan, Kaum Munafik berjumlah 300 orang mundur meninggalkan pasukan. Mereka berada di bawah pimpinan Abdullah bin Ubay. Ia berpendapat tidak mungkin menang jika mereka bertempur di luar Madinah dan mereka menganggap semua usaha itu sia-sia. Nabi akhirnya tinggal bersama 700 pasukan dan dengan mereka, nabi berangkat menuju medan tempur. Nabi sebenarnya tidak menghendaki bertempur di luar Madinah. Dia berharap, pasukan Muslim menunggu kedatangan pasukan Quraysy dan bertempur di dalam kota Madinah. Namun kebanyakan Muslim bersikeras untuk keluar Madinah dan menemui pasukan Quraysy. Nabi kemudian mengikuti kehendak mereka dan keluar Madinah menjemput pasukan Makkah. Meskipun demikian, ia sebisa mungkin memaksa pasukan musuh untuk bertempur di lokasi yang ia pilih, yaitu kaki Bukit Uhud.


Catatan Kaki Halaman 3

[1] Waqidi: Maghazi, hlm.161.
[2] Ibnu Hisyam: Vol. 2, hlm. 61-62.
[3] Ibid.


__________________________________________________________________________

(Halaman 4)

Bukit Uhud adalah sebuah bukit besar, terbentang 6,4 km di utara Madinah (dengan titik referensi Masjid Nabawi) dan menjulang sekitar 305 m di atas dataran. Bentangannya sepanjang 9,65 km. Di bagian baratnya, bukit bercabang dan menurun terjal. Di bagian kanannya (jika dilihat dari Madinah), sebuah lembah memanjang sejauh sekitar 914 m. Di mulut lembah inilah, nabi menempatkan pasukannya. Bukit Uhud berada tepat di belakangnya.

Ia menyusun pasukan Muslim dalam sebuah formasi dengan garis depan sepanjang 900 m. Ia menempatkan sayap kanan di kaki cabang Bukit Uhud dan sayap kiri di kaki bukit bernama 'Aynayn, bukit kecil setinggi 12 meter sepanjang 150 m. Bagian kanan pasukan Muslim dalam kondisi aman, namun bagian kirinya bisa diserang dengan memutar ke belakang Bukit 'Aynayn. Untuk mengatasi hal ini, nabi menempatkan 50 pemanah di atas Bukit 'Aynayn tersebut. Dari atas bukit ini, mereka bisa mengontrol pergerakan Quraysy agar tidak bisa memutar dan menyerang dari belakang. Para pemanah ini dikomando oleh Abdullah bin Jubayr yang diberi perintah langsung oleh nabi, "Gunakan panah kalian untuk menembak kavaleri musuh. Jaga jangan sampai mereka berada di belakang kita. Selama kalian bertahan di posisi kalian, bagian belakang kita aman. Jangan pernah meninggalkan posisi kalian. Jika kalian melihat kita dalam kondisi menang, jangan turun bergabung. Jika kalian melihat kita dalam kondisi kalah, jangan turun membantu."[1] Perintah untuk korps pemanah ini sangat lugas. Karena Bukit 'Aynayn merupakan bagian paling penting dari taktik dan berpengaruh bagi area di sekitarnya, wajib untuk memastikan bahwa bukit kecil ini tidak jatuh ke tangan pasukan Quraysy.

Di belakang pasukan Muslim, 14 perempuan mengambil posisi, bertugas untuk memberikan air bagi mereka yang kehausan, menandu mereka yang terluka, dan merawatnya. Di antara kelompok perempuan ini adalah Fatimah, anak dari nabi dan suami dari Ali. Nabi sendiri mengambil posisi di sayap kiri pasukan ini.

Penyusunan pasukan Muslim dimaksudkan untuk menggiring pertempuran menuju sebuah kondisi pertarungan frontal dan dipersiapkan dengan sangat rapi. Penempatan ini memberikan pasukan Muslim keuntungan untuk memanfaatkan keunggulan mereka semaksimal mungkin, yaitu keberanian dan keterampilan bertarung. Penempatan ini juga memberikan mereka keamanan dari bahaya yang bisa diberikan oleh pasukan Quraysy dari aspek jumlah pasukan dan kavaleri yang mereka miliki. Kegesitan kavaleri inilah yang tidak dimiliki pasukan Muslim. Akan lebih baik bagi Abu Sufyan dan pasukannya untuk bertempur di tempat terbuka di mana ia bisa bermanuver memukul sayap dan belakang pasukan Muslim dengan kavalerinya serta memaksimalkan semua kekuatannya yang ada. Namun nabi menetralisir keunggulan Abu Sufyan dan memaksanya untuk bertempur di lokasi yang membatasi kekuatan dan kavalerinya. Perlu dicatat juga bahwa pasukan Muslim menghadap Madinah dan membelakangi Bukit Uhud. Artinya, jalan menuju Madinah terbuka bagi Pasukan Quraysy.

Pasukan Quraysy bergerak. Mereka mendirikan tenda sekitar satu setengah kilometer di selatan cabang Bukit Uhud dan dari sana, Abu Sufyan mengomando pasukannya untuk berbaris menghadap pasukan Muslim. Dia meletakkan bagian utama infantri di tengah dengan dua sayap kavaleri. Di sayap kanan ada Khalid dan di sayap kiri ada Ikrimah, masing-masing memimpin 100 kavaleri. 'Amr ibn Al-'Ash ditunjuk untuk mengatur koordinasi kedua korps kavaleri ini. Abu Sufyan menempatkan 100 pemanah di hadapan garis depan untuk mengawali pertempuran. Bendera Quraysy dibawa oleh Thalhah bin Abi Thalhah, salah seorang yang selamat di Badr. Dengan demikian, pasukan Quraysy membelakangi Madinah, menghadap barisan pasukan Muslim dan Bukit Uhud. Faktanya, mereka berada di antara pasukan Muslim dan markasnya di Madinah. (Susunan pasukan kedua pasukan bisa dilihat di Peta 1).

Tepat di belakang badan utama pasukan Qurays, perempuan-perempuan mengambil tempat. Sebelum pertempuran dimulai, perempuran-perempuan ini berjalan bolak-balik di depan pasukan, mengingatkan mereka tentang siapa saja yang telah tewas pada Pertempuran Badr. Setelah itu, mereka kembali ke belakang pasukan. Kemudian suara keras dan jelas dari Hindun terdengar, menyanyikan sebuah sya’ir:

Wahai kalian anak-anak Abduddar!
Pembela negerimu!
Kami adalah anak-anak perempuan sang malam;
Kami akan menunggu di atas dipan berbantal
Jika kalian maju, kami akan merangkul kalian.
Jika kalian mundur, kami akan meninggalkan kalian
dengan perpisahan tanpa cinta. [2]


Catatan Kaki Halaman 4

[1] Ibnu Hisyam: Vol.2, hlm. 65-66; Waqidi: Maghazi, hlm. 175.
[2] Ibnu Hisyam: Vol. 2, hlm. 68; Waqidi: Maghazi, hlm. 176.

sumber : https://www.kaskus.co.id/show_post/558c74509a095111268b4567/107/-


EmoticonEmoticon