Rabu, 14 Desember 2016

Terjemahan The Sword of Allah : Khalid bin Al-Waleed (24) Badai yang Berkumpul (bagian 2)


Bab 11: Badai yang Berkumpul (Bagian II)
(Halaman 4)

Di saat Muslimin berkumpul untuk memberikan bay’at setia mereka, Abu Bakr menyampaikan pidato perdananya sebagai khalifah, sebuah pidato yang semakin menunjukkan kesederhanaan dan kerendahan hatinya serta tidak menjanjikan sebuah pemerintah yang kuat. Dalam pidatonya, ia berkata,

“Segala puji bagi Allah (Alhamdulillah-pent)! Aku sekarang memerintah atas kalian, tetapi aku bukanlah yang terbaik di antara kalian. Jika aku berlaku baik, tolonglah aku. Jika aku berlaku buruk, koreksilah aku. Kejujuran adalah amanah, kebohongan adalah pengkhianatan. Mereka yang lemah di mata kalian akan kupandang kuat sampai ia mendapatkan apa yang menjadi haknya, jika Allah menghendaki (insya Allah-pent). Dan mereka yang kuat di mata kalian akan kupandang lemah, sampai aku mengambil yang bukan hak darinya, jika Allah menghendaki (insya Allah-pent).
Janganlah kalian meninggalkan jihad di jalan Allah karena tidak ada seorang pun yang berbuat demikian kecuali Allah akan membinasakan mereka dalam kehinaan. Dan tidaklah suatu kaum menjadikan hal ini perkara yang lumrah melainkan Allah akan menjatuhkan adzab yang pedih.
Patuhilah aku selagi aku mematuhi Allah dan Rasul-Nya; dan jika aku tidak mematuhi Allah dan Rasul-Nya, kalian tidak berkewajiban mematuhiku.
Janganlah kalian melupakan shalat. Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada kalian!”[1]

Kesalehan Abu Bakr dan jasanya yang luar biasa bagi Islam telah diketahui dengan baik oleh Muslimin. Keberanian dan pengorbanannya kepada nabi-yang telah memberinya gelar Orang yang Benar (As-Shiddiq-pent)-, kemuliaan akhlaknya, dan keimanannya sebagai salah seorang beriman yang paling setia, tidak perlu ditanyakan lagi. Sebagai laki-laki ketiga yang masuk Islam, posisinya di antara Sepuluh Sahabat yang Diberkahi sangatlah tinggi.[2] Tetapi, apakah aspek ini saja cukup untuk memimpin dalam masa-masa krisis? Dan setelah itu, Pasukan Muslim yang dipimpin oleh Usamah akan berangkat dan hal ini semakin meningkatkan situasi mencekam di Madinah.

Sekitar pertengahan Mei 632 M, Sang Nabi Suci yang sedang sakit, telah memerintahkan sebuah operasi militer untuk dipersiapkan untuk menginvasi Yordania. Semua orang bergabung di dalamnya. Sebagai komandan operasi ini, ia menunjuk Usamah, seorang pemuda berusia dua puluh dua tahun. Usamah adalah anak dari Zayd bin Haritsah, budak nabi yang telah dibebaskan, sekaligus komandan Muslim pertama yang gugur dalam Pertempuran Mu’tah. Meskipun Usamah adalah orang biasa dan bukan berasal dari Suku Quraysy, nabi menunjuknya sebagai panglima bagi para prajurit yang lebih tua usianya dan lebih banyak pengalaman perangnya, bahkan dari klan-klan bangsawan. Para prajurit ini berkumpul di kemah yang berada di barat ‘Uhud dan pasukan ini dinamakan Pasukan Usamah. Operasi militer ini adalah perintah militer terakhir nabi dan ini bisa berarti perintah perang melawan Romawi.

Usamah diberi instruksi untuk merebut Mu’tah di Yordania. “Pergilah ke tempat ayahmu terbunuh,” perintah Sang Nabi Suci. “Serbu daerah itu. Bergeraklah dengan cepat; carilah pemandu dan kirimlah pengintai dan mata-mata di depan pasukanmu.”[3] Sesaat sebelum wafatnya, nabi mengingatkan, “Jangan lupa untuk memberangkatkan Pasukan Usamah!”[4] Pasukan ini masih berada di kemah pada saat beliau meninggal hari Senin, 5 Juni 632 M (12 Rabi’ul ‘Awwal 11 H). Pada hari yang sama, Abu Bakr bin Abu Quhafah menjadi khalifah.

Keesokan harinya, Khalifah Abu Bakr mengeluarkan instruksi kepada Pasukan Usamah untuk mempersiapkan keberangkatan. Semua sahabat nabi terkemuka di Madinah dikirim ke kemah untuk ikut bergabung dan mengikuti kepemimpinan Usamah yang masih muda. Bahkan ‘Umar, salah satu teman terdekat Abu Bakr, dikirim ke kemah.

Dalam beberapa hari berikutnya, persiapan berlanjut meskipun kabar tentang meluasnya kemurtadan berdatangan. Kemudian sekelompok Muslim terpandang menghadap khalifah. “Apakah engkau benar-benar akan mengirim Pasukan Usamah ketika orang-orang Arab memberontak dan kekacauan muncul di mana-mana?” protes mereka. “Jumlah Muslim sedikit. Kaum kafir berjumlah lebih banyak. Pengiriman pasukan ini harus ditunda!”

Abu Bakr tetap kukuh dan menjawab, “Bahkan jika anjing liar berkeliaran di sekitar kaki istri-istri Rasulullah shallallahu’alayhiwasallam, aku tetap akan mengirim Pasukan Usamah sesuai perintah Sang Nabi.”[5] 

Catatan Kaki Halaman 4
[1] Ath-Thabari: Vol.2, hlm. 450.
[2] Laki-laki pertama yang masuk Islam adalah ‘Ali, yang kedua adalah Zayd bin Haritsah.
[3] Ibnu Sa’ad: hlm. 707.
[4] Ibid: hlm. 709.
[5] Ath-Thabari: Vol.2, hlm. 461. 
____________________________________________________________________________
(Halaman 5)

Beberapa hari lagi berlalu. Laporan kemurtadan dari berbagai penjuru semakin mengkhawatirkan. Pada salah satu hari tersebut, Usamah yang juga khawatir dengan keadaan Madinah dan Islam seperti halnya Muslim yang lain, menemui ‘Umar dan berkata, “Pergilah menghadap Khalifah. Mintalah kepadanya agar pasukan ini tetap di Madinah. Hampir semua unsur pimpinan umat ada di dalam pasukan ini. Jika kita berangkat, tidak ada yang bisa mencegah kaum kafir untuk menghancurkan Madinah.”

‘Umar setuju dan ia berangkat menemui Khalifah. Ketika ia meninggalkan kemah, ia bertemu dengan sekelompok pimpin Muslim lainnya yang menyatakan suara yang sama, mereka menambahkan, “Jika ia tidak setuju bila kita tetap bertahan di Madinah dan kita tetap harus pergi juga, mintalah kepadanya untuk setidaknya menunjuk orang yang lebih tua daripada Usamah sebagai panglima pasukan.”[1] ‘Umar setuju dan melanjutkan perjalanannya.

Di Madinah, Abu Bakr duduk di lantai rumahnya, membiasakan dirinya akan beban luar biasa berat di pundaknya sebagai seorang khalifah di masa-masa krisis ini. Tekanan ini seharusnya sudah merusak kewarasannya jika saja ia tidak termasuk orang yang beriman. ‘Umar masuk dan menghadap. ‘Umar sangat tenang dan percaya diri karena ia sudah terbiasa berbicara dengan Abu Bakr; ‘Umar berkarakter kuat dan bersemangat akan berbicara dengan teman tercintanya yang lembut dan mudah mengabulkan permintaan. ‘Umar pun menyampaikan pendapat dan permintaannya.

Abu Bakr menunggu sampai ‘Umar selesai menyampaikan pesannya. Kemudian Abu Bakr bangkit dan berseru tegas pada ‘Umar, “Wahai Anak Al-Khattab! Rasulullah-lah yang menunjuk ‘Usamah sebagai panglima. Dan engkau memintaku untuk mencopotnya dari komando.”[2]

‘Umar dengan segera keluar dari rumah Abu Bakr. Ia kembali ke kemah, di tempat para pimpinan menunggu kabar darinya. ‘Umar mendamprat mereka sambil menyampaikan jawaban terakhir Khalifah![3]

Pada tanggal 24 Juni 632 M (1 Rabi’ul Akhir 11 H), Pasukan Usamah berangkat membereskan kemah dan berangkat. Abu Bakr berjalan mendekati Usamah yang telah berada di atas tunggangannya; ia mencegah Usamah agar tidak turun dari kudanya tersebut. Ia menyampaikan pesannya kepada Usamah, “Setiap langkah yang diayunkan oleh seorang prajurit Muslim di jalan Allah, akan dibalas pahala 700 kebaikan dan ampunan 700 dosa.”[4]

Abu Bakr meminta Usamah untuk meninggalkan ‘Umar bersamanya sebagai penasihat. Usamah setuju. Sebelum berpisah, Abu Bakr juga menyampaikan instruksi terakhirnya kepada Panglima Pasukan, “Jalankanlah tugas kalian. Mulailah operasi dengan serbuan pada Quza’ah. Jangan biarkan ada halangan bagi kalian untuk menjalankan misi yang diberikan oleh Rasulullah.”[5] Dan Pasukan Usamah pun berangkat.

Keberangkatan Pasukan Usamah adalah sebuah kesalahan dalam kondisi saat itu.[6] Beberapa penulis Muslim telah menyatakan bahwa tindakan tersebut adalah tindakan yang bijak dari Abu Bakr, karena hal itu seolah-olah memamerkan kekuatan kepada pemberontak sehingga mencegah pemberontak untuk melakukan perlawanan dengan kekerasan. Sebenarnya bukanlah seperti itu kejadiannya. Meskipun Usamah menjalankan misinya dengan efisiensi dan kecepatan tinggi, operasi ini tidak memberi pengaruh apa-apa pada aksi utama melawan kelompok murtad yang akan berlangsung di Arab Tengah-Utara. Pelepasan Pasukan Usamah adalah sebuah aksi keimanan, menunjukkan ketundukan total pada perintah nabi yang telah wafat. Namun dalam aspek manuver militer dan politik, hal ini tidaklah bijaksana. Hal ini juga dibuktikan dengan penentangan dari sejumlah pimpinan Muslim, bahkan mereka kelak dalam beberapa dekade berikutnya akan menjadi sejumlah jenderal terbaik dalam sejarah.

Abu Bakr memilih kebijakan ini tidak lain karena keinginannya untuk memenuhi keinginan militer terakhir dari nabi. Bukanlah karena kurangnya kemampuan militer Abu Bakr yang menyebabkan ia melepaskan Pasukan Usamah. Kemampuan militer Abu Bakr akan terbukti dalam kebijakan-kebijakan militernya dalam Perang Riddah, invasi Iraq, dan invasi Syams.

Pasukan Usamah telah berangkat. Laporan tentang tersebarnya pemberontakan dan konsentrasi pasukan musuh semakin hari semakin serius. Kekhawatiran di pihak Muslim semakin meningkat. Secara kontras, kaum murtad bergembira dengan kabar bahwa Abu Bakr menjadi khalifah dan mengirim Pasukan Usamah. Dengan Abu Bakr memimpin urusan Muslimin, mereka pikir bahwa tujuan mereka untuk menghancurkan Negara Muslim yang baru lahir itu akan menjadi lebih mudah dicapai. Pemberontak merasa lega karena mereka tidak harus berhadapan dengan ‘Umar yang berapi-api atau ‘Ali yang keberaniannya tidak ada tandingannya. Mereka hanya akan berhadapan dengan seorang tua yang baik hati!

Namun Muslimin akan mendapat kejutan yang baik dari ‘orang tua yang yang baik hati’, sedangkan kaum murtad akan mendapat guncangan keras, guncangan yang menyebabkan salah satu pimpinan suku mereka melarikan diri dari pasukan Abu Bakr, sambil berteriak, “Celakalah orang-orang Arab yang melawan anak Abu Quhafah!”[7]

Catatan Kaki Halaman 5
[1] Ath Thabari: Vol. 2, hlm. 462.
[2] Ibid: Vol. 2, hlm. 462.
[3] Ibid.
[4] Ibid.
[5] Ibid: Vol. 2, hlm. 463.
[6] Hanya perspektif yang murni secara material menilai bahwa langkah ini adalah langkah yang salah dan bahkan pernyataan ini pun masih sulit didukung dari sudut pandang tersebut. Kemenangan mutlak dalam Perang Riddah, perang melawan Romawi, dan perang melawan Persia di masa pemerintahan singkat Abu Bakr dapat dikatakan bisa tercapai sebagai bagian berkah dari keputusan Abu Bakr untuk melanjutkan wasiat dari nabi (shallallahu’alayhiwasallam), keputusannya pertama sebagai khalifah.
[7] Baladzuri: hlm. 104.

--Akhir dari Bab 11--

sumber : https://www.kaskus.co.id/show_post/576887202e04c87e2e8b4568/208/-


EmoticonEmoticon