Rabu, 14 Desember 2016

Terjemahan The Sword of Allah : Khalid bin Al-Waleed (29) Thulayhah Si Nabi Palsu (Bagian 3)


Bab 13: Thulayhah Si Nabi Palsu (Bagian III)
(Halaman 7)

Semua kriminal pembunuh dibariskan. Pengadilan Khalid berlangsung lugas. Masing-masing pembunuh dihukum mati dengan cara yang sama dengan cara mereka masing-masing ketika membunuh Muslim. Di antara mereka ada yang dipenggal, beberapa yang lain dibakar hidup-hidup, dan sebagian lagi dirajam. Sejumlah kriminal pembunuh dijatuhkan dari puncak jurang dan sebagian yang lain dibunuh dengan tembakan panah. Sejumlah kecil ditenggelamkan di dalam sumur.[1] Mata dibalas dengan mata!

Setelah menyelesaikan tugasnya ini, Khalid mengirim surat kepada Abu Bakr berisi laporan lengkap tentang semua yang telah korpsnya capai. Khalifah membalas suratnya dengan isi pujian dan ucapan selamat atas kesuksesannya, persetujuan atas keputusan lapangan Khalid, serta doa untuk keberhasilan dalam kelanjutan tugasnya.

Setelah aksinya melawan Bani Sulaym di Naqra, Khalid tinggal di Buzakha selama tiga pekan untuk menerima penyerahan diri suku-suku dan menghukum para kriminal pembunuh. Kemudian ia melanjutkan perjalanannya ke Zafar, lokasi sang perempuan yang memerlukan perhatiannya. Khalid dengan bersemangat menyambut pertemuan ini dan perempuan itu pun telah menunggunya dengan penuh persiapan!

Salma, alias Ummu Ziml, adalah sepupu kandung ‘Uyaynah. Ayahnya juga merupakan salah satu tetua penting Ghathfan yang bernama Malik bin Hudzayfah. Tidak hanya ayahnya, ibunya yang bernama Ummu Qirfah, juga adalah perempuan terpandang di sukunya. Di masa Sang Nabi masih hidup, ibunya ikut serta dalam pertempuran melawan Muslim dan ia tertangkap dan terbunuh, namun ingatan orang-orang Ghathfan pada perempuan ini masih ada di kepala mereka. Salma juga ditawan dan dibawa ke Madinah. Sebagai budak, ia dihadiahkan oleh nabi kepada A’isyah. Tetapi Salma tidak bisa terima sehingga A’isyah membebaskannya, kemudian Salma pun pulang ke sukunya.

Setelah kematian kedua orang tuanya, kedudukan Salma semakin tinggi di sukunya. Ia mulai mendapatkan kehormatan dan kecintaan dari anggota sukunya seperti apa yang ibunya dulu dapatkan. Di luar kebiasaan orang Arab, perempuan ini menjadi salah satu tetua suku Ghathfan. Ibunya memiliki seekor unta yang sangat sempurna bentuknya dan sekarang telah diwariskan kepada Salma. Karena Salma sangat mirip dengan ibunya, kemanapun ia pergi mengendarai unta ini, orang-orang teringat kembali dengan ibunya yang juga mereka hormati.

Salma menjadi salah satu pemimpin kaum murtad dan salah satu musuh Islam yang keras kepala. Setelah Pertempuran Buzakha dan aksi militer di Ghamra, sejumlah pasukan yang melarikan diri, bersama sisa-sisa pasukan Hawazin dan Bani Sulaym, bergegas menuju Zafar di ujung barat Pegunungan Salma. Mereka bergabung dengan pasukan Salma.[2] (Lihat Peta 8) Salma mencaci maki mereka tanpa ampun karena kekalahan mereka dan tindakan mereka membiarkan ‘Uyaynah tertangkap. Mereka justru terkagum-kagum dengan perempuan ini, dan mereka menerima caci maki ini tanpa membalas sepatah kata pun. Dengan kekuasaannya, Salma membentuk sekumpulan pasukan ini menjadi pasukan yang bersatu dan dalam beberapa hari, ia menjadi sebuah ancaman bagi Islam. Ia tahu bahwa Khalid yang sekarang telah menyelesaikan tugasnya di Buzakha, akan datang memeranginya. Ia pun mempersiapkan diri menghadapi gempuran Sang Pedang Allah.

Khalid bergerak bersama korpsnya dari Buzakha menuju Zafar. Di Zafar, tentara Islam kembali berhadapan dengan pasukan orang-orang yang tidak beriman. Khalid mengambil inisiatif dan menyerang terlebih dahulu.

Namun pertempuran tersebut tidak mudah. Khalid berhasil menekan kedua sayap musuh, namun ia tidak memperoleh kemajuan di bagian tengah. Pasukan tengan musuh bertahan mati-matian. Di lokasi ini, Salma dengan baju perang berkilauan, duduk di atas unta terkenal warisan ibunya. Dari lokasi ini, ia memberikan komando kepada pasukannya. Di sekitar untanya, berkumpullah prajurit-prajurit terbaiknya. Mereka siap mengorbankan nyawa mereka untuk melindungi pemimpin yang mereka muliakan.

Khalid menyadari bahwa moral pasukan musuh sangat bergantung pada keberadaan Salma dan selama ia masih memimpin mereka, pertempuran ini akan terus berlanjut menjadi pemandian darah. Perempuan ini harus disingkirkan. Oleh karena itu, Khalid dengan sejumlah prajurit pilihannya maju menusuk ke arah unta Salma dan dengan perjuangan berat, mereka berhasil mendekati posisi Salma. Dengan sejumlah tebasan pedang pada unta terkenalnya, jatuhlah Salma. Ia pun langsung dibunuh. Di sekitarnya, 100 tubuh pengikutnya yang berusaha melindungi pemimpin mereka, telah bergelimpangan.

Catatan Kaki Halaman 7
[1] Ath-Thabari: Vol.2, hlm. 490.
[2] Meskipun lokasi Zafar secara umum disebutkan, lokasi pastinya masih belum bisa dipastikan. Ath-Thabari menerangkan Zafar sebagai lokasi pertempuran dan ia juga menyebutkan sebuah kota bernama Ark yang menjadi tempat Salma memerintah. Ark pada zaman sekarang adalah sebuah desa bernama Rakka, 35 mil (56 km-pent) dari Hayl, tepat di kaki bukit bagian utara Pegunungan Salma. Dua belas mil (19 km-pent) di selatan Rakka, sebuah bukit berdiri juga dengan nama Zafar, di turunan barat pegunungan yang sama. Saya berpendapat bahwa di Zafar inilah pertempuran berlangsung.
____________________________________________________________________________
(Halaman 8)

Dengan kematian Salma, semua perlawanan kelompoknya lumpuh dan mereka melarikan diri ke berbagai arah. Salma memberikan perlawanan yang paling keras sejak pertempuran korps Khalid melawan Thulayhah.

Pegunungan Salma-sebuah pegunungan dari batuan yang kasar dan hitam 40 mil (64 km-pent) di tenggara Kota Hayl-dipercaya telah dinamakan berdasarkan namanya, sebuah penghargaan yang cocok bagi seorang perempuan bangsawan sepertinya yang dengan gagah berani bertahan dan bertempur sampai titik darah penghabisan melawan prajurit terbaik di masa tersebut.

Pertempuran Zafar berlangsung pada akhir bulan Oktober 632 M (akhir Rajab 11 H). Selama beberapa hari, Khalid mengistirahatkan pasukannya. Kemudian ia memberikan perintah kepada mereka untuk berangkat menuju Butah demi memerangi Malik bin Nuwayrah.

Fase pertama Perang Riddah berakhir dengan tewasnya Salma. Suku-suku besar di Utara-Tengah Arabia yang sebelumnya memberontak dengan memberi dukungan pada Thulayhah, sekarang telah menyerah dan ditaklukkan. Pemimpin-pemimpin mereka telah dibunuh atau ditangkap atau terusir. Tidak ada lagi kepala-kepala suku yang memberontak di wilayah ini.

Tetapi masih ada satu orang jahat lagi yang tersisa, yaitu seorang bandit, bukan kepala suku. Ia menimbulkan keresahan bagi Muslimin. Orang itu bernama Ayas (bin Abdullah-pent) bin Abd Yalil, tetapi lebih dikenal dengan sebutan Al-Faja`ah. Dia adalah seorang petualang.

Tepat ketika Khalid berkonsolidasi setelah kemenangannya di Buzakha, Al-Faja`ah datang kepada Abu Bakr. Ia berkata, “Aku adalah seorang Muslim. Berikanlah aku persenjataan dan aku akan memerangi orang-orang kafir.”[1]

Abu Bakr sangat senang dengan tawaran ini dan memberikannya persenjataan. Al-Faja`ah kemudian pergi dari Madinah, membentuk sebuah kawanan bandit dan mulai merampok musafir-musafir yang tidak hati-hati, kebanyakan dari mereka dibunuh. Kawanan bandit ini beroperasi di wilayah timur Makkah dan Madinah. Orang-orang kafir pun menjadi korban kejahatan kawanan Al-Faja`ah.

Ketika Abu Bakr mendengar perbuatan Al-Faja`ah, ia memutuskan untuk menghukumnya atas perbuatan jahatnya dan tipuannya kepada Khalifah. Abu Bakr mengirim pasukan untuk menangkap bandit itu hidup-hidup, dan beberapa hari kemudian, ia dibawa ke Madinah dengan tangan diborgol.

Abu Bakr memerintahkan agar kayu bakar ditumpukkan di depan masjid. Setelah siap, tumpukan kayu ini dibakar. Ketika kayu bakar itu mulai meretih dan api membumbung tinggi, Al-Faja`ah yang masih diborgol dilemparkan ke nyala api tersebut!

Di akhir hidup Abu Bakr, yaitu dua tahun kemudian, ia menyatakan penyesalannya. Ia berkata, ada tiga hal yang ia sesalkan telah ia lakukan dan tiga hal yang ia sesalkan belum ia kerjakan. Satu dari hal tersebut berkaitan dengan Al-Faja`ah, “Dahulu, aku seharusnya membunuh Al-Faja`ah secara langsung dan tidak membakarnya hidup-hidup.”[2]

Catatan Kaki Halaman 8
[1] Ath-Thabari: Vol. 2, hlm. 492.
[2] Ibid: Vol. 2, hlm. 619; Baladzuri: hlm. 112; Mas’udi: Muruj, Vol. 2, hlm. 308.

--Akhir dari Bab 13--



EmoticonEmoticon