Rabu, 14 Desember 2016

Terjemahan The Sword of Allah : Khalid bin Al-Waleed (11) Pertempuran Parit (bagian 1)



Bab 4: Pertempuran Parit (Bagian I)
(Halaman 1)

“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat, dan dia banyak mengingat Allah. Tatkala orang-orang mu’min melihat pasukan-pasukan yang bersekutu itu, mereka berkata, ‘Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita. Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya.’ Yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan. Di antara orang-orang mu’min itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada pula yang menunggu- nunggu, dan mereka tidak mengubah janjinya. Supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya, dan menyiksa orang munafik jika Ia berkehendak, atau menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan Allah menghalau orang-orang yang kafir itu yang keadaan mereka penuh kejengkelan, mereka tidak memperoleh keuntungan apapun. Dan Allah menghindarkan orang-orang mu’min dari peperangan. Dan Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa. Dia mengeluarkan orang-orang Ahli Kitab yang membantu pasukan-pasukan yang bersekutu dari benteng-benteng mereka, dan Dia memasukkan rasa takut ke dalam hati mereka. Sebagian dari mereka kamu bunuh dan sebagian yang lain kamu tawan. Dia mewariskan kepada kamu tanah-tanah, rumah-rumah, dan harta benda mereka, dan tanah yang belum kamu injak. Dan adalah Allah Maha Kuasa terhadap segala sesuatu.” [Al-Qur’an, 33:21-27]
Setelah beberapa hari kepulangannya di Makkah, Pertempuran Uhud memenuhi pikiran Khalid. Ia mengingat bagaimana kesempatan yang ia peroleh ketika pemanah Muslim meninggalkan pos mereka dan dengan begitu cepatnya ia mengambil kesempatan dan memanfaatkannya dengan akurat dengan manuver kavalerinya. Khalid kelak akan mengulangi serangan belasan serupa di pertempuran-pertempuran akhir dalam karirnya. Namun ada satu fakta yang membebani pikirannya dan sulit baginya untuk paham: keberanian dan kegigihan pasukan Muslim. Ia merasa ada sesuatu yang aneh dimiliki oleh pasukan Muslim ini. Mereka kalah telak dalam jumlah, diserang dari berbagai arah, tetapi dengan determinasi seperti batu besar yang kokoh, mereka siap untuk bertempur mempertahankan pemimpin dan iman mereka. Padahal mereka tidak ada bedanya dengan Suku Quraysy maupun suku Arab lainnya. Ia berpikir, mungkin ada hal lain dalam agama baru ini ini yang tidak dimiliki oleh agama lain. Pikiran seperti ini memenuhi kepala Khalid, namun sampai sejauh itu, ia masih belum mau menerima agama baru ini. Kenyataannya, ia masih ingin untuk bertemu kembali dengan pasukan Muslim dalam pertempuran, namun bukan karena dendam maupun benci. Ia berpikir tentang pertempuran berikutnya dengan Muslim sebagaimana seorang olahragawan memikirkan pertandingan berikutnya.

Dan Khalid melanjutkan hidupnya yang penuh kesenangan dengan karakter dasarnya yang semangat dan antusias.

Dalam dua tahun ke depan, tidak ada bentrok-bentrok militer secara langsung antara Muslim dan Quraysy. Namun dalam catatan, terjadilah sebuah insiden yang disebut Insiden Raji’, sebuah insiden brutal yang semakin memanaskan hubungan Makkah dan Madinah.

Insiden ini terjadi pada bulan Juli 625. Beberapa orang Arab mengunjungi nabi sebagai utusan dari sejumlah suku. Mereka menyatakan keinginan mereka untuk memeluk Islam dan meminta nabi mengirim sejumlah orang yang paham Al-Qur’an dan hukum Islam ke kampung mereka untuk mengajarkan agama dan kewajiban-kewajiban yang harus mereka lakukan. Nabi menunjuk enam orang sahabatnya untuk melakukan tugas ini. Keenam sahabat ini berangkat dengan perasaan bangga dipilih oleh nabi untuk menyebarkan agama kebenaran. Mereka berangkat bersama utusan-utusan Arab tersebut tanpa menyadari jebakan yang telah menunggu mereka. Ketika mereka tiba di suatu tempat yang disebut Raji’, tidak jauh dari Usfan, mereka disergap oleh 100 orang prajurit dari suku yang mengundang mereka. Keenam Muslim tersebut menghunuskan pedang mereka, tetapi dengan jelas mereka kalah. Tiga orang terbunuh dan tiga orang ditawan. Ketiga tawanan ini digiring ke Makkah. Dalam perjalanan, salah seorang dari mereka berhasil melepas ikatan dan menyerang penjaganya, namun ia juga terbunuh. Dua tawanan lain yang tiba di Makkah adalah Khubayb bin Adi dan Zaid bin Ad-Datsinnah. Keduanya membunuh kaum kafir dalam pertempuran; dan mereka dijual dengan harga tinggi kepada keluarga prajurit kafir Quraysy yang mereka bunuh. Keluarga ini membeli mereka dengan antusias dengan tujuan untuk membalaskan dendam anggota keluarga mereka yang telah tewas.

Selama beberapa hari, mereka dibiarkan begitu saja karena saat itu adalah bulan suci Shafar. Segera setelah bulan itu berlalu, kedua tawanan tersebut dibawa ke Tan’im di barat laut pinggiran Makkah. Di sana, penduduk kota berkumpul, termasuk budak, perempuan, dan anak-anak. Dua tiang kayu dipancangkan. Kedua tawanan meminta izin untuk melakukan shalat terakhir mereka dan permintaan ini dikabulkan. Setelah mereka selesai shalat, kedua tawanan diikat di tiang.

Masing-masing dari mereka diberikan pilihan untuk kembali menyembah berhala Quraysy atau mati. Kedua Muslim itu memilih mati. Kemudian Abu Sufyan mendekati mereka berdua dan berkata kepada masing-masing tawanan, “Apakah kamu tidak ingin pulang dengan selamat ke rumahmu, lalu Muhammad menggantikan posisimu di sini?” Mereka masing-masing menolak keras tawaran ini dan berkata bahwa tidak ada siksaan seberat apapun yang bisa membuat mereka menerima tawaran tersebut. Abu Sufyan kesal dan marah, kemudian berpaling dan berkata kepada rekan-rekannya, “Aku tidak pernah melihat orang yang mencintai pemimpin mereka sebagaimana pengikut Muhammad mencintai Muhammad.”[1]

Zaid yang pertama dibunuh. Kematiannya berlangsung cepat dan mudah. Seorang budak mendekatinya dan menusukkan tombak ke dadanya. Kemudian giliran Khubayb yang menjadi pertunjukan bagi penduduk Makkah, pertunjukan yang mereka tunggu-tunggu dengan semangat.

Setelah diberi aba-aba, 40 orang anak laki-laki berlari ke arah Khubayb dan mulai menusuknya dengan tombak. Kadang-kadang, mereka menjauh dan kemudian berlari lagi ke arahnya dengan tombak terhunus seolah-olah hendak membunuhnya, tetapi mereka tahan di saat-saat terakhir sehingga tertusuk tidak terlalu dalam, tidak cukup untuk membunuh. Beberapa anak agak kikuk dan menusuk lebih dalam dari yang lainnya. Tubuh Khubayb pun berlumur darah yang keluar dari luka-luka tersebut. Setiap tombak menusuknya, ia bergeming, tetapi ia tidak mengeluarkan suara. Para penonton terhibur dengan pemandangan dari derita Khubayb.

Catatan Kaki Halaman 1
[1] Ibnu Hisyam: Vol. 2, hlm. 172.

__________________________________________________________________________
(Halaman 2)

Setelah berjalan beberapa saat, seorang laki-laki bertombak berjalan ke arah Khubayb dan membubarkan anak-anak tersebut. Mungkin anak-anak tersebut telah lelah bersenang-senang. Mungkin penonton juga sudah bosan. Laki-laki ini mengangkat tombaknya dan menusukkannya ke arah jantung Khubayb, mengakhiri penderitaannya. Tubuh kedua tawanan ini dibiarkan membusuk di tiang.

Laki-laki yang menyelenggarakan pertunjukan ini dan mengumpulkan anak-anak untuk berperan di dalamnya, tidak lain adalah Ikrimah, anak Abu Jahl. Ia sebenarnya masih bisa dimaafkan atas perilaku buruknya pada Islam dan Muslim maupun aksinya membunuh pasukan Muslim di Badr dan Uhud. Tetapi perbuatannya dalam mempersiapkan acara penyiksaan yang kejam ini telah melewati batas dan saat itu, ia telah menjadi penjahat perang.

Perlu diingat bahwa sebelum meninggalkan medan Pertempuran Uhud, Abu Sufyan telah menantang Muslim untuk bertemu lagi di Badr setahun setelahnya, dan nabi menerima tantangannya. Artinya, pertemuan ini seharusnya berlangsung sekitar Maret tahun 626, tetapi menjelang tanggal yang dijanjikan, Abu Sufyan merasa enggan untuk berangkat. Hujan musim dingin jatuh lebih sedikit dari biasanya dan setelah musim dingin berlalu, temperatur meningkat drastis. Udara menjadi panas dan kering; tahun tersebut terlihat buruk, tidak seperti biasanya. Abu Sufyan memutuskan untuk menunda operasi dan mengirim seorang agen ke Madinah untuk menyebarkan rumor bahwa Quraysy sedang mengumpulkan pasukan dalam jumlah besar, bahwa kali ini, mereka akan membawa pasukan yang lebih banyak daripada Pertempuran Uhud. Tujuan Abu Sufyan adalah untuk menakut-nakuti Muslim agar tidak keluar dari Madinah. Tetapi ketika rumor ini sampai di telinga nabi, ia mengumumkan, “Aku akan tetap menemui kaum kafir meskipun aku harus berangkat sendirian.”[1]

Di akhir bulan Maret, pasukan Muslim berangkat meninggalkan Madinah. Mereka berjumlah 1.500 orang, 50 di antara mereka membawa kuda. Pasukan ini tiba di Badr pada tanggal 4 April 626 (1 Dzulqa’dah 4 Hijriyah), namun tidak ada tanda-tanda keberadaan pasukan Quraysy.
Ketika Abu Sufyan menerima kabar bergeraknya pasukan ini keluar Madinah, ia mengumpulkan pasukan Quraysy dan keluar dari Makkah. Pasukan ini berjumlah 2.000 orang dan membawa ratusan kuda. Termasuk di dalamnya petinggi-petinggi Quraysy: Khalid, Ikrimah, dan Shafwan. Ketika pasukan Quraysy tiba di Usfan, Abu Sufyan memutuskan bahwa ia sedang dalam kondisi tidak siap menghadapi pertempuran ini. Ia mengumumkan kepada pasukannya, “Tahun ini adalah tahun yang buruk untuk berperang. Kemarau melanda negeri kita dan panasnya tidak seperti biasa. Kondisi seperti ini tidak cocok untuk bertempur. Kita akan bertempur lagi di tahun yang subur.”[2] Dengan alasan ini, ia memerintahkan pasukannya untuk kembali ke Makkah. Shafwan dan Ikrimah memprotes keras, tetapi tidak didengarkan. Pasukan Makkah pun pulang.

Pasukan Muslim menetap di Badr selama delapan hari. Ketika mendengar kepulangan Abu Sufyan ke Makkah, mereka membereskan kemah-kemah mereka dan pulang ke Madinah.

Setelah kepulangan pasukan Quraysy ke Makkah, perjanjian damai mungkin saja terjadi antara Muslim dan Quraysy jika saja tidak ada intrik adu domba oleh sejumlah Yahudi. Untuk memahami bagaimana intrik ini bisa terjadi, kita harus melihat kondisi pada saat nabi baru tiba di Madinah setelah hijrah dari Makkah.

Ketika nabi tiba di Madinah, yaitu di tahun yang kelak dijadikan sebagai tahun pertama penanggalan Hijriyah, Muslim dikelompokkan menjadi dua: Kaum Emigran (Muhajirin) yang datang dari Makkah; dan Kaum Penolong (Anshar), kelompok Muslim Madinah yang baru masuk Islam dan mengundang nabi untuk tinggal dan hidup bersama mereka. Satu kelompok kecil dalam Muslim dikenal sebagai Kaum Hipokrit (Munafiqin), dan mereka adalah penduduk Madinah yang menerima nabi dan agamanya hanya untuk mengikuti tren, tidak menerima dengan hati mereka. Pemimpin mereka adalah Abdullah bin Ubay, seorang laki-laki yang memiliki posisi penting di Madinah dan menilai bahwa kedatangan nabi mengurangi status dan pengaruhnya. Kaum munafik ini adalah mereka yang melakukan desersi di awal Pertempuran Uhud. Mereka terus menciptakan halangan dalam perjalanan hidup nabi. Tanpa menunjukkan pembangkangan mereka secara terbuka, mereka selalu melakukan upaya-upaya untuk melemahkan keteguhan hati Muslim ketika mereka hendak berangkat bertempur.

Catatan Kaki Halaman 2
[1] Ibnu Sa’d: hlm. 563
[2] Ibid.

__________________________________________________________________________
(Halaman 3)

Salah satu kelompok penting di dalam populasi Madinah adalah Kaum Yahudi, terdiri dari tiga suku: Bani Qaynuqa’, Bani Nadhir, dan Bani Quraydzah. Ketika nabi tiba di Madinah, suku-suku Yahudi ini menerimanya dengan biasa dan tidak melihat potensi ancaman apapun terhadap posisi mereka dari agama baru ini. Masing-masing suku membuat perjanjian dengan nabi yang dapat dianggap sebagai perjanjian persahabatan atau perjanjian untuk tidak saling menyerang. Perjanjian ini memasukkan sebuah pasal yang menyatakan bahwa satu pihak tidak boleh membantu musuh pihak lain dalam bentuk apapun jika pihak lain ini terlibat dalam peperangan.

Ketika nabi masih tinggal di Makkah, wahyu Al-Qur’an yang turun kebanyakan mengatur masalah-masalah spiritual dan keagamaan. Karakter Islam saat itu juga bersifat lebih spiritual dan keagaamaan secara esensial, mengatur hubungan manusia dengan Allah. Ketika nabi berhijrah ke Madinah, Islam dengan lebih dinamis, berperan lebih vital mengatur hubungan antar manusia, memasuki bidang kemasyarakatan, politik, dan ekonomi. Islam mulai mengatur bagaimana kedudukan manusia sebagai bagian dari masyarakat dan masyarakat sebagai sebuah sarana untuk mencapai gaya hidup yang lebih saleh, progresif, dan sejahtera bagi kemanusiaan. Dinamika ini menjadi karakter baru Islam, rentan memicu konflik dengan agama-agama lama. Konflik lambat laun tidak dapat dihindari; dan agama tua yang tidak lama kemudian menghadapi konflik dengan Islam adalah Yahudi. Yahudi pertama kali menyadari ancaman terhadap posisi mereka ketika Muslim memenangkan Pertempuran Badr yang terkenal itu. Kemudian, Bani Qaynuqa’ melanggar perjanjian dan secara terbuka menyatakan permusuhan dengan Muslim. Nabi mengepung benteng mereka dan memaksa Bani Qaynuqa’ untuk menyerah. Sebagai hukuman pembatalan perjanjian sepihak, Bani Qaynuqa’ diusir dari Madinah dan mereka bermigrasi ke Syams.

Suku Yahudi berikutnya yang membatalkan perjanjian adalah Bani Nadhir, segera setelah Pertempuran Uhud. Suku ini menerima hukuman yang sama. Sebagian dari mereka bermigrasi ke Syams, sementara sebagian lainnya menetap di daerah Khaybar di utara Madinah. Di awal operasi pengepungan kedua suku ini, Abdullah bin Ubay, pimpinan kaum munafik, berpihak kepada Yahudi, secara rahasia memprovokasi mereka untuk melawan nabi dan berjanji untuk memberikan bantuan dari pengikutnya. Namun ketika ia melihat keunggulan ada di pihak Muslim, ia meninggalkan Yahudi pada takdir mereka.

Suku Yahudi ketiga, Banu Quraydzah, melanjutkan hidup mereka dengan damai di Madinah. Hubungan mereka dengan Muslim sangat normal dan damai, masing-masing pihak saling menghargai dan patuh pada perjanjian yang telah disepakati.

Kembali kita bahas Yahudi Bani Nadhir. Sebagaimana dijelaskan di atas, sebagian dari mereka menetap di Khaybar. Mereka tidak bisa menerima pengusiran mereka dari Madinah. Setelah Pertempuran Uhud, mereka mengetahui bahwa Muslimd an Quraysy akan bertemu lagi dalam pertempuran yang telah ditetapkan satu tahun berikutnya. Mereka menunggu dengan sabar, berharap Muslim dihancurkan dalam pertempuran itu. Namun ketika mereka mendapat kabar bahwa pertempuran ini batal, mereka memutuskan untuk mengambil tindakan langsung untuk menyerang Muslim.

Mendekati akhir musim panas tahun 626, satu delegasi Yahudi Khaybar berangkat ke Makkah. Pimpinan mereka adalah Huyay bin Akhtab, kepala suku Bani Nadhir di Madinah dahulu. Setibanya di Makkah, delegasi ini melakukan perundingan dengan Abu Sufyan dan disepakatilah persiapan untuk ekspedisi memerangi nabi. Sangat penting bagi Huyay untuk memahami apa yang dikhawatirkan Suku Quraysy. Dengan cerdas, ia memulai dengan menjabarkan bahaya-bahaya yang akan Suku Quraysy hadapi jika Islam menyebar di Arab. Jika Muslim mencapai Yamamah, jalur perdagangan Quraysy ke Iraq dan Bahrayn akan tertutup.

“Katakan padaku, wahai Anak Akhtab,” tanya Abu Sufyan. “Engkau adalah seorang Ahlul Kitab. Apakah menurutmu agama baru Muhammad lebih baik daripada agama kami?” Tanpa pikir panjang, Huyay menjawab, “Sebagai seseorang yang memahami Al-Kitab, aku bisa memastikan padamu bahwa agamamu lebih baikdaripada agama Muhammad. Kamu ada di pihak yang benar”.[1] Pernyataan ini sangat membesarkan hati petinggi Quraysy dan mereka pun sepakat untuk memerangi Muhammad jika suku Arab lainnya bergabung dengan mereka.

Delegasi Yahudi ini kemudian pergi ke Ghathfan dan Bani Asad dan merundingkan hal yang sama dan mencapai hasil yang sama pula. Suku-suku ini beserta beberapa suku lainnya sepakat untuk mengambil bagian dalam ekspedisi besar-besaran untuk memerangi dan menghancurkan Muslim.

Catatan Kaki Halaman 3
[1] Ibnu Hisyam: Vol. 2, hlm. 214.

sumber : https://www.kaskus.co.id/show_post/5715e90d96bde6350a8b456a/161/-


EmoticonEmoticon