Kamis, 15 Desember 2016

Terjemahan The Sword of Allah : Khalid bin Al-Waleed (34) Pertempuran Yamamah (Bagian 2)


Bab 16: Pertempuran Yamamah (Bagian II)
(Halaman 4)

Komandan-komandan satuan Pasukan Muslim maju ke depan resimen-resimen mereka masing-masing, mereka membacakan ayat-ayat Al-Qur’an. Mereka mengingatkan kepada mereka yang beriman tentang janji surga bagi para syuhada dan ancaman neraka bagi mereka yang pengecut.

Di pagi hari yang dingin, pekan ketiga Desember 632 M (awal Syawwal 11 H), Pertempuran Yamamah dimulai.

Khalid memerintahkan sebuah serangan umum dan semua barisan Muslim maju dengan seruan perang Allahu Akbar. Khalid memmimpin langsung di tengah, Abu Hudzayfah dan Zayd memimpin kedua sayap. Kedua pasukan memulai kecamuk pertarungan dan udara dipenuhi suara-suara keras para prajurit yang saling menyabetkan dan menusukkan senjata mereka. Khalid membunuh setiap musuh yang datang menghampirinya. Para jagoan Muslim mempertunjukkan bakat keberanian mereka dan Khalid merasa bahwa prajuritnya akan dengan segera memecah barisan pasukan kafir.

Namun pasukan kafir bertahan seperti batu. Banyak yang tewas dalam serangan pasukan beriman, tetapi barisan pasukan kafir tidak putus. Para murtad bertempur dengan penuh kefanatikan, mereka lebih memilih mati daripada mundur; dan Pasukan Muslim menyadari dengan sedikit kaget bahwa mereka tidak mendapatkan kemajuan. Setelah beberapa lama waktu dihabiskan dengan serangan yang keras, sedikit ketidakteraturan mulai tampak di barisan Muslim sebagai hasil dari gerakan mereka maju ke arah musuh dan dalam upaya mereka untuk menusuk barisan depan pasukan kafir. Tetapi hal ini tidak menjadi perhatian khusus. Selama mereka tetap dalam fase menyerang dan musuh dalam fase bertahan, sedikit ketidakteraturan bukanlah sebuah masalah.

Kemudian Musaylimah menyadari bahwa jika ia tetap bertahan, peluang pasukan Muslim untuk menembus barisan mereka semakin meningkat. Ia memerintahkan serangan balik di semua baris depan. Pasukan murtad maju seperti air bah dan Pasukan Muslim pun ditekan mundur. Pertarungan semakin keras ketika mereka berupaya sekuat tenaga untuk membendung gerakan maju pasukan murtad. Pasukan murtad harus membayar mahal dengan darah yang tertumpah di setiap meter tanah yang mereka rebut. Tetapi karena mereka diperkuat oleh keyakinan mereka pada janji Sang Pendusta bahwa surga juga menunggu mereka yang tewas, mereka pun tetap maju menyerang. Beberapa lokasi di resimen Muslim mulai menunjukkan berkurangnya kerapihan barisan karena bercampurnya pasukan dari berbagai suku membuat mereka belum terbiasa untuk bertarung berdampingan.

Sedikit demi sedikit, keunggulan jumlah pasukan murtad mulai menunjukkan hasil. Mereka bertempur dalam barisan yang lebih tebal melawan barisan Pasukan Muslim yang lebih tipis. Mereka mulai meningkatkan tekanan serangan. Pasukan Muslim mulai mundur dengan teratur. Kemudian, mereka mundur lebih cepat lagi. Serangan pasukan murtad semakin tegas dan kemunduran Pasukan Muslim berubah menjadi gerakan mundur yang kacau. Beberapa resimen berbalik dan melarikan diri, resimen lainnya juga mengikuti dan menyebabkan Pasukan Muslim secara umum meninggalkan medan pertempuran. Para komandan satuan tidak bisa menghentikan anggota mereka dan mereka pun ikut tersapu dengan gelombang mundurnya para prajurit. Tentara Muslim mundur sampai melewati perkemahan mereka dan terus mundur sampai berhenti agak jauh dari sana.

Ketika Pasukan Muslim meninggalkan dataran Aqraba`, pasukan murtad melakukan pengejaran. Manuver ini tidak direncanakan, tetapi merupakan sebuah reaksi naluriyah, seperti halnya reaksi Pasukan Muslim kepada Pasukan Quraysy pada fase pertama Pertempuran Uhud di masa lalu. Den seperti Pasukan Muslim saat itu, pasukan murtad berhenti di perkemahan musuh dan mulai memungut harta rampasan perang. Lagi-lagi seperti halnya pada Pertempuran Uhud, terhentinya musuh dalam proses ini memberi waktu bagi Khalid untuk mempersiapkan dan melancarkan serangan balasan. Bahkan lebih dari itu nantinya.

Di perkemahan Muslim, berdiri juga kemah Khalid dan di dalamnya, duduklah istri barunya, Layla, dan tawanannya, Muja’ah, yang masih diikat. Sejumlah kecil prajurit kafir yang terdorong dengan kesuksesan awal dan bersemangat dengan pikiran akan mendapat banyak harta rampasan perang, masuk ke dalam tenda Khalid. Mereka melihat dan mengenali Muja’ah. Mereka juga melihat Layla dan bermaksud untuk membunuhnya, tetapi ditahan oleh Muja’ah, pemimpin mereka, “Aku adalah pelindungnya. Bunuhlah para laki-laki!”[1] Dalam keterburu-buruan mereka untuk mengambil harta rampasan perang, prajurit kafir ini pun tidak sempat untuk membebaskan pemimpin mereka itu.

Catatan Kaki Halaman 4
[1] Ath-Thabari: Vol. 2, hlm. 51.
____________________________________________________________________________
(Halaman 5)

Dalam beberapa saat, penghancuran kemah terjadi begitu cepat karena para prajurit kafir mengambil apa saja yang bisa mereka bawa dan menghancurkan yang tidak bisa mereka bawa. Mereka menyobek-nyobek kain-kain tenda. Dan secepat itu mereka memulai, secepat itu pula penjarahan ini berakhir. Pasukan murtad dengan segera kembali ke dataran Aqraba` karena di selatan, mereka sudah melihat bahwa Pasukan Muslim telah kembali berbaris rapi dan bergerak maju untuk kembali ke medan pertempuran.

Secara menakjubkan, ketika mereka berhenti untuk menarik napas dan memikirkan tentang apa yang telah terjadi, tidak ada sedikitpun rasa takut dalam hati Pasukan Muslim. Perasaan yang muncul justru rasa marah terhadap kekacauan barisan mereka sendiri dan proses bagaimana mereka mundur dari medan pertempuran. Bagaimana mungkin hal tersebut bisa terjadi? Mereka secara kasat mata telah menyebabkan pukulan lebih telak kepada musuh daripada pukulan yang mereka terima.

Keberanian mereka tetap membara, tetapi mereka juga penasaran. Kekesalan mereka dikeluarkan dengan saling menuduh antar suku: satu suku terhadap satu suku, satu klan terhadap satu klan, penduduk kota terhadap badui nomaden. Mereka menyalahkan satu sama lain. Penduduk kota berkata, “Kami lebih paham tentang perang daripada kalian.” Badui penghuni gurun menjawab, “Tidak, kami lebih paham.” Intensitas keributan meningkat, “Ayo kita berkelompok berdasarkan masing-masing suku. Akan kita lihat siapa yang bisa mempertahankan kehormatannya.”[1]

Khalid sudah bisa melihat apa yang salah. Barisan depan pasukan murtad bisa menahan serangan Pasukan Muslim. Terlebih lagi, pasukan murtad melancarkan serangan balik ketika Pasukan Muslim mulai kehilangan kerapihan barisannya. Pasukan Muslim kehilangan keseimbangan mereka dan dalam tekanan serangan balik, mereka tidak mampu mengembalikan keseimbangan tersebut. Penyebab hal ini bukanlah keberanian mereka yang kurang.

Khalid juga mengevaluasi bahwa membentuk resimen dari campuran berbagai suku adalah sebuah kesalahan karena perasaan kesukuan masih sangat kuat di antara orang Arab. Hal ini justru memberikan tambahan kekuatan bagi keunikan yang sudah dimiliki Tentara Muslim, yaitu semangat Islam, keberanian, dan bakat individu. Dalam menghadapi musuh yang unggul jumlah satu banding tiga serta memiliki fanatisme pada Musaylimah, hilangnya loyalitas kesukuan dari Pasukan Muslim melemahkan kesatuan resimen-resimen Muslim.

Khalid memperbaiki kesalahan ini dan mengelompokkan ulang pasukannya. Ia menyusun pasukan dalam formasi yang masih sama dengan komandan yang sama pula, tetapi prajurit-prajuritnya sekarang dibentuk dalam unit-unik klan dan suku. Jadi, setiap prajurit akan bertempur bukan hanya untuk Islam, tetapi juga untuk kehormatan klannya. Dengan ini, akan muncul persaingan sehat antar klan.

Setelah reorganisasi selesai, Khalid dan komandan-komandan seniornya kembali maju ke resimen masing-masing dan berpidato untuk menguatkan kembali niat mereka untuk menghukum Musaylimah setelah hal memalukan yang mereka alami. Para prajurit bersumpah bahwa jika memang diperlukan, mereka akan bertempur dengan gigi mereka.

Khalid juga mengumpulkan sejumlah kecil prajurit dan membentuknya menjadi pasukan penjaga pribadinya. Tujuannya tidak lain bahwa ia akan memberi contoh kepada para pasukannya dengan turun langsung bertarung di medan pertempuran. Pasukan penjaga kecilnya ini nantinya akan sangat berguna. “Tetaplah berada di belakangku,” perintahnya kepada mereka.

Pasukan Muslim yang telah disusun ulang kembali maju dengan barisan yang rapi ke dataran Aqraba`. Mereka kembali dalam pertempuran tidak seperti singa biasa, tetapi seperti singa yang lapar!

Sementara itu, Musaylimah menyusun kembali barisan pasukannya dalam formasi yang sama seperti sebelumnya. Ia menunggu pukulan kedua dari Pedang Allah dengan percaya diri bahwa ia kembali mengusir Pasukan Muslim dari medan pertempuran.

Di bawah perintah Khalid, Pasukan Muslim menyerang dengan seruan Allahu Akbar dan Ya Muhammad[2]. Pasukan Muslim yang lebih sedikit mulai melakukan kontak fisik dengan pasukan murtad yang lebih besar. Sayap bertemu dengan sayap dan tengah bertemu dengan tengah. Komandan sayap kanan Muslim, Zayd, bertemu langsung dengan Rajjal si pengkhianat yang memimpin sayap kiri pasukan kafir. Karena masih berharap menyelamatkan teman lamanya dari api neraka, Zayd memanggilnya, “Wahai Rajjal! Engkau telah meninggalkan agama yang benar. Kembalilah padanya. Itu jauh lebih mulia dan baik bagimu.”[3] Si pengkhianat menolak dan dalam duel sengit setelahnya, Zayd mengantarnya ke neraka. 

Catatan Kaki Halaman 5
[1] Ath-Thabari: Vol. 2, hlm. 513.
[2] Ada kesalahpahaman di sini. Slogan yang sebenarnya adalah “Ya Muhammadah! (Untuk Muhammad!)”, bukan “Ya Muhammad! (Wahai Muhammad!)”. Ini disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah, Vol. 6, hlm. 397. Seruan ini sama seperti halnya “Ya Islamah! (Untuk Islam!)”. Kata “ya” adalah penguat, bukanlah sebuah bentuk doa seperti dalam pernyataan nabi (saw), “Ya tuba lisy Syam!” (“Semoga ada sukacita bagi Syam!”), dan hal ini dikonfirmasi dengan akhiran “ah”. Para sahabat (nabi-pent) paham bahwa mereka tidak mungkin berdoa kepada nabi (saw)!
[3] Ath-Thabari: Vol. 2, hlm. 511. 
____________________________________________________________________________
(Halaman 6)

Pasukan Muslim melancarkan serangan brutal disepanjang front dan pasukan murtad menahan mereka sekuat tenaga. Barisan mereka tidak juga putus. Ratusan pasukan murtad tewas dan korban di pihak Muslim juga mulai meningkat. Dengan keunggulan jumlah pasukan murtad dan keunggulan keterampilan-keberanian Pasukan Muslim, kedua pihak bertempur dengan imbang. Baris depan kedua pihak terkunci dalam pertarungan hidup mati, saling menekan dan tertekan. Debu beterbangan akibat jejakan ribuan kaki, menggantung di udara seperti awan di atas kepala para pasukan. Pedang-pedang dan tombak-tombak yang patah, berserakan di wadi dan medan pertempuran, demikian juga dengan tubuh-tubuh yang terkoyak dan terpotong menumpuk di atas tanah yang basah dengan darah. Pemandangan paling mengerikan tampak di sungai kecil yang mulai mengalirkan darah manusia dan bermuara ke wadi. Sebagai akibatnya, sungai kecil ini dikenal dengan nama Sungai Darah, Syu’aybud Dam, dan sampai sekarang, masih dikenal dengan nama tersebut. Namun pertempuran masih berjalan imbang dan tidak menunjukkan akan berakhir dengan kemenangan pasukan tertentu.

Khalid mulai memahami bahwa dengan keyakinan fanatik pada nabi palsu mereka, para murtad ini tidak akan menyerah. Sangat jelas, hanya kematian Musaylimah yang dapat mematikan semangat pasukan kafir. Patahnya semangat mereka akan dengan cepat berubah menjadi kekalahan fisik. Tetapi Musaylimah tidak terjun langsung dalam kontak senjata, tidak seperti Khalid. Ia harus dipancing keluar dari zona aman di belakang barisan pasukan murtad, ia berdiri dikelilingi oleh para pengikut setianya.

Ketika ketegangan dalam pertempuran brutal itu menurun, para prajurit mulai menarik napas kembali. Pertarungan reda sementara. Kemudian Khalid maju ke arah bagian tengah musuh dan melemparkan tantangan untuk berduel, “Aku anak Al-Walid! Ada yang berani berduel denganku?” Sejumlah jagoan keluar dari barisan pasukan murtad untuk menyambut tantangan ini. Khalid mungkin hanya menghabiskan satu menit untuk membunuh masing-masing penantang. Setiap setelah selesai berduel, ia selalu membacakan sya’irnya sendiri,

“Aku adalah anak dari para bangsawan.
Pedangku tajam dan mengerikan.
Pedang ini adalah benda paling perkasa,
ketika perang mendidih dengan ganas.”[1]

Sedikit demi sedikit, Khalid maju ke arah Musaylimah, membunuh jagoan musuh satu demi satu. Sampai akhirnya tidak ada lagi yang berani maju untuk melawannya. Namun ia sudah cukup dekat dengan Musaylimah untuk berbicara dengannya tanpa berteriak. Sang Pendusta masih dikelilingi para penjaganya dan Khalid tidak bisa mendekatinya.

Khalid mengajaknya berbicara. Musaylima menanggapinya. Ia maju dengan hati-hati dan berhenti di luar jangkauan duel. “Jika kita bernegosiasi, syarat apa yang akan kau terima!”[2] tanya Khalid.

Musaylimah menelengkan kepalanya ke salah satu sisi seolah-olah ia mendengarkan bisikan seseorang yang tidak kelihatan berdiri di sampingnya, ia terlihat juga berbicara sendiri. Seperti itulah ia “menerima wahyu”! Melihat kelakuannya itu, Khalid teringat pada perkataan nabi yang mulia bahwa Musaylimah tidak pernah sendiri, selalu ada Setan di sampingnya. Ia tidak akan pernah menentang perintah Setan dan dalam percakapannya, biasanya liur berbusa akan berkumpul di bibirnya. Setan melarang Musaylimah untuk menyepakati syarat apapun, dan Sang Pendusta kemudian menoleh kepada Khalid sambil menggelengkan kepala.

Khalid memutuskan untuk membunuh Musaylimah. Ajakan bicara hanyalah umpan untuk memancingnya keluar dan mendekat. Khalid harus bekerja cepat sebelum Musaylimah mundur ke lokasi aman bersama para penjaganya. Lagi-lagi, Musaylimah menelengkan kepalanya untuk mendengarkan “suara”. Di saat itu juga, Khalid melompat ke arahnya.

Khalid cukup cepat. Tetapi Musaylimah lebih cepat. Dalam sekejap, ia berbalik arah dan melarikan diri kembali ke zona aman!

Catatan Kaki Halaman 6
[1] Ath-Thabari: Vol. 2, hlm. 513.

sumber : https://www.kaskus.co.id/show_post/579ec2ff620881b85a8b4568/235/-


EmoticonEmoticon