Kamis, 15 Desember 2016

Terjemahan The Sword of Allah : Khalid bin Al-Waleed (31) Pemimpin-pemimpin Pendusta (Bagian 2)



Bab 14: Pemimpin-pemimpin Pendusta (Bagian II)
(Halaman 4)

Dalam surat balasannya, Nabi yang mulia menyampaikan kepada Musaylimah,

“Dengan nama Allah yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Dari Muhammad, Rasulullah, kepada Musaylimah Sang Pendusta (Al Kadzab). Salam kepada siapa saja yang mengikuti Petunjuk-Nya. Sesungguhnya bumi ini adalah milik Allah. Dialah yang berhak memberikan kepada hamba-hamba-Nya yang Dia kehendaki. Dan akhir yang baik adalah bagi orang-orang yang bertaqwa.”[1]

Sejak saat itu, nabi palsu ini dikenal sebagai Musaylimah Sang Pendusta (Al Kadzab) !

Nahar Ar-Rajjal yang disebutkan sebelumnya sebagai seorang delegasi dari Bani Hanifa, mulai melakukan tindakan. Laki-laki ini tetap tinggal di Madinah ketika rekan-rekan delegasinya yang lain pulang. Ia mendekatkan diri kepada nabi dan memperoleh banyak ilmu tentang Islam. Ia mempelajari Al-Qur`an dan kedudukannya meningkat menjadi seorang “sahabat” nabi yang dihormati. Dalam beberapa bulan, ia telah berhasil membangun reputasi sebagai seorang Muslim yang taat dan ia pun semakin dikenal di seluruh Arabia.

Ketika laporan mengenai tersebarnya kejahatan Musaylimah menjadi semakin mengkhawatirkan, nabi mulai mempersiapkan berbagai rencana untuk melemahkan pengaruh Sang Pendusta. Yamamah terlalu jauh untuk dilakukannya sebuah operasi militer sehingga nabi memutuskan untuk mengirim seseorang dalam menyelesaikan masalah ini. Dan siapa lagi yang lebih tepat untuk menjalankan misi ini selain Rajjal? Ia adalah seorang tetua Bani Hanifah, ia telah mempelajari Al-Qur`an; ia telah memperoleh ilmu dan kedekatan dengan nabi. Maka, Rajjal pun dikirim oleh nabi untuk mengatasi kejahatan yang Musaylimah tanamkan di Yamamah.

Segera setelah ia sampai di Yamamah, bajingan ini ternyata ikut mendukung kenabian Musaylimah. “Aku telah mendengar bahwa Muhammad berkata demikian,” katanya dengan penuh kebohongan [2] dan siapa yang tidak percaya dengan perkataan “sahabat” nabi yang terhormat ini! Kedatangan murtad satu ini menjadi angin sejuk bagi Musaylimah dan semakin banyak Bani Hanifah yang menyatakan kesetiaannya kepada Musaylimah “Rasulullah”!

Musaylimah dan Rajjal sekarang membentuk sebuah persekutuan jahat dan terlaknat. Rajjal menjadi tangan kanan Musaylimah dan si nabi palsu tidak membuat keputusan penting sebelum berkonsultasi dengan Rajjal.

Dengan wafatnya nabi, kekuasaan Musaylimah kepada Bani Hanifah menjadi total. Kaumnya bergabung dengan gerakannya dan Musaylimah mulai membuat aturan-aturannya sendiri dalam masalah moral dan keagamaan. Ia menghalalkan minuman memabukkan. Ia memerintahkan kepada laki-laki yang telah memiliki anak laki-laki untuk meninggalkan hubungan seksual, kecuali anak laki-lakinya itu mati, sampai ia mendapatkan seorang anak laki-laki lagi.

Kaumnya mulai mempercayai bahwa Musaylimah memiliki mukjizat, dan Rajjal membantu untuk memperkuat kesan ini pada kaumnya. Suatu ketika, Rajjal menyarankannya untuk mengusap kepala setiap bayi yang baru lahir, seperti yang Nabi Muhammad biasa lakukan sambil mendoakan. Aturan ini pun diberlakukan. Setiap bayi yang baru lahir dibawa kepada Musaylimah untuk diusap kepalanya. Para sejarawan menyampaikan bahwa ketika anak-anak ini tumbuh menjadi laki-laki atau perempuan dewasa, mereka tidak memiliki sehelai rambut pun di kepala mereka! Namun tentu saja, hal ini tidak diketahui sampai setelah Musaylimah mati. Kebanyakan dari tindakan-tindakan Musaylimah yang meniru perbuatan Muhammad berakhir dengan hasil-hasil yang bertolak belakang dan membawa hasil yang buruk.

Meskipun semua Bani Hanifah mengikutinya, tidak semua percaya pada kenabiannya, apalagi di antara mereka yang cerdas. Beberapa orang hanya mengikutinya untuk kepentingan politis, sebagian lagi termotivasi oleh loyalitas kesukuan. Suatu hari, Musaylimah menunjuk seorang Muadzdzin baru untuk memanggil orang agar melaksanakan shalat. Laki-laki ini bernama Jubayr bin ‘Umayr dan ia adalah seorang yang meragukan kenabian Musaylimah. Dalam adzannya, Musaylimah memerintahkan untuk mengganti nama Muhammad dengan namanya sendiri dalam kalimat, “Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasulullah.” Tetapi, Jubayr mengubahnya sedikit dengan suara tidak terlalu jelas, sehingga menjadi, “Aku bersaksi bahwa Musaylimah pikir, ia adalah Rasulullah.”[4]

Suatu hari yang lain, seorang laki-laki yang berakal sehat dan belum pernah menemui Musaylimah, datang mengunjungi si nabi palsu. Ketika ia mengetuk pintu rumah Musaylimah, ia bertanya pada penjaga, “Di mana Musaylimah?” Penjaga itu menjawab, “Tidak sopan! Panggil dia rasulullah.” Pengunjung itu bernama Thalhah, ia menegaskan, “Aku tidak akan menerimanya sebagai rasul sampai aku bertemu dengannya.”

Catatan Kaki Halaman 4
[1] Ibnu Hisyam: Vol. 2, hlm. 600-601
[2] Ath-Thabari: Vol.2, hlm. 505.
[3] Seseorang yang menyuarakan adzan, panggilan untuk shalat.
[4] Baladzuri: hlm. 100. 
____________________________________________________________________________
(Halaman 5)

Sang pengunjung bertemu si nabi palsu. “Apakah engkau Musaylimah?” tanyanya.

“Benar.”

“Siapakah yang telah mendatangimu?”

“Rahman,” (yaitu, Sang Maha Pengasih).

“Dalam cahaya atau dalam kegelapan?”

“Dalam kegelapan.”

“Aku bersaksi,” Thalhah mengumumkan, “bahwa engkau adalah nabi palsu dan Muhammad adalah benar-benar nabi. Tetapi nabi palsu dari suku kita lebih aku sukai daripada nabi yang sebenarnya, tetapi dari Quraysy.”[1] Orang ini kemudian ikut bertempur di pihak Musaylimah dan mati di dalam perangnya.

Bentuk fisik Musaylimah tidaklah menarik. Ia adalah seorang laki-laki yang pendek, tetapi bertubuh kuat; kulitnya kuning dengan kedua mata yang berdekatan serta agak sipit; hidungnya pesek. Wajahnya sangat jelek. Tetapi seperti hal yang sering terjadi juga dengan orang jelek bertabiat jahat, ia memiliki cara tersendiri untuk memesona perempuan. Perempuan-perempuan yang menjadi korbannya, biasanya tidak bisa mengatakan, “Tidak!” Ia adalah seorang hidung belang yang sangat berbakat dan pandai merayu. Tidak seorang perempuan pun yang dibiarkan berdua dengannya, bisa lepas dari pendekatannya dan pesona jahatnya.

Namun Sajah si nabiyah palsu tidak mengetahui karakter Musaylimah ini. Ia akan segera mengetahuinya!

Sajah dan pasukannya berangkat menuju Yamamah. Musaylimah mengetahui pergerakannya dan mulai khawatir karena ia tidak mengetahui apakah Sajah datang dengan semangat permusuhan atau persahabatan. Ia tahu bahwa pasukannya bisa mengalahkan pasukan Sajah dalam pertempuran, tetapi Korps ‘Ikrimah mengawasi pergerakannya dari barat. Musaylimah telah menunggu majunya Pasukan Islam selama beberapa pekan. Jika ‘Ikrimah menyerang saat ia bertempur dengan Pasukan Sajah, posisinya akan sangat rentan. Itu artinya, ia harus menghadapi dua pasukan musuh, Sajah dan Muslim. Musaylimah memutuskan untuk membujuk dan menetralisasi Sajah. Ia paham bahwa untuk menghadapi perempuan ini, ia perlu melancarkan keahliannya dalam merayu perempuan.

Ia mengirim pesan kepada Sajah untuk tidak membawa prajuritnya karena tidak ada yang bisa mereka kerjakan di Yamamah. Sajah bisa datang sendirian untuk bernegosiasi. Sajah pun mengikuti pesan ini dan keluar dari tubuh utama pasukannya hanya dengan 40 orang prajurit penjaga untuk menemui Musaylimah Sang Pendusta. Ia tiba di Yamamah dan gerbang kota masih tertutup. Ia menerima instruksi dari Musaylimah untuk meninggalkan prajuritnya di luar, Sajah sendirian yang diizinkan masuk. Sajah setuju dan meninggalkan 40 pengikutnya berkemah di luar benteng selagi ia masuk.

Musaylimah telah mempersiapkan sebuah tenda besar bagi Sajah di halaman depan rumahnya. Karena cuaca saat itu dingin, ia mempersiapkan agar tenda itu dibuat hangat sehingga Sajah nyaman berada di dalamnya. Musaylimah juga membakar dupa parfum khusus dengan harapan bisa memberikan pengaruh pada psikologi Sajah seperti yang ia harapkan. Wewangian ini akan membuat Sajah merasa sangat nyaman tanpa perlu berperilaku formal!

Sajah memasuki tendanya. Tidak lama kemudian, Musaylimah juga masuk. Mereka hanya berdua. Si nabi palsu mulai bekerja dengan perkataan manisnya kepada perempuan. Ia berbicara tentang Allah, politik, dan masalahnya dengan Quraysy yang ia katakan sebanyak “sisik ikan”.

Setelah ia membuka percakapan, ia berkata, “Katakanlah padaku apa yang telah diwahyukan kepadamu.”

“Seorang perempuan tidak seharusnya memulai,” jawabnya. “Katakanlah padaku terlebih dahulu, apa yang diwahyukan kepadamu.” Ia memandang Musaylimah dengan terkagum-kagum ketika Musaylimah menyampaikan sya’ir-sya’ir ayatnya.

“Tidakkah kau lihat Tuhanmu?
Bagaimana ia memperlakukan perempuan hamil? Ia mengeluarkan makhluk hidup,
dari antara pusar dan usus.”

Catatan Kaki Halaman 5
[1] Ath-Thabari: Vol.2, hlm. 508.
____________________________________________________________________________
(Halaman 6)

“Masih ada lagi?” tanya Sajah dengan bersemangat.

“Ia telah mewahyukan kepadaku,” lanjut Musaylimah, “bahwa Ia menciptakan perempuan sebagai sebuah wadah dan menciptakan laki-laki sebagai pasangannya yang masuk dan meninggalkan perempuan itu sesuka hatinya. Dan kemudian seekor domba diciptakan!”

Sajah terpikat dengan kata-katanya. “Engkau sungguh adalah seorang nabi!” ungkapnya.

Musaylimah kemudian mendekat, “Apakah engkau mau menikah denganku?” bujuknya. “Kemudian bersama sukuku dan sukumu, aku akan menaklukkan Arab.”

“Ya,” jawabnya.[1] Musaylimah kembali menaklukkan perempuan.

Sajah tinggal bersama Musaylimah selama tiga hari, kemudian Musaylimah mengantar Sajah kembali ke pasukannya. Sesampainya ia di kemah, ia mengumpulkan tetua-tetua sukunya. Ia mengumumkan, “Aku telah menemukan kebenaran. Aku telah menerimanya sebagai nabi dan menikah dengannya.”

Para tetua itu tidak terlalu terkejut. Mereka bertanya, “Apakah ia memberikanmu mahar?” Sajah mengaku bahwa ia tidak menerima mahar.

Tetua-tetua sukunya lebih mengenal Musaylimah lebih baik daripada Sajah dan mereka khawatir bahwa pemimpin perempuan mereka telah ditipu. Mereka menekannya Sajah, “Jika demikian, kembalilah kepadanya dan jangan pulang tanpa mahar.”

Sajah kembali ke Yamamah bersama 40 prajuritnya. Musaylimah melihatnya dan menutup gerbang. “Ada apa gerangan?” tanyanya dengan marah.

“Berikan mahar kepadaku,” teriak Sajah dari luar.

Musaylimah berpikir sejenak, kemudian menjawab, “Aku memberi mahar untuk seluruh pengikutmu. Umumkanlah kepada pengikutmu bahwa Aku, Musaylimah bin Habib, Rasulullah, menghapus dua shalat yang telah Muhammad wajibkan: Shalat Shubuh dan Shalat ‘Isya’.”[2]

Dengan mahar ini, Sajah kembali ke pasukannya.

Beberapa hari kemudian, Musaylimah mengirim seorang utusan kepada Sajah untuk memperkuat ikatannya dengan para pengikut Sajah. Musaylimah menawarkan sebuah persekutuan politik dan ekonomi, yaitu bahwa Sajah berhak mendapat setengah hasil panen Yamamah. Sajah menolak. Tetapi Musaylimah mengirim utusan lagi mendesak agar Sajah setidaknya menerima seperempat hasil panen Yamamah. Sajah menerimanya dan kembali ke Iraq. Kejadian ini berlangsung pada akhir Oktober 632 (akhir Rajab 11 H), beberapa saat sebelum serangan ‘Ikrimah terhadap Musaylimah.

Musaylimah telah menyelesaikan permasalahannya dengan Sajah. Dan Sajah merasa cukup dengan posisi politik dan kenabiyahannya. Ia kembali tinggal bersama suku ibunya dan hidup dengan tenang sampai akhir hayatnya. Di kemudian hari, ia masuk Islam dan dikabarkan menjadi muslimah yang taat. Di masa pemerintahan Mu’awiyah, ia pindah ke Kufah, tempat di mana ia wafat di usia yang sangat tua.

Catatan Kaki Halaman 6
[1] Ath-Thabari: Vol.2, hlm. 499.
[2] Ibid. 

--Akhir dari Bab 14--

sumber : https://www.kaskus.co.id/show_post/5791f76e5c7798e0658b456a/224/-


EmoticonEmoticon