Kamis, 15 Desember 2016

Terjemahan The Sword of Allah : Khalid bin Al-Waleed (35) Pertempuran Yamamah (Bagian 3)


Bab 16: Pertempuran Yamamah (Bagian III)
(Halaman 7)

Musaylimah berhasil kembali ke tengah-tengah penjaganya. Tetapi proses ini memberikan pengaruh psikologis yang berbeda kepada kedua pasukan: satu pasukan kehilangan semangat, sedangkan pasukan lainnya mendapat tambahan semangat. Kaburnya ‘nabi’ dan panglima mereka dari Khalid adalah suatu pemandangan memalukan di mata para murtad, dan Pasukan Muslim pun gembira. Untuk memanfaatkan keunggulan dalam hal psikologi ini, Khalid memerintahkan serangan yang baru.

Dengan teriakan Allahu Akbar, Pasukan Muslim kembali maju menyerang. Mereka bertarung dengan semangat dan tenaga yang baru. Pada akhirnya, tanda-tanda kemenangan mulai terlihat. Pasukan murtad mulai terdorong ke belakang. Kemunduran mereka semakin cepat. Semangat Pasukan Muslim meningkat dan menggandakan upaya mereka. Kemudian, barisan kafir mulai terpecah-pecah.

Musaylimah tidak bisa melakukan apa-apa. Komandan utamanya yaitu Rajjal, tewas. Komandan sayap kanannya, yaitu Muhakim, beraksi untuk menyelamatkan pasukan murtadnya. “Bani Hanifah!” teriaknya. “Ke kebun! Ke kebun! Masuklah ke kebun dan aku akan melindungi kalian dari belakang!”

Namun terpecahnya barisan pasukan murtad tidak bisa diatasi lagi. Sebagian besar pasukan melarikan diri, menyebar ke berbagai arah. Hanya sekitar seperempat dari pasukan Musaylimah yang tersisa dan mereka mundur untuk bertahan di dalam kebun berbenteng selagi Muhakim melindungi bagian belakang mereka bersama sebagian kecil pasukannya. Pasukan kecil ini dengan segera dibinasakan oleh Pasukan Muslim dan Muhakim tewas akibat anak panah dari anak Khalifah, Abdurrahman.

Pasukan Muslim sekarang mengejar pasukan murtad dengan menyeberangi dataran Aqraba`, membunuh mereka yang tertinggal. Dengan cepat, mereka tiba di luar kebun berbenteng, tempat sekitar 7.000 murtad bertahan. Musaylimah bersama mereka. Pasukan kafir ini menutup gerbang dan dengan benteng yang tinggi, mereka merasa aman. Namun mereka tidak tahu apa yang akan terjadi!

Sebagian besar Pasukan Muslim berkumpul di dekat Kebun Kematian. Saat itu adalah siang hari mendekati petang dan Pasukan Muslim gelisah, ingin segera masuk ke dalam kebun dan menyelesaikan tugas mereka sebelum malam tiba. Tetapi tidak ada jalan masuk. Dinding kebun ini terlalu kuat dan gerbang dikunci dari dalam. Mereka tidak menyiapkan peralatan pengepungan dan mereka tidak punya waktu untuk mengepung.

Ketika Khalid mencari ide, seorang prajurit tua bernama Bara`a bin Malik, yang berdiri di bagian pasukan yang tepat menghadap ke gerbang, berkata kepada rekan-rekannya, “Lemparkan aku melewati dinding itu sampai masuk ke dalam kebun.”[1] Rekan-rekannya menolak; Bara`a adalah salah seorang sahabat nabi yang terkemuka dan dihormati dan mereka merasa segan untuk melakukan suatu hal yang bisa saja menyebabkan kematiannya. Tetapi Bara’a bersikeras dan memaksa. Akhirnya, rekan-rekannya setuju dan mengangkatnya dengan bahu-bahu mereka di dekat dinding. Ia berhasil memegang pinggiran dinding, lalu naik dan melompat ke dalam kebun. Dalam satu menit atau lebih, ia sudah membunuh dua atau tiga prajurit kafir yang berdiri di antaranya dan gerbang. Sebelum prajurit musuh lainnya menghalangi, dia sudah berhasil melonggarkan kunci gerbang. Gerbang pun terbuka dan Pasukan Muslim masuk bagaikan air bah yang memecah dinding bendungan sambil meneriakkan seruan perang. Bagian terakhir dan paling brutal dari Pertempuran Yamamah pun dimulai.

Pada awalnya, pasukan kafir mampu menahan majunya Pasukan Muslim yang tertahan dengan sempitnya gerbang dan kurangnya ruangan untuk menggerakkan tangan. Tetapi, sedikit demi sedikit, Pasukan Muslim membuka jalan di tengah badan pasukan murtad yang mulai jatuh, tewas bertumpuk akibat serbuan penyerang. Pasukan murtad mulai terdorong ke belakang dan Pasukan Muslim mulai membanjiri kebun.

Pertempuran semakin brutal. Karena tidak ada ruangan yang cukup untuk manuver, kedua belah pihak bertarung mati-matian dengan siapa saja musuh di depan mereka. Sedikit demi sedikit, barisan pasukan murtad menipis. Namun Musaylimah terus bertempur: ia tidak memiliki keinginan untuk menyerah. Ketika baris depan pasukannya sudah semakin dekat dengan lokasi dirinya, Musaylimah menghunuskan pedangnya dan terjun langsung ke dalam pertarungan, memberikan kejutan kepada Pasukan Muslim dengan kekuatan dan ketangkasannya. Si jenderal yang cerdik ini ternyata juga seorang prajurit pemberani dan terampil. Mulutnya mulai berbusa-busa, situasi yang gawat itu mengubahnya dari seorang nabi palsu berwajah buruk menjadi seorang setan yang nampak perkasa.

Fase terakhir pertempuran sekarang memasuki puncaknya. Pasukan Muslim menekan pasukan murtad di setiap titik dan hanya usaha keras Musaylimah yang mencegah jatuhnya mereka secara menyeluruh. Pasukan Muslim memotong, menyayat, dan menusuk dalam amukan pertempuran. Tubuh-tubuh yang tercabik-cabik dan terpotong-potong bergelimpangan di tanah. Mereka yang jatuh sebelum mati mengalami kematian yang menyakitkan karena terinjak-injak. Pemandangan nampak sangat mengerikan dan debu beterbangan di atas tanah yang mulai menjadi lumpur merah.

Catatan Kaki Halaman 7
[1] Ath-Thabari: Vol. 2, hlm. 514.
____________________________________________________________________________
(Halaman 8)

Banyak prajurit murtad mendekati Musaylimah. “Mana kemenangan yang engkau janjikan?” tanya mereka. “Bertempurlah, wahai Bani Hanifah!” menjadi jawabannya. “Bertempurlah sampai akhir!”[1]

Musaylimah paham bahwa ia tidak akan mendapat ampunan oleh Khalid, ia paham bahwa ia akan binasa, dan dengan segala akal licik yang tersisa, ia memutuskan untuk membawa sukunya mati bersamanya. Darah dari sejumlah prajurit Muslim menetes dari pedangnya. Fanatisme pendukungnya tidak mengendur, mereka bertarung di sekitarnya. Lalu ia masuk dalam jalur pandangan Si Barbar. Si Barbar adalah salah satu kriminal perang yang namanya diumumkan oleh nabi yang mulia di malam sebelum Penaklukkan Makkah. Karena khawatir dengan nyawanya, ia kabur dari Makkah dan pergi ke Tha’if dan tinggal bersama Suku Tsaqif selama beberapa waktu. Kemudian pada tahun 9 H, ketika Tsaqif menyerah kepada nabi, ia pun masuk Islam dan secara langsung menyatakan bay’at kepada nabi.

Nabi sudah bertahun-tahun tidak melihatnya dan ia tidak yakin bahwa dialah orangnya. “Apakah engkau Si Barbar?” tanya beliau.

“Benar, wahai Rasulullah!”

“Ceritakan bagaimana engkau membunuh Hamzah.”[2]

Si Barbar menceritakan keseluruhan ceritanya dari awal sampai akhir. Ketika bercerita, ia tidak menahan diri untuk mempertimbangkan sisi etis dari episode kehidupannya itu, bahwa ia telah membunuh salah seorang beriman yang paling mulia dan gagah perkasa. Ia menyampaikan kisahnya seperti halnya seorang veteran perang yang bangga menceritakan kehebatannya di masa dahulu. Dan membunuh seorang prajurit hebat sekelas Hamzah tidak diragukan lagi adalah sebuah prestasi militer. Si Barbar juga ahli dalam bercerita.

Namun tidak ada yang terkesan. Wajah nabi tampak tenggelam dalam kesedihan dan ia berkata, “Jangan biarkan aku melihat wajahmu lagi.”[3] Sesuatu di dalam hatinya memberi peringatan kepada Si Barbar bahwa jika ia tetap di Madinah, ingatannya akan Hamzah akan muncul kembali dan hal ini tidak sehat baginya. Si Barbar pun pergi dari Madinah saat itu juga.

Selama dua tahun, ia tinggal di sejumlah perkampungan di sekitar Tha’if, hidup dengan tidak terlalu menarik perhatian orang dan para musafir. Ia resah dengan hidupnya. Hidupnya penuh penyesalan. Lalu datanglah tren kemurtadan. Si Barbar tetap setia dengan agama barunya dan memilih untuk bertempur untuk Islam melawan kaum kafir. Dan sekarang, ia mengabdi sebagai prajurit di bawah panji Pedang Allah.

Si Barbar mengeratkan pegangannya pada lembing ketika ia melihat Musaylimah. Lembing ini telah mengirim begitu banyak orang pada kematian mereka. Sang Pendusta bertarung dengan gagah berani. Dalam menahan serangan Pasukan Muslim yang berusaha mendekari dirinya, ia bertarung di depan para penjaganya, dan sekarang, bertarung di antara mereka. Sekali-sekali, ia dilindungi oleh penjaganya, tetapi ia tidak pernah lepas dari mata si pembunuh hitam yang tidak berkedip. Si Barbar telah memilih korbannya. Kematiannya mungkin akan meringankan sakit mengganjal di hatinya.

Dari posisinya, agak sedikit jauh dari barisan depan Pasukan Muslim, Si Barbar bergerak maju dengan diam-diam untuk masuk ke dalam jangkauan lembingnya. Kerumunan prajurit yang saling mencaci, berkeringat, berlumuran darah, yang melingkupi Musaylimah dari berbagai sisi, seolah-olah hilang dari pandangannya. Dalam pikiran Si Barbar, hanya calon korbannya yang terlihat.

Catatan Kaki Halaman 8
[1] Ath-Thabari: Vol. 2, hlm. 514.
[2] Ibnu Hisyam: Vol. 2, hlm. 72
[3] Ibid.
____________________________________________________________________________
(Halaman 9)

Si Barbar melihat Ummu Ammarah, perempuan terkemuka dari Pertempuran Uhud (meskipun pada saat itu, tidak ada Nampak seperti perempuan pada umumnya), berjuang untuk mendekati Musaylimah. Ia berduel melawan seorang prajurit kafir yang menghalangi tujuannya. Tiba-tiba, prajurit kafir itu menyabetkan pedang dan memotong tangannya. Anak laki-laki Ummu Ammarah yang berdiri di sebelahnya, membunuh prajurit itu dengan satu sabetan pedang mematikan dan ia segera menolong ibunya untuk menjauh dari lokasi. Ummu Ammarah merasa sangat kecewa tidak bisa mencapai posisi Musaylimah.

Si Barbar mendekat. Di dalam pikirannya, ia teringat kembali pada syuhada mulia yang ia bunuh dalam Pertempuran Uhud, yaitu Hamzah. Perbuatannya tersebut telah membuatnya sengsara. Ia masih ingat dengan jelas bentuk fisik Hamzah yang enak dilihat, gagah, dan tampan. Ia berusaha untuk membuang kenangan buruk tersebut dan kemudian melihat kembali ke arah Musaylimah. Ia kaget dengan perbedaan keduanya. Penampilan si nabi palsu sangat jelek, kulitnya kuning, berhidung pesek, diperparah lagi dengan wajah penuh kemarahan dan kebencian, serta busa yang mewarnai bibirnya. Tampilannya sangat mengerikan. Semua kejahatan dari laki-laki jahat ini tampak memancar keluar dari wajahnya.

Dengan matanya yang terlatih, Si Barbar mengukur jarak. Lembingnya sudah masuk dalam daerah jangkauan yang tepat. Di saat ia hendak mengambil kuda-kuda untuk melempar sambil membidik, Abu Dujanah (salah seorang yang menjadi tameng hidup bagi nabi dalam Pertempuran Uhud) menyabetkan pedangnya untuk mencapai lokasi Musaylimah. Abu Dujanah adalah seorang ahli pedang dan sebentar lagi ia akan mencapai tujuannya. Sambil menggeram, Si Barbar melemparkan lembingnya.

Lembing itu menusuk Musaylimah pada bagian perutnya. Nabi palsu itu roboh, raut wajahnya menunjukkan rasa sakit, jari-jarinya mencakar-cakar pegangan pedangnya. Abu Dujanah sudah berada di sampingnya. Dengan satu sabetan akurat, ia memenggal Sang Pendusta. Ketika Abu Dujanah berdiri tegak untuk mengumumkan berita gembira ini, satu sabetan pedang prajurit kafir menjatuhkannya juga ke tanah. Salah seorang prajurit murtad melihat kondisi Sang Pendusta, dan ia berteriak, “Seorang budak hitam telah membunuhnya.” Jeritan ini didengar oleh Pasukan Muslim dan kafir, bersahut-sahutan ke seluruh kebun, “Musaylimah sudah mati!”[1]

Si Barbar kelak terus mengabdi dalam Operasi Militer Syams di bawah komando Khalid. Ketika Syams telah ditaklukkan dan menjadi salah satu provinsi dalam negara Islam, Si Barbar menetap di Emessa dan hidup sampai usia yang cukup tua. Tetapi, ia menghabiskan kebanyakan harinya dalam keadaan mabuk. Ia bahkan beberapa kali dihukum 80 kali cambuk oleh ‘Umar karena tindakan ini (ia adalah Muslim pertama yang dihukum atas pelanggaran ini di Syams)[2], tetapi ia tidak bisa menjauhkan diri dari minuman keras. ‘Umar berkomentar tentangnya, “Mungkin kutukan Allah masih ada di dalam diri Si Barbar karena ia telah menumpahkan darah Hamzah.”[3]

Di Emessa ini juga, kelak ia akan menjadi seorang terkenal dan penarik perhatian pelancong. Pengunjung akan datang ke rumahnya, berharap ia dalam keadaan sadar, kemudian bertanya kepadanya tentang Hamzah dan Musaylimah. Jika ia tidak dalam keadaan mabuk, ia akan menceritakan semua rincian kisah pembunuhan Hamzah dan pembunuhan Musaylimah. Di akhir ceritanya, ia selalu mengangkat lembingnya dengan bangga dan berkata, “Dengan lembing ini, di masa kafir, aku membunuh lelaki terbaik, dan di masa beriman, aku membunuh lelaki terburuk![4]

Kabar kematian Musaylimah Sang Pendusta menyebabkan runtuhnya moral pasukan murtad secara cepat. Sebagian dari mereka putus asa dan mencoba melakukan serangkaian serangan bunuh diri yang brutal, tetapi mereka hanya memperpanjang penderitaan mereka sebelum mati. Kebanyakan dari kelompok murtad kehilangan semangat dan dalam keputusasaan, mereka hanya menunggu waktu kapan pedang prajurit-prajurit Muslim mengakhiri penderitaan mereka. Dengan upaya terakhir, Pasukan Muslim melakukan serbuan di tengah gerombolan pasukan murtad yang kebingungan, memenuhi janji kemurkaan Allah kepada pasukan kafir. Pertempuran tidak lagi terlihat berimbang, lebih terlihat seperti pertarungan yang berat sebelah.

Ketika matahari terbenam, suasana tenang dan hening kembali menyelimuti Kebun Kematian. Pasukan Muslim terlalu lelah untuk mengangkat pedang-pedang mereka. Tidak ada lagi yang tersisa untuk diperangi.

Catatan Kaki Halaman 9
[1] Ibnu Hisyam: Vol. 2, hlm. 73.
[2] Ibnu Qutaybah: hlm. 330.
[3] Ibnu Hisyam: Vol. 2, hlm. 73.
[4] Ibid.

sumber : https://www.kaskus.co.id/show_post/57a43648925233217e8b4567/239/-


EmoticonEmoticon