Kamis, 15 Desember 2016

Terjemahan The Sword of Allah : Khalid bin Al-Waleed (36) Pertempuran Yamamah (Bagian 4)


Bab 16: Pertempuran Yamamah (Bagian IV)
(Halaman 10)

Pada malam harinya, Pasukan Muslim beristirahat di tempat mereka berdiri, tertidur pulas dalam kemenangan setelah menyelesaikan mimpi buruk pertempuran.

Keesokan paginya, Khalid berjalan di medan pertempuran. Di setiap tempat, ia melihat sisa-sisa pertempuran. Tubuh-tubuh yang rusak, terbaring dalam postur yang tidak enak dilihat, memenuhi wadi dan dataran Aqraba` serta Kebun Kematian. Di sejumlah lokasi, ia harus melangkahi tanah-tanah yang basah dengan darah.

Semua pimpinan murtad di Yamamah telah terbunuh, kecuali Muja’ah yang sekarang dalam ikatan, dibawa ke samping pemenang. Khalid membawanya agar ia bisa mengenali sejumlah pimpinan yang tewas dan agar ia juga bisa merasakan dampak kekalahan Bani Hanifah.

Kondisi Pasukan Muslim juga tidak terlalu segar. Pertempuran ini telah memaksa mereka membayar mahal dan saat ini, kondisi mereka bahkan tidak memungkinkan untuk mempertahankan diri mereka sendiri, apalagi untuk menghadapi pertempuran lainnya. Karena kelelahan, mereka masih berbaring di lokasi tempat mereka tidur semalam, mengistirahatkan kaki-kaki mereka. Tetapi Khalid pantas untuk merasa puas dengan hasil pertempuran ini: Musaylimah tewas dan pasukannya terpecah kecil-kecil. Secercah kebahagiaan menghangatkan hati Khalid. Namun Muja’ah dengan segera menghalau perasaan ini.

“Benar, engkau telah meraih kemenangan,” ia mengakui. “Tetapi, engkau sebaiknya paham bahwa engkau baru memerangi satu bagian kecil dari Bani Hanifah, yaitu mereka yang dikumpulkan oleh Musaylimah dalam waktu singkat. Sebagian besar pasukan masih berada di benteng di Yamamah.”

Khalid memandangnya dengan ragu, “Semoga Allah melaknatmu! Apa benar yang kau katakan?”

“Benar,” Muja’ah melanjutkan. “Aku sarankan agar engkau menerima penyerahan diri mereka. Jika engkau hendak menyampaikan syarat-syarat dari kalian, aku akan masuk ke dalam benteng dan mencoba membujuk para prajurit untuk meletakkan senjata mereka.”

Tidak perlu waktu lama bagi Khalid untuk menyadari bahwa pasukannya yang lelah tidak mungkin untuk bertempur lagi dalam waktu dekat, apalagi sebuah pasukan yang lebih besar menunggu mereka. “Baiklah,” jawabnya menerima pengajuan dari Muja’ah. “Aku mengizinkan upaya perdamaian.”

Pasal-pasal penyerahan diri dinegosiasikan oleh kedua pimpinan ini. Pasukan Muslim akan menyita emas, pedang, baju baja, dan kuda di Yamamah, tetapi hanya setengah dari populasinya akan ditawan sebagai budak. Muja’ah dibebaskan dari belenggunya. Setelah berjanji bahwa ia akan kembali, ia diizinkan untuk berangkat masuk ke dalam benteng. Setelah beberapa saat, ia kembali sambil menggelengkan kepalanya dengan sedih. “Mereka tidak setuju. Mereka semua bersiap untuk bertempur. Bahkan mereka melawanku. Kalian bisa menyerang jika kalian mau.”

Khalid memutuskan untuk melihat kota tersebut secara langsung. Ia meninggalkan sebagian besar pasukannya yang sedang menguburkan para syuhada dan mengumpulkan harta rampasan perang. Ia berangkat dengan detasemen berkuda menuju Yamamah, ditemani oleh Muja’ah. Ketika ia tiba di dekat dinding utara kota, ia berhenti tercengang melihat dinding itu dipenuhi oleh prajurit yang baju baja dan senjatanya berkilauan memantulkan cahaya matahari. Bagaimana mungkin mereka bisa mengatasi pasukan yang masih segar ini di dalam sebuah benteng yang kokoh? Pasukannya sedang dalam kondisi tidak siap tempur, mereka hanya bisa beristirahat.

Suara Muja’ah memecah kesunyian. “Mereka mungkin bersiap untuk menyerah jika engkau tidak menawan satu pun dari mereka sebagai budak. Engkau bisa mengambil semua emas, pedang, baju baja, dan kuda.”

“Apakah mereka telah setuju dengan hal ini?” tanya Khalid.

“Aku telah mendiskusikan masalah ini dengan mereka, tetapi mereka belum memberi keputusan.”

Khalid tidak maju lebih jauh. Ia memandang Muja’ah dengan tegas. “Aku memberi engkau tiga hari,” katanya. “Jika gerbang tidak dibuka dengan pasal-pasal perjanjian baru ini, aku akan menyerang. Dan tidak akan ada pasal perdamaian lagi.”

Muja’ah kembali masuk ke dalam benteng. Kali ini, ia kembali dengan wajah tersenyum. “Mereka telah sepakat,”[1] umumnya.

Catatan Kaki Halaman 10
[1] Ath-Thabari: Vol. 2, hlm. 515-517; Baladzuri: hlm. 99-100.
____________________________________________________________________________
(Halaman 11)

Perjanjian tersebut disepakati, ditandatangani oleh Khalid mewakili Muslim dan Muja’ah bin Murarah mewakili Bani Hanifah.[1]

Setelah perjanjian ditandatangani, Muja’ah kembali ke dalam benteng dan dengan segera, gerbang benteng dibuka. Khalid yang ditemani pasukan berkudanya serta Muja’ah, memasuki kota, berpikir akan melihat prajurit-prajurit bersenjata. Tetapi ke arah mana saja mereka ia melihat, hanya ada perempuan, orang tua, dan anak-anak. Ia menoleh kebingungan ke arah Muja’ah, “Di mana para prajurit yang aku lihat tadi?”

Muja’ah menunjuk ke arah para perempuan. “Merekalah prajurit yang engkau lihat,” ia menjelaskan. “Ketika aku masuk ke benteng sebelum ini, aku menyuruh para perempuan untuk memakai baju baja, memegang senjata, dan bersiap di posisi tempur. Prajurit yang sebenarnya tidak pernah ada!”

Marah karena merasa ditipu, Khalid menghardik Muja’ah, “Kau menipuku, Muja’ah!”

Muja’ah hanya mengangkat bahunya. “Mereka adalah rakyatku. Hanya ini yang bisa kulakukan untuk mereka.”

Jika saja tidak ada perjanjian, Khalid tentu akan menghukum Muja’ah dengan tangannya sendiri. Namun, perjanjian sudah ditandatangani dan pasal-pasalnya harus dipatuhi. Bani Hanifah yang berada di dalam kota itu selamat. Mereka akan dengan segera kembali pada kehidupan keseharian mereka dalam keadaan bebas.

Satu atau dua hari kemudian, sebuah pesan datang dari Khalifah yang belum mengetahui akhir dari Pertempuran Yamamah. Pesannya adalah untuk membunuh semua murtad dari Bani Hanifah. Khalid membalas pesan ini dengan surat bahwa perintah Khalifah tidak bisa dilaksanakan karena perjanjian telah ditandatangani. Abu Bakr akhirnya sepakat dengan perjanjian ini.

Namun, perjanjian ini hanya berlaku bagi mereka yang tinggal di benteng. Sisa dari keseluruhan Bani Hanifah, yaitu puluhan ribu orang yang tinggal di sekitar Yamamah, tidak termasuk dalam perjanjian. Elemen Bani Hanifah paling penting sekarang adalah sisa-sisa pasukan Musaylimah yang telah melarikan diri dari dataran Aqraba`. Prajurit-prajurit ini berjumlah lebih dari 20.000 orang dan telah menyebar di berbagai klan dan kelompok-kelompok. Setelah kematian Musaylimah, mereka tidak membahayakan Islam, tetapi mereka tetap berpotensi untuk berbuat kejahatan. Mereka harus ditumpas. Di bawah hukum perang yang keras, mereka tidak mempunyai hak untuk tidak diserang sampai mereka dengan jelas menyerahkan diri.

Khalid memutuskan untuk melenyapkan semua perlawanan dari Bani Hanifah dengan harapan kedamaian yang sempurna bisa menyelimuti wilayah tersebut. Ia mengizinkan pasukannya untuk istirahat beberapa hari, kemudian ia membaginya dalam beberapa kelompok untuk dikirim menaklukkan daerah-daerah di sekitar Yamamah dan membunuh atau menawan mereka yang melawan. Kelompok-kelompok pasukan ini menyebar ke seluruh penjuru provinsi.

Para pelarian ini dicari ke seluruh tempat perlindungan. Ribuan orang dari mereka tetap tidak bertobat dan melawan, mereka diserbu dan dibinasakan; perempuan dan anak-anak mereka ditawan. Namun ribuan lainnya menyerah dan diampuni. Mereka semuanya kembali masuk Islam.

Khalid mendirikan markasnya di dekat Yamamah. Dari sana, ia menetap sekitar dua bulan sebelum menerima perintah lanjutan dari Khalifah.

Dengan kesuksesan dalam Pertempuran Yamamah, hampir seluruh Arabia dibebaskan dari kejahatan kemurtadan. Kantong-kantong kecil kelompok murtad masih tersisa di pinggiran jazirah, tetapi mereka tidak memberikan ancaman yang serius. Sejumlah pertempuran berlangsung, tetapi skalanya tidak sebesar Yamamah dan sejumlah pertempuran yang diceritakan dalam bab-bab sebelumnya.

Catatan Kaki Halaman 11
[1] Ada sejumlah perbedaan pendapat di antara sejarawan-sejarawan awal. Tentang rincian pasal-pasal perjanjian, tetapi rincian-rincian ini tidak terlalu penting.
____________________________________________________________________________
(Halaman 12)

Sampai saat itu, Pertempuran Yamamah adalah pertempuran yang paling sengit dan paling banyak memakan korban di dalam sejarah Islam. Pasukan Muslim belum pernah menghadapi ujian dalam hal kekuatan seperti halnya dalam Pertempuran Yamamah dan mereka berhasil melewatinya dengan kemenangan di bawah kepemimpinan Pedang Allah. Dengan menghancurkan pasukan Bani Hanifah yang jauh lebih besar di bawah kepemimpinan Musaylimah yang juga merupakan jenderal berbakat, Pasukan Muslim membuktikan bahwa diri mereka pasukan yang kuat. Setengah abad kemudian, para orang tua akan menceritakan pertempuran ini secara rinci kepada para cucunya, kemudian mengakhirinya dengan kata-kata penuh kebanggaan, “Aku dulu mengikuti Pertempuran Yamamah!”

Jumlah korban cukup menggemparkan. Dari pihak murtad, 21.000 prajurit tewas: 7.000 tewas di dataran Aqraba`, 7.000 tewas di Kebun Kematian, dan 7.000 tewas dalam operasi pembersihan.

Pasukan Muslim mendapatkan korban gugur yang jauh lebih sedikit daripada pasukan murtad, tetapi jika dibandingkan dengan korban-korban dalam pertempuran mereka di masa lalu, jumlahnya tetap jauh lebih besar. Seribu dua ratus Muslim gugur sebagai syahid, kebanyakan di wadi atau di dekatnya.[1] Setengah dari mereka adalah Anshar dan Muhajirin, sahabat-sahabat nabi yang paling dekat dan yang paling dihormati. Dikabarkan juga bahwa dari mereka yang syahid, 300 orang adalah mereka para penghapal Al-Qur`an. Sejumlah Muslim terbaik juga gugur dalam pertempuran ini: Abu Dujanah, Abu Hudzayfah (komandan sayap kiri), Zayd (saudara ‘Umar dan komandan sayap kanan). ‘Abdullah bin ‘Umar termasuk mereka yang hidup menyelesaikan pertempuran ini dalam keadaan hidup.

Ketika ‘Abdullah pulang ke Madinah, ia mengunjungi ayahnya, tetapi tidak ada sambutan bahagia yang tampak dari mata ‘Umar ketika ia melihat anaknya. “Mengapa engkau tidak terbunuh di samping Zayd? Zayd telah gugur dan engkau masih hidup! Jangan biarkan aku melihat wajahmu lagi!”

“Ayah,” sahut anak muda pemberani ini dengan sopan, “pamanku meminta syahid dan Allah menghadiahkannya untuknya. Aku juga memohon syahid, tetapi aku tidak berhasil mendapatkannya.”[2]

Dalam Pertempuran Yamamah, peperangan yang dikobarkan oleh Abu Bakr mencapai klimaks. Strategi Abu Bakr memberdayakan Khalid sebagai tangan kanannya untuk melibas pimpinan-pimpinan murtad yang paling kuat secara berturut-turut, dari yang paling dekat sampai ke yang paling jauh, telah mencapai keberhasilan yang membanggakan. Setelah ini semua dicapai, pertempuran lainnya akan menjadi lebih mudah.

Satu episode masih tersisa sebelum kita mengakhiri Pertempuran Yamamah. Pada hari ketika gerbang benteng Kota Yamamah dibuka, Khalid duduk di luar tendanya pada malam hari. Di sampingnya, duduklah Muja’ah. Mereka hanya berdua.

Tiba-tiba, Khalid menoleh kepada Muja’ah dan berkata, “Aku ingin menikahi anakmu!”

Muja’ah tercengang. Dia merasa salah mendengar.

Khalid mengulanginya dengan suara lebih tegas, “Aku ingin menikahi anakmu!”

Muja’ah sekarang menyadari bahwa Khalid tidak gila dan Khalid paham akan kata-katanya. Namun melihat kondisi saat itu, ide untuk menikah terdengar konyol. “Sabar, wahai Khalid!” jawabnya. “Apakah engkau mau membuat Khalifah mematahkan punggungmu dan punggungku juga?”

“Aku ingin menikahi anakmu,” ulang Khalid. Dan pada malam itu juga, ia menikai anak Muja’ah bin Murarah yang cantik.

Beberapa hari kemudian, Khalid menerima surat teguran keras dari Abu Bakr. “Wahai anaknya ibu Khalid!” tulis Khalifah dalam suratnya. “Engkau masih punya waktu untuk menikahi perempuan sementara di lapangan, darah 1.200 Muslim belum lagi kering!” Ketika ia membaca surat ini, Khalid bergumam, “Ini pasti ulah Si Kidal![3]

Namun, ia tetap melanjutkan kebahagiaannya bersama istri barunya. Nampaknya ia tidak lagi terpaku pada janda cantik Malik bin Nuwayrah. Kita tidak mengetahui bagaimana kelanjutan kisah Layla karena namanya tidak lagi disebutkan dalam sejarah setelah itu.

Catatan Kaki Halaman 12
[1] Pengunjung Jubayla di masa kini akan melihat pekuburan di tepi selatan wadi. Di sanalah para syuhada Muslim dikburkan. Di tepi utara, akan terlihat sebuah wilayah gundukan tanah di antara desa dan parit. Di sana, para murtad yang tewas dikuburkan.
[2] Ath-Thabari: Vol. 2, hlm. 512-513.
[3] Ath-Thabari: Vol. 2, hlm. 519.

--Akhir dari Bab 16--

sumber : https://www.kaskus.co.id/show_post/57b2b7cc902cfe15688b456a/242/-


EmoticonEmoticon