Rabu, 14 Desember 2016

Terjemahan The Sword of Allah : Khalid bin Al-Waleed (20) Pertempuran Hunain (bagian 2)


Bab 8: Pertempuran Hunayn (Bagian II)
(Halaman 4)

Kali ini, Malik mendapat kejutan. Setelah sebelumnya merasa bahwa kemenangan telah pasti, ia harus menerima keadaan bahwa pasukannya diserang. Pertarungan pun semakin sengit dan hal inilah yang diinginkan oleh Pasukan Muslim karena dalam pertarungan seperti ini, kemampuan mereka berpedang lebih unggul dibandingkan lawan mereka. Dalam pertarungan jarak dekat, Pasukan Muslim tidak tertandingi. Sedikit demi sedikit, Pasukan Hawazin ditekan mundur dan di saat nabi melihat pasukannya melakukan serangan ini, ia menegaskan, 

"Sungguh, aku adalah seorang nabi,
aku anak ‘Abdul Muththalib."

Ia kemudian menoleh kepada para Sahabat di sekitarnya dan berkata, “Sekarang situasi sudah memanas!” [1] Malik menilai bahwa pasukannya telah menerima serangan yang sangat buruk dan memutuskan untuk mundur ke lokasi lain. Pasukan Tsaqif tepat berada di belakang Pasukan Hawazin. Dengan meninggalkan Pasukan Tsaqif sebagai pasukan garis belakang, ia menarik Pasukan Hawazin ke daerah yang aman. Pasukan Muslim terus maju dan bertemu dengan Pasukan Tsaqif yang mendapat giliran mendapatkan serangan keras dari Pasukan Beriman. Tidak lama setelah itu, Pasukan Tsaqif juga melarikan diri diikuti oleh suku-suku lainnya, beberapa dari suku ini bahkan belum sempat mengambil bagian dalam pertempuran. Malik berhasil menempatkan Pasukan Hawazin di celah sempit lainnya untuk bertahan menghadapi serangan Pasukan Muslim sambil menunggu pasukan lainnya yang mundur. Selama celah sempit itu tidak dilewati oleh Pasukan Muslim, keluarga dan hewan ternak suku Hawazin akan aman.

Pasukan Muslim tidak hanya bangkit kembali dari kejutan sergapan, mereka juga melakukan serangan balik, mengambil kembali posisi mereka, dan memukul mundur musuh dari medan pertempuran awal. Hal ini adalah kemenangan secara taktik, tetapi masih akan datang pertempuran lanjutan.

Ketika Pasukan Muslim mengambil senjata-senjata dan baju perang dari Pasukan Tsaqif yang tewas, suatu kejadian menarik terjadi antara dua Muslim. Salah seorang adalah Anshar dari Madinah dan orang kedua adalah Mughirah bin Syu’bah dari suku Tsaqif. Di antara Pasukan Tsaqif yang tewas, ada seorang budak Kristen yang mati di samping tuannya. Ketika Si Anshar melepas baju budak ini, ia sempat melihat bahwa budak itu tidak disunat. Karena sunat adalah kebiasaan umum di Arab, ia kaget dengan penemuan ini dan bertanya kepada orang di sekitarnya dengan suara keras, “Wahai saudara-saudara Arabku! Apakah kalian tahu bahwa orang Tsaqif tidak bersunat?” Mughirah yang berdiri di sebelahnya terkejut dan tersinggung karena kabar berita yang demikian akan membuat Suku Tsaqif bahan tertawaan. Ia pun melihat tubuh budak tersebut dan bisa memahami kesalahpahaman yang muncul. “Jangan berkata seperti itu!” katanya kepada Si Anshar. “Laki-laki ini adalah seorang budak Kristen.”

“Bukan, dia bukan budak Kristen,” Si Anshar bersikeras. “Aku yakin bahwa dia adalah salah seorang Tsaqif.” Dia masih belum bisa percaya sampai Mughirah menunjukkan beberapa tubuh lainnya dari Pasukan Tasqif yang tewas dan memperlihatkan bahwa mereka semua disunat![2]

Pasukan Muslim telah kembali membentuk barisan perang, kecuali mereka yang sudah terlanjur melarikan diri. Nabi memutuskan untuk memanfaatkan keunggulannya ini. Ia menyusun sebuah kelompok kavaleri yang kuat dan mengirim mereka ke depan untuk membersihkan jalan sebelum Hawazin pulih dan berbaris kembali. Kelompok ini dibentuk dari sejumlah kontingen, termasuk Bani Sulaym yang kembali dipimpin oleh Khalid. Khalid tidak bergabung dalam serangan balik tadi. Ia terbaring di tempat ia terjatuh dari kudanya sampai serangan balik usai. Kemudian nabi mendatanginya dan meniup lukanya. Khalid pun bangkit kembali, merasa pulih dan fit untuk bertempur kembali.[3] Ia kemudian memimpin Pasukan Bani Sulaym.

Keseluruhan pasukan ini sekarang dikomando oleh Zubayr bin Al-Awwam. Ia maju dan bertemu Malik. Setelah terjadi pertempuran singkat, Malik melarikan diri. Keseluruhan lembah sekarang berada di tangan Pasukan Muslim. Nabi memerintahkan Zubayr dan kavalerinya untuk bertahan di posisinya dan bersiaga menjaga lokasi tersebut dari kemungkinan kembalinya Pasukan Hawazin. Nabi kemudian mengirim satu kelompok lain di bawah komando Abu ‘Amir ke Awtas, lokasi perkemahan Pasukan Hawazin. Di sana, Pasukan Hawazin yang tersisa melindungi keluarga dan hewan ternak mereka. Ketika satuan Abu ‘Amir tiba di Awtas, pertempuran sengit terjadi. Abu ‘Amir berhasil membunuh Sembilan orang, tetapi ia gugur oleh orang kesepuluh yang dihadapinya. Komando diambil alih oleh sepupunya, Abu Musa, yang terus melanjutkan serangan di Awtas sampai Pasukan Hawazin kalah dan melarikan diri. Kemah Hawazin jatuh ke tangan Pasukan Muslim. Di Awtas, satuan kavaleri Zubayr dengan Khalid di depan, ikut bergabung.

Catatan Kaki Halaman 4
[1] Ibnu Sa’ad: hlm. 665.
[2] Ibnu Hisyam: Vol. 2, hlm. 450.
[3] Isfahani: Vol. 15, hlm. 11. 
____________________________________________________________________________
(Halaman 5)

Koalisi pasukan musuh telah tercerai berai. Pasukan Hawazin dan suku-suku lainnya menyebar ke berbagai perkampungan, sementara Pasukan Tsaqif, dipimpin oleh Malik, bertahan di Kota Tha’if. Di sana, ia memperkuat pertahanan dan bermaksud untuk melawan sampai akhir. Pertempuran Hunayn telah usai. Korban di pihak Muslim secara mengejutkan sangat sedikit akibat buruknya kerja para pemanah Hawazin. Meskipun jumlah Muslim yang terluka cukup banyak, hanya empat yang gugur. Hal ini disebabkan unggulnya kemampuan bertarung dan keberanian Pasukan Muslim yang memungkinkan para jagoan mereka bisa membunuh tiga sampai empat orang musuh. Tujuh puluh pasukan kafir terbunuh di lembah, di celah sempit, dan di Awtas. Termasuk di dalamnya adalah Si Tua Durayd yang telah memberi saran kepada Malik, tetapi tidak didengarkan. Di kemah musuh di Awtas, Pasukan Muslim menangkap 6.000 perempuan, anak-anak, dan budak serta ribuan unta, kambing, dan domba.[1]

Pertempuran ini adalah untuk pertama kalinya Pasukan Muslim menghadapi sergapan oleh musuhnya. Bisa dikatakan bahwa kejadian ini adalah yang kedua dalam sejarah di mana keseluruhan pasukan disergap oleh keseluruhan pasukan musuh (kejadian pertama yang tercatat adalah disergapnya Pasukan Romawi oleh Hannibal di Danau Trasimene tahun 217 SM). Malik telah membuat rencana brilian dan sempurna untuk membinasakan Pasukan Muslim, tetapi karena buruknya kinerja pasukan, rencana ini gagal meraih tujuan yang telah ditetapkan. Meskipun kinerja mereka buruk, Malik masih mungkin untuk menang jika saja musuh mereka bukan Pasukan Muslim. Keteguhan hati nabi dan kepercayaan Pasukan Muslim kepada pemimpin mereka merupakan dua penyebab utama kekalahan dapat mereka balik menjadi kemenangan mereka. Tidak seperti Malik, nabi tidak merasa puas dengan pencapaian sesaat; nabi terus menggunakan setiap celah kesempatan untuk memukul mundur musuh secara keseluruhan dan mengambil keseluruhan kemah musuh beserta seluruh harta rampasan perang di dalamnya.

Dalam pertempuran ini juga, Khalid terkena dampak serangan kejutan. Ia telah mengetahui pentingnya nilai kejutan dalam serangan militer, tetapi kali ini, Khalid sendiri yang menerimanya. Ia melihat bagaimana pasukannya yang pemberani menjadi panik ketika musuh muncul tiba-tiba di tempat dan di waktu yang sama sekali tidak mereka kira. Ia menegaskan dalam pikirannya bahwa tidak akan pernah lagi ia menerima hal ini. Dan pada kenyataan nantinya, tidak pernah lagi ia mendapat sergapan lawan.

Catatan Kaki Halaman 5
[1] Di masa kini, tidak ada yang mengetahui lokasi Awtas, tetapi yang pasti, Awtas berada di salah satu bagian lembah karena kemah berkapasitas 6.000 orang (di luar tentara) dan ribuan unta, kambing, serta domba tidak mungkin ditempatkan di bagian perbukitan ataupun di lembah-lembah kecil. Saya menempatkannya sedikit setelah Zayma, tetapi lokasinya bisa saja di bagian lain. 

--Akhir dari Bab 8--

sumber :  https://www.kaskus.co.id/show_post/575619d2529a45a44f8b4568/195/-


EmoticonEmoticon