Rabu, 14 Desember 2016

Terjemahan The Sword of Allah : Khalid bin Al-Waleed (28) Thulayhah Si Nabi Palsu (Bagian 2)


Bab 13: Thulayhah Si Nabi Palsu (Bagian II)
(Halaman 4)

Segera setelah kedua pasukan berbaris untuk bertempur, Khalid melancarkan serangan di sepanjang front. Selama beberapa waktu, pasukan murtad dengan keras kepala bertahan, terutama Bani Fazara, tetapi setelah beberapa saat, tekanan Pasukan Muslim mulai terlihat dan lekukan terlihat di garis pertahanan pasukan murtad. ‘Uyaynah mulai khawatir dengan menajamnya serangan Pasukan Muslim dan ia memacu kudanya ke kemah Thulayhah, berharap datangnya petunjuk ketuhanan untuk menolong mereka. “Apakah Jibril sudah mendatangimu?” tanyanya. “Belum,” jawab si nabi palsu dengan ekspresi khidmat. ‘Uyaynah kembali pada pertempuran.

Kembali beberapa saat berlalu. Khalid dan pasukannya telah membentuk tusukan tajam di bagian tengah pasukan kafir, tetapi mereka masih bertahan dan pertarungan menjadi semakin sengit dengan setiap jengkal tanah dipertaruhkan. ‘Uyaynah kembali menemui Thulayhah dan bertanya, “Apakah Jibril sudah mendatangimu?” Nabi palsu menjawab, “Belum, demi Allah!” ‘Uyaynah kembali pada pertempuran.

Dengan semakin terlihatnya kemenangan, Pasukan Muslim menyerang dengan lebih garang dan semakin maju menekan. Perlawanan pasukan murtad terlihat akan segera berakhir dengan hampir terputusnya barisan mereka. Melihat situasi yang tidak ada harapan ini, ‘Uyaynah pergi untuk ketiga kalinya menemui Thulayhah. Kali ini dengan nada gugup dan tidak sabar, ia kembali bertanya, “Apakah Jibril sudah mendatangimu?” Nabi palsu itu menjawab, “Ya.” “Apa katanya?” tanya ‘Uyaynah.

Dengan kalem, Thulayhah menjawab, “Ia berkata, ‘Engkau mempunyai gilingan tangan seperti miliknya, dan hari ini adalah hari yang tidak akan pernah engkau lupakan!” ‘Uyaynah sangat marah ketika menyadari kebohongan Thulayhah, “Hari ini benar-benar hari yang tidak akan pernah engkau lupakan.” Ia tergesa-gesa kembali ke klannya dan mengumumkan, “Wahai Bani Fazara! Laki-laki ini adalah nabi palsu. Mundurlah dari pertempuran ini!”[1]

Bani Fazara yang merupakan inti pasukan tengah Thulayhah, mundur dan melarikan diri. Dengan kepergian mereka, semua garis depan pasukan murtad putus dan perlawanan mereka berakhir. Kelompok-kelompok kafir saling berlomba untuk melarikan diri dari medan pertempuran, mereka berlari ke segala arah. Pasukan Muslim yang telah menang membunuh sisa-sisa musuh yang masih melawan. Sejumlah pelarian menemui Thulayhah dan bertanya, “Apa perintahmu kepada kami?” Thulayhah menjawab, “Siapa saja yang mampu, lakukanlah seperti apa yang aku lakukan, selamatkan diri kalian dan keluarga kalian.”[2]

Setelah instruksi ini, Thulayhah menaikkan istrinya di atas unta yang larinya cepat, unta ini telah ia siapkan dengan pelana sejak sebelum pertempuran dengan tujuan untuk melarikan diri. Dirinya sendiri melompat ke atas kudanya, dan suami-istri itu menghilang di balik debu yang beterbangan.

Pertempuran Buzakha berakhir. Khalid memenangkan pertempuran ini. Musuh Islam nomor dua berhasil dikalahkan dan pasukannya tercerai-berai.

Thulayhah melarikan diri ke perbatasan Syam dan berlindung di perkampungan Suku Kalb. Hari-hari kenabi-palsuannya berakhir. Namun tidak lama kemudian, ia mendengar kabar bahwa sukunya, Bani Asad, kembali masuk Islam. Ia pun akhirnya kembali masuk Islam dan bergabung kembali dengan sukunya. Ia bahkan sempat mengunjungi Makkah untuk berhaji di masa Abu Bakr, tetapi Khalifah tidak terlalu memperhatikannya meskipun ia mendapat informasi tentang kedatangan Thulayhah.

Sekitar dua tahun setelahnya, ia mengunjungi Madinah dan mengunjungi ‘Umar yang tidak mudah memberi maaf. Ketika melihat Thulayhah, ‘Umar berkata kepadanya, “Engkau dulu membunuh dua Muslim yang terhormat, termasuk Ukasyah bin Mihshan. Demi Allah, aku tidak akan pernah menyukaimu.”

Thulayhah pandai bersilat lidah. Ia menjawab, “Allah memberkahi mereka dengan surga melalui tanganku, sementara aku tidak mendapatkan apa-apa dari mereka. Aku memohon ampunan dari Allah.”

‘Umar tidak berhenti dan kembali menjawab, “Engkau bohong ketika engkau mengatakan bahwa Allah tidak akan menghukummu.”

Thulayhah menjawab, “Hal itu terjadi karena keburukan dari kekafiranku yang telah Allah lenyapkan. Aku tidak bisa dipersalahkan dalam hal tersebut.”

‘Umar melihat bahwa ia tidak bisa menang dalam perdebatan ini dan membuat pernyataan terakhir, “Wahai penipu! Apa lagi yang masih tersisa dari ramalanmu?”

“Tidak ada lagi selain satu atau dua hembusan dari penghembus udara!”[3]

Catatan Kaki Halaman 4
[1] Ath-Thabari: Vol.2, hlm. 485.
[2] Ibid.
[3] Ath-Thabari: Vol.2, hlm. 489; Baladzuri: hlm. 105-106. 
____________________________________________________________________________
(Halaman 5)

Humor bukanlah kelebihan yang dimiliki oleh ‘Umar; dan karena ia tidak bisa membalas guyonan Thulayhah, ia pun memalingkan muka.

Thulayhah pun kembali ke sukunya dan hidup bersama mereka sampai invasi Iraq ketiga. Kemudian dia menjadi sukarelawan sebagai prajurit Muslim di bawah panglima Islam. Dia menjalani peran militernya dengan prestasi, mempertunjukkan keberanian dan keterampilan militernya, serta mengambil bagian dalam pertempuran-pertempuran besar, seperti di Qadissiyah dan Nihawand. Di Pertempuran Nihawand, ia gugur sebagai syahid. Thulayhah telah mendapatkan jalan untuk menebus dosa-dosanya.

Segera setelah selesainya Pertempuran Buzakha, Khalid mengirim pasukan untuk mengejar pasukan murtad yang melarikan diri dan untuk menundukkan suku-suku di sekitarnya. Satu pasukan menangkap sejumlah pelarian di daerah perbukitan Ruman, 30 mil (48 km-pent) di tenggara agak selatan Buzakha, tetapi mereka menyerah tanpa perlawanan dan masuk Islam kembali. Khalid memimpin sendiri pasukan gerak cepat untuk mengejar ‘Uyaynah yang melarikan diri ke arah tenggara bersama anggota klannya, Bani Fazara, dan sebagian kecil Bani Asad. ‘Uyaynah terkejar ketika ia baru sampai di Ghamrah, 60 mil (97 km) dari Buzakha (lihat Peta 8). ‘Uyaynah masih melakukan perlawanan karena meskipun ia melepaskan diri dari Thulayhah, ia tetap menolak menyerah dan bertobat. Pertempuran kecil tetapi sengit terjadi, membunuh beberapa murtad dan sisanya masih melarikan diri. ‘Uyaynah ditawan.

Ayah ‘Uyaynah dahulu adalah Kepala Suku Ghathfan yang sangat terkemuka dan sangat dihargai. Oleh karena itu, ‘Uyaynah menganggap dirinya sebagai manusia terbaik, baik dari segi keturunan maupun tingkatan dalam suku. Dalam Pertempuran Parit, nabi bernegosiasi dengannya sebagai kepala suku. Namun orang yang bangga akan jalur keturunannya ini akhirnya dibelenggu dan dituntun sebagai tawanan menuju Madinah.

Ketika ia masuk Madinah, anak-anak berkumpul di sekitarnya setelah tahu tentang identitas dan kabar kondisinya saat itu. Anak-anak tersebut mulai mencolok-colok tubuh ‘Uyaynah dengan ranting kayu sambil mencemooh, “Hei musuh Allah! Engkau murtad setelah beriman.” ‘Uyaynah memprotes, “Demi Allah, aku memang belum pernah beriman.” Dengan kata lain, karena ia belum pernah beriman (tetapi pernah ber-Islam), ia merasa tidak bisa dituduh sebagai murtad.

Ia membela dirinya di depan pengadilan Abu Bakr. Abu Bakr mengampuninya dan ‘Uyaynah kembali masuk Islam dan hidup dengan damai bersama anggota sukunya.

Di masa pemerintahan Khalifah ‘Utsman, ‘Uyaynah yang sudah tua mengunjungi Madinah dan diundang oleh Khalifah. Saat itu tepat setelah matahari terbenam. ‘Utsman yang memang selalu dermawan, mempersilakan dirinya untuk makan malam. Namun ‘Uyaynah menolak karena ia sedang berpuasa. Perlu diketahui bahwa puasa Muslim dimulai ketika cahaya fajar mulai tampak dan berakhir ketika matahari terbenam. Oleh karena itu, ‘Utsman sedikit terkejut, tetapi ‘Uyaynah segera menjelaskan, “Lebih mudah bagiku untuk berpuasa di malam hari daripada di siang hari!”[2]

Setelah aksi di Ghamrah, Khalid berangkat ke Naqra, lokasi beberapa klan dari Bani Sulaym berkumpul untuk melanjutkan perlawanan mereka. (Lihat Peta 8) Komandan kelompok Bani Sulaym ini adalah seorang kepala suku gegabah bernama ‘Amr bin Abdul ‘Uzza yang lebih dikenal dengan nama lainnya, Abu Syajrah. Orang ini tidak mengambil pelajaran dari kekalahan Thulayhah. Untuk memberikan semangat pasukannya agar tetap teguh melawan kekuasaan Muslim, ia menggubah sya’ir dan membacakannya,

“Tombakku akan mendatangkan malapetaka
bagi resimen Khalid.
Dan aku percaya bahwa setelah itu,
Tombak ini juga akan menghancurkan ‘Umar.” [3]

Catatan Kaki Halaman 5
[1] Ghamrah berada 15 mil (24 km-pent) di timur laut lebih ke utara Samirah. Sebuah bukit di mana kita bisa melihat perkampungan Ghamrah, juga dinamakan Ghamrah. Lokasi ini disebut Ghamr oleh Ibnu Sa’ad yang menyebutkan bahwa lokasinya sekitar dua jarak perjalanan dari Faid (hlm. 590). Jaraknya adalah 30 mil (48 mil) dari Faid dan akan lebih jauh jika melalui jalur kafilah dagang.
[2] Ibnu Qutaybah: hlm. 304.
[3] Ath-Thabari: Vol.2, hlm. 494.
____________________________________________________________________________
(Halaman 6)

Segera setelah ia tiba di Naqra, Khalid memimpin pasukannya menyerang Bani Sulaym dengan agresif. Dahulu, ia memiliki kenangan indah bersama Bani Sulaym. Mereka pernah menjadi prajurit di bawah komandonya dalam Penaklukan Makkah, Pertempuran Hunayn, dan Pengepungan Tha’if. Mereka menjadi prajurit yang baik baginya, kecuali ketika mereka berada di Lembah Hunayn di saat mereka bersama kebanyakan pasukan lari dari medan pertempuran. Namun sekarang, mereka telah murtad dan tidak pantas menerima belas kasihan.

Bani Sulaym memberikan perlawanan sengit kepada mantan komandan mereka dan membunuh beberapa Muslim, tetapi serangan pasukan Khalid terlalu kuat bagi mereka dan mereka pun melarikan diri. Sebagian besar dari mereka terbunuh dan sedikit sisanya melarikan diri. Komandan mereka, yaitu Abu Syajrah sang prajurit dan juga penyair, ditawan dan dikirim ke Madinah. Di Madinah, ia memohon ampunan kepada Abu Bakr dan Khalifah mengampuninya. Ia pun masuk Islam kembali.

Beberapa tahun setelah itu, Abu Syajrah hidup dalam kondisi mengenaskan, ia hidup dalam kemiskinan. Karena ia berharap mendapatkan bantuan hidup di Madinah, ia pun pergi ke sana, mengikat untanya di luar kota, kemudian pergi ke pusat kota. Di sana, ia bertemu dengan ‘Umar yang berdiri membagikan sedekah kepada sejumlah orang miskin yang mengelilinginya. Abu Syajrah pun ikut serta dalam kerumunan tersebut dan berkata meminta, “Aku juga adalah orang yang membutuhkan.” ‘Umar menengok ke arahnya, tetapi ia tidak mengenalinya. Penampilannya telah sangat berubah dibanding penampilannya di masa murtad. “Siapa engkau?” ‘Umar bertanya.

“Aku adalah Abu Syajrah.”

Tiba-tiba saja, ingatan masa lalu terlintas di dalam kepala ‘Umar dan ia teringat kembali keseluruhan kisah orang tersebut di masa murtadnya. “Wahai Musuh Allah!” ‘Umar berteriak lantang, “Bukankah engkau yang bersya’ir

‘Tombakku akan mendatangkan malapetaka
bagi resimen Khalid.
Dan aku percaya bahwa setelah itu,
Tombak ini juga akan menghancurkan ‘Umar….!’”

‘Umar tidak perlu menunggu jawaban. Ia mengangkat cambuknya yang selalu ia bawa ketika keluar dari rumah. ‘Umar mencambuk Abu Syajrah. Abu Syajrah mengangkat tangannya untuk melindungi kepalanya sambil berkata, ”Ke-Islam-anku telah menghapus semua itu.”[1] Lalu cambukan kedua mengena!

Abu Syajrah sadar bahwa perkataannya tidak akan didengar oleh ‘Umar yang suasana hatinya lebih memilih untuk memukul terlebih dahulu dan bertanya kemudian. Ia pun kabur dan lari sekencang-kencangnya. ‘Umar mengejar sambil bersiap melecutkan cambuknya, tetapi Abu Syajrah berhasil melarikan diri, melompat ke atas untanya dan meninggalkan Maidnah.

Abu Syajrah tidak pernah lagi menampakkan mukanya di Madinah!

Juga ketika Pertempuran Buzakha sedang berkecamuk, sejumlah suku melihat perkembangan keadaan. Mereka adalah Bani Amir dan sejumlah klan Hawazin serta Bani Sulaym. Meskipun mereka cenderung untuk mendukung Thulayhah, mereka dengan bijak tidak terlibat dalam pertempuran dan memilih untuk berdiam diri sampai hasil pertempuran terlihat.

Hasilnya dengan segera tersiar. Belum lama setelah Pertempuran Buzakha selesai, suku-suku ini menemui Khalid dan menyerah. Mereka mendeklarasikan, “Kami memasuki kembali apa yang kami telah keluar darinya. Kami beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Kami akan taat pada perintahnya dengan jiwa dan harta kami.”[2]

Dengan segera, orang-orang Arab di sekitar mulai memenuhi Buzakha. “Kami menyerah!” menjadi kalimat universal. Tetapi Khalid masih ingat dengan instruksi Khalifah untuk membunuh siapa saja yang telah membunuh Muslim. Khalid menolak penyerahan diri mereka (yang berarti mereka masih bisa diserang, dibunuh, atau diperbudak) sampai mereka menyerahkan pembunuh-pembunuh dari masing-masing suku mereka. Suku-suku ini setuju.

Catatan Kaki Halaman 6
[1] Baladzuri: hlm. 107.
[2] Ath-Thabari: Vol.2, hlm. 486.

sumber : https://www.kaskus.co.id/show_post/578316ced89b095c428b456c/218/-


EmoticonEmoticon