Rabu, 14 Desember 2016

Terjemahan The Sword of Allah : Khalid bin Al-Waleed (13) Pertempuran Parit (bagian 3)


Bab 4: Pertempuran Parit (Bagian III)
(Halaman 7)

Nabi memutuskan untuk menggunakan diplomasi untuk mencapai hasil yang tidak mungkin diperoleh dengan kekuatan senjata. Ia mulai melakukan negosiasi rahasia dengan 'Uyaynah, komandan Pasukan Ghathfan. ('Uyaynah adalah seorang yang berani dan berkepribadian sederhana. Ia adalah laki-laki “bermata satu” yang mempunyai otot yang “lebih” dibanding otaknya, ia akan mendapatkan julukan “Si Bodoh yang Menurut” dari nabi [1]). Tujuan dari negosiasi ini adalah menciptakan perpecahan antara dua kekuatan besar sekutu, yaitu Ghathfan dan Quraysy. Caranya adalah membuat Ghathfan mundur dari pengepungan. Jika hal ini berhasil, suku-suku kecil lainnya juga akan menarik diri dari pengepungan; jika pun tidak, hilangnya 2.000 Pasukan Ghathfan akan mengurangi kekuatan Sekutu ke angka yang masih mungkin untuk diatasi. Aksi militer akan dapat diambil untuk mengusir Sekutu dari Madinah.

“Jika Ghathfan keluar dari persekutuan dan pulang ke perkampungan mereka, mereka akan diberikan sepertiga dari hasil panen kurma Madinah.” Pernyataan ini adalah tawaran yang diberikan oleh Nabi. Tawaran ini diterima oleh 'Uyaynah yang saat itu sudah kehilangan harapan untuk meraih kemenangan secara militer. Kesepakatan dicapai, tetapi sebelum ditandatangani dan disegel (yang tanpanya tidak akan menjadi perjanjian mengikat), nabi memutuskan untuk menyampaikan hal ini kepada sejumlah pimpinan Muslim. Mereka protes, “Kurma!? Kaum kafir itu tidak akan menerima apapun dari kita selain pedang!”[2] Penolakan ini ternyata disuarakan oleh hampir semua pimpinan dengan sangat tegas, sampai-sampai nabi menerima protes ini dan negosiasi dibatalkan.

Kelompok Beriman yang bersikeras ini tidak dapat memahami seriusnya situasi militer yang sedang dihadapi saat itu atau intrik-intrik diplomasi yang diperlukan. Nabi paham bahwa satu-satunya solusi untuk masalah ini adalah manuver diplomatik, maka ia mulai mencari celah lainnya. Tidak lama kemudian, celah itu tampak. Di antara Pasukan Ghathfan, ada seorang laki-laki bernama Nu’aym bin Mas’ud. Ia secara diam-diam adalah seorang Muslim dan merupakan salah seorang yang berpengaruh di sukunya serta terkenal juga di tiga kekuatan utama Sekutu, yaitu Quraysy, Ghathfan, dan Yahudi Bani Quraydzah. Ia juga adalah seorang yang cerdas.

Nu’aym meninggalkan kemah Ghathfan pada suatu malam dan menyusup ke Madinah. Ia langsung mengunjungi nabi, menjelaskan situasi dirinya, dan menyatakan kesiapannya untuk melakukan apapun bagi Pasukan Muslim. “Kirim saya kemana pun Engkau mau,” kata Nu’aym [3]. Ini adalah kesempatan yang telah didoakan oleh nabi. Dalam sebuah rapat militer, nabi menjelaskan semuanya dan meletakkan kerangka-kerangka aksi yang harus Nu’aym lakukan.

Di malam itu juga, Nu’aym menyusup masuk ke perkampungan Bani Quraydzah dan mengunjungi Ka’ab. Ia merincikan situasi bahaya yang sedang mengancam Yahudi, “Situasi kalian tidak sama dengan Quraysy dan Ghathfan. Kalian punya keluarga dan rumah di sini, sementara rumah dan keluarga mereka berada di tempat yang jauh dari Madinah. Mereka tidak memiliki hal besar yang dipertaruhkan dalam pertempuran ini. Jika mereka gagal mengalahkan Muhammad, mereka akan pulang ke kampung mereka dan meninggalkan kalian dalam kemarahan Pasukan Muslim. Kaliah jangan melakukan apapun sebelum mereka memberikan keluarga dekat mereka sebagai tawanan kalian. Dengan begitu, kalian punya jaminan untuk percaya dengan mereka.”

Nu’aym kemudian mengunjungi kemah Quraysy dan berbicara dengan Abu Sufyan yang sangat ia kenal. Abu Sufyan juga sangat menaruh respek pada Nu’aym. Nu’aym berkata, “Kalian telah membuat perjanjian dengan kelompok yang licik dan tidak bisa diandalkan. Aku baru saja mendengar kabar dari temanku di Madinah bahwa Bani Quraydzah sudah bertaubat dan memperbarui kembali perjanjian mereka dengan Muhammad. Untuk membuktikan kesetiaan mereka pada Muhammad, mereka akan meminta kalian untuk menyerahkan seorang tawanan dari keluarga dekat kalian, yang nantinya akan mereka serahkan kepada Muhammad yang akan membunuhnya. Yahudi-Yahudi itu akan secara terbuka menjadi sekutu Muhammad dan melakukan serangan serentak melawan kita. Dalam situasi apapun, jangan kalian berikan tawanan pada Yahudi!”

Nu’aym kemudian kembali ke kemah Ghathfan dan memberikan informasi yang sama. Di saat Nu’aym selesai, benih-benih keraguan dan perpecahan tertanam kuat dalam sanubari Sekutu.

Ketidakpastian mulai menutupi pikiran Abu Sufyan yang pada awalnya menerima begitu saja persekutuan dengan para Yahudi. Ia memutuskan untuk mempercepat pertempuran dan memberikan ujian kepercayaan kepada Yahudi. Pada malam hari Jumat, 14 Maret, setelah kunjungan Nu’aym, Abu Sufyan mengirim seorang utusan yang dipimpin oleh Ikrimah menuju perkampungan Bani Quraydzah. Ikrimah menjelaskan kepada Yahudi Bani Quraydzah, “Situasi semakin mencekam. Kita tidak bisa membiarkannya lebih lama lagi. Kita akan serang mereka besok. Kalian telah berjanji dengan kami untuk melawan Muhammad. Kalian harus bergabung dalam serangan serentak besok dari kampung kalian.”

Catatan Kaki Halaman 7
[1] Ibnu Qutaybah: hlm. 303.
[2] Ibnu Hisyam: Vol. 2, hlm. 233. 
[3] Ibid: Vol. 2, hlm. 229.
__________________________________________________________________________
(Halaman 8)

Pimpinan Yahudi yang menerima mereka bergumam dan berdiskusi antara mereka sendiri, kemudian mereka mengeluarkan pernyataan mereka, “Posisi kami lebih sulit dibandingkan kalian. Jika kalian gagal, kalian akan meninggalkan kami, dan kami sendiri yang akan menghadapi kemurkaan Muhammad. Untuk memastikan bahwa hal ini tidak terjadi, kalian harus memberikan tawanan dari keluarga terbaik kalian yang akan tinggal bersama kami sampai pertempuran mencapai hasil yang memuaskan. Bagaimana pun juga, besok adalah hari Sabtu dan Yahudi dilarang untuk bertempur di hari Sabbath. Mereka yang melanggar hari Sabbath akan dijadikan babi dan kera oleh Allah.” Ikrimah pulang dengan tangan hampa. Abu Sufyan memutuskan untuk melakukan sekali percobaan lagi untuk membujuk Yahudi bergabung dalam pertempuran besok. Ia mengirim seorang delegasi lagi kepada Ka’ab, tetapi pendirian dua pihak tetap sama:

Quraysy: Tidak ada tawanan; serangan serentak besok!

Yahudi: Tidak ada pertempuran di hari Sabbath; apapun kondisinya, kirim tawanan dulu!

Maka tiga kelompok ini (Quraysy, Ghathfan, dan Bani Quraydzah-pent) berkata, “Nu’aym benar. Ia sungguh bijaksana dengan sarannya kepada kita!” [1] Nu’aym melakukan tugasnya dengan baik. Bani Quraydzah melepaskan diri dari persekutuan.

Keesokan paginya, Sabtu, 15 Maret, Khalid dan Ikrimah, yang sudah bosan dengan menunggu dan tidak ada harapan akan aksi konkret dari Sekutu, memutuskan untuk mengambil inisiatif. Mereka begerak dengan kavalerinya di daerah barat Zubab. Di sana, parit tidak selebar bagian lainnya, kuda bisa melompatinya atau orang-orang bisa turun dan lebih cepat menyeberang. Lokasi ini tepat berada di depan kemah Pasukan Muslim di kaki Bukit Sil’a.

Kelompok Ikrimah yang pertama maju dan sekelompok kecil dari mereka melompati parit. Ada tujuh orang di antara mereka, termasuk Ikrimah dan seorang laki-laki besar dengan kuda besarnya di depan. Mereka mulai menyurvei Pasukan Muslim yang terkejut dengan kemunculan tiba-tiba Pasukan Quraysy. Panggung sekarang telah siap untuk salah satu duel termasyhur dalam sejarah. Karena duel ini sangat spesial dan tidak seperti duel biasanya, duel ini akan dideskripsikan dengan detail.

Lelaki besar itu sangat tinggi dan bertubuh kekar, sangat terlihat bedanya jika berdiri dengan rekannya yang lain. Sambil duduk di atas kudanya, ia tampak begitu berbeda. Besar, kuat, dan tanpa rasa takut, ia memiliki wajah yang garang – sebuah aspek yang menambah percaya diri rekannya, tetapi memberikan rasa takut bagi musuhnya.

Ia bernama ‘Amr bin Abdu Wud. (Kita akan menyebutnya sebagai Si Raksasa!) Sambil duduk di atas kudanya, ‘Amr menatap tajam ke barisan Pasukan Muslim.

Tiba-tiba, Si Raksasa mengangkat kepalanya dan berteriak, “Aku ‘Amr bin Abdu Wud. Aku pendekar terkuat di Arab. Aku tidak terkalahkan. Aku…. Aku….” Ia menilai dirinya sangat hebat. “Adakah di antara kalian yang berani berhadapan denganku dalam duel?”

Tantangan ini tidak dijawab oleh Pasukan Muslim. Mereka melihat satu sama lain. Mereka melihat kepada Nabi yang mulia. Tetapi tidak ada seorang pun yang maju karena Si Raksasa terkenal akan kekuatan dan keterampilan bertarungnya, dan meskipun pernah terluka beberapa kali, ia tidak pernah kalah dalam duel, tidak pernah mengampuni musuhnya. Tersiar kabar bahwa ia setara dengan 500 prajurit berkuda; ia bisa mengangkat kuda dan membantingnya; ia bisa mengangkat anak sapi dengan tangan kirinya dan menggunakannya sebagai perisai dalam bertarung; ia bisa… dan lain-lain. Kabar berlebihan ini tidak ada habisnya. Imajinasi orang Arab saat itu menciptakan legenda bahwa dirinya tidak terkalahkan.

Pasukan Muslim tetap diam dan Si Raksasa tertawa mengejek, yang kemudian diikuti oleh rekan-rekan Quraysy lainnya yang ikut dalam operasi itu.

Catatan Kaki Halaman 8
[1] Ibnu Hisyam: Vol. 2, hlm. 230-231; Ibnu Sa’d: hlm. 574.
__________________________________________________________________________
(Halaman 9)

“Jadi, tidak ada seorang lelaki pun di antara kalian yang berani? Mana Islam kalian? Mana Nabi kalian?” Mendengar ejekan yang menghina ini, ‘Ali maju, mendekati Sang Nabi Suci dan meminta izin untuk menghadapi serta membungkam mulut penantang Quraysy ini. Nabi menjawab, “Duduklah. Dia itu ‘Amr!” ‘Ali kembali ke posisinya.

Tertawaan keras, ejekan, dan tantangan terus disuarakan oleh Quraysy. ‘Ali maju lagi mendekati nabi, tetapi nabi belum mengizinkan. Tantangan ‘Amr semakin keras dan semakin menusuk, “Mana Firdaus kalian? Yang kalian bilang siapapun yang mati dalam pertempuran akan memasukinya? Tidak bisakah kalian mengirim seseorang untuk bertarung denganku?”

Untuk ketiga kalinya, ‘Ali meminta izin pada nabi. Nabi melihat mata ‘Ali yang membara dan tidak bisa ditahan lagi. Nabi melihat pada ‘Ali dengan rasa sayang karena ‘Ali lebih dekat padanya dibanding orang lain. Nabi membuka sorbannya dan melilitkannya ke kepala ‘Ali. Ia lepas pedangnya dan ia ikatkan di pinggang ‘Ali. Nabi berdo’a, “Ya Rabbi! Tolonglah ia!”[1]

Pedang yang nabi berikan pada ‘Ali adalah bekas milik seorang kafir yang bernama Munabbah bin Hajjaj. Ia terbunuh dalam Pertempuran Badr dan pedangnya menjadi bagian dari harta rampasan perang. Nabi mengambil pedang itu sebagai bagiannya. Sekarang di tangan ‘Ali, pedang ini akan menjadi pedang paling terkenal dalam Islam, membunuh begitu banyak musuh dalam duel dibanding pedang lainnya dalam sejarah. Pedang tersebut bernama Dzulfiqar.

‘Ali dengan sigap mengajak sekelompok kecil Pasukan Muslim dan maju menghadapi kelompok Quraysy. Mereka berhenti agak sedikit jauh dari kelompok Si Raksasa dan ‘Ali maju sendirian sampai berada di jarak duel dengan si penantang. Si Raksasa sudah kenal baik dengan ‘Ali. Ia adalah teman Abu Thalib, ayah ‘Ali. Ia tersenyum pada ‘Ali seperti halnya seorang ayah tersenyum dengan anaknya.

“Wahai ‘Amr!” sapa ‘Ali. “Aku dengar, jika seseorang dari Quraysy menawarkan dua hal kepadamu, engkau selalu menerima salah satu darinya.”

“Benar,” jawab ‘Amr.

‘Ali melanjutkan, “Kalau begitu, aku menawarkan dua hal kepadamu. Tawaran pertama: terimalah Allah, Rasul-Nya, dan Islam.”

“Aku tidak membutuhkan ketiganya,” jawab ‘Amr lagi.

“Kalau begitu, turunlah dari kudamu dan bertarunglah denganku,” lanjut ‘Ali.

“Mengapa, wahai anak saudaraku? Aku tidak ingin membunuhmu.”

‘Ali menjawab, “Tetapi aku sangat berkeinginan untuk membunuhmu!” [2]

Wajah Si Raksasa memerah karena amarah. Sambil berteriak marah, ia meloncat turun dari kudanya dengan kegesitan yang mengejutkan jika dibandingkan dengan ukuran tubuh besarnya. Ia kekang kudanya, menghunus pedangnya, dan mengejar ‘Ali. Pertarungan dimulai.

‘Amr menyabetkan pedangnya ke arah ‘Ali berkali-kali, tetapi ‘Ali tidak terluka. Berkali-kali ‘Ali mengelak atau menangkis dengan pedang dan perisainya. Akhirnya, Si Raksasa bergerak mundur, tersengal-sengal dan tercengang. Dia tidak habis pikir bagaimana hal ini bisa terjadi. Belum pernah sebelum itu ada orang yang bertahan melawannya selama itu. Dan sekarang, ‘Ali melihat musuhnya seakan-akan ia sedang bermain-main!

Kejadian berikutnya berlangsung sangat cepat sehingga tidak seorang pun yang bisa mengikuti, baik dari pihak Muslim maupun Quraysy, bahkan Si Raksasa sendiri. ‘Ali meletakkan pedang dan perisainya; ia meloncat dengan sangat cepat dan kedua tangannya mencengkeram leher Si Raksasa; dengan tendangan gulat, ia menjatuhkan Si Raksasa. Si Raksasa pun jatuh terbaring di atas punggungnya dan Ali duduk di atas dadanya. Kedua pasukan menarik napas dan bergumam, kemudian menahan napas mereka.

Catatan Kaki Halaman 9
[1] Ibnu Sa’ad: hlm. 572.
[1] Ibnu Hisyam: Vol. 2, hlm. 225. 

sumber : https://www.kaskus.co.id/show_post/5729999c9e7404b1548b4569/165/-


EmoticonEmoticon